by Jeannatha | Oct 16, 2022 | Cerita Fantasi
Di pagi hari yang cerah, aku terbangun dari tidurku karena mendengar ayam peliharaanku berkokok. Aku pun segera bangun dan beranjak dari tempat tidurku untuk mengambil segelas air minum di dapur. Saat aku ingin menuju ke dapur, aku melihat dan mendengar anjing peliharaanku menggonggong ke arah kamar belajarku yang pintunya sudah terbuka. Anjing ku menggonggong ke arah meja belajarku. Aku pun melihat ke arah meja belajarku dan alangkah terkejutnya aku melihat buku-bukuku yang kemarin malam sudah aku rapihkan sekarang sudah jatuh berserakan di lantai. Saat aku ingin merapikan buku-buku ku, aku melihat ada salah satu buku yang terdapat tulisan di halaman paling belakang. Tulisan tersebut tertulis dengan tinta berwarna merah.
Aku hanya melihat sekejap mata karena tiba-tiba mamah memanggilku, “Alicia, kenapa kok kamu disini pagi-pagi, ada tugas yang belum kamu kerjain ya?’’
Aku pun menjawab, “Engga mah, semua tugas udah Alicia kerjain. Alicia tadi kesini gara-gara tadi Molly berisik banget gonggongin kamar belajarku, Alicia kan kaget terus bingung kok bisa ya pintu kamar belajar Alicia bisa kebuka padahal kemarin malem udah Alicia tutup rapat.’’
Mamahku pun menjawab dengan heran, ‘‘Mungkin aja itu gara-gara ada angin yang kencang, udahlah ayo bantu mamah bikin makanan untuk sarapan.’’
Aku pun hanya diam terheran-heran, karena mana mungkin ada angin yang dapat membuka pintu kamar belajar ku yang tertutup dengan rapat dan menjatuhkan buku ku, karena buku ku sangat berat dan sudah ku taruh dengan rapih diatas meja belajarku. Sekitar pukul satu siang aku terbangun dari tidur siang ku, karena aku mulai penasaran kembali dengan buku ku yang terdapat tulisan dengan tinta merah tersebut. Aku berjalan menuju ke kamar belajar ku dan membuka halaman belakang buku ku. Tulisan tersebut ternyata berisi bahasa asing yang tidak ku kenali. Karena aku penasaran dengan arti kata tersebut, aku membawa buku ku dan menanyakan kepada orang tua ku mengenai arti dari tulisan dengan bahasa asing tersebut.
Alangkah terkejutnya, orang tua ku berkata kepada ku, ‘‘Tulisan? Kamu lagi ngigau ya? Gak ada satu pun tulisan disitu Alicia.’’
Aku menjawab dengan terheran-heran, ‘‘Itu tulisan pake bahasa asing di halaman belakang buku ku.’’
Orang tua ku menjawab dengan sedikit tertawa, ‘‘Udahlah Alicia, gak ada satu pun tulisan di situ, mending kamu balik tidur siang aja sana.’’
Aku sedikit kesal karena orang tua ku tidak mau melihat lebih teliti lagi, padahal aku sangat yakin disitu pasti terdapat tulisan dengan bahasa asing itu. Aku kembali pergi ke kamar tidur ku untuk tidur siang dengan perasaan khawatir bercampur dengan penasaran saat mengingat tentang tulisan tersebut. Tiba-tiba aku terbangun karena mendengar suara yang sangat keras. Suara itu seperti mengarahkanku untuk pergi ke arah buku ku, saat aku membuka halaman belakang buku ku ternyata sudah terdapat tulisan baru lagi dengan bahasa yang dapat ku kenali sekarang.
Tulisan itu masih menggunakan tinta berwarna merah, isi tulisan itu menyuruh ku untuk pergi ke sebuah rumah tua yang berada cukup jauh dari rumah ku. Karena aku penasaran, aku ingin pergi ke rumah tua itu untuk mencari tau tentang maksud tulisan yang ada di buku ku. Aku menyiapkan segala keperluan ku seperti makanan, minuman, senter, dan buku ku yang terdapat tulisan di halaman belakangnya karena aku tau pasti aku akan melewati perjalanan yang sangat panjang.
Di keesokan hari nya pukul delapan pagi, aku sudah bertekad untuk pergi ke rumah tua itu, aku meminta ijin dari orang tua ku dengan alasan ingin kerja kelompok di rumah teman ku yang bernama Feli karena dari rumah nya hanya sekitar seratus meter untuk jalan kaki ke rumah tua itu.
‘‘Mah, Pah, Alicia ijin pergi ke kerumah Feli buat kerja kelompok ya!’’ Ucapku sambil berteriak di depan pagar rumah.
‘‘Iya Alicia, jangan pulang kesorean ya!’’ Jawab orang tua ku sambil berteriak dari dalam rumah.
Aku pergi menggunakan ojek online. Sesampainya di rumah Feli, aku melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ke rumah tua itu. Setelah melewati perjalanan yang panjang, aku akhirnya sampai di rumah tua itu. Dinding rumah itu terbuat dari kayu seperti model rumah adat joglo.
Saat aku mulai masuk ke rumah tua itu, aku merasakan hawa-hawa menyeramkan yang membuat bulu kudukku berdiri. Rumah itu sangat gelap dan dingin, aku seperti merasakan ada orang yang meniup dan berbisik pelan di telingaku. Tiba-tiba pandanganku kabur dan perlahan menjadi gelap. Aku terbangun di sebuah goa yang sangat gelap, lembab dan dingin. Aku bangun dan berjalan untuk melihat sekitar dengan membawa senter, aku melihat sebuah cahaya yang sangat terang. Aku berjalan menuju ke arah cahaya itu, ternyata itu adalah jalan keluar dari goa tersebut. Aku berjalan keluar dengan sedikit takut, karena aku tidak tahu sekarang aku sedang berada dimana.
Aku berjalan sekitar 15 menit dan aku mulai kelelahan, aku memutuskan untuk memakan bekal yang sudah ku siapkan. Seusai aku mengisi energi ku, aku melanjutkan perjalananku. Setelah berjalan 10 menit, aku sampai di sebuah kota yang sangat asing bagi ku. Dibandingkan dengan kehidupan di kota ku yang sekarang, kota tersebut jauh lebih canggih dan modern. Kendaraan-kendaraan yang ada di kota itu sangat menakjubkan, kendaraan-kendaraan tersebut seperti gelembung yang dapat berjalan. Dan aku melihat di kota tersebut terdapat kendaraan motor yang seperti di gantikan dengan sapu lidi yang dapat terbang dan melaju dengan kencang. Aku berjalan menuju ke arah salah satu restoran yang ada di situ, setelah itu aku memesan teh.
