The Next Petrova Guardian

The Next Petrova Guardian

Tempat itu sepi,sunyi,senyap,gelap. Terdapat lantunan piano yang sangat pelan hampir seperti tidak ada suara tersebut,hawanya sangat tidak enak.Seperti ada yang berjalan ke arahku,bayangan hitam keunguan bermata putih menyala-

Nova sontak terbangun dari tidurnya dan pergi dari ranjangnya,mengecek jam mendapati bahwa jam masih menunjukan jam 2.30 ,lalu pergi ke dapur untuk meminum air.Saat Ia sedang minum Nova berpikir “apakah bayangan yang beberapa kali ini datang ke dalam mimpiku??,ah sudahlah”.Karna masih merasa mengantuk Nova menaruh gelas yang sudah Ia pakai dan Kembali ke kamar lalu tak lama Nova langsung tertidur di ranjangnya yang nyaman.

“Nova!!,ayo berangkat” “ok”.

Sesampainya di sekolah,Nova langsung masuk ke kelasnya dan menaruh tasnya di kursi nya.Ia meraih hpnya di dalam tasnya,lalu membuka whatsaap ke kontak teman nya,”belum pada berangkat??????????????” ketik Nova,”blm lagi nunggu cicik” jawab salah satu temannya,”udh bentar lagi sampe”jawab 2 teman lainnya.Tak lama Nova menunggu akhirnya kedua temannya datang.

“Nova” sontak aku langsung mengalihkan pandanganku yang sebelumnya berada pada handphone ku kepada sumber suara tersebut,

”apa??” tanya ku pada temanku yang Bernama Jace, di sebelahnya ada temanku yang satunya yang Bernama Letra yang masih sibuk memainkan handphonenya,pasti dia lagi nonton-

“Kamu udh ngerjain prnya???” “udah” jawab nova “affah iyah??” tanya Jace tidak percaya,”Serah deh”jawab Nova dengan dingin.

“Le,keluar kelas yuk,jalan-jalan”

“…” seperti biasa tidak ada jawaban

“Le,le,Letra!!” Nova agak menaikan nada bicaranya dan hanya mendapat jawaban “hah” dari Letra

“Keluar yuk,jalan jalan”jawab Nova masih mencoba sabar,”yuk”.

Akhirnya temanku yang satunya lagi datang yang bernama Arila,lalu aku langsung mengajak letra untuk ke Arila,dan karna sudah tinggal beberapa menit lagi sudah. waktunya masuk  kelas.

Setelah pulang kerumah,Nova melakukan rutinitasnya sepulang sekolah.

“Nova,tolong ambilin rak warna oren yang ada sticker Winnie the pooh nya” pinta  ibu nova “iya” jawab nova

Ketika Nova sedang mencari keberadaan rak tersebut,terdapat satu barang yang menarik pandangannya.Cincin perpaduan warna hitam dan kuning.”bolehkah aku mengambil cincin itu??”Nova bertanya pada dirinya sendiri-

“Nova!!,Ketemu tidak??”tanya ibu Nova.Nova langsung mengingat tujuan dia ke Gudang,akhirnya ketemulah rak yang disuruh ibu nova untuk mengambil.

“Ketemu”sahut Nova,bergegas Kembali ke sumber suara ibunya untuk memberikan rak tersebut.

Setelah memberikan rak itu kepada ibunya,Nova Kembali kekamarnya untuk mamainkan handphonenya.terlintas dikepala Nova cincin yang tadi Ia temui di Gudang.Nova  pada dirinya sendiri,”punya siapa sih itu???.”Tiba-tiba Nova ketiduran. Ketika Nova terbangun,terkagetlah Dia menemukan cincin yang sama Yang dia temukan di Gudang tergeletak di mejanya.ada sepercik keinginan  untuk mengambil cincin tersebut,tapi satu sisi Nova tidak mau terjerumus ke dalam masalah apapun.Terpikir oleh Nova untuk menanyakan tentang cin-cin tersebut pada semua orang dirumah nya.”cincin di meja kamarku itu punya siapa???” semua orang dirumahnya dan jawaban nya sama antara “nggak tau ”dan”hah yang mana??”dah lah.Dan akhirnya karna Nova terlalu Lelah dan juga sudah mulai larut memikirkan tentang asal-usul cincin tersebut,Nova ketiduran.

