Kekuatan Sang Phoenix

Kekuatan Sang Phoenix

Di sebuah kerajaan yang kuat bernama Razeor. Ada dua anak kembar yang bernama Rizar dan Rizor. Mereka sangat diperlukan tidak adil. 20 tahun kemudian mereka sudah tumbuh dewasa mereka ingin membalas dendam. Mereka nekat memasuki lorong paling ditakuti yaitu Lorong Phoenix. Mereka menawarkan diri untuk menjadi pasukan elitnya,

“Phoenix! bolehkan aku untuk menjadi pasukan elit mu?” tanya Rizor dan Rizar.

Phoenix pun membolehnkanya. Niatnya mereka akan mengkhianati si Phoenix. Phoenix memberi sebuah tugas untuk mengalahkan kerajaan Sirma namun mereka belum cukup kuat mereka pun berlatih. 2 tahun kemudian mereka akhirnya bisa menjadi pemimpin dari semua pasukan-pasukanya dan akan melaksanakan tugas dari para Phoenix.

Mereka diberi senjatanya masing-masing dari sang Phoenix Razor diberi pedang yang bernama Beowfull Flame dan Rizar diberi tombak yang bernama Trist Jigh. Saat mereka akan menyergap kerajaan secara diam-diam mereka dapat diketahui posisinya oleh penjaga kerajaan Sirma dan langsung menembaki pasukan Phoenix dengan panahnya namun panah itu adalah panah yang sangat sakti. Para pasukan Phoenix ditembaki sampai sisa setengah dari sebelumnya. Phoenix,Rizor,Rizar,dan pasukan-pasukanya menyerang secara bersama yang membuat tembok dari kerjaan Sirma runtuh.

             Sang Phoenix dan pasukannya dan juga Rizor,Rizar mereka langsung menerobos tembok kerajaan Sirma.Namun kerajaan Sirma memiliki pasukan jauh lebih banyak.Sang Phoenix langsung mengeluarkan kekuatan yang luar biasa dasyat yang membuat pasukan-pasukanya terlempar sangat jauh.Namun harus membayar dengan nyawa dari sang Phoenix.Raja dari kerajaan Sirma masih bisa bertahan dari serangan sang Phoenix raja tersebut juga langsung menyerang dengan kekuatannya ke pasukan-pasukanya.Rizor dan Rizar pun menyerang dengan bersama yang membuat raja dari kerajaan Sirma kalah namun harus membayar dengan nyawa sang Phoenix.

Razor berkata, “Maafkan aku Phoenix,” dengan sedih Razor dan Rizar pun pulang ke lorong Phoenix dan Rizor dijadikan raja baru dari kerajaan Phoenix.

Namun Rizor ingin membalas dendam kepada kepada kerajaan Razeor Rizor membawa pasukannya namun Rizar menghentikannya Rizor pun marah dan Rizor berkata”Kita akan bersaing..yang menang akan melakukan yang dinginkan”Rizar pun menerimanya.Mereka pergi ke Arena untuk bertarung yang bernama Collosal Tusk.Mereka di tonton oleh para pasukan-pasukanya.Singkat cerita Rizar kalah telak oleh kekuatan Rizor .Rizor sadar bahwa yang ia lakukan tidak benar dan Rizor meminta maaf kepada Rizar.Dan Rizor mengurungkan niatnya untuk menyerang kerajaan Razeor.Rizor berkata dengan sedih, “Maaf..Rizar.”