‘‘Emm… Kak, saya boleh liat daftar menu nya? Saya mau pesan minuman.” Tanyaku kepada pelayan yang ada di kasir.
‘‘Ya. ” Jawab pelayan tersebut kepadaku dengan cuek.
Tetapi aneh nya tidak ada orang lain yang ada di restoran itu. Aku menunggu sekitar 5 menit, kemudian pesananku datang dan aku mencoba teh itu. Sebenarnya tidak ada yang aneh dari rasa teh tersebut, namun yang membuatku heran adalah nama teh tersebut yang ada di daftar menu. Nama teh tersebut adalah ‘‘Teh Mizo’’ menurut sepengetahuan ku, itu adalah nama teh yang terdapat suatu sihir disuatu cerita yang ada buku yang pernah ku baca. Setelah aku selesai menghabiskan teh ku, aku membayar dan melanjutkan mencari ada apa saja di kota ini. Tiba tiba aku mendengar suara yang sangat keras seperti kemarin siang, suara itu seperti berasal dari buku ku yang menandakan akan ada tulisan baru yang ada di halaman paling belakang.
Setelah aku membuka dan melihat di halaman paling belakang buku ku, ternyata benar sudah terdapat tulisan baru lagi, namun kali ini terdapat sebuah peta kecil. Tulisan tersebut menyuruhku untuk pergi ke sebuah pabrik tua. Aku pun segera berjalan ke arah pabrik tua itu sesuai dengan arahan peta kecil yang ada di buku ku. Aku ingin pergi ke arah pabrik tua itu menggunakan sebuah bis, namun aku tidak tau dimana telak halte terdekat yang ada di kota misterius ini. Tiba-tiba ada sebuah suara yang sangat kencang kembali. Aku segera membuka tas ku dan mengambil buku ku. Ternyata sudah ada sebuah petunjuk tentang letak-letak halte yang ada di kota misterius ini. Aku segera menuju ke halte yang terdekat dari posisi ku.
Sesampainya di halte tersebut, aku segera masuk ke bis yang sudah menunggu para penumpang. Di pertengahan jalan, aku tersadar bahwa aku tidak ada cukup uang lagi untuk membayar supir bis. Maka dengan berat hati, aku meminta supir bis tersebut berhenti dan menurunkan ku di pinggir jalan, karena sudah sekitar 5 menit lagi aku sudah akan sampai di pabrik tua itu.
Aku pun berkata kepada supir bis tersebut, ‘‘Pak, saya minta tolong turunkan saya disini saja ya pak.’’
Aku berjalan kaki menuju ke pabrik tua tersebut sambil membaca peta di buku ku. Sesampainya di pabrik tua itu, aku melihat seorang laki-laki yang memakai jubah hitam dan sepertinya dia seumuran denganku. Aku pun segera masuk ke dalam dan mengajak berkenalan dengan laki-laki itu.
‘‘Eeee… Hai, nama kamu siapa? Kenalin nama aku Alicia,” tanyaku kepada laki-laki yang ada di pabrik itu.
‘‘Hm? Oh… Hai, kenalin namaku Steven, kamu kenapa kok ada disini?’’ Jawab laki-laki tersebut sambil membalikkan badannya.
Aku pun menceritakan mengapa aku berada disini kepada Steven. Tak ku sangka, ternyata dia adalah laki-laki yang sangat baik hati dan ramah. Namanya Steven, dia berumur 16 tahun… Ohh ternyata dia satu tahun lebih tua di bandingkan denganku. Setelah berkenalan, aku pun bertanya tentang asal diri nya dan mengapa dia ada di pabrik tua ini, sebaliknya Steven juga menanyakan balik tentang hal tersebut.
Ternyata Steven adalah warga dari kota misterius ini, Ia berada disini karena ingin menyelidiki mengapa pabrik ini di tinggalkan dan menjadi pabrik tua terbengkalai seperti ini. Aku pun bertanya tentang kota misterius ini, ternyata nama dari kota misterius ini adalah ‘‘Kota Ottery.’’ Steven menjelaskan bahwa kota ini adalah kota sihir yang dahulunya adalah desa yang sangat tentram dan rukun, namun ada salah satu nenek moyangnya yang bernama Belle Potter datang dan mengubah total kehidupan di desa yang sekarang menjadi kota sihir yang sangat menakjubkan dan canggih. Steven bertanya kepadaku tentang asal ku dan mengapa aku berada di pabrik tua ini, aku pun menjelaskan apa yang aku alami selama ini. Steven pun hanya terdiam dan memberitahu hal yang sebenarnya, Ia berkata bahwa sebenarnya ada salah satu misteri di kota sihir ini. Misteri tersebut adalah tentang empat batu sihir yang tersembunyi di kota sihir ini, batu sihir itu dapat berguna untuk membuka portal untuk menuju ke dunia tempat tinggalku yang sebenarnya.
Aku hanya terdiam dan berkata dalam hati, ‘‘Kok Steven bisa tau dunia tempat tinggal asliku ya…?’’
Steven pun lanjut bercerita perihal portal tersebut, ternyata portal tersebut berada tepat di bawah pabrik tua ini. Setelah aku mendengarkan cerita tentang portal tersebut, aku pun meminta bantuan Steven agar dapat membantuku kembali ke dunia asli ku dengan cara mencari empat batu sihir tersebut.
‘‘Emm… Steven, aku boleh minta tolong sama kamu ga buat bantuin aku nyari 4 batu sihir itu? Aku pingin balik ke dunia asliku, aku takut papah dan mamah aku nyariin aku karena ga pulang-pulang.” Tanya ku dengan sedikit ragu-ragu kepada Steven.
Steven pun menjawab dengan santai, ‘‘Boleh dong, sebenernya aku memang punya keinginan buat bantu orang untuk mencari empat batu sihir tersebut. Karena aku tahu perjalanan untuk mencari batu sihir tersebut sangat panjang namun seru.’’
‘‘Terimakasih ya… Kamu orang yang sangat baik, aku akan membalas kebaikanmu di suatu hari nanti.’’ Jawabku.
Tiba-tiba buku ku kembali berbunyi dengan sangat keras. Saat aku membuka buku ku, aku mendapati bahwa buku ku sudah terdapat tulisan baru lagi. Tulisan tersebut adalah mengenai empat batu sihir yang diceritakan oleh Steven. Tiba-tiba muncul kembali sebuah gambar yang menunjukkan dimana letak-letak keempat batu sihir tersebut. Karena aku tidak paham mengenai letak-letak tempat di kota ini, aku memberikan buku ku kepada Steven. Steven pun memahami letak keempat batu sihir tersebut.