Lagi-lagi,Nova bermimpi tentang sesosok hitam keunguan bermata putih menyala yang terus mencoba berbicara,“pakailah cincin itu,Nova.” Berulang kali-

Nova sontak terbangun dari tidurnya dan pergi dari ranjangnya,mengecek jam mendapati bahwa jam masih menunjukan jam 2.30 ,lalu pergi ke dapur untuk meminum air.Saat Ia sedang minum tiba-tiba Ia mempunyai ide jika tak satu pun orang di rumahnya mengetahui tentang keberadaan cincin tersebut kenapa Ia tidak mencari jawabannya di perpustakaan keluarganya yang konon kata nenek Nova bahwa,”Perpustakaan ini mempunyai semua buku,dan Informasi yang kamu butuh.” Dulu Nova hanya berpikir bahwa neneknya mengatakan hal itu untuk membuat Nova rajin untuk membaca buku.

Saat memasuki perpustakaan tersebut Nova berkata,”Aromanya selalu sama, seperti wisata masa lalu.” Perpustakaan itu beraroma buku.Setelah kurang lebih setengah jam mencari keberadaan buku tersebut ,di perpustakaan yang sangat besar.Nova akhirnya menemukan buku yang cukup menarik perhatiannya.Buku yang berwarna emas dan hitam keunguan dengan tulisan ‘The Book Of Acient Artefact’ ‘buku tentang artefak kuno’ yang berwarna putih menyala.Mengingatkan Nova dengan cincin dan sosok hitam itu.

Setelah mengambil buku it ke meja di tengah-tengah perpustakaan itu.Nova membaca buku itu,mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang berada di kepalanya berhari-hari bahkan berminggu-minggu ini.

‘Cincin valuera,

Cincin valuera adalah salah satu artefak kuno terkuat yang mempunyai kekuatan supranatural,dan akan memberi pemakainya kekuatan tersebut.Tidak sembarang orang bisa menjadi pemakai dan mendapat kekuatan tersebut,hanya orang orang yang memang pantas.Cincin valuera adalah artefak yang diturunkan dari keluarga Avortep.’ “Keluarga Avortep??” pikir Nova bertanya-tanya.

‘Asnanta, the guardian of the Avortep Family,

Asnanta adalah pemilik atau penjaga Cincin valuera yang merupakan sumber kekuatan dari Cincin valuera.Asnanta akan menjadi sosok yang menentukan pemegang yang pantas untuk menjaga dan menggunakan cincin Valuera yang dengan baik dan bijaksana.Biasanya bila orang yang sudah dipilih Asnanta terus “menghindar” Asnanta akan mencoba berkomunikasi termasuk “mengunjungi” orang tersebut.Dalam wujub bayangan hitam keunguan bermata putih menyala.’ “Hah” terkagetlah Nova membaca 2 halaman tersebut “kenapa aku?!?” setelah memikirkan hal itu,Nova memutuskan untuk membawa buku itu kekamarnya untuk mengambil cincin di kamarnya dan memakai cincinnya.

Tiba-tiba Nova terlempar ke tempat yang sepi,sunyi,senyap,gelap. Terdapat lantunan piano yang sangat pelan hampir seperti tidak ada suara tersebut,hawanya sangat tidak enak.Sama seperti mimpi-mimpi Nova berhari hari ini. bayangan hitam keunguan bermata putih menyala itu berjalan ke arahku dan berbicara “Kau tau siapa aku??” “A-asnanta???????????????????????” jawab Nova gugup.”Benar,aku melihat bahwa akhirnya kamu menerima tawaranku untuk menjadi pemakai dan penjaga Cincin Valuera.Apakah kau siap ???” “jika iya,apa yang akan terjadi padaku??” tanya Nova “Sebenarnya jika kamu mau dan siap,tugasmu hanya menjaga kekuatanku dan cincin itu” “tapi kenapa aku???” tanya Nova bingung “kamu tau bagian dimana ditulis bahwa cincin valuera adalah artefak keluarga avortep?” “tau” jawab nova “avortep adalah keluarga mu” hah “avortep dibalik adalah Petrova  dan aku tidak memilih saudaramu karna menurutku kamu yang paling belum punya tanggung jawab yang terlalu besar.Jadi maukah kamu menjadi pemegang kakuatanku dan cincin valuera??.Lagian jika kamu mau kamu akan punya aku sebagai teman hidupmu” Setelah beberapa detik berpikir Nova berkata “iya,aku mau”

Bersambung…..

