Petualangan di Kota Sihir

Petualangan di Kota Sihir

Di pagi hari yang cerah, aku terbangun dari tidurku karena mendengar ayam peliharaanku berkokok. Aku pun segera bangun dan beranjak dari tempat tidurku untuk mengambil segelas air minum di dapur. Saat aku ingin menuju ke dapur, aku melihat dan mendengar anjing peliharaanku menggonggong ke arah kamar belajarku yang pintunya sudah terbuka. Anjing ku menggonggong ke arah meja belajarku. Aku pun melihat ke arah meja belajarku dan alangkah terkejutnya aku melihat buku-bukuku yang kemarin malam sudah aku rapihkan sekarang sudah jatuh berserakan di lantai. Saat aku ingin merapikan buku-buku ku, aku melihat ada salah satu buku yang terdapat tulisan di halaman paling belakang. Tulisan tersebut tertulis dengan tinta berwarna merah.

Aku hanya melihat sekejap mata karena tiba-tiba mamah memanggilku, “Alicia, kenapa kok kamu disini pagi-pagi, ada tugas yang belum kamu kerjain ya?’’

Aku pun menjawab, “Engga mah, semua tugas udah Alicia kerjain. Alicia tadi kesini gara-gara tadi Molly berisik banget gonggongin kamar belajarku, Alicia kan kaget terus bingung kok bisa ya pintu kamar belajar Alicia bisa kebuka padahal kemarin malem udah Alicia tutup rapat.’’

Mamahku pun menjawab dengan heran, ‘‘Mungkin aja itu gara-gara ada angin yang kencang, udahlah ayo bantu mamah bikin makanan untuk sarapan.’’

Aku pun hanya diam terheran-heran, karena mana mungkin ada angin yang dapat membuka pintu kamar belajar ku yang tertutup dengan rapat dan menjatuhkan buku ku, karena buku ku sangat berat dan sudah ku taruh dengan rapih diatas meja belajarku. Sekitar pukul satu siang aku terbangun dari tidur siang ku, karena aku mulai penasaran kembali dengan buku ku yang terdapat tulisan dengan tinta merah tersebut. Aku berjalan menuju ke kamar belajar ku dan membuka halaman belakang buku ku. Tulisan tersebut ternyata berisi bahasa asing yang tidak ku kenali. Karena aku penasaran dengan arti kata tersebut, aku membawa buku ku dan menanyakan kepada orang tua ku mengenai arti dari tulisan dengan bahasa asing tersebut.

Alangkah terkejutnya, orang tua ku berkata kepada ku, ‘‘Tulisan? Kamu lagi ngigau ya? Gak ada satu pun tulisan disitu Alicia.’’

Aku menjawab dengan terheran-heran, ‘‘Itu tulisan pake bahasa asing di halaman belakang buku ku.’’

Orang tua ku menjawab dengan sedikit tertawa, ‘‘Udahlah Alicia, gak ada satu pun tulisan di situ, mending kamu balik tidur siang aja sana.’’

Aku sedikit kesal karena orang tua ku tidak mau melihat lebih teliti lagi, padahal aku sangat yakin disitu pasti terdapat tulisan dengan bahasa asing itu. Aku kembali pergi ke kamar tidur ku untuk tidur siang dengan perasaan khawatir bercampur dengan penasaran saat mengingat tentang tulisan tersebut. Tiba-tiba aku terbangun karena mendengar suara yang sangat keras. Suara itu seperti mengarahkanku untuk pergi ke arah buku ku, saat aku membuka halaman belakang buku ku ternyata sudah terdapat tulisan baru lagi dengan bahasa yang dapat ku kenali sekarang.

Tulisan itu masih menggunakan tinta berwarna merah, isi tulisan itu menyuruh ku untuk pergi ke sebuah rumah tua yang berada cukup jauh dari rumah ku. Karena aku penasaran, aku ingin pergi ke rumah tua itu untuk mencari tau tentang maksud tulisan yang ada di buku ku. Aku menyiapkan segala keperluan ku seperti makanan, minuman, senter, dan buku ku yang terdapat tulisan di halaman belakangnya karena aku tau pasti aku akan melewati perjalanan yang sangat panjang.

Di keesokan hari nya pukul delapan pagi, aku sudah bertekad untuk pergi ke rumah tua itu, aku meminta ijin dari orang tua ku dengan alasan ingin kerja kelompok di rumah teman ku yang bernama Feli karena dari rumah nya hanya sekitar seratus meter untuk jalan kaki ke rumah tua itu.

‘‘Mah, Pah, Alicia ijin pergi ke kerumah Feli buat kerja kelompok ya!’’ Ucapku sambil berteriak di depan pagar rumah.

‘‘Iya Alicia, jangan pulang kesorean ya!’’ Jawab orang tua ku sambil berteriak dari dalam rumah.

Aku pergi menggunakan ojek online. Sesampainya di rumah Feli, aku melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ke rumah tua itu. Setelah melewati perjalanan yang panjang, aku akhirnya sampai di rumah tua itu. Dinding rumah itu terbuat dari kayu seperti model rumah adat joglo.

Saat aku mulai masuk ke rumah tua itu, aku merasakan hawa-hawa menyeramkan yang membuat bulu kudukku berdiri. Rumah itu sangat gelap dan dingin, aku seperti merasakan ada orang yang meniup dan berbisik pelan di telingaku. Tiba-tiba pandanganku kabur dan perlahan menjadi gelap. Aku terbangun di sebuah goa yang sangat gelap, lembab dan dingin. Aku bangun dan berjalan untuk melihat sekitar dengan membawa senter, aku melihat sebuah cahaya yang sangat terang. Aku berjalan menuju ke arah cahaya itu, ternyata itu adalah jalan keluar dari goa tersebut. Aku berjalan keluar dengan sedikit takut, karena aku tidak tahu sekarang aku sedang berada dimana.

Aku berjalan sekitar 15 menit dan aku mulai kelelahan, aku memutuskan untuk memakan bekal yang sudah ku siapkan. Seusai aku mengisi energi ku, aku melanjutkan perjalananku. Setelah berjalan 10 menit, aku sampai di sebuah kota yang sangat asing bagi ku. Dibandingkan dengan kehidupan di kota ku yang sekarang, kota tersebut jauh lebih canggih dan modern. Kendaraan-kendaraan yang ada di kota itu sangat menakjubkan, kendaraan-kendaraan tersebut seperti gelembung yang dapat berjalan. Dan aku melihat di kota tersebut terdapat kendaraan motor yang seperti di gantikan dengan sapu lidi yang dapat terbang dan melaju dengan kencang. Aku berjalan menuju ke arah salah satu restoran yang ada di situ, setelah itu aku memesan teh.

‘‘Emm… Kak, saya boleh liat daftar menu nya? Saya mau pesan minuman.” Tanyaku kepada pelayan yang ada di kasir.

‘‘Ya. ” Jawab pelayan tersebut kepadaku dengan cuek.

Tetapi aneh nya tidak ada orang lain yang ada di restoran itu. Aku menunggu sekitar 5 menit, kemudian pesananku datang dan aku mencoba teh itu. Sebenarnya tidak ada yang aneh dari rasa teh tersebut, namun yang membuatku heran adalah nama teh tersebut yang ada di daftar menu. Nama teh tersebut adalah ‘‘Teh Mizo’’ menurut sepengetahuan ku, itu adalah nama teh yang terdapat suatu sihir disuatu cerita yang ada buku yang pernah ku baca. Setelah aku selesai menghabiskan teh ku, aku membayar dan melanjutkan mencari ada apa saja di kota ini. Tiba tiba aku mendengar suara yang sangat keras seperti kemarin siang, suara itu seperti berasal dari buku ku yang menandakan akan ada tulisan baru yang ada di halaman paling belakang.

Setelah aku membuka dan melihat di halaman paling belakang buku ku, ternyata benar sudah terdapat tulisan baru lagi, namun kali ini terdapat sebuah peta kecil. Tulisan tersebut menyuruhku untuk pergi ke sebuah pabrik tua. Aku pun segera berjalan ke arah pabrik tua itu sesuai dengan arahan peta kecil yang ada di buku ku. Aku ingin pergi ke arah pabrik tua itu menggunakan sebuah bis, namun aku tidak tau dimana telak halte terdekat yang ada di kota misterius ini. Tiba-tiba ada sebuah suara yang sangat kencang kembali. Aku segera membuka tas ku dan mengambil buku ku. Ternyata sudah ada sebuah petunjuk tentang letak-letak halte yang ada di kota misterius ini. Aku segera menuju ke halte yang terdekat dari posisi ku.

Sesampainya di halte tersebut, aku segera masuk ke bis yang sudah menunggu para penumpang. Di pertengahan jalan, aku tersadar bahwa aku tidak ada cukup uang lagi untuk membayar supir bis. Maka dengan berat hati, aku meminta supir bis tersebut berhenti dan menurunkan ku di pinggir jalan, karena sudah sekitar 5 menit lagi aku sudah akan sampai di pabrik tua itu.

Aku pun berkata kepada supir bis tersebut, ‘‘Pak, saya minta tolong turunkan saya disini saja ya pak.’’

Aku berjalan kaki menuju ke pabrik tua tersebut sambil membaca peta di buku ku. Sesampainya di pabrik tua itu, aku melihat seorang laki-laki yang memakai jubah hitam dan sepertinya dia seumuran denganku. Aku pun segera masuk ke dalam dan mengajak berkenalan dengan laki-laki itu.

‘‘Eeee… Hai, nama kamu siapa? Kenalin nama aku Alicia,” tanyaku kepada laki-laki yang ada di pabrik itu.

‘‘Hm? Oh… Hai, kenalin namaku Steven, kamu kenapa kok ada disini?’’ Jawab laki-laki tersebut sambil membalikkan badannya.

Aku pun menceritakan mengapa aku berada disini kepada Steven. Tak ku sangka, ternyata dia adalah laki-laki yang sangat baik hati dan ramah. Namanya Steven, dia berumur 16 tahun… Ohh ternyata dia satu tahun lebih tua di bandingkan denganku. Setelah berkenalan, aku pun bertanya tentang asal diri nya dan mengapa dia ada di pabrik tua ini, sebaliknya Steven juga menanyakan balik tentang hal tersebut.