Setelah Steven memahami letak dari keempat batu sihir tersebut, Steven pun mengajak ku untuk pergi ke rumah neneknya terlebih dahulu. Aku pun bertanya kepada Steven mengapa kita harus pergi ke rumah neneknya terlebih dahulu sebelum pergi untuk mencari keempat batu sihir tersebut.
‘‘Steven, kok kita harus ke rumah nenek kamu dulu?’’ Tanya ku kepada Steven.
Steven pun menjawab pertanyaan ku, ‘‘Nenek ku tau lebih dalam mengenai batu sihir itu. Aku ingin menanyakan tentang keempat batu sihir itu, kemudian aku meminta izin untuk mencari batu sihir itu dan membuka portal menuju dunia aslimu.’’
Kemudian aku dan Steven menuju ke rumah nenek Steven dengan menggunakan sapu lidi yang dapat terbang dan melaju dengan kencang. Selama perjalanan aku hanya diam sambil terpesona melihat indahnya kota sihir ini. Aku pun mulai mengajak Steven berbicara karena sudah mulai bosan.
‘‘Steven, kalo misalnya aku gabisa pulang dari sini gimana ya? Apa aku bakal terjebak disini selamanya? Tanya ku kepada Steven.
Steven pun menjawab pertanyaanku, ‘‘Jangan pikirkan hal yang tidak-tidak Alicia, aku yakin kamu akan kembali ke dunia asli mu dengan selamat.’’
Sesampainya di rumah nenek Steven, aku dan Steven segera masuk dan bertemu dengan nenek Steven. Kemudian Steven memperkenalkan ku kepada nenek nya.
‘‘Nek, kenalin ini Alicia. Dia teman baru ku.’’ Kata Steven kepada neneknya.
Nenek Steven pun menjawab perkataan Steven, ‘‘Halo Alicia, perkenalkan nama saya Anna. Kamu bisa panggil saya Nenek Anna.’’
‘‘Iya Nek.’’ Jawabku kepada nenek Anna.
Kemudian Steven bercerita kepada nenek Anna tentang alasan dia mengajak aku pergi ke rumah nenek Anna. Setelah menceritakan tentang asal tempat tinggalku dan alasan mengapa aku berada disini, nenek Anna mengajak Steven untuk pergi ke kamar nenek Anna terlebih dahulu. Setelah selesai dari kamar nenek Anna, lalu Steven pamit dan meminta izin untuk membantu ku pergi mencari keempat batu sihir tersebut.
‘‘Nek, Steven sama Alicia izin pergi nyari batu sihir nya ya. Do’ain Steven bisa bantuin Alicia balik ke dunia aslinya.’’ Kata Steven kepada Nenek Anna.
‘‘Iya Steven, bantuin Alicia kembali ke dunia aslinya ya. Semangat !!!’’ Jawab nenek Anna.
Aku dan Steven pun segera bergegas untuk mencari keempat batu sihir tersebut. Saat perjalanan aku mengajak berbicara kepada Steven.
‘‘Sekali lagi terimakasih ya Steven, kamu sudah mau bantuin aku kembali ke dunia asliku dengan membantu mencari keempat batu sihir itu. Walaupun sebenarnya kita belum pernah bertemu sebelumnya, namun kamu tetap mau membantuku. Maaf karena aku telah merepotkan mu…’’ Aku pun mengatakan hal tersebut kepada Steven dengan sedikit terharu.
‘‘Hei… Untuk apa kamu berterimakasih? Aku yang seharusnya berterimakasih kepadamu, karena dengan aku membantu mu mencari keempat batu sihir itu. Aku akan memiliki pengalaman yang sangat menyenangkan dan menakjubkan. Tentang perihal mengapa aku ingin sekali membantu mu padahal sebelumnya kita belum pernah bertemu, itu karena kamu adalah satu-satunya orang yang mau mengajak ku berkenalan pertama kali nya seumur hidupku. Aku dari kecil tidak mempunyai teman atau mungkin apabila aku mempunyai teman pun hanya sedikit dan biasanya pertemanan ku tidak bertahan lama. Itulah mengapa aku juga sangat berterimakasih kepadamu Alicia, aku sangat bersyukur karena dapat berkenalan denganmu.’’ Jawab Steven.
Tanpa tersadar, saat aku sedang mendengar jawaban dari Steven. Aku meneteskan air mataku. Tiba-tiba saat aku ingin mengelap mataku, aku seperti mendengar suara seseorang yang tidak asing bagiku dari kejauhan. Saat aku ingin membuka mataku, ternyata semua kejadian yang selama ini aku alami itu adalah mimpi. Aku terbangun dari tidurku dengan keadaan menangis. Dan suara orang aku dengar dari mimpi ku itu adalah mamahku yang membangunkan ku dari tidur ku semalam.
-Tamat-
by Pesawat kecil | Oct 16, 2022 | Cerita Fantasi

Pada hari sabtu pagi, anggota inti Diamond Gang sedang berkumpul di markas biasa. Kebetulan hari ini Canva mendapatkan shift kerja malam.
“Guys…” panggil Canva pada teman-temannya.
“Hm?” sahut Farzan.
“Gue pulang dulu ya,” pamit Canva.
“Mau kemana lo bro? Tumben balik cepet?” tanya Areksa dengan keheranan.
“Mau ke makam. Udah ya gue balik dulu, dadah.” ujar Canva setelah memakai jaketnya.
“Woke, ati-ati Va!” seru Marvin.
***
Setelah sampai di pemakaman, Canva bergegas turun dari motornya.
“Pah, mah, nek, Anva dateng lagi.” lirih Canva kemudian berjalan masuk ke dalam melewati pusara pusara, hingga akhirnya ia sampai di depan makan kedua orang tua nya dan neneknya.
“Hai, Anva dateng lagi.” ujar Canva dengan lirih sambil berjongkok di depan makam keluarga nya.
“Seperti biasa, Anva bawain mawar merah kesukaan kalian. Pasti kalian seneng kan?” tanya Canva.
Semakin ia berbicara, semakin sakit pula hatinya. Rasanya sesak kala mengingat bahwa mereka telah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Mata cowok itu berair ketika meletakkan setangkai bunga mawar merah tepat di bawah batu nisan keluarganya.
“Keadaanya masih sama. Aku belum bisa menyusun hati yang hancur ini atas kepergian kalian.”
“Aku belum bisa relain kepergian kalian. Ini seperti mimpi. Kalian pernah janji kalau kita akan terus bersama-sama, kalian mau liat Anva sukses. Tapi, kenapa kalian malah pergi duluan? Kalian ninggalin Anva disini sendirian.” kepala Canva jatuh tepat di atas lengannya yang mengusap batu nisan ibunya.