Pintu Tua

Pintu Tua

Namaku Toba,Aku adalah anak 13 tahun yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

Pagi itu ibu ku meminta ku untuk mengambil radio lama yang ada di loteng. “Toba tolong ambilkan radio ibu di loteng ya,” ujarnya. Aku pun langsung mengambil kunci loteng. Sesampainya di sana, tidak ada satu pun barang yang terlihat. “Loh radio nya dimana bu?”teriak ku memanggil ibu. Aneh nya aku tidak mendengar suara sedikit pun dari bawah. Saat itu aku tidak tahu harus apa, yang ku lihat hanya pintu tua dengan kunci yang sudah terpasang di pintu itu.”aneh aku seperti tidak pernah melihat pintu itu di sini, ”ujar ku. Aku sangat penasaran kemana pintu itu menuju. Jadi aku langsung saja masuk ke pintu tua itu tanpa pikir panjang.

“Ah di mana aku? “tanpa kusadiri aku t’lah pingsan dan bangun di tempat yang aku tidak ketahui.aku merasa belum pernah kesini sebelum nya. Aku berada di kamar tua dengan meja bewarna hitam seperti milik ibu ku. “meja itu… Aku seperti pernah melihatnya sebelum nya”kata ku. Aku pun berusaha keluar dari ruangan itu. Saat aku keluar melihat, suasana rumah yang sangat sunyi dan gelap. Aku berusaha melihat sekitar lewat jendela. Tidak ada mobil dan motor yang biasanya berlalu lalang. Aku pun mulai curiga, aku melihat kalender dan ternyata kalender itu menunjukan tahun 1980.tepat 10 tahun setelah ibu lahir. Aku mulai panik dan bingung.

Aku mencari keluar dari rumah itu, yang pertama adalah seorang anak perempuan seumuran denganku. Ia sedang menjual roti sambil mengayuh sepedanya. Aku awalnya sangat bingung aku berada dimana.Jadi Ku beranikan diriku untuk bertanya dengannya. Aku pun menghampirinya dengan wajah kebingungan. “izin, kah kau memberi tahu ku nama kota ini? “tanyaku. “tentu saja, ini kota St.Mikael.aku seperti tidak pernah melihat mu disini. Siapa namamu? Tapi sebelum nya kau bisa memanggil ku Neva, ”balas nya. “begitu ya, oh iya aku lupa memperkenal kan diri, nama ku Toba, ”ujar ku . Neva juga memberikan satu buah roti untuk ku.

Aku pun mulai menjauh darinya dan sekitar. Aku melihat beberapa bangunan yang mirip dengan bangunan sekitar tempat tinggal ku. Tapi kota yang kutinggali adalah kota St.Lorenzo bukan kota St.Mikael.Hari pun mulai gelap dan aku masih terjebak di sini. Aku melihat perpustakaan tua disana. Aku tidak tahu mau apa lagi jadi aku pun masuk ke perpustakaan tua itu. Saya sangat tertarik dengan buku yang ku temukan di sana. ‘Kembali ke masa lalu’ judulnya. Setelah ku baca ternyata cerita buku ini berdasarkan cerita nyata. Halaman terakhir pada buku itu jalan keluar untuk kembali ke masa depan. Aku yang awalnya tidak percaya mulai merasa ada harapan.Aku hanya perlu mencari kunci yang sama seperti saat aku tiba di kota ini. Ada peta yang menunjukan tempat kunci itu berada. Sekali lagi saya meminta bantuan Neva untuk menanyakan lokasi spesifiknya. “kalau di lihat dari peta, arah itu menunjukan bangunan tua di kota ini, ”ujar Neva.

Hari sudah sangat gelap aku tidak tahu lagi harus beristirahat dimana sebelum mencari kunci itu. Aku mengambil sebuah kardus besar dan tidur dipingjgir jalan. keesokan harinya saya langsung mengerjakan bangunan tua itu. Disana aku melihat sebuah kunci yang tergeletak di depan pintu. Tanpa pikir panjang aku langsung meninggal kan bangunan itu dan pergi untuk pulang mengingat ibu masih menunggu di rumah.