Ternyata Steven adalah warga dari kota misterius ini, Ia berada disini karena ingin menyelidiki mengapa pabrik ini di tinggalkan dan menjadi pabrik tua terbengkalai seperti ini. Aku pun bertanya tentang kota misterius ini, ternyata nama dari kota misterius ini adalah ‘‘Kota Ottery.’’ Steven menjelaskan bahwa kota ini adalah kota sihir yang dahulunya adalah desa yang sangat tentram dan rukun, namun ada salah satu nenek moyangnya yang bernama Belle Potter datang dan mengubah total kehidupan di desa yang sekarang menjadi kota sihir yang sangat menakjubkan dan canggih. Steven bertanya kepadaku tentang asal ku dan mengapa aku berada di pabrik tua ini, aku pun menjelaskan apa yang aku alami selama ini. Steven pun hanya terdiam dan memberitahu hal yang sebenarnya, Ia berkata bahwa sebenarnya ada salah satu misteri di kota sihir ini. Misteri tersebut adalah tentang empat batu sihir yang tersembunyi di kota sihir ini, batu sihir itu dapat berguna untuk membuka portal untuk menuju ke dunia tempat tinggalku yang sebenarnya.

Aku hanya terdiam dan berkata dalam hati, ‘‘Kok Steven bisa tau dunia tempat tinggal asliku ya…?’’

Steven pun lanjut bercerita perihal portal tersebut, ternyata portal tersebut berada tepat di bawah pabrik tua ini. Setelah aku mendengarkan cerita tentang portal tersebut, aku pun meminta bantuan Steven agar dapat membantuku kembali ke dunia asli ku dengan cara mencari empat batu sihir tersebut.

‘‘Emm… Steven, aku boleh minta tolong sama kamu ga buat bantuin aku nyari 4 batu sihir itu? Aku pingin balik ke dunia asliku, aku takut papah dan mamah aku nyariin aku karena ga pulang-pulang.” Tanya ku dengan sedikit ragu-ragu kepada Steven.

Steven pun menjawab dengan santai, ‘‘Boleh dong, sebenernya aku memang punya keinginan buat bantu orang untuk mencari empat batu sihir tersebut. Karena aku tahu perjalanan untuk mencari batu sihir tersebut sangat panjang namun seru.’’

‘‘Terimakasih ya… Kamu orang yang sangat baik, aku akan membalas kebaikanmu di suatu hari nanti.’’ Jawabku.

Tiba-tiba buku ku kembali berbunyi dengan sangat keras. Saat aku membuka buku ku, aku mendapati bahwa buku ku sudah terdapat tulisan baru lagi. Tulisan tersebut adalah mengenai empat batu sihir yang diceritakan oleh Steven. Tiba-tiba muncul kembali sebuah gambar yang menunjukkan dimana letak-letak keempat batu sihir tersebut. Karena aku tidak paham mengenai letak-letak tempat di kota ini, aku memberikan buku ku kepada Steven. Steven pun memahami letak keempat batu sihir tersebut.

Setelah Steven memahami letak dari keempat batu sihir tersebut, Steven pun mengajak ku untuk pergi ke rumah neneknya terlebih dahulu. Aku pun bertanya kepada Steven mengapa kita harus pergi ke rumah neneknya terlebih dahulu sebelum pergi untuk mencari keempat batu sihir tersebut.

‘‘Steven, kok kita harus ke rumah nenek kamu dulu?’’ Tanya ku kepada Steven.

Steven pun menjawab pertanyaan ku, ‘‘Nenek ku tau lebih dalam mengenai batu sihir itu. Aku ingin menanyakan tentang keempat batu sihir itu, kemudian aku meminta izin untuk mencari batu sihir itu dan membuka portal menuju dunia aslimu.’’

Kemudian aku dan Steven menuju ke rumah nenek Steven dengan menggunakan sapu lidi yang dapat terbang dan melaju dengan kencang. Selama perjalanan aku hanya diam sambil terpesona melihat indahnya kota sihir ini. Aku pun mulai mengajak Steven berbicara karena sudah mulai bosan.

‘‘Steven, kalo misalnya aku gabisa pulang dari sini gimana ya? Apa aku bakal terjebak disini selamanya? Tanya ku kepada Steven.

Steven pun menjawab pertanyaanku, ‘‘Jangan pikirkan hal yang tidak-tidak Alicia, aku yakin kamu akan kembali ke dunia asli mu dengan selamat.’’

Sesampainya di rumah nenek Steven, aku dan Steven segera masuk dan bertemu dengan nenek Steven. Kemudian Steven memperkenalkan ku kepada nenek nya.

‘‘Nek, kenalin ini Alicia. Dia teman baru ku.’’ Kata Steven kepada neneknya.

Nenek Steven pun menjawab perkataan Steven, ‘‘Halo Alicia, perkenalkan nama saya Anna. Kamu bisa panggil saya Nenek Anna.’’

‘‘Iya Nek.’’ Jawabku kepada nenek Anna.

Kemudian Steven bercerita kepada nenek Anna tentang alasan dia mengajak aku pergi ke rumah nenek Anna. Setelah menceritakan tentang asal tempat tinggalku dan alasan mengapa aku berada disini, nenek Anna mengajak Steven untuk pergi ke kamar nenek Anna terlebih dahulu. Setelah selesai dari kamar nenek Anna, lalu Steven pamit dan meminta izin untuk membantu ku pergi mencari keempat batu sihir tersebut.

‘‘Nek, Steven sama Alicia izin pergi nyari batu sihir nya ya. Do’ain Steven bisa bantuin Alicia balik ke dunia aslinya.’’ Kata Steven kepada Nenek Anna.

‘‘Iya Steven, bantuin Alicia kembali ke dunia aslinya ya. Semangat !!!’’ Jawab nenek Anna.

Aku dan Steven pun segera bergegas untuk mencari keempat batu sihir tersebut. Saat perjalanan aku mengajak berbicara kepada Steven.

‘‘Sekali lagi terimakasih ya Steven, kamu sudah mau bantuin aku kembali ke dunia asliku dengan membantu mencari keempat batu sihir itu. Walaupun sebenarnya kita belum pernah bertemu sebelumnya, namun kamu tetap mau membantuku. Maaf karena aku telah merepotkan mu…’’ Aku pun mengatakan hal tersebut kepada Steven dengan sedikit terharu.

‘‘Hei… Untuk apa kamu berterimakasih? Aku yang seharusnya berterimakasih kepadamu, karena dengan aku membantu mu mencari keempat batu sihir itu. Aku akan memiliki pengalaman yang sangat menyenangkan dan menakjubkan. Tentang perihal mengapa aku ingin sekali membantu mu padahal sebelumnya kita belum pernah bertemu, itu karena kamu adalah satu-satunya orang yang mau mengajak ku berkenalan pertama kali nya seumur hidupku. Aku dari kecil tidak mempunyai teman atau mungkin apabila aku mempunyai teman pun hanya sedikit dan biasanya pertemanan ku tidak bertahan lama. Itulah mengapa aku juga sangat berterimakasih kepadamu Alicia, aku sangat bersyukur karena dapat berkenalan denganmu.’’ Jawab Steven.

Tanpa tersadar, saat aku sedang mendengar jawaban dari Steven. Aku meneteskan air mataku. Tiba-tiba saat aku ingin mengelap mataku, aku seperti mendengar suara seseorang yang tidak asing bagiku dari kejauhan. Saat aku ingin membuka mataku, ternyata semua kejadian yang selama ini aku alami itu adalah mimpi. Aku terbangun dari tidurku dengan keadaan menangis. Dan suara orang aku dengar dari mimpi ku itu adalah mamahku yang membangunkan ku dari tidur ku semalam.

-Tamat-

Garis Luka

Garis Luka

Pada hari sabtu pagi, anggota inti Diamond Gang sedang berkumpul di markas biasa. Kebetulan hari ini Canva mendapatkan shift kerja malam.

“Guys…” panggil Canva pada teman-temannya.

“Hm?” sahut Farzan.

“Gue pulang dulu ya,” pamit Canva.

“Mau kemana lo bro? Tumben balik cepet?” tanya Areksa dengan keheranan.

“Mau ke makam. Udah ya gue balik dulu, dadah.” ujar Canva setelah memakai jaketnya.

“Woke, ati-ati Va!” seru Marvin.

***

Setelah sampai di pemakaman, Canva bergegas turun dari motornya.

“Pah, mah, nek, Anva dateng lagi.” lirih Canva kemudian berjalan masuk ke dalam melewati pusara pusara, hingga akhirnya ia sampai di depan makan kedua orang tua nya dan neneknya.

“Hai, Anva dateng lagi.” ujar Canva dengan lirih sambil berjongkok di depan makam keluarga nya.

“Seperti biasa, Anva bawain mawar merah kesukaan kalian. Pasti kalian seneng kan?” tanya Canva.

Semakin ia berbicara, semakin sakit pula hatinya. Rasanya sesak kala mengingat bahwa mereka telah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Mata cowok itu berair ketika meletakkan setangkai bunga mawar merah tepat di bawah batu nisan keluarganya.

“Keadaanya masih sama. Aku belum bisa menyusun hati yang hancur ini atas kepergian kalian.”

“Aku belum bisa relain kepergian kalian. Ini seperti mimpi. Kalian pernah janji kalau kita akan terus bersama-sama, kalian mau liat Anva sukses. Tapi, kenapa kalian malah pergi duluan? Kalian ninggalin Anva disini sendirian.” kepala Canva jatuh tepat di atas lengannya yang mengusap batu nisan ibunya.

Sakit, sangat sakit.

Air mata Canva luruh jatuh ke tanah. Tubuhnya terasa lemas. Hari-hari yang dilalui Canva terlalu suram dan sepi meski ia berada di keramaian.

“Mah, aku capek, aku capek harus berdiri sendirian di tengah kerasnya dunia ini. Aku setiap hari berada di keramaian, tapi kenapa aku selalu merasa kesepian?”