Sakit, sangat sakit.
Air mata Canva luruh jatuh ke tanah. Tubuhnya terasa lemas. Hari-hari yang dilalui Canva terlalu suram dan sepi meski ia berada di keramaian.
“Mah, aku capek, aku capek harus berdiri sendirian di tengah kerasnya dunia ini. Aku setiap hari berada di keramaian, tapi kenapa aku selalu merasa kesepian?”
“Aku sekarang penyakitan mah. Aku udah jadi orang gila yang setiap bulan harus dateng ke psikiater. Besok, jadwal aku kontrol ke psikiater. Kalian doain sama jagain Anva dari atas sana ya? Nanti kalau udah waktunya Anva di jemput, Anva bakal nyusul kalian. Nanti kita kumpul lagi di dunia yang lebih indah.” Canva terus bermonolog sambil menangis di depan makam ibunya.
“Terimakasih untuk kebahagiannya selama ini. Kalian emang nggak ada di deket aku, tapi aku selalu bayangin kalau kalian ada di deket aku.”
“Aku pulang dulu ya, aku mau kerja. Nanti kapan kapan kalau ada waktu aku bakal kesini lagi. Aku sayang banget sama kalian.” ujar Canva sambil tersenyum pedih sekaligus pamit. Setelah pulang dari makam, Canva akan langsung pergi ke cafe untuk bekerja.
***
Tiba-tiba ditengah perjalanan, Canva merasakan sakit bukan main di dadanya. Dia meremas dadanya sekuat mungkin dengan nafas yang kian terasa sesak. Bahkan kini, pandangan matanya mengabur sehingga ia kesulitan untuk berkendara.
“Mama, sakit.” lirih Canva disertai dengan ringisan penuh sakitnya.
Telinga laki-laki itu berdengung kencang hingga membuatnya kesulitan untuk mendengar. Tanpa sadar, Canva melepaskan stang motornya dan beralih memegang kepalanya yang terasa seperti dihantam beton 20 kilo.
Seiring dengan itu, kecepatan motornya yang tinggi dan tidak terkendali, motornya menjadi oleng dan menabrak pembatas jalan dengan sangat kencang.
BRAKKK
Seiring dengan bunyi gesekan motor dengan aspal, tubuh laki-laki itu terpental beberapa meter kemudian menghantam aspal dengan kerasnya.
Rasa sakit dan perih bercampur menjadi satu.
Canva terbaring tak berdaya di atas aspal dengan darah yang bercucuran dimana mana. Canva merasakan sakit luar biasa yang tidak pernah dia alami sebelumnya.
Laki-laki itu merintih. Saking kesakitan nya, kedua ujung mata laki-laki itu meneteskan air mata. “Mama, papa, sakit.” setelah mengatakan kalimat tersebut, Canva langsung tak sadarkan diri.
***
Para anggota inti Diamod dan Azura berlarian di lorong rumah sakit setelah di telfon oleh pihak rumah sakit bahwa sahabatnya telah mengalami kecelakaan. Sesampainya di ruang UGD, dokter yang memeriksa kondisi Canva keluar dari UGD.
“Dok, bagaimana kondisi Canva?” tanya Samuel mewakili sahabat-sahabatnya.
“Keluarga pasien Canva Narendra? Saya ingin berbicara.” ujar Dokter yang memeriksa kondisi Canva.
“Saya sahabat nya.” jawab Areksa.
“Oh baiklah, anda bisa ikut keruangan saya” ajak dokter pada Areksa.
“Kalian disini aja, biar gue sama Areksa yang keruangan dokternya” ucap Samuel pada sahabat nya.
***
“Sebenarnya luka kecelakaan Canva tidak terlalu parah. Hanya saja, ia terus mengalami penurunan kesadaran akibat penyakit gagal ginjal kronis yang ia derita.” perkataan dokter itu memenuhi isi kepala para anggota inti Diamond Gang.
Kini Samuel berdiri mematung di sebelah brankar UGD RS BAGASKARA , menatap tubuh Canva yang terbaring tak berdaya di atas brankar.
“Kenapa lo bohongin kita semua Va?” ucap Samuel sambil menatap lurus ke depan dengan pandangan yang sulit di artikan.
“Kenapa lo nggak pernah bilang sama kita kalau lo punya penyakit?” monolog Samuel sambil menatap kosong Canva yang masih menutup erat matanya.
“Va, asal lo tau, gue merasa jadi sahabat yang nggak guna. Kenapa lo nyimpen semua sendirian? Kenapa lo nggak pernah cerita sama gue?” tanya Marvel yang sudah mengetahui semua dan merasa sedikit kecewa dengan Canva.
Merasa ada yang berbicara dengan nya, Canva perlahan membuka matanya. “Avel…. sakit, sakit banget rasanya.” lirih Canva sambil memegangi kepalanya.
“Va, kenapa lo nggak pernah cerita sama kita kalau lo punya penyakit?” tanya Marvin sambil menatap tubuh Canva yang di hiasi dengan luka.
“Gue cuma nggak mau ngerepotin kalian, gue nggak mau bikin kalian kepikiran.” Ucap Canva sambil menahan rasa sakitnya.
“Jujur, gue agak kecewa sama lo Va, lo udah nggak nganggep gue sebagai sahabat lo?” tanya Marvel dengan suara yang bergetar menahan tangis agar tidak pecah.
“Maaf…” hanya itu yang bisa Canva ucapkan.
“Bertahan ya Va, demi kita, demi masa depan lo juga. Lo katanya mau jadi orang sukses yang bisa ngebiayain kehidupan anak anak jalan, jadi bertahan Va, gue mohon” kini giliran Ilona yang angkat bicara sambil mengusap rambut Canva dengan lembut.
“Ini terlalu sakit Na, gue juga udah capek hidup kayak gini, gue nggak punya siapa siapa lagi di dunia ini setelah keluarga gue meninggal. Gue capek setiap satu minggu harus nahan sakit waktu cuci darah, gue capek setiap bulan harus bolak balik ke psikiater, gue capek harus nahan sakit lagi,” Canva menjeda ucapannya untuk mengambil nafas.
“Gue nggak sanggup. Untuk kali ini, gue beneran udah capek, gue mau nyerah aja rasanya.” ucap Canva dengan nafas yang mulai tersenggal-senggal.
“Semuanya udah selesai. Kalian semua harus bahagia, ya?” Canva mengedarkan pandangannya untuk menatap para sahabatnya.
“Lo nyuruh kita buat bahagia kan? Kalau lo sendiri gimana? Apa selama ini lo udah bahagia?” tanya Areksa. Canva menatap langit-langit rumah sakit dengan pandangan yang nanar.