-Tamat-

Peri Bulan

Peri Bulan

PERI BULAN
Suatu tempat di Desa Neverley tinggalah sesorang gadis yang bernama Maura.
Maura adalah seorang gadis desa yang hidup miskin. Karena sangat miskin semua penduduk
Desa Neverley tidak peduli dengan keluarganya. Maura memiliki penyakit kulit yang aneh
diwajahnya. Sehingga, menyebabkan wajahnya menjadi kusam dan gelap Penduduk desa
sering merasa takut dan j*jik jika berpapasan dengannya. Penduduk desa menganggap bahwa
penyakit Maura bisa tertula. Maura selalu sedih sering mendapat ejekan dan hinaan dari
penduduk desa Neverley. Akhirnya, Maura ketika hendak keluar rumah selalu menutup
wajahnya dengan kain agar saat berpapasan dengan warga, mereka tidak merasa jijik.
Pada suatu malam, Maura tidur dengan nyenyak ia bermimpi bertemu dengan
Pangeran Alden. Putra Raja itu sangan terkenal dengan keramahannya, kesopanannya dan
ketampanannya. Maura sangat ingin sekali berkenalan dengan Pangeran Alden. Ia pun sering
sekali memimpikan Pangeran Alden dan selalu berangan-angan dan berhalusinasi mengobrol
dengan Pangeran Alden. Maura selalu menceritakan mimpinya kepada Ibu.
“Sudahlah, Maura!Buang jauh jauh mimpi dan angan-anganmu itu” kata Ibu Maura, ketika
melihat anaknya termangu di depan jendela kamar sembil melihat hujan diluar.
“Ibu tidak bermaksud menyakiti hatimu. Kamu boleh bebas menyukai siapa aja, namun Ibu
tidak ingin akhirnya kamu kecewa” tutur Ibu Maura dengan lembut.
“ Sebenarnya Maura sadar bahwa mimpinya terlalu tinggi. Penduduk Desa Neverley saja takut
dan jijik bertemu Maura, apalagi pangeran Alden” dalam hati Maura.
Di suatu malam, Maura menatap jendela kamarnya dan melihat pemandangan alam
yang sangat indah. Maura belum pernah melihatnya sama sekali. Bulan bersinar sangat terang
dilangit. Cahaya bulan begitu lembut keemasan warnanya. Dilangit tampak bintang-bintang
yang berkelap kelip menghiasi langit. Malam itu sangat begitu cerah dan cantik.
“Sungguh cantik sekali” gumam Maura, matanya takjub memandang kearah Bulan. Tiba-tiba
saja Maura teringat pada sebuah dongeng tentang Dewi Bulan. Dewi Bulan itu tinggal di bulan,
ia sangat cantik sekali dan baik hati. Ia sering turun ke bumi untuk menolong orang-orang yang
kesusahan. Di desa Maura, setiap Ibu yang hamil selalu ingin mempunyai anak perempuan dan
berharap seperti Dewi Bulan yang memiliki wajah cantik dan baik hati.
Ibu menceritakan masa kecil Maura. “Dulu, ketika Maura masih kecil, wajahnya
pun secantik Dewi Bulan” tutur Ibu Maura. Maura berkata dalam hati “Aku ingin memohon
kepada Dewi Bulan agar aku bisa memiliki wajah yang cantik lagi seperti dulu. Tapi… ah mana
mungkin! Itu mustahil sekali. Kemudian Maura menutup rapat jendela kamarnya. Lalu ia
beranjak ke tempat tidur untuk tidur dengan hati yang sedih.
Maura adalah gadis yang baik, memiliki hati yang lembut dan menolong orang lain.
Suatu sore, Maura bersiap-siap pergi mengantarkan makanan untuk seorang nenek yang sedang
sakit. Meskipun rumah nenek begitu cukup jauh, Maura rela menjenguknya. Setelah sampai di
rumah nenek ia menyuapi makanan ke nenek. Nenek senang sekali dijenguk oleh cucunya dan
menceritakan masa kecil Maura. Nenek mengatakan bahwa waktu kecil Maura sangat cantik
seperti Dewi Bulan sekarang sudah besar tetap cantik. Matahari sudah terbenam tandanya
sudah menuju malam. Maura segera bergegas dan berpamitan dengan nenek. Maura pulangnya
ternyata kemalaman ditengah perjalanan ia bingung jalannya begitu gelap sekali. Entah dari
mana datangnya, tiba-tiba muncul ratusan kunang-kunang. Cahaya dari tubuh mereka begitu
terang sekali. Maura segera berjalan menuju ke rumah.
“Terimakasih kunang-kunang kalian telah menerangi jalanku!” ucap Maura dengan lega.
Ia berjalan dan terus berjalan. Namun, meski sudah cukup jauh berjalan, Maura tidak juga
sampai kerumahnya. Maura tidak juga menemukan rumahnya.
“Kurasa aku sudah tersesat” gumamnya Maura sangat panik. Ternyata para kunang-kunang
telah mengarahkannya masuk ke dalam hutan. Seketika ada yang berbicara “Jangan takut
Maura!Kami membawamu kesini, agar wajahmu bisa disembuhkan kembali” ujar seekor
kunang-kunang. Maura kaget dan berkata “Kau?Kau bisa berbicara ?” Maura menatap seekor
kunang-kunang yang paling besar. “Sebenarnya siapa kalian ini?” tutur Maura yang masih
bingung.
“Kami telah di utus oleh Dewi Bulan untuk menyembuhkan wajahmu Maura” ujar kunang-kunang itu. Maura akhirnya menepi di danau. Para kunang-kunang berterbangan menuju ke
langit. Sekejap kunang-kunang itu menghilang, perlahan-lahan awan hitam dilangit menyibak.
Kemudian keluarlah sinar bulan purnama yang terang benderang.
“Indah sekali” Maura takjub. Keadaan di sekitar danau menjadi terang. Maura mengatami
bayang-bayangan bulan di atas air danau. Bayangan bulan purnama itu begitu bulat sempurna.
Tiba-tiba bayangan bulan purnama tersebut berubah menjadi bayangan wanita yang sangat
cantik dengan mengenakan jubah berwarna emas. Dengan perasaan cemas dan takut, Maura
bertanya kepada wanita tersebut.
“Wahai wanita cantik, siapakah engkau?” tanya Maura kepada wanita itu.
“Aku adalah Dewi Bulan yang membantumu untuk mengubah wajahmu yang buruk menjadi
cantik kembali.” Jawab Dewi Bulan. Mendengar jawaban itu Maura sangat Bahagia karena
bisa bertemu dengan Dewi Bulan.
“Kau adalah wanita yang sangat baik hati dan sabar. Meski kau telah menerima hinaan dari
orang banyak tapi kau tidak pernah membalas perlakukan mereka. Aku akan mengubah
wajahmu menjadi cantik sebagai imbalan atas kesabaranmu selama ini” jelas Dewi Bulan.
Dewi Bulan akhirnya memberikan air kepada Maura. Lalu Dewi Bulan berkata “Basuhlah
wajahmu menggunakan air ini maka, wajahmu akan berubah menjadi cantik jelita”.
“Terimakasih sekali Dewi Bulan” ucap Maura kepada Dewi Bulan.
Perlahan tubuh Dewi Bulan dari cahaya pun menghilang. Karena Maura penasaran dengan air
yang di berikan oleh Dewi Bulan, Maura pun langsung mencuci muka nya menggunakan air
itu. Setelah Maura mencuci muka nya pun ia langsung mengeringkan wajahnya dengan handuk
bersih. Lalu ia melihat ke kaca yang berada di depan nya, tapi aneh nya wajah nya tidak ada
perubahan “apakah Dewi Bulan berbohong?” jelas Maura, karena ia merasa lelah ia pun tidur,
jam pun sudah menunjukan pukul tengah malam.
*Keesokan hari nya*
“Hoamm” ia menguap, tanpa ia sadari di saat itu wajahnya sudah berubah menjadi cantik
seperti yang di ucapkan oleh Dewi Bulan sendiri. Setelah itu pun dia mandi, tetapi ia tidak
melihat kecermin. Sehabisnya ia mandi ia keluar rumah untuk pergi ke pasar dengan wajah
yang berbeda dengan sebelumnya. Ia heran mengapa semua mata menuju ke arahnya dan
menatapnya. Di saat itu ia belum sadar bahwa wajahnya sudah berubah jauh lebih cantik dari
sebelumnya. Di saat ia berbelanja ada nenek-nenek yang meminta uang kepadanya untuk
membeli makanan. Karna ia kasihan kepada nenek-nenek itu, ia pun memberikan nya “ini ya
nek maaf tidak banyak” jelas Maura, nenek itu berkata “Terimakasih ya nak, jarang perempuan
cantik sepertimu mau berbicara dengan ku”. Maura pun langsung bingung dengan perktaan
nenek itu tadi, akhirnya ia mencari kaca untuk bercermin, ia pun kaget dengan wajahnya yang
sekarang yang cantik. Tetiba ada undangan dari kerajaan bagi para gadis di Desa Neverley
untuk berdansa di kerajaan nanti malam. Maura pun bergegas pulang kerumahnya untuk
memilih gaun untuk berdansa di kerajaan.
Akan tetapi saat mencari gaun pesta, ia hanya mendapatkan gaun yang telah usang. Maura
berpikir apa yang harus dikenakannya, maura bertanya kepada ibunya “ Ibu, apa yang harus
aku pakai saat pesta dansa nanti?”, “coba kita cari di lemari ibu ya.” Jawab ibu Maura.“Pakai
gaun ibu warna putih ini saja ya nak. Mekipun ini milik ibu yang sudah lama tapi masih terlihat
bagus, “kamu pasti akan terlihat cantik sekali dengan baju baju ini.” Kata ibu
“Baiklah ibu akan saya pakai gaun putih ini, terima kasih bu!” Maura tampak lega dan senang
karena sudah mendapatkan pakaian untuk pesta dansa nya nanti malam.
*Sesampainya di kerajaan*
“Wah Kerajaan ini besar sekali, indah juga” jelas Maura. “Apakah dansa akan segera di mulai?”
sebuah iringan music pun sudah terdengar tapi pangeran Alden belu terlihat. Selang beberapa
menit datang lah pangeran Alden yang Turun dari tangga. “Apakah itu pangeran Aalden?” jelas
Maura. Dansa pun dimulai, pangeran mulai memilih pasangan. Langkah demi Langkah
pangeran Alden mendekati Maura. Maura yang melihat pangeran Alden mengambil Langkah
demi langjah untuk mendekatinya pun kaget. Tangan Maura pun di Tarik oleh pangeran Alden
“siapa nama mu nona?” jelas pangeran Alden, tentu pasti Maura kaget dan menjawab “nama
ku Maura pangeran” “panggil Alden aja” jelas pangeran Alden. “i-iya Alden..” jelas Maura.
“apakah Maura ingin berdansa?” jelas pangeran Alden, “iyaa” jelas Maura. Mereka pun
berakhir berdansa Bersama.
SELESAI

The Next Petrova Guardian

The Next Petrova Guardian

Tempat itu sepi,sunyi,senyap,gelap. Terdapat lantunan piano yang sangat pelan hampir seperti tidak ada suara tersebut,hawanya sangat tidak enak.Seperti ada yang berjalan ke arahku,bayangan hitam keunguan bermata putih menyala-

Nova sontak terbangun dari tidurnya dan pergi dari ranjangnya,mengecek jam mendapati bahwa jam masih menunjukan jam 2.30 ,lalu pergi ke dapur untuk meminum air.Saat Ia sedang minum Nova berpikir “apakah bayangan yang beberapa kali ini datang ke dalam mimpiku??,ah sudahlah”.Karna masih merasa mengantuk Nova menaruh gelas yang sudah Ia pakai dan Kembali ke kamar lalu tak lama Nova langsung tertidur di ranjangnya yang nyaman.

“Nova!!,ayo berangkat” “ok”.

Sesampainya di sekolah,Nova langsung masuk ke kelasnya dan menaruh tasnya di kursi nya.Ia meraih hpnya di dalam tasnya,lalu membuka whatsaap ke kontak teman nya,”belum pada berangkat??????????????” ketik Nova,”blm lagi nunggu cicik” jawab salah satu temannya,”udh bentar lagi sampe”jawab 2 teman lainnya.Tak lama Nova menunggu akhirnya kedua temannya datang.

“Nova” sontak aku langsung mengalihkan pandanganku yang sebelumnya berada pada handphone ku kepada sumber suara tersebut,

”apa??” tanya ku pada temanku yang Bernama Jace, di sebelahnya ada temanku yang satunya yang Bernama Letra yang masih sibuk memainkan handphonenya,pasti dia lagi nonton-

“Kamu udh ngerjain prnya???” “udah” jawab nova “affah iyah??” tanya Jace tidak percaya,”Serah deh”jawab Nova dengan dingin.