“Aku sekarang penyakitan mah. Aku udah jadi orang gila yang setiap bulan harus dateng ke psikiater. Besok, jadwal aku kontrol ke psikiater. Kalian doain sama jagain Anva dari atas sana ya? Nanti kalau udah waktunya Anva di jemput, Anva bakal nyusul kalian. Nanti kita kumpul lagi di dunia yang lebih indah.” Canva terus bermonolog sambil menangis di depan makam ibunya.

“Terimakasih untuk kebahagiannya selama ini. Kalian emang nggak ada di deket aku, tapi aku selalu bayangin kalau kalian ada di deket aku.”

“Aku pulang dulu ya, aku mau kerja. Nanti kapan kapan kalau ada waktu aku bakal kesini lagi. Aku sayang banget sama kalian.” ujar Canva sambil tersenyum pedih sekaligus pamit. Setelah pulang dari makam, Canva akan langsung pergi ke cafe untuk bekerja.

***

Tiba-tiba ditengah perjalanan, Canva merasakan sakit bukan main di dadanya. Dia meremas dadanya sekuat mungkin dengan nafas yang kian terasa sesak. Bahkan kini, pandangan matanya mengabur sehingga ia kesulitan untuk berkendara.

“Mama, sakit.” lirih Canva disertai dengan ringisan penuh sakitnya.

Telinga laki-laki itu berdengung kencang hingga membuatnya kesulitan untuk mendengar. Tanpa sadar, Canva melepaskan stang motornya dan beralih memegang kepalanya yang terasa seperti dihantam beton 20 kilo.

Seiring dengan itu, kecepatan motornya yang tinggi dan tidak terkendali, motornya menjadi oleng dan menabrak pembatas jalan dengan sangat kencang.

BRAKKK

Seiring dengan bunyi gesekan motor dengan aspal, tubuh laki-laki itu terpental beberapa meter kemudian menghantam aspal dengan kerasnya.

Rasa sakit dan perih bercampur menjadi satu.

Canva terbaring tak berdaya di atas aspal dengan darah yang bercucuran dimana mana. Canva merasakan sakit luar biasa yang tidak pernah dia alami sebelumnya.

Laki-laki itu merintih. Saking kesakitan nya, kedua ujung mata laki-laki itu meneteskan air mata. “Mama, papa, sakit.” setelah mengatakan kalimat tersebut, Canva langsung tak sadarkan diri.

***

Para anggota inti Diamod dan Azura berlarian di lorong rumah sakit setelah di telfon oleh pihak rumah sakit bahwa sahabatnya telah mengalami kecelakaan. Sesampainya di ruang UGD, dokter yang memeriksa kondisi Canva keluar dari UGD.

“Dok, bagaimana kondisi Canva?” tanya Samuel mewakili sahabat-sahabatnya.

“Keluarga pasien Canva Narendra? Saya ingin berbicara.” ujar Dokter yang memeriksa kondisi Canva.

“Saya sahabat nya.” jawab Areksa.

“Oh baiklah, anda bisa ikut keruangan saya” ajak dokter pada Areksa.

“Kalian disini aja, biar gue sama Areksa yang keruangan dokternya” ucap Samuel pada sahabat nya.

***

“Sebenarnya luka kecelakaan Canva tidak terlalu parah. Hanya saja, ia terus mengalami penurunan kesadaran akibat penyakit gagal ginjal kronis yang ia derita.” perkataan dokter itu memenuhi isi kepala para anggota inti Diamond Gang.

Kini Samuel berdiri mematung di sebelah brankar UGD RS BAGASKARA , menatap tubuh Canva yang terbaring tak berdaya di atas brankar.

“Kenapa lo bohongin kita semua Va?” ucap Samuel sambil menatap lurus ke depan dengan pandangan yang sulit di artikan.

“Kenapa lo nggak pernah bilang sama kita kalau lo punya penyakit?” monolog Samuel sambil menatap kosong Canva yang masih menutup erat matanya.

“Va, asal lo tau, gue merasa jadi sahabat yang nggak guna. Kenapa lo nyimpen semua sendirian? Kenapa lo nggak pernah cerita sama gue?” tanya Marvel yang sudah mengetahui semua dan merasa sedikit kecewa dengan Canva.

Merasa ada yang berbicara dengan nya, Canva perlahan membuka matanya. “Avel…. sakit, sakit banget rasanya.” lirih Canva sambil memegangi kepalanya.

“Va, kenapa lo nggak pernah cerita sama kita kalau lo punya penyakit?” tanya Marvin sambil menatap tubuh Canva yang di hiasi dengan luka.

“Gue cuma nggak mau ngerepotin kalian, gue nggak mau bikin kalian kepikiran.” Ucap Canva sambil menahan rasa sakitnya.

“Jujur, gue agak kecewa sama lo Va, lo udah nggak nganggep gue sebagai sahabat lo?” tanya Marvel dengan suara yang bergetar menahan tangis agar tidak pecah.

“Maaf…” hanya itu yang bisa Canva ucapkan.

“Bertahan ya Va, demi kita, demi masa depan lo juga. Lo katanya mau jadi orang sukses yang bisa ngebiayain kehidupan anak anak jalan, jadi bertahan Va, gue mohon” kini giliran Ilona yang angkat bicara sambil mengusap rambut Canva dengan lembut.

“Ini terlalu sakit Na, gue juga udah capek hidup kayak gini, gue nggak punya siapa siapa lagi di dunia ini setelah keluarga gue meninggal. Gue capek setiap satu minggu harus nahan sakit waktu cuci darah, gue capek setiap bulan harus bolak balik ke psikiater, gue capek harus nahan sakit lagi,” Canva menjeda ucapannya untuk mengambil nafas.

“Gue nggak sanggup. Untuk kali ini, gue beneran udah capek, gue mau nyerah aja rasanya.” ucap Canva dengan nafas yang mulai tersenggal-senggal.

“Semuanya udah selesai. Kalian semua harus bahagia, ya?” Canva mengedarkan pandangannya untuk menatap para sahabatnya.

“Lo nyuruh kita buat bahagia kan? Kalau lo sendiri gimana? Apa selama ini lo udah bahagia?” tanya Areksa. Canva menatap langit-langit rumah sakit dengan pandangan yang nanar.

“Gue nggak perlu itu, Sa. Tugas gue di dunia ini emang mau ngebahagian orang-orang.”

Lelaki itu lantas menatap Samuel dan Areksa yang berdiri sebelahan.

“Jagain dua adek gue ya? Mereka kadang suka bandel, jadi harus ekstra sabar,” ia terkekeh ringan dengan kedua sudut mata yang sudah mengeluarkan cairan bening.

“Apan… Apan nggak boleh pergi” ucap Azura sambil menangis.

“Sini,” panggil Canva dengan lembut pada Azura, ia pun lantas mendekat.

Tangan Canva yang lemah itu terangkat untuk mengusap air mata yang keluar dari kedua sudut mata Azura.

“Nggak boleh nangis, katanya anak pinter?” ucap Canva yang berusaha menghibur Azura.

“Lo itu penipu, munafik, dan lo juga egois. Lo terlalu mikirin kondisi orang lain padahal lo lagi nggak baik baik aja.” sahut Marvel yang berdiri agak jauh dari brankar Canva yang membuat Canva terkekeh ringan dan memilih tidak menanggapi ucapan Marvel.

“Buat Farzan,” Canva menatap Farzan yang berdiri di depan brankar yang ia tempati.

“Semangat ngajak balikan si Meyra.” ucap Canva pada Farzan, teman adu mulut nya.

“Buat lo, Marvin, si buaya kelas kadal, jangan suka mainin perasaan cewek lagi. Udah ada Bella kan? Perasaannya dijaga, jangan sampe lo kecewain Bella,” ucap Canva pada Marvin.

“Dan buat dua adek kesayangan gue, kalau kalian sedih, minta Marvin atau Farzan buat ngehibur kalian ya. Soalnya, gue udah nggak bisa.”

“Va, udah Va udah stop!” ucap Ilona yang sudah tidak kuat menahan sesak di dada nya.

Ilona semakin terisak saat Azura memeluknya.

Rasa sayang mereka berdua pada Canva sangat besar, melebihi luasnya samudra. Lelaki itu selalu berusaha untuk menjadi kakak yang baik bagi kedua adik adiknya, yang selalu berusaha membuat kedua adiknya bahagia.

“Dan untuk Samuel sama Areksa, pemimpin Diamond, tetep jadi orang hebat yang selama ini gue kenal ya? Kalian leader paling hebat yang pernah gue temuin,” Canva membiarkan air matanya jatuh karena ia sudah tak sanggup lagi untuk mengusapnya.

“Dan yang paling penting, jadiin adek adek gue, ratu di hati kalian ya. Jangan sakitin hati mereka, jangan sampai mereka nangis gara-gara ulah kalian berdua.”

Lelaki itu menghirup nafas dalam dalam kemudian menghembuskan nya secara perlahan.

“Dan yang terakhir, buat si batu, temen ngebadut gue.” Canva tertawa kecil menatap Marvel yang sedari tadi berdiam diri.

“Makasih, makasih udah jadi sahabat paling baik yang pernah gue kenal, makasih udah mau gue susahin.” ucap Canva pada Marvel.

“Thank you for everything, guys. Kalian sahabat terbaik gue.”

“Makasih udah mau gue jadiin tempat pulang saat gue lagi bener bener capek sama keadaan. Makasih udah mau nerima gue yang penyakitan ini. Makasih udah mau jadi rumah kedua gue setelah rumah pertama gue hancur. Kalau nanti gue udah nggak ada, jangan lupain gue, ya?” ujar Canva pada sahabat sahabat nya.

“Lo ngomong apaan sih? Lo harus sembuh. Gue rela ngurus lo 24 jam. Gue bakal ngasih semua hidup gue buat lo. TAPI LO HARUS SEMBUH, LO NGGAK BOLEH PERGI NINGGALIN GUE!” sahut Marvel.