Aku langsung memutar kunci pintu itu untuk kembali ke rumah. Sebelum aku pulang aku meninggal kan surat perpisahan untuk Neva yang selama ini t’lah membantu ku untuk kembali pulang. Setelah memutar kunci itu aku masih berada di tempat yang sama. Aku benar-benar bingung. “sepertinya buku itu emang hanya sebuah dongeng, ” kata ku dalam hati. Aku tidak tahu apa yang terjadi. saya benar-benar terjebak disini.

Akhirnya aku mengembalikan buku itu ke perpustakaan tua tempat aku mengambilnya. Aku pergi ke bangunan tua tempat aku mengambil kunci. Aku masuk ke dalam bangunan tua itu. Tidak ada apa disana,benar benar sunyi. Aku melihat pintu tua yang seperti nya menuju ke taman belakang. Hanya ada ayunan rusak disana. Aku melihat ke lantai atas, ada kasur tua, aku memutuskan untuk beristirahat dirumah itu. Keesokannya aku bangun di tempat yang berbeda lagi.

Ini bukan bangunan tua tempat ku ber istirahat kemarin malam. Aku seperti mengenal tempat ini. Aku melamun beberapa saat. Sampai akhirnya aku tersadar, aku di rumah ku sendiri. Aku sangat bingung apa yang sebenarnya terjadi. Aku juga mendengar suara ibu dari lantai bawah. Aku hampir tak percaya dengan peristiwa aneh yang ku alami. Hari demi hari pun ku lewati dengan rasa penasaran di benakku. 

 

Kota Berhantu

Kota Berhantu

Ada seorang cowok yang bernama Doni, dia mendapatkan undangan ke rumah hantu. Di rumah temen nya juga dapat undangan ke rumah hantu.  Tetangganya juga mendapatkan undangan rumah hantu. Tapi, waktu mereka berdua membalik kertas mendapatkan tulisan, “Die!!!!!!!”

Mereka kaget karena di rumah temennya Doni terdapat tulisan, “Run for you life.”

Sedangkan temen cewek nya Doni yang bernama Bella mendapatkan tulisan, “Anda akan selamat dari rumah hantu ini.”

Mereka berempat bertemu di cafe karena Doni ingin bertemu. 

“Apakah kalian mendapatkan undangan ke rumah hantu?” kata Doni. 

Doni memutuskan datang ke rumah hantu itu, teman-temannya pun mengikutinya. Mereka menentukan waktu jam 12.00 malam. Benar saja pada tanggal 20 Oktober mereka datang ke rumah hantu dan mereka di sambut dengan grim reaper. Grim reaper itu berbicara, “Hohohoho.”

Grim reaper  sudah menunggu mereka di depan rumah hantu. Doni, Bella, dan teman Doni dan tetangganya, berteriak ketakutan ketika masuk rumah hantu.

Akhirnya mereka masuk ke suatu ruangan yang isi nya dengan darah dan ada mayat yang terbuka di depan nya tentu saja mereka takut dan langsung kabur dengan cepat ke pintu.

 Pintu berwarna putih  Doni memasuki ruang itu sendiri.

teman Doni  dan Bella masuk keruangan merah

 dan tetangga nya Doni masuk  keruangan warna itam yang isi nya mayat tetangganya Doni mati di bunuh oleh mayat itu.

Doni pun juga tidak selamat karena dia di kejar oleh grim reaper yang di awal itu  kata grim reaper “die!!!!!!!!!!!!!”.

Akhir nya temen nya Doni mengaku kalo dia yang bikin ini semua rencana untuk membunuh Doni dan tetangga nya Doni. tetangga Doni bernama Dodi, dan teman nya Doni  bernama Toni. Tentu saja kau Bella selamat seperti di tulisan awal dia akan selamat tapi jika Bella ingin selamat dia harus Isa  menjawab pertanyaan. “Toni!!!!!!!! Kenapa kau melakukan ini, “apa ternyata kau masih hidup baiklah jika itu mau mu Doni enyalah kau bersama Bella” Doni pun melawan Toni  dengan cara bertarung sedangkan Bella dia mengerjakan pertanyaan itu supaya Doni, Toni dan Bella sendiri. Waktu mereka keluar ternyata Toni dari awal sudah kesurupan mereka berhasil keluar dari pintu pertama dan kini grim reaper yang awal pun muncul kembali dan mengejar mereka ke pintu ke 2 di mana itu adalah pintu terakhir untuk selamat kini hanya ada dua Cell yang bisa di buka dengan dua kunci tapi kini yang hanya selamat Toni dan Bella, Doni mengorbankan diri nya untuk  mereka berdua bisa selamat dan tentu saja akhirnya mereka berdua Isa selamat dan grim reaper itu akhir nya mati terkena api yang membakar diri nya sendiri. ternyata itu ulah si Dodi ia punya ulah jahat untuk menyelakai mereka, ini dia ingin membunuh Bella Toni serta Doni. kini cerita berakhir.