“Le,keluar kelas yuk,jalan-jalan”

“…” seperti biasa tidak ada jawaban

“Le,le,Letra!!” Nova agak menaikan nada bicaranya dan hanya mendapat jawaban “hah” dari Letra

“Keluar yuk,jalan jalan”jawab Nova masih mencoba sabar,”yuk”.

Akhirnya temanku yang satunya lagi datang yang bernama Arila,lalu aku langsung mengajak letra untuk ke Arila,dan karna sudah tinggal beberapa menit lagi sudah. waktunya masuk  kelas.

Setelah pulang kerumah,Nova melakukan rutinitasnya sepulang sekolah.

“Nova,tolong ambilin rak warna oren yang ada sticker Winnie the pooh nya” pinta  ibu nova “iya” jawab nova

Ketika Nova sedang mencari keberadaan rak tersebut,terdapat satu barang yang menarik pandangannya.Cincin perpaduan warna hitam dan kuning.”bolehkah aku mengambil cincin itu??”Nova bertanya pada dirinya sendiri-

“Nova!!,Ketemu tidak??”tanya ibu Nova.Nova langsung mengingat tujuan dia ke Gudang,akhirnya ketemulah rak yang disuruh ibu nova untuk mengambil.

“Ketemu”sahut Nova,bergegas Kembali ke sumber suara ibunya untuk memberikan rak tersebut.

Setelah memberikan rak itu kepada ibunya,Nova Kembali kekamarnya untuk mamainkan handphonenya.terlintas dikepala Nova cincin yang tadi Ia temui di Gudang.Nova  pada dirinya sendiri,”punya siapa sih itu???.”Tiba-tiba Nova ketiduran. Ketika Nova terbangun,terkagetlah Dia menemukan cincin yang sama Yang dia temukan di Gudang tergeletak di mejanya.ada sepercik keinginan  untuk mengambil cincin tersebut,tapi satu sisi Nova tidak mau terjerumus ke dalam masalah apapun.Terpikir oleh Nova untuk menanyakan tentang cin-cin tersebut pada semua orang dirumah nya.”cincin di meja kamarku itu punya siapa???” semua orang dirumahnya dan jawaban nya sama antara “nggak tau ”dan”hah yang mana??”dah lah.Dan akhirnya karna Nova terlalu Lelah dan juga sudah mulai larut memikirkan tentang asal-usul cincin tersebut,Nova ketiduran.

Lagi-lagi,Nova bermimpi tentang sesosok hitam keunguan bermata putih menyala yang terus mencoba berbicara,“pakailah cincin itu,Nova.” Berulang kali-

Nova sontak terbangun dari tidurnya dan pergi dari ranjangnya,mengecek jam mendapati bahwa jam masih menunjukan jam 2.30 ,lalu pergi ke dapur untuk meminum air.Saat Ia sedang minum tiba-tiba Ia mempunyai ide jika tak satu pun orang di rumahnya mengetahui tentang keberadaan cincin tersebut kenapa Ia tidak mencari jawabannya di perpustakaan keluarganya yang konon kata nenek Nova bahwa,”Perpustakaan ini mempunyai semua buku,dan Informasi yang kamu butuh.” Dulu Nova hanya berpikir bahwa neneknya mengatakan hal itu untuk membuat Nova rajin untuk membaca buku.

Saat memasuki perpustakaan tersebut Nova berkata,”Aromanya selalu sama, seperti wisata masa lalu.” Perpustakaan itu beraroma buku.Setelah kurang lebih setengah jam mencari keberadaan buku tersebut ,di perpustakaan yang sangat besar.Nova akhirnya menemukan buku yang cukup menarik perhatiannya.Buku yang berwarna emas dan hitam keunguan dengan tulisan ‘The Book Of Acient Artefact’ ‘buku tentang artefak kuno’ yang berwarna putih menyala.Mengingatkan Nova dengan cincin dan sosok hitam itu.

Setelah mengambil buku it ke meja di tengah-tengah perpustakaan itu.Nova membaca buku itu,mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang berada di kepalanya berhari-hari bahkan berminggu-minggu ini.

‘Cincin valuera,

Cincin valuera adalah salah satu artefak kuno terkuat yang mempunyai kekuatan supranatural,dan akan memberi pemakainya kekuatan tersebut.Tidak sembarang orang bisa menjadi pemakai dan mendapat kekuatan tersebut,hanya orang orang yang memang pantas.Cincin valuera adalah artefak yang diturunkan dari keluarga Avortep.’ “Keluarga Avortep??” pikir Nova bertanya-tanya.

‘Asnanta, the guardian of the Avortep Family,

Asnanta adalah pemilik atau penjaga Cincin valuera yang merupakan sumber kekuatan dari Cincin valuera.Asnanta akan menjadi sosok yang menentukan pemegang yang pantas untuk menjaga dan menggunakan cincin Valuera yang dengan baik dan bijaksana.Biasanya bila orang yang sudah dipilih Asnanta terus “menghindar” Asnanta akan mencoba berkomunikasi termasuk “mengunjungi” orang tersebut.Dalam wujub bayangan hitam keunguan bermata putih menyala.’ “Hah” terkagetlah Nova membaca 2 halaman tersebut “kenapa aku?!?” setelah memikirkan hal itu,Nova memutuskan untuk membawa buku itu kekamarnya untuk mengambil cincin di kamarnya dan memakai cincinnya.

Tiba-tiba Nova terlempar ke tempat yang sepi,sunyi,senyap,gelap. Terdapat lantunan piano yang sangat pelan hampir seperti tidak ada suara tersebut,hawanya sangat tidak enak.Sama seperti mimpi-mimpi Nova berhari hari ini. bayangan hitam keunguan bermata putih menyala itu berjalan ke arahku dan berbicara “Kau tau siapa aku??” “A-asnanta???????????????????????” jawab Nova gugup.”Benar,aku melihat bahwa akhirnya kamu menerima tawaranku untuk menjadi pemakai dan penjaga Cincin Valuera.Apakah kau siap ???” “jika iya,apa yang akan terjadi padaku??” tanya Nova “Sebenarnya jika kamu mau dan siap,tugasmu hanya menjaga kekuatanku dan cincin itu” “tapi kenapa aku???” tanya Nova bingung “kamu tau bagian dimana ditulis bahwa cincin valuera adalah artefak keluarga avortep?” “tau” jawab nova “avortep adalah keluarga mu” hah “avortep dibalik adalah Petrova  dan aku tidak memilih saudaramu karna menurutku kamu yang paling belum punya tanggung jawab yang terlalu besar.Jadi maukah kamu menjadi pemegang kakuatanku dan cincin valuera??.Lagian jika kamu mau kamu akan punya aku sebagai teman hidupmu” Setelah beberapa detik berpikir Nova berkata “iya,aku mau”

Bersambung…..

Pintu Tua

Pintu Tua

Namaku Toba,Aku adalah anak 13 tahun yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

Pagi itu ibu ku meminta ku untuk mengambil radio lama yang ada di loteng. “Toba tolong ambilkan radio ibu di loteng ya,” ujarnya. Aku pun langsung mengambil kunci loteng. Sesampainya di sana, tidak ada satu pun barang yang terlihat. “Loh radio nya dimana bu?”teriak ku memanggil ibu. Aneh nya aku tidak mendengar suara sedikit pun dari bawah. Saat itu aku tidak tahu harus apa, yang ku lihat hanya pintu tua dengan kunci yang sudah terpasang di pintu itu.”aneh aku seperti tidak pernah melihat pintu itu di sini, ”ujar ku. Aku sangat penasaran kemana pintu itu menuju. Jadi aku langsung saja masuk ke pintu tua itu tanpa pikir panjang.

“Ah di mana aku? “tanpa kusadiri aku t’lah pingsan dan bangun di tempat yang aku tidak ketahui.aku merasa belum pernah kesini sebelum nya. Aku berada di kamar tua dengan meja bewarna hitam seperti milik ibu ku. “meja itu… Aku seperti pernah melihatnya sebelum nya”kata ku. Aku pun berusaha keluar dari ruangan itu. Saat aku keluar melihat, suasana rumah yang sangat sunyi dan gelap. Aku berusaha melihat sekitar lewat jendela. Tidak ada mobil dan motor yang biasanya berlalu lalang. Aku pun mulai curiga, aku melihat kalender dan ternyata kalender itu menunjukan tahun 1980.tepat 10 tahun setelah ibu lahir. Aku mulai panik dan bingung.