“Gue nggak perlu itu, Sa. Tugas gue di dunia ini emang mau ngebahagian orang-orang.”
Lelaki itu lantas menatap Samuel dan Areksa yang berdiri sebelahan.
“Jagain dua adek gue ya? Mereka kadang suka bandel, jadi harus ekstra sabar,” ia terkekeh ringan dengan kedua sudut mata yang sudah mengeluarkan cairan bening.
“Apan… Apan nggak boleh pergi” ucap Azura sambil menangis.
“Sini,” panggil Canva dengan lembut pada Azura, ia pun lantas mendekat.
Tangan Canva yang lemah itu terangkat untuk mengusap air mata yang keluar dari kedua sudut mata Azura.
“Nggak boleh nangis, katanya anak pinter?” ucap Canva yang berusaha menghibur Azura.
“Lo itu penipu, munafik, dan lo juga egois. Lo terlalu mikirin kondisi orang lain padahal lo lagi nggak baik baik aja.” sahut Marvel yang berdiri agak jauh dari brankar Canva yang membuat Canva terkekeh ringan dan memilih tidak menanggapi ucapan Marvel.
“Buat Farzan,” Canva menatap Farzan yang berdiri di depan brankar yang ia tempati.
“Semangat ngajak balikan si Meyra.” ucap Canva pada Farzan, teman adu mulut nya.
“Buat lo, Marvin, si buaya kelas kadal, jangan suka mainin perasaan cewek lagi. Udah ada Bella kan? Perasaannya dijaga, jangan sampe lo kecewain Bella,” ucap Canva pada Marvin.
“Dan buat dua adek kesayangan gue, kalau kalian sedih, minta Marvin atau Farzan buat ngehibur kalian ya. Soalnya, gue udah nggak bisa.”
“Va, udah Va udah stop!” ucap Ilona yang sudah tidak kuat menahan sesak di dada nya.
Ilona semakin terisak saat Azura memeluknya.
Rasa sayang mereka berdua pada Canva sangat besar, melebihi luasnya samudra. Lelaki itu selalu berusaha untuk menjadi kakak yang baik bagi kedua adik adiknya, yang selalu berusaha membuat kedua adiknya bahagia.
“Dan untuk Samuel sama Areksa, pemimpin Diamond, tetep jadi orang hebat yang selama ini gue kenal ya? Kalian leader paling hebat yang pernah gue temuin,” Canva membiarkan air matanya jatuh karena ia sudah tak sanggup lagi untuk mengusapnya.
“Dan yang paling penting, jadiin adek adek gue, ratu di hati kalian ya. Jangan sakitin hati mereka, jangan sampai mereka nangis gara-gara ulah kalian berdua.”
Lelaki itu menghirup nafas dalam dalam kemudian menghembuskan nya secara perlahan.
“Dan yang terakhir, buat si batu, temen ngebadut gue.” Canva tertawa kecil menatap Marvel yang sedari tadi berdiam diri.
“Makasih, makasih udah jadi sahabat paling baik yang pernah gue kenal, makasih udah mau gue susahin.” ucap Canva pada Marvel.
“Thank you for everything, guys. Kalian sahabat terbaik gue.”
“Makasih udah mau gue jadiin tempat pulang saat gue lagi bener bener capek sama keadaan. Makasih udah mau nerima gue yang penyakitan ini. Makasih udah mau jadi rumah kedua gue setelah rumah pertama gue hancur. Kalau nanti gue udah nggak ada, jangan lupain gue, ya?” ujar Canva pada sahabat sahabat nya.
“Lo ngomong apaan sih? Lo harus sembuh. Gue rela ngurus lo 24 jam. Gue bakal ngasih semua hidup gue buat lo. TAPI LO HARUS SEMBUH, LO NGGAK BOLEH PERGI NINGGALIN GUE!” sahut Marvel.
“Lo yang ngajarin gue buat bersyukur, buat bisa ngehargain perempuan, lo yang selalu berusaha untuk bikin orang orang bahagia padahal lo sendiri lagi butuh kebahagiaan.” Marvel menangis meluapkan rasa sakit di hatinya.
“Maaf nggak bisa lama lama. Tolong ikhlasin gue buat melepas penat yang selama ini menjerat gue. Udah cukup sampai disini aja. Gue juga manusia biasa. Gue butuh istirahat.” ujar Canva sambil menahan sesak di dadanya.
Keadaan di ruang itu menjadi hening setelah Canva mengucapkan kalimat menyakitkan tersebut.
“Va, kalau emang lo beneran udah nggak sanggup, gue relain lo pergi, ada masanya juga lo bakal capek sama keadaan.” ucap Samuel dengan berat hati dan membuat yang lain ikut kompak menganggukkan kepalanya, kecuali Marvel.
Hal itu membuat Canva tersenyum tipis.
“Tinggal lo Vel, relain gue ya?” nada bicara Canva kian melemah.
Rasa sesak kian menyeruak di dada Marvel.
“Gue mungkin terlalu egois buat minta lo supaya nggak pergi. Rasanya nggak adil kalau orang sebaik lo harus pergi secepat ini. Tapi, gue juga nggak bisa biarin lo ngerasain sakit terus-terusan. Dan detik ini juga, gue ikhlasin kalau emang lo mau pergi dari dunia ini.” ujar Marvel dengan perasaan yang sangat amat tidak rela.
Mendengar itu, Canva tersenyum lebar. Sebentar lagi ia akan terbebas dari rasa sakit yang sudah lama ia rasakan.
“Gue duluan, ya? Nanti kalau masuk surga, gue… laporan lewat mimpi kalian.” setelah mengucapkan itu, kesadaran Canva langsung menurun drastis. Ia juga sempat dipindahkan ke ICU.
Tapi takdir berkata lain. Seorang Canva Narendra telah meninggal dunia pada 31 Agustus 2021.
“KITA BODOH! KITA DITIPU SAMA DIA” teriak Marvel yang menggema memenuhi lorong rumah sakit.
“Kita ditipu sama senyum palsu dia! Kita ditipu sama kata kata dia yang selalu bilang kalau dia baik-baik aja. Canva pembohong dan dengan bodohnya kita percaya kalau dia beneran baik-baik aja.” ucap Marvel yang terlihat frustasi.
Pintu ICU terbuka, kali ini muncul dua perawat yang mendorong brankar dan diikuti satu dokter.
Marvel yang paham jika mereka akan membawa jenazah Canva ke kamar jenazah pun mencegahnya.
“TUNGGU!” teriak Marvel.