“Lo yang ngajarin gue buat bersyukur, buat bisa ngehargain perempuan, lo yang selalu berusaha untuk bikin orang orang bahagia padahal lo sendiri lagi butuh kebahagiaan.” Marvel menangis meluapkan rasa sakit di hatinya.

“Maaf nggak bisa lama lama. Tolong ikhlasin gue buat melepas penat yang selama ini menjerat gue. Udah cukup sampai disini aja. Gue juga manusia biasa. Gue butuh istirahat.” ujar Canva sambil menahan sesak di dadanya.

Keadaan di ruang itu menjadi hening setelah Canva mengucapkan kalimat menyakitkan tersebut.

“Va, kalau emang lo beneran udah nggak sanggup, gue relain lo pergi, ada masanya juga lo bakal capek sama keadaan.” ucap Samuel dengan berat hati dan membuat yang lain ikut kompak menganggukkan kepalanya, kecuali Marvel.

Hal itu membuat Canva tersenyum tipis.

“Tinggal lo Vel, relain gue ya?” nada bicara Canva kian melemah.

Rasa sesak kian menyeruak di dada Marvel.

“Gue mungkin terlalu egois buat minta lo supaya nggak pergi. Rasanya nggak adil kalau orang sebaik lo harus pergi secepat ini. Tapi, gue juga nggak bisa biarin lo ngerasain sakit terus-terusan. Dan detik ini juga, gue ikhlasin kalau emang lo mau pergi dari dunia ini.” ujar Marvel dengan perasaan yang sangat amat tidak rela.

Mendengar itu, Canva tersenyum lebar. Sebentar lagi ia akan terbebas dari rasa sakit yang sudah lama ia rasakan.

“Gue duluan, ya? Nanti kalau masuk surga, gue… laporan lewat mimpi kalian.” setelah mengucapkan itu, kesadaran Canva langsung menurun drastis. Ia juga sempat dipindahkan ke ICU.

Tapi takdir berkata lain. Seorang Canva Narendra telah meninggal dunia pada 31 Agustus 2021.

“KITA BODOH! KITA DITIPU SAMA DIA” teriak Marvel yang menggema memenuhi lorong rumah sakit.

“Kita ditipu sama senyum palsu dia! Kita ditipu sama kata kata dia yang selalu bilang kalau dia baik-baik aja. Canva pembohong dan dengan bodohnya kita percaya kalau dia beneran baik-baik aja.” ucap Marvel yang terlihat frustasi.

Pintu ICU terbuka, kali ini muncul dua perawat yang mendorong brankar dan diikuti satu dokter.

Marvel yang paham jika mereka akan membawa jenazah Canva ke kamar jenazah pun mencegahnya.

“TUNGGU!” teriak Marvel.

Marvel berjalan ke arah sosok yang tubuhnya terbujur kaku di atas brankar. Tangan Marvel yang bergetar berusaha menyingkap kain putih yang menutupi tubuh Canva.

Marvel meletakkan kepalanya di sisi brankar setelah melihat wajah Canva yang pucat.

Disini yang paling terluka adalah Marvel. Cowok itu benar-benar merasa kehilangan yang begitu dalam dan menyakitkan.

“Va….” panggil Marvel.

“Bangun, Diamond butuh lo…” Marvel terus bermonolog sambil menatap jenazah Canva.

“Gue hancur, Va… gue hancur. Gue nggak mau kehilangan sahabat sebaik lo.” ujar Marvel yang menatap penuh luka ke arah jenazah Canva.

“Maafin kita yang nggak pernah tau kondisi lo Va.” ucap Samuel mewakili sahabat-sahabat nya.

“Canva itu definisi lelaki yang sempurna. Seumur hidupnya, dia nggak pernah yang namanya nyakitin hati perempuan. Dia bahkan nggak pernah mau pacaran. Katanya, pacaran itu haram. Lo bener bener bikin gue salut, Va. Hebat! Lo satu-satunya anggota Diamond paling hebat dan nggak pernah ada duanya.” ucap Marvin kemudian menangis sekencang-kencang nya di bahu Farzan.

“Gue…ikhlas, Va. “ ujar Marvel akhirnya.

“Kapan-kapan kita cerita lagi.”

Canva adalah penipu yang baik dan munafik.

Kawan, sekarang lepas penatmu. Kebahagiaan yang abadi telah siap menjemput mu.

Kami disini akan selalu mengingat pesan mu.

Selamat tinggal, malaikat kami.

***

“L-lo beneran Masnaka?” tanya Canva dengan perasaan yang sangat terkejut.

Bagaimana tidak? Seingat dia, dia telah meninggal karena kecelakaan dan penyakit yang di deritanya.

“Iya.” jawab Naka.

Jadi yang di depan Canva beneran Masnaka? Masnaka Restu Putra? Tokoh fiksi yang ada di dalam cerita fiksi 00.00 itu? Apa jangan-jangan dia mati terus bereikarnasi ke dalam dunia novel? Kalau iya, fiks Canva keren banget.

“Lo Canva kan? Canva Narendra?” tanya Naka.

“Iyaa, kok lo tau nama gue sih?” heran Canva.

“Nama lo terkenal banget disini,” jawab Naka.

“Ini sebenernya gue dimana sih?” tanya Canva keheranan.

“Dirumah gue.” jawab Naka dengan enteng.

“HAH?! SERIUS? DEMI APA?” pekik Canva.

“Hm,” jawab Naka.

“Bentar bentar, ini gue reinkarnasi gitu ceritanya?” tanya Canva pada Naka.

“Iya mungkin.” jawab Naka seadanya.

“Lah? Tadi emang lo nemuin gue dimana?” tanya Canva.

“Di teras kontrakan gue, lo kayak lagi pingsan makannya gue bawa lo masuk. Dan lo sebenernya lagi ngapain di dunia lo sampe nyasar ke dunia gue?” kini giliran Naka yang bertanya pada Canva.

“Sebenernya, di dunia gue, gue udah meninggal karena kecelakaan dan sakit yang gue derita.” jelas Canva sejujur-jujurnya.

“Lo sakit? Sakit apa lo?” tanya Masnaka sambil menatap Canva.

“Emmmm…..gue nggak usah bilang deh, lo udah sibuk sama Lengkara dan diri lo sendiri, nanti kalau gue cerita gue malah nambah beban lo. Lagian kan katanya gue terkenal di dunia Lo, masa Lo nggak tau penyakit gue?” ucap Canva yang merasa tidak enak.

“Engga, cerita aja kenapa sih?” Naka memaksa Canva untuk bercerita padanya.

“Ya udah gue cerita sama lo.” Canva pun mulai menceritakan kehidupan nya pada Naka tanpa ada yang ditutupi.

“Nah kan gue udah cerita, sekarang giliran lo yang cerita sama gue.” ucap Canva diakhiri dengan kekehan kecil.

Naka mulai menarik nafas membuat Canva kembali mengingat potongan-potongan cerita 00.00. Ia tahu, tahu jika Naka juga menderita, tahu jika Naka mempunyai penyakit kanker jantung, tahu jika Naka menyimpan banyak luka, tahu tentang semua yang laki-laki itu sembunyikanSama persis seperti dirinya. Dan ia juga tahu tentang  bagaimana laki-laki itu rela berkorban demi gadis-nya.

“Gue yakin lo udah tau semuanya, Va. Gue tokoh fiksi di dunia lo kan? pasti lo udah tau tentang gue.” bukannya cerita, Naka malah mengatakan hal lain.

Canva yang mendengar Naka berbicara seperti itu pun hanya diam mematung.

“Kita itu sama Va, sama-sama diciptakan hanya untuk merasakan sakit.” ucap Masnaka.

***

Setelah enam bulan Canva berada di dunia 00.00. Selama itu juga Canva tinggal bersama Masnaka di kontrakan Naka. Pagi itu, Canva sedang fokus memasak untuk sarapan dan bekal untuk Masnaka karena Masnaka tidak diizinkan untuk makan sembarangan oleh dokter.

”Ka, udah belum mandinya? Cepetan!! Keburu masakannya dingin. Lagian lo udah kayak anak cewek tau nggak? Mandi nya lama banget, gue juga mau mandi!” oceh Canva sambil menunggu Naka keluar dari kamar mandi.

“Sabar Va, ngomel mulu dri kemaren, lagi PMS ya?” tanya Naka yang membuat Canva emosi.

“Lo amnesia atau gimana, Ka? JELAS JELAS GUE COWOK, MASA BISA PMS?” jawab Canva dengan sedikit ngegas.

“Ya santai dong, ngegas mulu,” ucap Naka.

“Bodoamat.” sahut Canva ketus.

“Udah sana lo sarapan, gue mau mandi. Minggir lo!” ucap Canva diakhiri dengan nada bicara yang ketus.

“Marah-marah mulu neng, cepet tua loh ntar.” goda Naka yang diacuhkan oleh Canva.

Lalu Naka berjalan menuju arah meja makan. Saat ia sedang makan dengan damai, Canva tiba-tiba datang dari arah belakang sambil bernyanyi dengan nada yang cukup keras, dan itu berhasil membuat nya kaget.

“Astaga ngagetin aja lo, Va.” ujar Naka sambil mengelus dadanya.

“Hehe, sorry,” jawab Canva sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal.

“Lo nggak makan?” tanya Naka sambil melanjutkan acara sarapannya yang sempat terganggu tadi.

“Ngga, ntar aja, mau nyiapin bekal buat lo dulu.” ujar Canva lalu berlalu dari meja makan menuju dapur.

“Hati-hati ya cantik, awas kepleset lagi kayak kemarin.” goda Naka yang dibalas pelototan tajam oleh Canva.

“Gue cowok ya, Ka. Gue tuh ganteng bukan cantik. Lagian lo kenapa sih? Suka banget ngegoda orang akhir-akhir ini?” ucap Canva yang tidak terima dikatain cantik.

“Engga tuh, gue ngga godain siapa-siapa. Gue cuma godain lo doang.” ucap Naka dengan santai.

“Apasih ga jelas lo, tau ah, pagi-pagi mood gue rusak gara-gara lo ya,” sinis Canva pada Naka.