Aku mencari keluar dari rumah itu, yang pertama adalah seorang anak perempuan seumuran denganku. Ia sedang menjual roti sambil mengayuh sepedanya. Aku awalnya sangat bingung aku berada dimana.Jadi Ku beranikan diriku untuk bertanya dengannya. Aku pun menghampirinya dengan wajah kebingungan. “izin, kah kau memberi tahu ku nama kota ini? “tanyaku. “tentu saja, ini kota St.Mikael.aku seperti tidak pernah melihat mu disini. Siapa namamu? Tapi sebelum nya kau bisa memanggil ku Neva, ”balas nya. “begitu ya, oh iya aku lupa memperkenal kan diri, nama ku Toba, ”ujar ku . Neva juga memberikan satu buah roti untuk ku.

Aku pun mulai menjauh darinya dan sekitar. Aku melihat beberapa bangunan yang mirip dengan bangunan sekitar tempat tinggal ku. Tapi kota yang kutinggali adalah kota St.Lorenzo bukan kota St.Mikael.Hari pun mulai gelap dan aku masih terjebak di sini. Aku melihat perpustakaan tua disana. Aku tidak tahu mau apa lagi jadi aku pun masuk ke perpustakaan tua itu. Saya sangat tertarik dengan buku yang ku temukan di sana. ‘Kembali ke masa lalu’ judulnya. Setelah ku baca ternyata cerita buku ini berdasarkan cerita nyata. Halaman terakhir pada buku itu jalan keluar untuk kembali ke masa depan. Aku yang awalnya tidak percaya mulai merasa ada harapan.Aku hanya perlu mencari kunci yang sama seperti saat aku tiba di kota ini. Ada peta yang menunjukan tempat kunci itu berada. Sekali lagi saya meminta bantuan Neva untuk menanyakan lokasi spesifiknya. “kalau di lihat dari peta, arah itu menunjukan bangunan tua di kota ini, ”ujar Neva.

Hari sudah sangat gelap aku tidak tahu lagi harus beristirahat dimana sebelum mencari kunci itu. Aku mengambil sebuah kardus besar dan tidur dipingjgir jalan. keesokan harinya saya langsung mengerjakan bangunan tua itu. Disana aku melihat sebuah kunci yang tergeletak di depan pintu. Tanpa pikir panjang aku langsung meninggal kan bangunan itu dan pergi untuk pulang mengingat ibu masih menunggu di rumah.

Aku langsung memutar kunci pintu itu untuk kembali ke rumah. Sebelum aku pulang aku meninggal kan surat perpisahan untuk Neva yang selama ini t’lah membantu ku untuk kembali pulang. Setelah memutar kunci itu aku masih berada di tempat yang sama. Aku benar-benar bingung. “sepertinya buku itu emang hanya sebuah dongeng, ” kata ku dalam hati. Aku tidak tahu apa yang terjadi. saya benar-benar terjebak disini.

Akhirnya aku mengembalikan buku itu ke perpustakaan tua tempat aku mengambilnya. Aku pergi ke bangunan tua tempat aku mengambil kunci. Aku masuk ke dalam bangunan tua itu. Tidak ada apa disana,benar benar sunyi. Aku melihat pintu tua yang seperti nya menuju ke taman belakang. Hanya ada ayunan rusak disana. Aku melihat ke lantai atas, ada kasur tua, aku memutuskan untuk beristirahat dirumah itu. Keesokannya aku bangun di tempat yang berbeda lagi.

Ini bukan bangunan tua tempat ku ber istirahat kemarin malam. Aku seperti mengenal tempat ini. Aku melamun beberapa saat. Sampai akhirnya aku tersadar, aku di rumah ku sendiri. Aku sangat bingung apa yang sebenarnya terjadi. Aku juga mendengar suara ibu dari lantai bawah. Aku hampir tak percaya dengan peristiwa aneh yang ku alami. Hari demi hari pun ku lewati dengan rasa penasaran di benakku. 

 

Kota Berhantu

Kota Berhantu

Ada seorang cowok yang bernama Doni, dia mendapatkan undangan ke rumah hantu. Di rumah temen nya juga dapat undangan ke rumah hantu.  Tetangganya juga mendapatkan undangan rumah hantu. Tapi, waktu mereka berdua membalik kertas mendapatkan tulisan, “Die!!!!!!!”

Mereka kaget karena di rumah temennya Doni terdapat tulisan, “Run for you life.”

Sedangkan temen cewek nya Doni yang bernama Bella mendapatkan tulisan, “Anda akan selamat dari rumah hantu ini.”

Mereka berempat bertemu di cafe karena Doni ingin bertemu. 

“Apakah kalian mendapatkan undangan ke rumah hantu?” kata Doni. 

Doni memutuskan datang ke rumah hantu itu, teman-temannya pun mengikutinya. Mereka menentukan waktu jam 12.00 malam. Benar saja pada tanggal 20 Oktober mereka datang ke rumah hantu dan mereka di sambut dengan grim reaper. Grim reaper itu berbicara, “Hohohoho.”

Grim reaper  sudah menunggu mereka di depan rumah hantu. Doni, Bella, dan teman Doni dan tetangganya, berteriak ketakutan ketika masuk rumah hantu.

Akhirnya mereka masuk ke suatu ruangan yang isi nya dengan darah dan ada mayat yang terbuka di depan nya tentu saja mereka takut dan langsung kabur dengan cepat ke pintu.

 Pintu berwarna putih  Doni memasuki ruang itu sendiri.

teman Doni  dan Bella masuk keruangan merah

 dan tetangga nya Doni masuk  keruangan warna itam yang isi nya mayat tetangganya Doni mati di bunuh oleh mayat itu.

Doni pun juga tidak selamat karena dia di kejar oleh grim reaper yang di awal itu  kata grim reaper “die!!!!!!!!!!!!!”.

Akhir nya temen nya Doni mengaku kalo dia yang bikin ini semua rencana untuk membunuh Doni dan tetangga nya Doni. tetangga Doni bernama Dodi, dan teman nya Doni  bernama Toni. Tentu saja kau Bella selamat seperti di tulisan awal dia akan selamat tapi jika Bella ingin selamat dia harus Isa  menjawab pertanyaan. “Toni!!!!!!!! Kenapa kau melakukan ini, “apa ternyata kau masih hidup baiklah jika itu mau mu Doni enyalah kau bersama Bella” Doni pun melawan Toni  dengan cara bertarung sedangkan Bella dia mengerjakan pertanyaan itu supaya Doni, Toni dan Bella sendiri. Waktu mereka keluar ternyata Toni dari awal sudah kesurupan mereka berhasil keluar dari pintu pertama dan kini grim reaper yang awal pun muncul kembali dan mengejar mereka ke pintu ke 2 di mana itu adalah pintu terakhir untuk selamat kini hanya ada dua Cell yang bisa di buka dengan dua kunci tapi kini yang hanya selamat Toni dan Bella, Doni mengorbankan diri nya untuk  mereka berdua bisa selamat dan tentu saja akhirnya mereka berdua Isa selamat dan grim reaper itu akhir nya mati terkena api yang membakar diri nya sendiri. ternyata itu ulah si Dodi ia punya ulah jahat untuk menyelakai mereka, ini dia ingin membunuh Bella Toni serta Doni. kini cerita berakhir.

Jam Pasir Ajaib

Jam Pasir Ajaib

Terlihat ada seorang perempuan di kamarnya yang memiliki tinggi badan yang cukup tinggi dengan rambut yang panjang berwarna putih dengan biru gradasi di ujung rambutnya, Ia memiliki warna mata bagaikan langit biru yang indah. Ia mengenakan sebuah topi sihir, sebuah seragam sekolahan dan memegang sebuah sapu penyihir.