Marvel berjalan ke arah sosok yang tubuhnya terbujur kaku di atas brankar. Tangan Marvel yang bergetar berusaha menyingkap kain putih yang menutupi tubuh Canva.
Marvel meletakkan kepalanya di sisi brankar setelah melihat wajah Canva yang pucat.
Disini yang paling terluka adalah Marvel. Cowok itu benar-benar merasa kehilangan yang begitu dalam dan menyakitkan.
“Va….” panggil Marvel.
“Bangun, Diamond butuh lo…” Marvel terus bermonolog sambil menatap jenazah Canva.
“Gue hancur, Va… gue hancur. Gue nggak mau kehilangan sahabat sebaik lo.” ujar Marvel yang menatap penuh luka ke arah jenazah Canva.
“Maafin kita yang nggak pernah tau kondisi lo Va.” ucap Samuel mewakili sahabat-sahabat nya.
“Canva itu definisi lelaki yang sempurna. Seumur hidupnya, dia nggak pernah yang namanya nyakitin hati perempuan. Dia bahkan nggak pernah mau pacaran. Katanya, pacaran itu haram. Lo bener bener bikin gue salut, Va. Hebat! Lo satu-satunya anggota Diamond paling hebat dan nggak pernah ada duanya.” ucap Marvin kemudian menangis sekencang-kencang nya di bahu Farzan.
“Gue…ikhlas, Va. “ ujar Marvel akhirnya.
“Kapan-kapan kita cerita lagi.”
Canva adalah penipu yang baik dan munafik.
Kawan, sekarang lepas penatmu. Kebahagiaan yang abadi telah siap menjemput mu.
Kami disini akan selalu mengingat pesan mu.
Selamat tinggal, malaikat kami.
***
“L-lo beneran Masnaka?” tanya Canva dengan perasaan yang sangat terkejut.
Bagaimana tidak? Seingat dia, dia telah meninggal karena kecelakaan dan penyakit yang di deritanya.
“Iya.” jawab Naka.
Jadi yang di depan Canva beneran Masnaka? Masnaka Restu Putra? Tokoh fiksi yang ada di dalam cerita fiksi 00.00 itu? Apa jangan-jangan dia mati terus bereikarnasi ke dalam dunia novel? Kalau iya, fiks Canva keren banget.
“Lo Canva kan? Canva Narendra?” tanya Naka.
“Iyaa, kok lo tau nama gue sih?” heran Canva.
“Nama lo terkenal banget disini,” jawab Naka.
“Ini sebenernya gue dimana sih?” tanya Canva keheranan.
“Dirumah gue.” jawab Naka dengan enteng.
“HAH?! SERIUS? DEMI APA?” pekik Canva.
“Hm,” jawab Naka.
“Bentar bentar, ini gue reinkarnasi gitu ceritanya?” tanya Canva pada Naka.
“Iya mungkin.” jawab Naka seadanya.
“Lah? Tadi emang lo nemuin gue dimana?” tanya Canva.
“Di teras kontrakan gue, lo kayak lagi pingsan makannya gue bawa lo masuk. Dan lo sebenernya lagi ngapain di dunia lo sampe nyasar ke dunia gue?” kini giliran Naka yang bertanya pada Canva.
“Sebenernya, di dunia gue, gue udah meninggal karena kecelakaan dan sakit yang gue derita.” jelas Canva sejujur-jujurnya.
“Lo sakit? Sakit apa lo?” tanya Masnaka sambil menatap Canva.
“Emmmm…..gue nggak usah bilang deh, lo udah sibuk sama Lengkara dan diri lo sendiri, nanti kalau gue cerita gue malah nambah beban lo. Lagian kan katanya gue terkenal di dunia Lo, masa Lo nggak tau penyakit gue?” ucap Canva yang merasa tidak enak.
“Engga, cerita aja kenapa sih?” Naka memaksa Canva untuk bercerita padanya.
“Ya udah gue cerita sama lo.” Canva pun mulai menceritakan kehidupan nya pada Naka tanpa ada yang ditutupi.
“Nah kan gue udah cerita, sekarang giliran lo yang cerita sama gue.” ucap Canva diakhiri dengan kekehan kecil.
Naka mulai menarik nafas membuat Canva kembali mengingat potongan-potongan cerita 00.00. Ia tahu, tahu jika Naka juga menderita, tahu jika Naka mempunyai penyakit kanker jantung, tahu jika Naka menyimpan banyak luka, tahu tentang semua yang laki-laki itu sembunyikan. Sama persis seperti dirinya. Dan ia juga tahu tentang bagaimana laki-laki itu rela berkorban demi gadis-nya.
“Gue yakin lo udah tau semuanya, Va. Gue tokoh fiksi di dunia lo kan? pasti lo udah tau tentang gue.” bukannya cerita, Naka malah mengatakan hal lain.
Canva yang mendengar Naka berbicara seperti itu pun hanya diam mematung.
“Kita itu sama Va, sama-sama diciptakan hanya untuk merasakan sakit.” ucap Masnaka.
***
Setelah enam bulan Canva berada di dunia 00.00. Selama itu juga Canva tinggal bersama Masnaka di kontrakan Naka. Pagi itu, Canva sedang fokus memasak untuk sarapan dan bekal untuk Masnaka karena Masnaka tidak diizinkan untuk makan sembarangan oleh dokter.
”Ka, udah belum mandinya? Cepetan!! Keburu masakannya dingin. Lagian lo udah kayak anak cewek tau nggak? Mandi nya lama banget, gue juga mau mandi!” oceh Canva sambil menunggu Naka keluar dari kamar mandi.
“Sabar Va, ngomel mulu dri kemaren, lagi PMS ya?” tanya Naka yang membuat Canva emosi.
“Lo amnesia atau gimana, Ka? JELAS JELAS GUE COWOK, MASA BISA PMS?” jawab Canva dengan sedikit ngegas.
“Ya santai dong, ngegas mulu,” ucap Naka.
“Bodoamat.” sahut Canva ketus.
“Udah sana lo sarapan, gue mau mandi. Minggir lo!” ucap Canva diakhiri dengan nada bicara yang ketus.
“Marah-marah mulu neng, cepet tua loh ntar.” goda Naka yang diacuhkan oleh Canva.
Lalu Naka berjalan menuju arah meja makan. Saat ia sedang makan dengan damai, Canva tiba-tiba datang dari arah belakang sambil bernyanyi dengan nada yang cukup keras, dan itu berhasil membuat nya kaget.
“Astaga ngagetin aja lo, Va.” ujar Naka sambil mengelus dadanya.
“Hehe, sorry,” jawab Canva sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
“Lo nggak makan?” tanya Naka sambil melanjutkan acara sarapannya yang sempat terganggu tadi.