“Hehehe, ya udah deh, maaf yaa..” ucap Naka meminta maaf karena ia takut jika Canva sedang mode galak.

“Hm.” Hanya itu yang Canva ucapkan sebelum pergi ke dapur untuk menyiapkan bekal.

Setelah Naka selesai sarapan, bertepatan dengan Canva berjalan keluar dari dapur.

“Nih bekalnya, dihabisin loh ya! Awas kalau nggak dihabisin,” ujar Canva sambil menyodorkan kotak bekal yang sudah ia siapkan tadi.

“Siap, makasih Va.” ucap Naka sambil menerima bekal dari Canva.

“Iya, masama. Ati-ati ya, nggak usah ngebut bawa motornya. Obat lo udah dibawa kan?” ucap Canva yang memberi wejangan sekaligus pertanyaan untuk Naka.

“Udah, Va. Cerewet banget sih.” ucap Naka yang gemas dengan tingkah Canva sambil mengacak-acak rambut Canva.

“Gue cerewet gini juga demi kesehatan lo, Ka.” sahut Canva dengan ketus.

“Hahaha iya-iyaa, ya udah gue berangkat dulu ya, dadah” pamit Naka lalu menuju ke pintu.

“Oke, hati-hati, Ka.” jawab Canva sambil mengikuti Naka menuju ke arah pintu.

“Heem.”

Setelah sudah siap dengan motornya, Masnaka melambaikan tangan nya ke arah Canva yang berdiri di depan pintu sambil tersenyum manis.

Canva yang melihat itu pun ikut melambaikan tangan nya ke arah Naka sambil tersenyum.

Sesudah Masnaka berangkat, kini giliran Canva yang akan memakan sarapan nya.

Setelah selesai sarapan, Canva mulai membersihkan kontrakan Naka, seperti menyapu, mengepel, dan lain sebagainya. Karena yang bekerja hanya Naka, jadi ia memilih membantu Naka dengan cara membersihkan kontrakannya.

***

Saat sedang asik menyapu tiba-tiba pintu rumah nya diketuk dengan kencang.

Tok…tok…tok

Pintu diketuk semakin kencang membuat Canva berjalan tergesa ke arah pintu.

“Sabar napa elah,” ucap Canva setalah membuka pintu.

“Naka, Va,” ucap Sekala begitu Canva membuka pintu.

“Hah? Naka kenapa?” tanya Canva khawatir tapi tidak mendapat jawaban dari Sekala.

“Jawab elah, Naka kenapa? Penyakitnya kambuh lagi?” desak Canva pada Sekala.

“Naka… udah nggak ada Va,” jawab Sekala lirih.

“Hah? Nggak ada gimana? Dia lagi kerja, Kal. Nggak usah aneh-aneh.” sahut Canva dengan suara yang bergetar menahan tangis.

“Gue nggak aneh-aneh, Naka emang udah nggak ada. Tadi pagi waktu dia mau berangkat kerja, dia kecelakaan.” jelas Sekala.

“NGGAK! NAKA NGGAK MUNGKIN MENINGGAL, TADI PAGI DIA MASIH BAIK-BAIK AJA, KAL. BERCANDA LO NGGAK LUCU!” pekik Canva yang belum bisa menerima kenyataan bahwa Masnaka sudah meninggal dunia.

“Lo harus bisa nerima kenyataan nya, Va. Sekarang kita masuk dulu ya.” ucap Sekala lalu menuntun tubuh lemas Canva untuk masuk ke kontrakan Masnaka.

“Kalau lo mau nangis, nangis aja gapapa. Nangis yang kenceng, luapin semua nya.” ucap Sekala yang sama terlukanya dengan Canva tapi berusaha terlihat kuat di depan Canva karena ia tak mau melihat Canva tambah bersedih jika melihat ia menangis.

Canva yang mendengar itu lalu menjatuhkan kepalanya di bahu Sekala lalu ia menangis sekencang mungkin di sana.

Setelah cukup lama menangis, Sekala yang merasa Canva sudah tidak menangis sekencang tadi, perlahan mengangkat kepala Canva lalu mengusap pipi Canva yang sudah dibanjiri air mata.

“Udah nangisnya? Sekarang lo nggak boleh nangis lagi. Air matanya sisain buat besok. Nggak boleh dihabisin sekarang.” ucap Sekala yang berusaha untuk menghibur Canva.

“Kenapa harus sekarang, Kal? Ini terlalu tiba-tiba buat gue. Rasanya kita barusan kenal, tapi kenapa dia malah pergi secepat itu?” tanya Canva sambil terisak di bahu Sekala.

“Ini takdir, Va.” ujar Sekala.

Setelah cukup lama menenangkan Canva, Sekala pamit karena ia harus mengurus jenazah Masnaka sesegera mungkin.

“Gue pulang ya, lo jangan nagis terus, kasian mata lo.” pamit Sekala.

“Iya, hati-hati ya, Kal. Makasih udah mau nemenin gue.” balas Canva yang hanya dibalas acungan jempol oleh Sekala.

Setelah Sekala pulang, Canva hanya mampu berdiam diri di kamar sambil menangis.

Biarlah jenazah Masnaka menjadi urusan Sekala, karena ia tak sanggup jika harus melihat jenazah Masnaka.

“Lo bener, Ka. Kita hanyalah sepasang luka yang berakhir duka.” Canva terus bermonolog sambil menangis di dalam kamar Masnaka.

“Selamat tidur walau tak bangun lagi, Masnaka Restu Putra, seorang lelaki hebat yang tak ada duanya.” ucap Canva sebelum memejamkan matanya erat.

***

Pagi ini Canva sudah rapi dengan baju dan celana hitam yang melekat pada tubuhnya. Hari ini ia akan ke makam Masnaka.

Masnaka sudah dimakamkan kemarin sore, Canva sengaja tidak ikut dalam acara pemakaman Masnaka karna ia yakin ia tidak akan sanggup melihat wajah Masnaka untuk yang terakhir kalinya.

Untuk pergi ke makam Naka, ia akan di antar oleh Sekala.

“Gue dateng, Ka.” lirih Canva sambil menatap pantulan diri nya di cermin.

Saat mengunci pintu kontrakan, Sekala datang dengan mobil nya.

“Udah siap?” tanya Sekala.

“Udah.” jawab Canva dengan ragu.

“Oke, yok kita berangkat sekarang.” ajak Sekala yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Canva.

“Lo ngapain bawa boneka?” tanya Sekala yang keheranan.

“Ini boneka pemberian Naka. Gue mau naruh ini di makam Naka.” jawab Canva yang hanya dibalas senyum hangat milik Sekala.

Mobil Sekala mulai meninggalkan pekarangan kontrakan Naka. Jam di pergelangan tangan Canva menunjukkan pukul 9 pagi.

Dua orang itu sedang duduk di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang. Tak ada yang membuka suara selama perjalanan, dua orang itu sibuk pada pikirannya masing-masing.

Perjalanan ke makam kurang lebih 20 menit.

Sekala memarkirkan mobil nya di depan gapura yang bertuliskan “Tempat Pemakaman Umum”.

“Udah sampe, Va.” ujar Sekala yang dibalas deheman oleh Canva.

“Makasih Kal, udah mau nganterin gue. Lo bisa pulang duluan, nanti gue pulang sendiri.” ucap Canva pada Sekala.

“Nggak! Gue bakal tungguin lo sampe selesai.” ucap Sekala dengan tegas.

“Hm, iya deh terserah lo aja.” jawab Canva dengan pasrah.

“Tapi lo tunggu di sini aja ya?” sambung Canva.

“Iya, kalau ada apa-apa telfon gue ya.” jawab Sekala yang dibalas anggukan kepala oleh Canva.

Canva berjalan sendiri melewati pusara-pusara dengan tatapan kosong. Suara gemuruh guntur tertangkap di pendengaran Canva.

Lelaki itu berhenti tepat di depan makam dengan batu nisan yang bertuliskan nama sahabatnya.

Masnaka Restu Putra.

Tak dapat disangkal bahwa rasanya sangat sakit.

Ia duduk di sebelah makam laki-laki itu, dan menaruh boneka boba pemberian Masnaka yang diberi nama Babo.

“Hai, Ka….” sapa lelaki itu dengan suara yang bergetar.

“Ini gue, Anva. Gue dateng, Ka.” lirih lelaki itu.

Tangannya perlahan naik untuk mengusap batu nisan di depannya. Mata lelaki perlahan memburam karena tertutup air mata.

Kelopak matanya perlahan tertutup bersamaan dengan kedua tangannya menengadah. Ia berdoa sambil menangis di sebelah makam Naka, sesekali isakan yang berusaha ia tahan terlepas keluar dari bibirnya.

Setelah selesai berdoa, ia perlahan membuka matanya yang udah memerah.

“Maafin gue ya, Ka. Gue nggak ada di saat proses pemakaman lo,” lirih lelaki itu.

Tak ada jawaban. Hanya ada suara angin yang berhembus dengan kencang.

“Gue nggak kuat kalau harus liat jasad lo untuk yang terakhir kalinya.” bahu Canva bergetar karena menahan tangis.

Semua terasa sangat menyakitkan. Rasanya begitu sesak berbicara kepada angin yang sampai kapan pun tak akan bisa menjawab.

“Maaf ya, Ka. Maaf belum bisa ikhlasin lo pergi.” bisiknya yang terdengar menyakitkan.

Canva kembali merutuki dirinya yang tak sanggup melihat wajah Masnaka untuk terakhir kalinya sehingga tidak bisa mengikuti proses pemakaman Naka.

Ia kembali duduk dengan tegap. Dengan tangan yang bergetar, ia mengambil beberapa notes warna warni berbentuk persegi di dalam saku celana nya.

Untuk kesekian kalinya, masih dengan air matanya yang senantiasa mengalir dari kedua sudut mata.

Canva kembali membaca tulisan tulisan tangan Masnaka di notes itu.

“Kita punya keinginan, semesta punya kenyataan dan Tuhan punya keputusan.”