“Ih, Aku malas! Kenapa harus sekolah sih? Kan aku seorang penyihir! Ilmu apa lagi yang bisaku dapatkan dari para manusia itu!” keluh perempuan itu yang mengentakkan kakinya dan memiliki kelakuan/sifat yang menyerupai anak kecil.

Perempuan tersebut bernama ‘Faith’ Ia merupakan seorang remaja yang berumur 14 tahun. Tahun ini Ia pindah ke sekolah yang hanya ada manusia biasa yang mencari pendidikan di sekolah tersebut. Faith pun tidak memilih untuk daftar di sekolah tersebut. Yang mendaftarkan Faith ke sekolah tersebut tidak lain adalah Ibunya. Faith pun menghela napas dan akhirnya memilih untuk keluar dari kamarnya itu. Ia mulai menuruni tangga yang sangat panjang dan tinggi tersebut dengan hati-hati. Saat Faith sampai di bawah, Ia melihat Ibunya yang sudah menunggunya di meja makan. Faith sesekali menghela napas dan mulai berjalan ke meja makan tersebut dengan rasa yang tidak begitu senang. Faith mengambil kursi dan duduk di depan Ibunya, Ia menatap Ibunya. Di ruangan tersebut hanya ada keheningan yang membuat hawa ruangan tersebut sangat suram. Faith memutuskan keheningan tersebut dan berkata.

“Jadi… Jam berapa sekolahnya akan mulai, Ibu?”

“Jam 07.20, jangan sampai kau terlambat pada hari pertamamu, nak.”

“Iya.”

Jawaban singkat dari Faith dengan muka yang murung. Ia pun memakan roti dengan selai cokelat yang telah disediakan di piring oleh Ibunya tersebut. Saat selesai, Ia mengambil tasnya dan mulai berjalan ke arah pintu.

“Saya pergi ke sekolah dulu, Ibu.”

“Baik, jangan pulang terlambat ya, Nak.”

“Baik.”

Faith membuka pintu rumah, dan berjalan keluar. Ia menutup pintu tersebut saat Ia sudah berada di luar rumahnya. Faith berdecih kasar, Ia merasakan amarah yang membara di dalam dirinya. Tetapi Ia menahan amarahnya tersebut dan memulai perjalanannya ke sekolah dengan menerbangkan tongkat penyihirnya yang Ia pegang sedari tadi.

Setelah beberapa menit, Ia akhirnya sampai di depan sekolahan tersebut. Faith mendaratkan tongkat penyihirnya di tempat parkir sekolahan tersebut, dan saat itu pun Ia menghilangkan tongkat penyihirnya hanya dengan satu jentikan jari. Faith mulai berjalan ke arah gerbang sekolahan tersebut. Faith melihat sekelilingnya bagaikan anak hilang, Ia melihat lingkungan sekelilingnya dengan takjubnya, “Sekolah ini ternyata sangat luas!” Kata Faith dengan cukup girang, Ia sekarang merasakan sedikit lebih bahagia dibandingkan sebelumnya saat masih di rumah bersama dengan Ibunya. Faith mulai berlari dengan mengelilingi lingkungan sekolahan yang sangat luas.

Saat Faith berputar putar sembari memandangi lingkungan sekelilingnya, tanpa Ia sadari, Ia telah menabrak seorang perempuan dengan cukup keras dan terjatuh.

‘Duk!’

“Apa yang kau lakukan, hah! Kamu kira ini jalan untukmu saja?!” kata perempuan yang Faith tabrak dengan tidak sengaja tersebut.

“Oh, maafkan saya, Saya merupakan murid baru di sekolah ini. Jadi saya sedikit bingung dengan lingkungan sekolahan ini yang sangat luas.” jawab Faith yang tiba-tiba canggung. Perempuan sebelumnya pun menatapnya.

“Baiklah, akanku maafkan kali ini.” kata perempuan tersebut.

“Hey, jika saya boleh tanya, namamu siapa? Sepertinya saya belum pernah melihatmu di kota ini.” tanya perempuan tersebut.

“Nama saya Faith, dan saya cenderung jarang keluar rumah karena malas.” jawab Faith yang tertawa dengan gugup.

“Oh, Pantas saja saya belum pernah melihatmu di kota ini.” jawab perempuan tersebut.

“Haha, Iya.” Faith pun menatapnya sebentar dan akhirnya menanyakannya,

“Jadi, apakah saya boleh tahu namamu?”

“Tentu, tolong maafkan saya yang lupa memperkenalkan diri.” jawab perempuan tadi.

“Tidak masalah!” jawab Faith.

“Nama saya adalah Stella, saya berumur 15 tahun dan saya merupakan pengurus OSIS di sekolah ini.” jawab Stella.

“Oh, salam kenal, Kak Stella.” Jawab Faith dengan senyuman yang lembut.

“Salam kenal juga, Faith.” Stella pun tersenyum hangat kepada Faith.

Bel pun tiba-tiba berdering, pertanda kelas akan mulai. Faith pun melambaikan tangannya kepada Stella dan berlari mencari kelasnya. Stella pun menatapnya sebentar, melihatnya lari dengan kebingungan.

“Ada sesuatu yang aneh dengan anak itu.” kata Stella dengan sinisnya. Stella pun berhadapan belakang, dan mulai berjalan ke perpustakaan.

Sedangkan Faith, masih berlarian bagaikan anak yang hilang. Faith sedang berlarian menaiki dan menuruni tangga, akhirnya Ia menemukan kelasnya yang berada di lantai 2. Faith bergegas ke kelasnya, dan akhirnya berhenti di depan pintu kelas tersebut. Ia mencoba untuk mengatur nafasnya yang masih terengah-engah, setelah Ia dapat bernapas dengan normal kembali, Ia menjadi canggung dan mengetuk pintu tersebut. Faith sudah tahu bahwa gurunya sudah datang sebelum Ia menemukan kelasnya. Guru dari kelas tersebut yang bernama ‘Giana’

“Oh, halo nak. Apakah kamu murid baru nya?” tanya Ms. Giana

“Iya bu, Saya murid baru di sini.” jawab si Faith

“Baik, nak, silahkan masuk dan perkenalkan dirimu.” sambut Ms. Giana dengan sebuah senyuman hangat.

Faith menganggukkan kepalanya, dan Ia memasuki ruang kelas itu.

Saat Faith berdiri di depan kelas, terdapat tatapan yang berbeda-beda dari murid di kelas tersebut. Mereka semua mulai berbisik bisik,

“Mengapa rambutnya putih? Apakah Ia mengecat rambutnya? Dan mengapa Ia menggunakan topi aneh itu?” bisikan dari salah satu murid di kelas tersebut.

Faith menghela napas, “Halo teman-teman, saya Faith. Saya berumur 14 tahun dan memiliki hobi membaca buku, dan saya merupakan murid pindahan. Cukup sekian dari saya, Terima kasih.” Faith pun memberi mereka senyuman tertekan, Satu kelas pun terdiam dan lanjut menatapnya.

“Baik, silahkan duduk di sebelah ‘Quin’, Quin tolong angkat tangan.” ujar Ms. Giana.

Quin yang merasa senang akan mendapatkan teman sebangku pun mengangkat tangannya. “Tolong duduk disebalah Quin ya, nak.” kata Ms. Giana. Faith menatap Quin dari kejauhan, Faith pun menganggukkan kepalanya dan mulai berjalan ke arahnya. Setelah Ia sampai di mejanya, Ia mengambil kursi dan duduk di sebelah Quin, dan menyapa Quin dengan bahagia.

“Hey, Apakah kita boleh berteman?” tanya Faith.

“Boleh-boleh saja, sepertinya kita sudah saling kenal kan?” kata Quin.

“Oh iya, benar. Kita sudah saling kenal.” jawab Faith dengan girangnya, Faith mulai mengeluarkan buku mata pelajaran, buku catatan dan juga alat tulisnya. Faith pun merasa bosan saat mendengarkan gurunya, menurutnya sekolah tidak begitu penting baginya. Selama pelajaran, Faith tidak mencatat apa pun dan Ia hanya memainkan bolpoinnya sejak awal mulainya pelajaran tersebut.