“Ngga, ntar aja, mau nyiapin bekal buat lo dulu.” ujar Canva lalu berlalu dari meja makan menuju dapur.
“Hati-hati ya cantik, awas kepleset lagi kayak kemarin.” goda Naka yang dibalas pelototan tajam oleh Canva.
“Gue cowok ya, Ka. Gue tuh ganteng bukan cantik. Lagian lo kenapa sih? Suka banget ngegoda orang akhir-akhir ini?” ucap Canva yang tidak terima dikatain cantik.
“Engga tuh, gue ngga godain siapa-siapa. Gue cuma godain lo doang.” ucap Naka dengan santai.
“Apasih ga jelas lo, tau ah, pagi-pagi mood gue rusak gara-gara lo ya,” sinis Canva pada Naka.
“Hehehe, ya udah deh, maaf yaa..” ucap Naka meminta maaf karena ia takut jika Canva sedang mode galak.
“Hm.” Hanya itu yang Canva ucapkan sebelum pergi ke dapur untuk menyiapkan bekal.
Setelah Naka selesai sarapan, bertepatan dengan Canva berjalan keluar dari dapur.
“Nih bekalnya, dihabisin loh ya! Awas kalau nggak dihabisin,” ujar Canva sambil menyodorkan kotak bekal yang sudah ia siapkan tadi.
“Siap, makasih Va.” ucap Naka sambil menerima bekal dari Canva.
“Iya, masama. Ati-ati ya, nggak usah ngebut bawa motornya. Obat lo udah dibawa kan?” ucap Canva yang memberi wejangan sekaligus pertanyaan untuk Naka.
“Udah, Va. Cerewet banget sih.” ucap Naka yang gemas dengan tingkah Canva sambil mengacak-acak rambut Canva.
“Gue cerewet gini juga demi kesehatan lo, Ka.” sahut Canva dengan ketus.
“Hahaha iya-iyaa, ya udah gue berangkat dulu ya, dadah” pamit Naka lalu menuju ke pintu.
“Oke, hati-hati, Ka.” jawab Canva sambil mengikuti Naka menuju ke arah pintu.
“Heem.”
Setelah sudah siap dengan motornya, Masnaka melambaikan tangan nya ke arah Canva yang berdiri di depan pintu sambil tersenyum manis.
Canva yang melihat itu pun ikut melambaikan tangan nya ke arah Naka sambil tersenyum.
Sesudah Masnaka berangkat, kini giliran Canva yang akan memakan sarapan nya.
Setelah selesai sarapan, Canva mulai membersihkan kontrakan Naka, seperti menyapu, mengepel, dan lain sebagainya. Karena yang bekerja hanya Naka, jadi ia memilih membantu Naka dengan cara membersihkan kontrakannya.
***
Saat sedang asik menyapu tiba-tiba pintu rumah nya diketuk dengan kencang.
Tok…tok…tok
Pintu diketuk semakin kencang membuat Canva berjalan tergesa ke arah pintu.
“Sabar napa elah,” ucap Canva setalah membuka pintu.
“Naka, Va,” ucap Sekala begitu Canva membuka pintu.
“Hah? Naka kenapa?” tanya Canva khawatir tapi tidak mendapat jawaban dari Sekala.
“Jawab elah, Naka kenapa? Penyakitnya kambuh lagi?” desak Canva pada Sekala.
“Naka… udah nggak ada Va,” jawab Sekala lirih.
“Hah? Nggak ada gimana? Dia lagi kerja, Kal. Nggak usah aneh-aneh.” sahut Canva dengan suara yang bergetar menahan tangis.
“Gue nggak aneh-aneh, Naka emang udah nggak ada. Tadi pagi waktu dia mau berangkat kerja, dia kecelakaan.” jelas Sekala.
“NGGAK! NAKA NGGAK MUNGKIN MENINGGAL, TADI PAGI DIA MASIH BAIK-BAIK AJA, KAL. BERCANDA LO NGGAK LUCU!” pekik Canva yang belum bisa menerima kenyataan bahwa Masnaka sudah meninggal dunia.
“Lo harus bisa nerima kenyataan nya, Va. Sekarang kita masuk dulu ya.” ucap Sekala lalu menuntun tubuh lemas Canva untuk masuk ke kontrakan Masnaka.
“Kalau lo mau nangis, nangis aja gapapa. Nangis yang kenceng, luapin semua nya.” ucap Sekala yang sama terlukanya dengan Canva tapi berusaha terlihat kuat di depan Canva karena ia tak mau melihat Canva tambah bersedih jika melihat ia menangis.
Canva yang mendengar itu lalu menjatuhkan kepalanya di bahu Sekala lalu ia menangis sekencang mungkin di sana.
Setelah cukup lama menangis, Sekala yang merasa Canva sudah tidak menangis sekencang tadi, perlahan mengangkat kepala Canva lalu mengusap pipi Canva yang sudah dibanjiri air mata.
“Udah nangisnya? Sekarang lo nggak boleh nangis lagi. Air matanya sisain buat besok. Nggak boleh dihabisin sekarang.” ucap Sekala yang berusaha untuk menghibur Canva.
“Kenapa harus sekarang, Kal? Ini terlalu tiba-tiba buat gue. Rasanya kita barusan kenal, tapi kenapa dia malah pergi secepat itu?” tanya Canva sambil terisak di bahu Sekala.
“Ini takdir, Va.” ujar Sekala.
Setelah cukup lama menenangkan Canva, Sekala pamit karena ia harus mengurus jenazah Masnaka sesegera mungkin.
“Gue pulang ya, lo jangan nagis terus, kasian mata lo.” pamit Sekala.
“Iya, hati-hati ya, Kal. Makasih udah mau nemenin gue.” balas Canva yang hanya dibalas acungan jempol oleh Sekala.
Setelah Sekala pulang, Canva hanya mampu berdiam diri di kamar sambil menangis.
Biarlah jenazah Masnaka menjadi urusan Sekala, karena ia tak sanggup jika harus melihat jenazah Masnaka.
“Lo bener, Ka. Kita hanyalah sepasang luka yang berakhir duka.” Canva terus bermonolog sambil menangis di dalam kamar Masnaka.
“Selamat tidur walau tak bangun lagi, Masnaka Restu Putra, seorang lelaki hebat yang tak ada duanya.” ucap Canva sebelum memejamkan matanya erat.
***
Pagi ini Canva sudah rapi dengan baju dan celana hitam yang melekat pada tubuhnya. Hari ini ia akan ke makam Masnaka.