Kita nggak pernah dikasih kekuatan untuk melawan. Kita terlalu kecil untuk semesta yang besar ini. Kita terlalu lemah untuk semesta yang jahat ini.”

“Jangan pernah capek jadi orang baik.”

“Senyumnya jangan sampai hilang, ya?”

Canva tersenyum diantara linangan air matanya. Satu per satu tetesan air jatuh dari langit disertai guntur yang terdengar semakin jelas.

Gue tau Lo nggak sekuat itu.”

“Terlihat manis, kan? tapi jangan terlena sama yang manis. Kadang, manis itu menyakitkan.”

“Tidak perlu khawatir perihal masa depan. Karena semuanya sudah tersusun rapi dan sudah pasti diatur oleh Tuhan.”

“Tuhan, aku percaya, setelah kesedihan, kebahagiaan itu pasti nyata adanya.”

“Luka itu pasti ada dan Tuhan nggak akan pernah lupa buat ngasih obatnya.”

Tangis Canva kembali pecah.

Canva berdiri dari duduknya.

Kepalanya menengadah ke atas menikmati setiap tetesan air hujan yang mengenai tubuhnya. Ia membiarkan air matanya jatuh bersamaan air hujan yang jatuh.

“MAKASIH DAN MAAF UNTUK SEMUANYA, NAKAAA!” teriak lelaki itu tiba-tiba.

“MAKASIH UDAH MAU NERIMA GUE SEBAGAI SAHABAT LO. DAN MAAF KALAU GUE SELAMA INI SELALU NYUSAHIN LO,” teriaknya tenggelam di antara derasnya hujan yang menguyur tubuhnya.

Ia melepaskan seluruh rasa sakit dan sesak yang tak tertahan.

“Seribu yang datang, nggak akan bisa menggantikan satu yang pergi, Ka. Lo sahabat terbaik bagi gue setelah Marvel.” tubuh Canva terjatuh lemas ke tanah.

Hari itu, hujan kembali turun dengan deras. Seolah-olah tak membiarkan Canva menangis sendirian di makam Masnaka.

Hujan juga mengerti kenapa harus turun.

Masnaka telah pergi, meninggalkan luka yang abadi.

Masnaka telah tiada, meninggalkan berjuta kenangan yang ada.

“Selamat jalan kawan. Ragamu memang pergi, tapi jiwamu tetap abadi di dalam benak kami.”  -Canva Narendra & Sekala Samudra.

                                            END

Seorang Putri yang Dibenci Ayahnya

Seorang Putri yang Dibenci Ayahnya

Di planet Wonderland ada seorang putri bernama Athanasia De Alger Obelia, yang berumur 10 tahun. Athanasia adalah anak yang baik, pintar, rajin, dan cantik.

Dia mempunyai ayah bernama Claude De Alger Obelia. Ayahnya tidak menyukai Athanasia atau bisa disebut ayahnya benci kepada Athanasia. Athanasia pun tidak tahu kenapa ayahnya benci kepada dia.

Pada suatu hari tanggal 15 September 2050 Athanasia dipanggil ayahnya untuk makan bersama. Athanasia kaget karena dia tidak pernah dipanggil oleh ayahnya untuk makan bersama. Athanasia sangat senang dan langsung menyuruh pelayannya untuk mencarikan gaun yang paling cantik. Setelah bersiap-siap, dia dan penjaganya yang bernama Felix langsung pergi ke ruang makan.

Saat perjalanan ke ruang makan, Athanasia melihat muka Felix yang terlihat sedih. Karena Athanasia sedih melihat Felix, Athanasia berkata, “Kenapa Felix sedih apakah ada masalah?” Ia bertanya sambil khawatir. Felix langsung mengalihkan pertanyaan itu dan membicarakan tentang buku yang dia baca kemarin. Karena Athanasia suka membaca buku, dia langsung teralih ke buku itu dan tidak membicarakan tentang pertanyaan tadi.

Saat Athanasia dan Felix sudah sampai di ruang makan, ayahnya langsung menyuruh Felix untuk keluar. Saat Felix keluar, ayahnya langsung memasang wajah marah. Athanasia langsung menggigit bibirnya karena terlalu takut. Athanasia menyapa ayahnya dengan ketakutan. Ayahnya tidak menjawab. Claude berkata dengan nada tegas. “Kenapa tidak dimakan? padahal aku sudah menyiapkan dengan susah payah.” karena kata-kata ayahnya, Athanasia makan dengan ketakutan. Karena ketakutan Athanasia menjatuhkan sendoknya. Ayahnya langsung melihat Athanasia dengan tatapan tajam. Karena Athanasia ketakutan melihat wajah ayahnya dia langsung kabur dari ruang makan dan kembali ke kamarnya.

Saat sudah sampai ke kamarnya, Athanasia selalu membayangkan muka ayahnya. Athanasia langsung menangis di tempat tidur. Karena dia kabur dari ruang makan, Felix mengetahuinya. Felix masuk ke kamar Athanasia dan melihat Athanasia sedang menangis. Felix langsung menghampiri Athanasia dan bertanya kenapa Athanasia menangis. Athanasia menjawab sambil mengusap air matanya, “Ayah selalu jahat kepadaku. Kenapa ayah tidak menganggapku sebagai anaknya.” Felix menjawab dengan wajah sedih, “Yang mulia tidak mungkin membenci anda.” Setelah Felix mengatakan itu, Felix menenangkan Athanasia lalu Felix keluar dari kamar Athanasia.

Karena Felix berkata seperti itu Athanasia langsung yakin bahwa ayahnya tidak mungkin membenci dia. Karena dia yakin bahwa ayahnya tidak membenci dia, lalu dia langsung pergi ke kamar ayahnya. Saat sudah sampai di kamar ayahnya, Athanasia meminta maaf kepada ayahnya karena sudah kabur dari ruang makan. Athanasia kira ayahnya akan memaafkannya, tetapi dia salah ayahnya malah memarahinya dan berkata, “Dasar anak yang tidak berguna!” saat ayahnya mau menampar pipi Athanasia, ada Felix yang menghentikannya. Athanasia langsung kabur ke kamarnya dan dia tidak ingin melihat ayahnya lagi.

Karena dia masih berumur 10 tahun dia belum bisa apa-apa. Bahkan dia masih mengharapkan ayahnya menyayangi dia. Saat di kamar dia menangis terus. Tiba-tiba ada pelayan yang datang untuk membersihkan kamar Athanasia. Saat pelayan itu melihat Athanasia menangis, pelayan itu bukan menenangkan Athanasia, tapi malah menyuruh Athanasia untuk keluar dari kamar karena dia ingin membersihkan tempat tidurnya. Tetapi Athanasia tidak bisa melakukan apa-apa karena dia masih kecil.

Keesokan harinya saat pagi hari, Athanasia pergi ke taman yang ada di kerajaan. Saat dia sedang memetik bunga mawar, dia melihat seseorang wanita yang memakai baju ungu tua panjang, dan memakai topi penyihir yang berwarna ungu tua juga. Karena Athanasia penasaran, Athanasia menghampiri wanita itu dengan hati-hati. Saat wanita itu melihat Athanasia, wanita itu mengeluarkan sihir api dari tongkat sihirnya. Athanasia berkata sambil kagum, “Bagaimana caranya kakak bisa melakukan hal itu?”

Wanita itu tidak menjawab dan bertanya, “Kenapa kau bisa ada di sini?” Athanasia menjawab bahwa ini adalah taman istananya dan bertanya nama wanita itu. Wanita itu menjawab sambil kaget, “Wow jadi kamu adalah putri? Oh iya namaku adalah Aurora. Aku adalah penyihir, dan aku minta maaf karena sudah masuk ke taman mu tanpa ijin.” Athanasia menjawab, “Tidak apa-apa kok Kak Aurora. Ngomong-ngomong nama ku Athanasia. Kakak kan penyihir, apakah kakak tau cara membuat ayahku menyayangiku tidak?” Aurora pun menjawab dengan wajah sedih, karena dia tidak tau cara agar ayahnya Athanasia bisa menyayangi Athanasia. Aurora itu termasuk penyihir tingkat rendah, itulah kenapa dia belum mempelajarinya. Setelah Athanasia tahu kalau Aurora adalah penyihir tingkat rendah, Athanasia tidak sedih karena selama dia di kerajaan dia tidak memiliki teman.

Keesokan harinya saat pagi hari, Athanasia datang ke taman lagi dan menemui Aurora. Saat itu wajah Aurora kelihatan senang. Karena Athanasia penasaran kenapa Aurora hari ini senang. Dia pun bertanya, “Kenapa Kak Aurora hari ini terlihat senang?” Aurora tidak menjawab. Aurora malah menanyakan siapa nama ayah Athanasia, karena dia bisa mencari tahu kenapa ayahnya membenci Athanasia. Athanasia langsung senang karena bisa tahu kenapa ayahnya membenci dia. Athanasia menjawab pertanyaan Aurora dengan senang, “Nama ayahku itu Claude De Alger Obelia.” Aurora menjawab dengan takut dan kaget, “O-ok, tu-tunggu bentar ya.” Athanasia berkata kepada Aurora, “Kenapa Kak Aurora kaget?” ternyata Aurora kaget karena Raja Claude De Alger Obelia adalah raja yang sangat kejam sekali. Athanasia langsung kaget dan tidak bisa berkata apa-apa

Aurora mencari tahu sampai sore hari. Saat dia melihat kenapa Athanasia dibenci ayahnya, muka Aurora sangat kaget, dan takut kalau Athanasia sedih saat dia tahu kenapa ayahnya membenci Athanasia. Aurora takut karena alasannya bukan karena Athanasia nakal, tidak pintar, dan lainnya. Tetapi karena jika ibunya Athanasia melahirkan anak, ibunya akan mati. Kenapa ibunya bisa mati setelah melahirkan Athanasia, karena ibunya saat masih kecil pernah memakan jamur yang bisa membuat orang mati jika melahirkan seorang anak. Jamur itu bernama Musty, Musty di Planet Wonderland artinya adalah racun. Karena Athanasia mirip dengan ibunya, ayahya selalu teringat dengan ibunya Athanasia.