Beberapa jam pelajaran telah berlalu, dan akhirnya bel istirahat pun berdering. Terlihat semua murid sedang berlarian keluar dari kelas mereka masing-masing. Faith pun berdiri dari kursinya, Ia menatap Quin yang tertidur sedari tadi. Faith pun membangunkannya dan mengajaknya keluar kelas untuk istirahat.

“Ayolah, bangun. Jangan ngebo aja kamu.” canda si Faith.

“Halah, mending diam aja sih kamu.” jawab si Quin yang sudah terbangun.

Faith pun lanjut untuk membujuk si Quin untuk keluar dari kelas dan beristirahat. Akhirnya, Quin menyerah dan keluar kelas bersama Faith.

“Akhirnya keluar juga.” kata Faith yang senang akan kemenangannya untuk membujuk Quin.

“Cih, gitu aja bangga.” jawab Quin yang sedang bercanda. “Ya iyalah, tidak mungkin kecewa kan ya.” jawab Faith kepada Quin, “Iya iya deh.” kata Quin yang menertawakan Faith sebagai candaan.

5 menit telah berlalu, Sedangkan Faith dan Quin masih berjalan menuju kantin melewati sebuah lorong yang begitu panjang dan luas, juga terdapat banyak loker yang berwarna merah di dalam lorong tersebut.

“Yahh, ini lorong panjang amat sih!” keluh Faith.

“Pastilah, ini sekolah kan luas banget.” kata Quin.

“Harus pakai banget gitu ya?” tanya Faith.

“Iya” kata Quin dengan singkat, jelas, padat.

Faith menghelakan napas perlahan lahan karena kelelahan. Faith pun menyandarkan punggungnya di salah satu loker tersebut untuk beristirahat.

“Hey, Kenapa kamu beristirahat di situ! Nanti kita dimarahi oleh pemilik lokernya!” tegur Quin kepada Faith.

“Ya, ga masalah kan. Saya sudah capek begini kamu suruh jalan lagi gitu ya?” kata Faith yang masih saja bersandaran di loker tersebut.

“Cih, ya sudah lah. Lagian kamu ngapain? Katanya mau ke kantin.” tanya Quin kepada Faith.

“Oh, itu benar juga! Baiklah, kita lanjut jalan saja ke sana.” jawab Faith.

Faith pun berdiri dengan tegak dan tidak lagi bersandaran pada loker tersebut. Seketika pintu loker yang dipakai Faith untuk bersandar pun terjatuh dan menghilang menjadi debu. Saat itu pun Faith dan Quin hanya melihat loker tersebut dengan ekspresi muka yang terkejut dan ketidak percayaan.

“Sejak kapan ada tangga di dalam loker ini?” tanya Faith dengan bingung.

“Saya pun tidak tahu, mungkin pemilik loker ini membuat ruangan ini hanya untuk dirinya?” jawab Quin dengan intonasi suara yang gugup.

Faith pun mulai mendekati loker tersebut, tetapi Quin mencegahnya. “Hey, Jangan didekati! Bisa saja ruangan itu berbahaya, dan kita dilarang masuk!” kata Quin.

“Cih, jangan paranoid lah Quin! Lagian, kamu juga penasaran kan tentang ruangannya!” jawab Faith yang tetap saja ingin memasuki loker tersebut.

Quin pun terdiam, Ia menghela napas dan menganggukkan kepalanya. “Baikah. Tetapi sampai nanti ada masalah, yang tanggung kamu ya!” kata Quin yang tidak ingin bertanggung jawab atas pilihan temannya.

“Iya iya deh, saya yang tanggung.” jawab Faith dengan santainya. Faith pun memasuki ruangan yang berada di dalam loker tersebut dan menaiki tangga yang berada di dalam loker. Ruangan tersebut berwarna hitam dan putih, dan hanya terdapat tangga tersebut dan simbol-simbol aneh yang diukir di dindingnya. “Tempat ini dingin sekali…!” keluh Quin.

“Shhh, Dari pada isinya mengeluh aja, sini bantu!” jawab Faith yang kesal terhadap Quin.

“Ih Iya deh.” jawab Quin.

Quin mendekati si Faith, tetapi beberapa saat kemudian Ia pun ikut bingung karena Ia tidak pernah melihat simbol-simbol tersebut.

“Simbol apaan itu? Perasaan gak pernah lihat deh.” jawab Quin dengan kebingungan.

“Yah, kukira kamu tahu makna dari simbol-simbol ini.” kata Faith yang sedikit kecewa.

Beberapa saat kemudian, Quin pun memulai pembicaraan.

“Mungkin di perpustakaan ada buku tentang simbol-simbol ini?” kata Quin yang mencoba untuk mencari ide.

“Oh ya, kau bener! Mungkin kita bisa ke perpustakaan sepulang sekolah.” jawab Faith.

“Tentang itu, saya gak akan bisa sih kalau pergi ke perpustakaan bersamamu sepulang sekolah..” kata Quin dengan canggung.

“Loh? Kenapa gak bisa?” tanya Faith kepada Quin.

“Saya ada acara keluarga sepulang sekolah, kamu tidak apa apa kan kalau ke perpustakaan sendirian?”

“Ya sudah deh, gak masalah.” jawab Faith.

Bel pun berdering, yang berarti istirahat telah selesai.

“Oh, belnya sudah berdering. Saya pergi ke kelas dulu ya!” kata Quin yang akan pergi ke kelasnya.

“Baiklah, sampai jumpa.” jawab Faith yang hanya melihat Quin berjalan ke kelasnya, karena pada jam ke 2 mereka memiliki mata pelajaran yang berbeda. Faith berbalik badan dan mulai berjalan cepat ke kelasnya. Saat Ia masih berjalan, Ia melihat ada bayangan hitam yang melewatinya. Faith tidak menyadarinya, dan melanjutkan perjalanannya ke kelas.

Saat Ia tiba di kelas selanjutnya, yaitu mata pelajaran IPA. Ia mendudukkan dirinya di sebuah kursi kosong. Tidak lama pun pelajaran dimulai. Seperti biasa, Faith merasa bosan dan memilih untuk tidak mendengarkan penjelasan dari gurunya. Ia sedari tadi hanya mengalamu tentang kejadian tadi dan tidak sadar akan waktu yang berlalu. Ketika pelajaran selesai, Ia menunggu untuk semua murid keluar terlebih dahulu. Saat ruang kelas mulai sepi, Ia pun keluar dan bergegas ke perpustakaan.

Faith pun akhirnya sampai di perpustakaan setelah beberapa menit berlalu, di situ Ia bertatapan dengan Stella dan kawan-kawannya. Faith hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan berjalan seperti biasa agar tidak dianggap mencurigakan oleh Stella dan kawan-kawannya. Ia pun berpura-pura untuk membaca beberapa buku sembari menunggu mereka pergi dari perpustakaan. Faith pun mengeksplorasi ruang perpustakaan tersebut dan melihat bahwa perpustakaan ini jauh lebih besar dari perkiraannya. Perpustakaan tersebut memiliki beberapa meja dan kursi, perpustakaan tersebut juga memiliki banyak rak buku yang sangat tinggi, makalah itu disediakan tangga kaku agar murid-murid bisa mengambil buku-buku yang berada di atas rak buku tersebut, dan tersedia juga beberapa komputer untuk mengerjakan tugas-tugas sepulang sekolah.

Faith pun lanjut mencari buku tentang simbol-simbol tadi, Ia telah mengambil banyak buku dan membaca dan memperhatikan semua isi buku dengan baik. Stella sedari tadi hanya menatapnya secara diam-diam. “Anak itu ngapain sih? Dari tadi mengobrak-abrik buku aja!” ucap Stella dalam batinnya. Faith yang merasa ditatap sedari tadi pun menatap balik Stella. Stella pun cepat-cepat membuang muka dan lanjut mengerjakan tugasnya. Faith lanjut menatapnya sebentar, dan ikut membuang muka. Beberapa saat sudah lewat, dan Faith sudah mulai lelah. Ia hanya menghela napas dan duduk di kursi kosong yang sudah disediakan oleh perpustakaan. Saat Ia melihat jam, ternyata jarum jam sudah menunjukkan jam 4 sore. “Hah, Masa sudah jam 4? Perasaan baru beberapa menit di sini. Haduh, sebentar lagi perlu pulang.” Faith pun mengeluh kepada dirinya sendiri dengan intonasi suara yang rendah.