Masnaka sudah dimakamkan kemarin sore, Canva sengaja tidak ikut dalam acara pemakaman Masnaka karna ia yakin ia tidak akan sanggup melihat wajah Masnaka untuk yang terakhir kalinya.
Untuk pergi ke makam Naka, ia akan di antar oleh Sekala.
“Gue dateng, Ka.” lirih Canva sambil menatap pantulan diri nya di cermin.
Saat mengunci pintu kontrakan, Sekala datang dengan mobil nya.
“Udah siap?” tanya Sekala.
“Udah.” jawab Canva dengan ragu.
“Oke, yok kita berangkat sekarang.” ajak Sekala yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Canva.
“Lo ngapain bawa boneka?” tanya Sekala yang keheranan.
“Ini boneka pemberian Naka. Gue mau naruh ini di makam Naka.” jawab Canva yang hanya dibalas senyum hangat milik Sekala.
Mobil Sekala mulai meninggalkan pekarangan kontrakan Naka. Jam di pergelangan tangan Canva menunjukkan pukul 9 pagi.
Dua orang itu sedang duduk di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang. Tak ada yang membuka suara selama perjalanan, dua orang itu sibuk pada pikirannya masing-masing.
Perjalanan ke makam kurang lebih 20 menit.
Sekala memarkirkan mobil nya di depan gapura yang bertuliskan “Tempat Pemakaman Umum”.
“Udah sampe, Va.” ujar Sekala yang dibalas deheman oleh Canva.
“Makasih Kal, udah mau nganterin gue. Lo bisa pulang duluan, nanti gue pulang sendiri.” ucap Canva pada Sekala.
“Nggak! Gue bakal tungguin lo sampe selesai.” ucap Sekala dengan tegas.
“Hm, iya deh terserah lo aja.” jawab Canva dengan pasrah.
“Tapi lo tunggu di sini aja ya?” sambung Canva.
“Iya, kalau ada apa-apa telfon gue ya.” jawab Sekala yang dibalas anggukan kepala oleh Canva.
Canva berjalan sendiri melewati pusara-pusara dengan tatapan kosong. Suara gemuruh guntur tertangkap di pendengaran Canva.
Lelaki itu berhenti tepat di depan makam dengan batu nisan yang bertuliskan nama sahabatnya.
Masnaka Restu Putra.
Tak dapat disangkal bahwa rasanya sangat sakit.
Ia duduk di sebelah makam laki-laki itu, dan menaruh boneka boba pemberian Masnaka yang diberi nama Babo.
“Hai, Ka….” sapa lelaki itu dengan suara yang bergetar.
“Ini gue, Anva. Gue dateng, Ka.” lirih lelaki itu.
Tangannya perlahan naik untuk mengusap batu nisan di depannya. Mata lelaki perlahan memburam karena tertutup air mata.
Kelopak matanya perlahan tertutup bersamaan dengan kedua tangannya menengadah. Ia berdoa sambil menangis di sebelah makam Naka, sesekali isakan yang berusaha ia tahan terlepas keluar dari bibirnya.
Setelah selesai berdoa, ia perlahan membuka matanya yang udah memerah.
“Maafin gue ya, Ka. Gue nggak ada di saat proses pemakaman lo,” lirih lelaki itu.
Tak ada jawaban. Hanya ada suara angin yang berhembus dengan kencang.
“Gue nggak kuat kalau harus liat jasad lo untuk yang terakhir kalinya.” bahu Canva bergetar karena menahan tangis.
Semua terasa sangat menyakitkan. Rasanya begitu sesak berbicara kepada angin yang sampai kapan pun tak akan bisa menjawab.
“Maaf ya, Ka. Maaf belum bisa ikhlasin lo pergi.” bisiknya yang terdengar menyakitkan.
Canva kembali merutuki dirinya yang tak sanggup melihat wajah Masnaka untuk terakhir kalinya sehingga tidak bisa mengikuti proses pemakaman Naka.
Ia kembali duduk dengan tegap. Dengan tangan yang bergetar, ia mengambil beberapa notes warna warni berbentuk persegi di dalam saku celana nya.
Untuk kesekian kalinya, masih dengan air matanya yang senantiasa mengalir dari kedua sudut mata.
Canva kembali membaca tulisan tulisan tangan Masnaka di notes itu.
“Kita punya keinginan, semesta punya kenyataan dan Tuhan punya keputusan.”
“Kita nggak pernah dikasih kekuatan untuk melawan. Kita terlalu kecil untuk semesta yang besar ini. Kita terlalu lemah untuk semesta yang jahat ini.”
“Jangan pernah capek jadi orang baik.”
“Senyumnya jangan sampai hilang, ya?”
Canva tersenyum diantara linangan air matanya. Satu per satu tetesan air jatuh dari langit disertai guntur yang terdengar semakin jelas.
“Gue tau Lo nggak sekuat itu.”
“Terlihat manis, kan? tapi jangan terlena sama yang manis. Kadang, manis itu menyakitkan.”
“Tidak perlu khawatir perihal masa depan. Karena semuanya sudah tersusun rapi dan sudah pasti diatur oleh Tuhan.”
“Tuhan, aku percaya, setelah kesedihan, kebahagiaan itu pasti nyata adanya.”
“Luka itu pasti ada dan Tuhan nggak akan pernah lupa buat ngasih obatnya.”
Tangis Canva kembali pecah.
Canva berdiri dari duduknya.
Kepalanya menengadah ke atas menikmati setiap tetesan air hujan yang mengenai tubuhnya. Ia membiarkan air matanya jatuh bersamaan air hujan yang jatuh.
“MAKASIH DAN MAAF UNTUK SEMUANYA, NAKAAA!” teriak lelaki itu tiba-tiba.
“MAKASIH UDAH MAU NERIMA GUE SEBAGAI SAHABAT LO. DAN MAAF KALAU GUE SELAMA INI SELALU NYUSAHIN LO,” teriaknya tenggelam di antara derasnya hujan yang menguyur tubuhnya.
Ia melepaskan seluruh rasa sakit dan sesak yang tak tertahan.
“Seribu yang datang, nggak akan bisa menggantikan satu yang pergi, Ka. Lo sahabat terbaik bagi gue setelah Marvel.” tubuh Canva terjatuh lemas ke tanah.
Hari itu, hujan kembali turun dengan deras. Seolah-olah tak membiarkan Canva menangis sendirian di makam Masnaka.
Hujan juga mengerti kenapa harus turun.
Masnaka telah pergi, meninggalkan luka yang abadi.
Masnaka telah tiada, meninggalkan berjuta kenangan yang ada.
“Selamat jalan kawan. Ragamu memang pergi, tapi jiwamu tetap abadi di dalam benak kami.” -Canva Narendra & Sekala Samudra.
END