Saat Aurora menceritakan hal itu kepada Athanasia, Athanasia langsung menangis dan memeluk Aurora. Aurora kasihan dengan Athanasia, apalagi dia tidak bisa membantu Athanasia untuk membuat Athanasia disayangi ayahnya, apalagi itu sulit jika menggunakan sihir karena itu membutuhkan cinta bukan sihir. Tiba-tiba Aurora punya ide bahwa Athanasia harus bisa membuat ayahnya menyayanginya dengan cara harus menuruti apa kata ayahnya, dan jika ayahnya memasang muka menyeramkan atau sedang marah Athanasia tidak boleh takut dan tetap sopan.

Athanasia pulang ke kerajaan saat malam hari. Saat perjalanan menuju kamarnya, Athanasia bertemu dengan ayahnya. Ayahnya langsung berhenti, dan bertanya kepada Athanasia, “Kenapa kamu pulang malam?” Athanasia kaget dan berkata dalam hati, “Bagaimana bisa ayah tau kalau aku tadi ada di luar istana?!” tiba-tiba ayahnya berkata, “Kenapa kau tidak menjawab?!” Athanasia ketakutan tetapi dia mengingat kata-kata Aurora bahwa dia tidak boleh takut. Athanasia meminta maaf dengan suara yang sangat lembut seperti dia tidak takut dengan ayahnya. Ayahnya langsung kaget dan langsung pergi.

Keesokan harinya, ayahnya memanggil Athanasia untuk makan bersama lagi. Athanasia masih trauma saat dia melihat wajah ayahnya, tetapi dia tetap berusaha untuk tidak takut. Athanasia langsung menyuruh pelayan untuk mencarikan gaun yang cantik. Dan dia menyuruh Felix untuk menemaninya. Saat mau ke ruang makan wajah Felix sedih lagi. Athanasia bertanya lagi dan kali ini Felix menjawab. Ternyata Felix sedih karena Felix tau nanti Athanasia akan dimarahi ayahnya lagi. Athanasia langsung memeluk Felix dan berterima kasih kepada Felix karena sudah menghawatirkan Athanasia.

Saat sudah sampai di ruang makan. Felix disuruh keluar lagi. Athanasia langsung takut tetapi dia berusaha untuk tidak takut dan tetap tenang. Saat dia duduk dia melihat ayahnya terlihat marah. Ayahnya bertanya kepada Athanasia kenapa dia pulang malam kemarin. Athanasia panik, jika dia memberi tahu yang sebenarnya ayahnya pasti marah. Athanasia mengarang cerita bahwa dia pulang malam karena dia tersesat. Ayahnya pun tidak percaya.

Tiba-tiba ayahnya mendekat ke Athanasia, Athanasia langsung ketakutan. Karena dia ketakutan, dia langsung meminta maaf sambil menangis. Ayahnya langsung kaget dan menyuruh Athanasia untuk berhenti menangis dengan nada lembut. Tetapi Athanasia malah tetap menagis. Ayahnya tidak marah tetapi malah memeluk Athanasia. Athanasia kaget karena ayahnya memeluk dia. Ternyata ayahnya tidak bisa melihat Athanasia menangis lagi. Karena kemarin malam saat Athanasia meminta maaf Claude langsung teringat dengan Diana. Diana adalah ibunya Athanasia. Saat Claude tidur pun mimpinya ada Athanasia dan Diana yang saling berpelukan. Saat Athanasia dan Diana berpelukan, Athanasia menangis dan bilang kepada ibunya bahwa selama ini ayahnya tidak menyayangi dia.

Karena mimpi itu Claude sadar atas kesalahannya selama ini. Dan dia juga meminta maaf kepada Athanasia.

TAMAT

TABRAKAN DUA DIMENSI

TABRAKAN DUA DIMENSI

Di suatu dimensi lain lebih tepatnya di dimensi 1036. Hiduplah organisme seperti manusia di dimensi itupu hiduplah naga-naga ganas. Suatu hari di dimensi 1036 ada seorang anak yang memasuki gua yang berisi naga paling berbahaya konon katanya nagaitu bisa menghancurkan satu dunia. Anak itu sepontan briteriak, ”Aaaaa…”

Karena kaget tidak sengaja membangunkan naga tersebut terbangun dari tidurnya naga itu berkata, “Siapa yang berani mengganggu tidur ku.” kudan siap meratakan dimensi 1036 naga tarsebut lalu menuju desa yang bernama Hipotenia. Dengan sekejap naga itu meratakan desa Hipotenia.

Setelah naga tersebut meratakan desa Hipotenia naga tersebut menemukan portal dimana portal tersebut bernama Portal Dimensi .Penjelasan Portal tersebut adalah dimana suatu portal yang dapat menghubungkan satu dimensi ke dimensi yang lain.Naga tersebut mempunyai tujuan dengan memsauki portal tersebut maka naga itu dapat meratakan desa yang lain.Tanpa melewati portal tersebut naga tidak dapat meratakan desa- desa yang lain.

Tujuan naga melewati portal tersebut adalah supaya bisa masuk kelaborattorium yang bertujuan menghancurkan dimensi- dimensi yang lain.setelah naga tersebut meratakan laborattorium naga tersebut mencoba  menembus lapisan-lapisan baja didalam laborattorium terssebut.Setelah berhasil keluar dari laborattorium naga tersebut menuju kota yang paling
dekat dari laborattorium tersebut. Sesampainya naga  tersebut kekota warga kota samgat panik mereka pikir naga hayalah  dongeng semata mereka langsung menuju bang ket bangket yang sudah disiapkan untuk bencana seperti ini. Naga tersebut dengan sekejap naga tersebut meratakan kota tersebut.Negara negara sekitar juga turun membantu negara yang di serang naga.
Negara negaartersebutmendirikan suatu organisasi untuk menak luakn naga tersebut di suatu kota terdengan kabar seorang pembunuh bayaran yang sangat ahli menggu nakan persenjataan dan menemukan titik kelemahan musuhnya.Nama pembunuh bayaran itu adalah Lenin dia pun diberi tawaran menaklukan naga tersebut karena sentata tidak mampu menempus kulit naga tersebut.Leninpun menyetujui penawaran tersebut. Singkat cerita Lenin dibawa kemarkas pusat  untuk mengindentifikasi naga tersebut.Disisilain naga nagaitu sudah menghancurkan setengah dari negara tersebut naga tersebut lalu menuju ibukota dari negara tersebut.

Setiap negarapun turup membantuuntuk mengalahkan naga tersebut.Dari sekian lama mengindentifikasi ahkirnya Lenin menemukan titik lemah naga tersebut tapi dia belumnyakin maka dari itu dia memutuskan untuk ikut dalam melawan naga tersebut dan mengamasila secara langsung. Lenin akan ditemani oleh Yudhi sebagai asistennya.Lenin pun diberi persenjataan terbaik dari setiap negara dan di beri mobil sebagai alat transportasi Lenin tidak lupa dia diberi sebuah HT Untuk berkomunikasi dengan tentara di markas.lalu Lenin pun langsung menyerang naga dan sekaligus menganalisa naga tersebut. Lenin menyerang dengan sekut tenaga dengan perlengkaoan yang di berikan oleh markas. Setelas sekian lama Lenin menyerang Lenin punmenemukan titik lemah naga tersebut .

Lalu Lunin berhasil menemukan titik lemah naga tersebut Lenin lalu memerintahkan Yudhi, “Yudhi hubungi markas aku sudah menemukan titik lemah naga itu.” kata lenin dengan menyruh Yudhi untuk menghubungi markas dengan HT yang sudah diberikan.

Yudhi lalu bergegas menghubungi markas pusat untuk  mengabari bahwa Lunin sudah menemukan titik lemah naga tertsebut. Lalu Lenin1 memberitahu titik lemah tersebut ada di bagian bawah leher naga tersebut tapi untung menembus kulit naga itu sangan tidak mungkin dengan peralatan jaman tersebut. Lenin memberikan ide lain yaitu dia akan menyarang naga secara lang sung secara singkatnya Lenin akan menaiki naga lalu menyerangnya secara langsung.

Singkat cerita markas menyetujui ide Lenin tersebut.Lalu Leninpun malalukan rencana itu.

Tentara disekitarnya adalah pengalihan sementara Lenin menaiki helicop-0ter untuk mencapai badan naga tersebut. Sesudah sampai di badan naga tersebut Leninpun langsung menuju bawah leher naga tersebut Lenin langsung menyerang bagian bawah leher naga tersebut.

Singkat cerina sudah hambir 3 jam lenin menyerang dh tidak menimbultan luka yanga parah.

Leninmwngusulkan bahwa untuki menanglukan naga tersebut Lenin akan mengorbolkan dirinya untuk meladakan diri di bagian bawah leher naga tersebut. Ide itu lalu di tolak tapi ini jalan satu satunya untuk mengalahkan naga tersebut.

Lenin lalu mengatikfkan bahan peledak yang dia bawa  dan ada bahan peledak yang dia tempel di badannya untuk berjaga jaga dan dia sekarang harus menggunakan bom tersebut.

Sebelum lanjut kecerita kida flasback ke masa lalu Lenin yang suram Lenin dulunya adalah anak yang ceria. Di usianya yang ke 4 tahun dia menyasikkan cecara langsung kedua orang tuanya dibunuh dengan sadis. Semenjak itu kepridian Lenin berubah dari yaang ceria menjadi pemurung,penyendiri dan penuh dengan dendam maka itu dia menjadi pembunuh bayaran.

Setelah naga itu berhasil dibunuh seluruh dunia sangat senang dan juga Lenin sudah menjadi pahlawan dan bisa beristirahat di alamnya. Setelah kejadian itu seluruh dunia memberikan penghargaan sebaga paahlawan Bumi/Desuperhero of Eorth. Sudah bertahun-tahun dari kejadian sekarang menjadi cerita legenda.

Portal ke Dunia Robot

Denis adalah seorang anak yang bersekolah di SMP MARIA MEDIATRIX kelas 7F.