Faith mulai meringkas buku-buku yang Ia baca tadi, dan memilih untuk membawa pulang beberapa buku yang belum Ia baca. Setelah buku-bukunya di Scan oleh penjaga perpustakaan, Faith pun memasukkan semua buku tersebut ke dalam plastik hitam yang diberikan oleh penjaga perpustakaannya. Ia membawa plastik hitam tersebut dan keluar dari perpustakaan, di mana Ia di tahan oleh Stella,

“Heh, ngapain kamu pinjam buku sebanyak itu?” tanya Stella yang mencurigai Faith yang membawa buku banyak.

“Oh, ini?… Hanya untuk belajar saja kok, tidak perlu khawatir.” jawab Faith dengan gugup.

“Hm, baiklah.” kata Stella yang masih curiga terhadap Faith.

Faith pun menghela napas lega saat melihat Stella berjalan menjauh darinya. Faith mulai berjalan ke depan gerbang, dimana ibunya sudah menunggu sedari tadi.

“Ibu? Mengapa kamu disini?” kata Faith dengan bingung.

“Pihak sekolah memanggil ibu kesini. Kamu pulang saja dulu, nak. Nanti ibu pulang sedikit malam.” jawab Ibunya dengan senyuman hangat.

“Oh, okay.” jawab Faith dengan singkat.

Faith melanjutkan perjalanannya ke rumah. Saat Ia sampai di rumah, Ia membuka pintu rumahnya dan masuk. Saat Ia masuk, terlihat ada beberapa jajanan yang sudah dibeli oleh ibunya. Faith pun masuk ke kamarnya, Kamar tersebut berwarna putih dan hitam, terdapat satu kasur, sebuah meja belajar yang terdapat sebuah rak buku di sebelahnya dan sebuah lemari yang sangat besar, Ia pun meletakkan plastik hitam tersebut di dekat meja belajarnya. Ia mengganti pakaiannya terlebih dahulu, dan mengambil beberapa jajanan yang dibeli oleh ibunya saat Ia masih di sekolah. Ia membawa jajanan tersebut ke dalam kamarnya sembari Ia mengambil beberapa buku tersebut. Faith membaca buku-buku tersebut dengan perlahan dan teliti.

Beberapa waktu telah berlalu, dan Faith mulai merasa kelelahan.

Ia pun berkata, “Aku sudah baca lebih dari sepuluh buku, tetapi kenapa tidak ada apa pun tentang simbol-simbol tersebut!”

Faith lanjut membaca buku-buku tersebut, tetapi Ia mulai merasakan rasa pegal pada punggungnya

“Haduh, aku baru berumur 14 tahun, Mengapa sudah memiliki punggung bagaikan orang tua!” keluh Faith di dalam hatinya.

Maka Ia berdiri dari kursinya dan berjalan ke kasurnya. Ia pun menjatuhkan dirinya di atas kasurnya yang cukup besar tersebut, “Baiklah, mari kita lanjut membaca lagi.” kata Faith. Ia mulai membaca lagi, sampai Ia akhirnya tertidur sembari memegang buku yang dari tadi Ia baca.

Keesokan harinya, Faith pun terbangun. Ia mengusap matanya dan membuka tirai jendelanya. Ia melihat ke luar jendelanya, dan cahaya matahari pun masuk ke dalam kamarnya. Ia mengusap matanya sekali lagi karena silau yang disebabkan oleh cahaya mataharinya. Faith mulai berjalan ke kamar mandinya. Ia menutup pintu kamar mandi tersebut saat Ia telah memasuki kamar mandi tersebut. Kamar mandi tersebut berwarna putih, dan cukuplah besar. Terdapat dua wastafel dengan kaca dan sebuah bath tub dengan sebuah tirai menutupinya. Faith berjalan dan menghadap ke depan wastafel dan menatap refleksi dirinya yang memantul di kaca, Ia pun mencuci mukanya dan menggosok giginya. Setelah Ia selesai, Ia mengeringkan mukanya dengan handuk.

Saat Faith keluar dari kamar mandi, bel rumahnya pun berdering.

“Siapa yang datang jam segini?” tanya Faith di dalam hatinya. Faith keluar dari kamarnya dan menuruni tangganya. Bel pun lanjut berdering, “Kring kring kring!”

Faith pun membuka pintu rumahnya dan melihat ada sebuah buku yang terlihat kotor, lusuh dan tua. Faith mengambil bukunya, dan menutup pintu. Ia kembali menaiki tangga dan memasuki kamar tidurnya lagi. Ia meletakkan buku tersebut di atas meja belajarnya dan mencoba untuk mengusap sampul buku tersebut dengan tisu basah. Sekali lagi, Ia melihat simbol-simbol aneh tersebut berada di sampul bukunya.

“Apa-apaan ini? Mengapa buku ini tiba-tiba berada di depan pintu rumahku?” tanya Faith di dalam hatinya.

Faith pun membuka bukunya. Di dalam buku tersebut tidak ada satu kata pun, Faith pun menatap bukunya dengan bingung. Ia lanjut membalik-balik semua halaman buku tersebut. Sampai akhirnya, Ia menemukan sebuah lembar kertas yang berada di tengah buku. Lembaran kertas itu pun adalah sebuah gambaran jam pasir.

“Jam pasir? Apakah aku perlu mencari jam pasir yang memiliki pasir warna biru seperti digambar ini? Kalau tidak salah di taman sekolahan yang bagian belakang ada jam pasir… Tapi aku juga kurang tahu, soalnya aku tidak mendengarkan penjelasan Ms. Giana saat di kelas. Coba nanti malamku lihat.” kata Faith yang memegang lembaran kertas dengan gambaran jam pasir tersebut.

Faith menatap kepada jam dindingnya sekali lagi, jarum jam menunjukkan jam 4 pagi.

“Oh, pantas saja masih sunyi. Ibu belum bangun.” kata Faith yang menghadap ke meja belajarnya lagi. “Bukunya berantakan semua, aku lupa merapikannya kemarin karena sudah ketiduran.” kata Faith di dalam hatinya.

Faith pun merapikan bukunya dan memasukkan semua bukunya di dalam plastik hitam yang diberikan oleh penjaga perpustakaannya kemarin. Ia meletakkan plastik hitam yang terisi oleh buku tersebut di sebelah meja belajarnya dan lanjut tiduran di atas kasurnya sembari memainkan ponselnya.

2 jam telah berlalu, dan Ibunya Faith memanggilnya untuk sarapan pagi tepat pada jam 6. Faith pun keluar dari kamarnya dan menuruni tangga,

“Ibu sudah pulang? Kok Faith tidak dengar ibu membuka pintu?” tanya Faith dengan bingung.

“Oh, itu karena kamu sudah tertidur nak. Ibu pun pulang jam 12-an karena ada urusan lain.” jawab ibunya Faith.

“Oh, baiklah, Bu.” kata Faith yang dari tadi sudah duduk di kursi yang berada di ruang makan.

Ibunya Faith pun meletakkan beberapa piring di atas meja, dan di atas piring-piring tersebut disediakannya semua hidangan favorit Faith.

“Ibu kenapa membikin semua hidangan kesukaan Faith? Apakah ibu tidak lelah membuatnya?” tanya Faith yang menatap ibunya dengan terkejut.

“Tidak masalah nak, Ibu tahu kamu lelah karena tugas-tugas sekolahan yang banyak.” jawab ibu Faith kepadanya.

“Tugas? Tugas apa? Kok ibu bisa tahu ya?” tanya Faith di dalam hatinya.

“Baiklah, terima kasih banyak, ibu.” jawab Faith.

Faith pun memakan semua hidangan tersebut dengan lahap, Ia tidak ingin meninggalkan se remah pun dari hidangan tersebut, karena Ia tahu betapa susahnya untuk ibunya membuat semua hidangan favoritnya.

Setelah Faith selesai memakan semua hidangan tersebut, Ia berterima kasih sekali lagi kepada ibunya dan kembali ke kamar tidurnya.

“Haduh, sepertinya aku makannya terlalu banyak deh sampai kekenyangan…” kata Faith di dalam hatinya. Ia pun memasuki kamar tidurnya dan duduk di kursi belajarnya. Ia kembali membuka buku tadi, dan melihat ada sebuah lubang yang menyerupai bentuk jam pasir.

“Apa-apaan ini? Tadi ga ada lho, kok tiba-tiba ada?” kata Faith dengan raut muka yang bingung.

Ia pun melihat jam dindingnya lagi, “Baru jam 7 pagi, kalau masuk ke sekolah jam segini sih sudah pasti ketahuan sama penjaganya, apalagi ini kan hari Sabtu dan sekolahan sepi.” kata Faith dalam hatinya.

Faith melihat ke luar jendela, banyak transportasi yang melewati jalan tersebut. “Enaknya ngapain ya? Baru jam 7 pagi.” kata Faith di dalam hatinya sekali lagi. Faith pun menghela napas, dan membuka laptopnya.

“Mungkin ada beberapa informasi lainnya tentang simbol-simbol aneh tersebut?” kata Faith dengan nada berbisik. Ia pun membuka laptopnya dan mencari informasi baru tentang simbol-simbol aneh tersebut.

5 jam telah berlalu, dan sekarang jarum jam telah menunjukkan jam 12 siang.

“Haduh, punggungku… Apakah aku sudah menjadi lansia? Aku belum mau meninggal karena usia lho!” kata Faith dengan dramatis, Ia terlalu “over reacting” hanya karena Ia merasa kaku pada bagian punggungnya.

Faith melihat pada jam dindingnya, “Oh, sudah jam 12 siang? Ga begitu kerasa ya. Yang kerasa hanya mata dan punggungku.” kata Faith yang kelelahan.

“Hm… Sepertinya sudah tidak ada pekerjaan kan? Yasudah, mending tidur lagi.” Faith berdiri dan berlari ke kasurnya. Ia pun menjatuhkan dirinya di atas kasurnya dan memeluk gulingnya,

“Selamat tidur Dunia!” kata Faith yang memejamkan matanya dan tertidur lelap.

Setelah 4 jam-an Ia tertidur. Saat jarum jam menunjukkan jam 4 sore, Ia akhirnya terbangun.

“Hoamm, sudah jam berapa ini?” kata Faith di dalam hatinya. Saat Ia melihat dinding jam, ternyata jam sudah menunjukkan jam 4 sore.

“Aku sudah tertidur selama 4 jam, seharusnya sebentar lagi makan malam. Tapi, aku masih kenyang. Mungkin makan malamku lompati saja?” kata Faith di dalam hatinya. Faith berdiri dari kasurnya dan masuk lagi ke kamar mandi. Ia mencuci mukanya lagi, tetapi sekilas Ia melihat sebuah bayangan hitam melewati cerminnya dengan begitu cepat.

“Bayangan itu lagi!” kata Faith dengan terkejut. Ia pun menghindari wastafelnya, dan lari keluar kamar mandi.

“Mengapa bayangan itu muncul lagi, apakah bayangan itu ada hubungannya dengan simbol-simbol aneh yang berada si sekolahan?” tanya Faith dalam hatinya.

“Sudahlah, lupakan saja,” Faith pun menutup pintu kamar mandinya dan mengganti pakaiannya, Ia menggunakan sebuah kemeja putih dengan rok panjang berwarna hitam yang panjangnya mencapai lututnya, dilengkapi dengan jaket hitam dan tas hitam yang dalamnya dengan buku misterius tadi. Ia berjalan keluar kamar tidurnya dan menuruni tangganya.

“Ibu, aku pergi ke rumah teman dulu ya!” teriak Faith agar ibunya dapat mendengarnya sembari Ia memasang kaos kaki dan sepatu hitamnya yang biasa Ia gunakan untuk pergi ke sekolah.

“Baik nak, jangan pulang larut malam ya.” kata ibunya

“Baik, bu.” Jawab Faith.

Faith pun keluar dari rumahnya dan berjalan kaki ke sekolahan.

Dalam perjalanannya, Ia melihat bahwa jalanan masih ramai dengan berbagai macam transportasi. Faith juga melihat ada sebuah kupu-kupu berwarna biru yang melewatinya dalam perjalanannya.

Saat Faith sampai di sekolahannya, Ia mencoba untuk memanjat gerbangnya dan akhirnya pun berhasil. Saat Faith akhirnya masuk, Ia pun senang. Tetapi Ia tidak tahu caranya untuk turun dari gerbang tersebut. Maka Ia hanya menjatuhkan dirinya,

“BRUK!”

“Haduhh, walau ada cara lain untuk turun dari gerbang tersebut, tapi menjatuhkan diri adalah cara tercepat.” kata Faith yang merasakan kesakitan pada lututnya. Ia pun berdiri dan berjalan mengelilingi sekolahannya dan akhirnya mencapai taman belakang,

“Itu, jam pasirnya!” kata Faith dengan senang. Ia pun mengangkat kaca yang menjaga jam pasir tersebut. Saat Faith memegang jam pasirnya, Ia merasakan hal nyeri di tangannya. Maka Ia tidak sengaja pun melempar jam pasir tersebut.

“Eh, sakit sakit!” Faith pun menghindari jam pasir tersebut, dan melihat bahwa jam pasir tersebut mengeluarkan cahaya biru.

Beberapa saat kemudian, Ia menurunkan tasnya dan mengobrak-abrik tasnya,

“Dimana buku tadi!” tanya Faith di dalam hatinya.

“Cih, apakah ini buku yang kau cari?”

“Apa?” kata Faith dengan terkejut. Faith pun melihat ke belakang, hanya untuk melihat Stella yang memegang bukunya.

“Ternyata benar, kamu di sekolah ini hanya untuk membuat masalah!” kata Stella dengan percaya diri dan marah.

Faith pun berlari ke Stella, “Kembalikan bukuku!” kata Faith yang mencoba untuk menarik bukunya dari pegangan Stella.

“Tidak akan, Kamu hanya akan membuat masalah lagi!” kata Stella yang mendorong Faith.

Faith pun terjatuh di tanah dan melihat cahaya biru itu memasuki buku tersebut.

“Apa yang baru saja terjadi?” tanya Faith dengan bingung

Seketika ada sebuah cahaya putih yang menyinari matanya.

“Tunggu apa yang terjadi, kak Stella!” teriak Faith.

Saat Faith sadar, Ia terbangun di atas kasurnya. Ternyata selama ini Ia hanya bermimpi.

“Apa? Jadi selama ini aku hanya bermimpi?” kata Faith dengan bingung.

Saat Ia menatap jam dinding, ternyata jarum jam baru menunjukkan jam 6 pagi.

“Faith, ayo bangun! Nanti kamu terlambat untuk hari pertama sekolahmu!” kata Ibu Faith.

“Aku bingung sekali.. Bukannya ini sudah hari Sabtu? Kenapa masih hari pertama?” kata Faith di dalam hatinya.

“Baik, bu! Aku segera turun.” balas Faith kepada ibunya.

“Huh, mimpi yang aneh.” kata Faith di dalam hatinya.

Ia pun bersiap-siap mengenakan seragam dan mengambil tasnya dan keluar dari kamar tidurnya, dan menuruni tangganya.

“Mungkin aku hanya bermimpi selama ini, mungkin buku misterius itu tidak nyata.” kata Faith dengan lega.

Saat Ia menuruni tangga, tasnya pun terjatuh dan terbuka. Terlihatlah sebuah buku yang terjatuh keluar dan terbuka. Menunjukkan sebuah jam pasir berwarna biru yang sudah ada di dalam bukunya.

“Tidak mungkin kan ini?” tanya Faith dengan ketakutan di dalam hatinya.

Ia pun membawa buku tersebut dan berjalan ke halaman belakang.

“Hilanglah saja dan jangan menggangguku lagi!” kata Faith dengan kesal sembari Ia melihat buku tersebut terbakar.

Faith pun merasa lega bahwa hidupnya sudah kembali seperti semula, dan Ia kembali memasuki rumahnya. Terlihat cahaya biru yang keluar dari bukunya yang Ia bakar tadi, dan cahaya biru tersebut kembali ke taman sekolahan.

The End