Hobi Denis adalah membaca, biasanya sepulang sekolah ia pergi ke perpustakaan. Pada hari ini Denis pergi perpustakaan saat pulang sekolah karena belum dijemput ayah nya, saat ia sampai di perpustakaan ternyata ada penjaga perpustakaan.

Denis segera mencari buku yang ia ingin baca. Saat Denis sedang membaca ia terdengar suara penjaga perpustakaan ternyata penjaga perpustakaan berkata, “Denis, Ibu pergi keluar sebentar ya.”

Denis berkata, “Siap Bu.”

Setelah itu Denis lanjut membaca buku nya, setelah selesai Denis ingin membaca buku yang lain. Tak sadar Denis tersenggol kaki meja dan ia pun terjatuh mengenai lemari buku. Denis kaget karena lemari tersebut bergerak sendiri, setelah lemari tersebut berhenti Denis melihat ada sebuah portal. Dengan rasa penasaran Denis pun pergi ke portal tersebut dengan menutup matanya.

Setelah Denis berhenti berjalan ia perlahan membuka matanya. Denis kaget karena ini bukan dunia nya, karena ada mobil yang terbang dan di kendarai oleh robot, dan robot dimana mana. 

Ia pun langsung bertanya ke robot tersebut.

“Hai ini dimana robot?” Kata Denis

Robot pun menjawab, “Inilah dunia robot, semua hal dikendalikan dan dilakukan oleh robot robot.”

Denis pun terkejut mendengarnya karna selama ini ia tidak pernah mengira jika dunia robot itu bebar benar ada. Tak tinggal diam saja denis pun pergi untuk menjelajahi dunia robot ini. Ia berkeling kesana kemari sambil mengagumi teknologi canggih yang ada di sini. Tak terasa sudah hampir empat jam Denis berjalan jalan di dunia robot. 

Akhirnya ia memutuskan untuk kemabali ke dunianya karna ia khawatir jika orangtua nya sedang mencarinya. Tapi suatu saat nanti denis akan kembali lagi ke dunia robot yang sangat hebat itu.

Kurcaci yang Tersesat di Dunia Lain

Kurcaci yang Tersesat di Dunia Lain

Suatu hari Ada Sebuah Desa Yang kecil sekali, Desa tersebut ternyata di tinggali oleh kurcaci kurcaci kecil.

Pada suatu Hari Ada satu kurcaci bernama Fred Dia sehari hari bekerja sebagai Petani Blueberry. Dia setiap pagi Selalu berjalan jalan sambil menyirami tanaman blueberry nya. Ketika dia sedang berjalan dia melihat suatu Benda kecil Yang bersinar terang, Lalu Dia berjalan mendatangi benda itu. Ketika dia melihat Lebih dekat ternyata benda kecil tersebut Adalah kunci berwarna putih kunci tersebut Terdapat tulisan kecil, tulisan kecil Itu bertulis “Lihatlah ke Sebelah Rumah Mu Pada Jam 12 Malam nanti Ada Sebuah pintu Yang muncul”. Setelah dia mengambil kunci tersebut diapun Lanjut menyirami tanaman blueberry nya Dan dia pun Pulang kerumah. Hari sudah Malam Saat Fred Sampai dirumah nya dia pun merasa sangat kelaparan dia pun bergegas menuju ke dapur ketika dia Sampai di dapur dia baru menyadari Bahwa dia sudah tidak punya Bahan makanan lagi. lalu dia mencari cari lagi dan hanya terdapat 5 Buah Blueberry Dan saat Itu dia melihat jam sudah hampir pukul 12 Malam lalu dia membawa 5 buah Blueberry tersebut dan Membungkusnya dengan kain putih. Setelah dia membungkus Buah Blueberry Itu dia bergegas ke sebelah rumah, Namun setelah dia Sampai di samping rumah dia tidak menemukan pintu apapun padahal waktu sudah menunjukan pukul 12 tepat lalu dia berpikir mungkin harus menunggu beberapa saat lagi. Dia pun menunggu Selama beberapa menit dan pintu tersebut Belum muncul dia menunggu sambil berbaring di rumput, dia menunggu dan terus menunggu Sampai dia pun tertidur pada Saat dia terbangun dia pun kaget Karena hari sudah terang pada saat Itu Fred juga kaget karena bangunan-bangunan Yang Ada di sekelilingnya Tampak asing. Rumah rumah disana tampak terbuat dari besi/Logam-Logam berwarna silver dia juga kaget melihat transportasi di Kawasan itu, transportasi di kawasan itu ialah Sebuah kapsul kecil. Pada saat Itu kunci Yang dibawa Fred pun bersinar kembali dan terdapat tulisan baru yang bertulis “Kamu Harus menemukan Sebuah rumah di wilayah perkotaan yang berjarak 2 hari dari desa ini. kamu bisa kesana menggunakan transportasi kapsul tersebut, cara menggunakan kapsul tersebut ialah kamu harus masuk ke dalam kapsul kecil tersebut dan mengetik pada komputer kemana tujuan mu yang akan dituju” pada saat itu Fred langsung bergegas ke dalam kapsul kecil tersebut dan melihat ke komputer untuk menuliskan kota yang akan dia tuju. Namun saat Fred hendak menuliskan alamat kotanya dia baru menyadari huruf dan bahasa yang digunakan di sini berbeda dengan di tempat dia tinggal lalu dia bingung menuliskan alamat nya Bagaimana. Lalu saat dia sedang kebingungan tiba-tiba kunci tersebut bercahaya terang lagi dan ketika dia mengeluarkan kunci itu dari kantung nya dia seketika huruf dan bahasa yang berada di kapsul tersebut berubah menjadi bahasa yang Fred pahami dan Fred menuliskan alamat kota yang akan ditujunya. Dan perjalanan tersebut pun dimulai, di awal perjalanan Fred merasa Sangat kelaparan karena dari kemarin dia belum makan dia pun mengeluarkan Blueberry yang dia bungkus tadi dan memakan nya 2 Buah. Setelah dia makan 2 buah blueberry tersebut dia pun menikmati pemandangan sepanjang perjalanan tersebut. ketika malam tiba kembali Fred merasa kelaparan lagi dia pun mengeluarkan kantung Blueberry nya lagi di kantung itu tersisa 3 Blueberry dia mengambil 1 lagi dan memakan nya dia menutup kantung Blueberry nya. Setelah itu dia pun menikmati pemandangan jalan ketika malam hari dan dia sambil tiduran di kapsul tersebut ketika dia sedang asik melihat pemandangan bintang bintang dia mendengar bunyi yang aneh ketika dia melihat sekeliling ternyata bunyi yang aneh tersebut berasal dari kunci dan kunci tersebut pun mengeluarkan cahaya kembali dan seketika kapsul tersebut terhenti mendadak dan komputer dari kapsul tersebut mengeluarkan bunyi aneh juga dan tiba tiba kapsul tersebut rusak dan alamat yang dituliskan oleh Fred hilang dan berubah ke kota yang lain yang berjarak 5 hari dari tempatnya sekarang dan Fred mulai panik dan bingung melihat Kapsul yang rusak dan berubah arah Fred langsung berusaha membenarkan komputer kapsul tersebut ketika Fred sedang membetulkan kapsul tersebut dia melihat kunci yang dibawa nya bercahaya lagi seketika kapsul tersebut pun berjalan lebih lambat dan Fred pun mulai panik. Akhirnya dia berusaha membetulkan komputer kapsul tersebut namun gagal dia mencoba lagi dan lagi tetapi tetap gagal pada saat dia sedang membenarkan komputer itu yang gagal terus menerus dia mendengar suara “BRAKK!!”. dia langsung melihat jendela luar dan melihat keluar ternyata ada kapsul lain yang bertabrakan dari lawan arah Fred ingin berhenti dan menolongnya. Tetapi dia tidak bisa berhenti karena kapsul nya yang sedang bermasalah lalu Fred pun lanjut membetulkan kapsul nya tersebut dia mencoba dan terus mencoba tetapi kapsul tersebut tidak bisa dibenarkan ketika dia sudah mau putus asa untuk membetulkan kapsul itu kunci yang dia bawa pun bersinar kembali dan mengeluarkan selembar kertas yang bertuliskan “Kamu harus menemukan sebuah rumah tua yang berada dalam alamat kota yang diberikan segeralah kesana dan cari sebuah pintu untuk kembali ke dunia asalmu dan sisa waktu bagimu adalah 1 hari lagi jika kamu tidak dapat menemukan atau tidak sampai pada sisa waktu tersebut kamu akan terjebak di dunia ini selamanya.” dan Fred pun panik karena kapsul tersebut sudah berjalan sangat jauh dari alamat kota yang ditujunya Fred pun mencoba membetulkan komputer pada kapsul tersebut lagi dia mencoba dan terus berusaha karena kalau tidak bisa dia akan tinggal di dunia ini selamanya dan tidak akan bisa kembali ke dunia asal nya Fred pun mencoba dan terus mencoba sehingga dia menemukan program yang salah pada kapsul tersebut dia mencoba membenarkan program tersebut dan akhirnya program yang rusak pada kapsul tersebut bisa dibetulkan dan Fred segera memasukan alamat kota yang benar dan kapsul tersebut segera mencari jalan yang benar  Fred pun dijalan ketiduran karena lelah membetulkan komputer kapsul tersebut ketika dia bangun dia sudah sampai di kota yang dia tuju tetapi jalanan di kota tersebut macet dan tidak bergerak sama sekali. Fred melihat waktu nya yang tinggal 1 jam Fred pun turun dari kapsul tersebut dan berlari ke rumah tua yang ada di tengah kota dia berlari dan terus berlari sehingga dia sampai di rumah tua yang dia tuju dia segera masuk dan mencari pintu tersebut dia pun menemukan nya dan kunci itu pun bersinar dan mengeluarkan kertas yang bertuliskan “Ya kamu telah tiba di tujuan mu dan segera masukan kunci ini” dan Fred pun memasukan kunci nya dan pintu terbuka dia memasuki pintu itu dan dia ternyata berada di tengah tengah kebun blueberry nya dan dia pun segera pulang kerumah nya kembali.