Jam Pasir Ajaib

Jam Pasir Ajaib

Terlihat ada seorang perempuan di kamarnya yang memiliki tinggi badan yang cukup tinggi dengan rambut yang panjang berwarna putih dengan biru gradasi di ujung rambutnya, Ia memiliki warna mata bagaikan langit biru yang indah. Ia mengenakan sebuah topi sihir, sebuah seragam sekolahan dan memegang sebuah sapu penyihir.

“Ih, Aku malas! Kenapa harus sekolah sih? Kan aku seorang penyihir! Ilmu apa lagi yang bisaku dapatkan dari para manusia itu!” keluh perempuan itu yang mengentakkan kakinya dan memiliki kelakuan/sifat yang menyerupai anak kecil.

Perempuan tersebut bernama ‘Faith’ Ia merupakan seorang remaja yang berumur 14 tahun. Tahun ini Ia pindah ke sekolah yang hanya ada manusia biasa yang mencari pendidikan di sekolah tersebut. Faith pun tidak memilih untuk daftar di sekolah tersebut. Yang mendaftarkan Faith ke sekolah tersebut tidak lain adalah Ibunya. Faith pun menghela napas dan akhirnya memilih untuk keluar dari kamarnya itu. Ia mulai menuruni tangga yang sangat panjang dan tinggi tersebut dengan hati-hati. Saat Faith sampai di bawah, Ia melihat Ibunya yang sudah menunggunya di meja makan. Faith sesekali menghela napas dan mulai berjalan ke meja makan tersebut dengan rasa yang tidak begitu senang. Faith mengambil kursi dan duduk di depan Ibunya, Ia menatap Ibunya. Di ruangan tersebut hanya ada keheningan yang membuat hawa ruangan tersebut sangat suram. Faith memutuskan keheningan tersebut dan berkata.

“Jadi… Jam berapa sekolahnya akan mulai, Ibu?”

“Jam 07.20, jangan sampai kau terlambat pada hari pertamamu, nak.”

“Iya.”

Jawaban singkat dari Faith dengan muka yang murung. Ia pun memakan roti dengan selai cokelat yang telah disediakan di piring oleh Ibunya tersebut. Saat selesai, Ia mengambil tasnya dan mulai berjalan ke arah pintu.

“Saya pergi ke sekolah dulu, Ibu.”

“Baik, jangan pulang terlambat ya, Nak.”

“Baik.”

Faith membuka pintu rumah, dan berjalan keluar. Ia menutup pintu tersebut saat Ia sudah berada di luar rumahnya. Faith berdecih kasar, Ia merasakan amarah yang membara di dalam dirinya. Tetapi Ia menahan amarahnya tersebut dan memulai perjalanannya ke sekolah dengan menerbangkan tongkat penyihirnya yang Ia pegang sedari tadi.

Setelah beberapa menit, Ia akhirnya sampai di depan sekolahan tersebut. Faith mendaratkan tongkat penyihirnya di tempat parkir sekolahan tersebut, dan saat itu pun Ia menghilangkan tongkat penyihirnya hanya dengan satu jentikan jari. Faith mulai berjalan ke arah gerbang sekolahan tersebut. Faith melihat sekelilingnya bagaikan anak hilang, Ia melihat lingkungan sekelilingnya dengan takjubnya, “Sekolah ini ternyata sangat luas!” Kata Faith dengan cukup girang, Ia sekarang merasakan sedikit lebih bahagia dibandingkan sebelumnya saat masih di rumah bersama dengan Ibunya. Faith mulai berlari dengan mengelilingi lingkungan sekolahan yang sangat luas.

Saat Faith berputar putar sembari memandangi lingkungan sekelilingnya, tanpa Ia sadari, Ia telah menabrak seorang perempuan dengan cukup keras dan terjatuh.

‘Duk!’

“Apa yang kau lakukan, hah! Kamu kira ini jalan untukmu saja?!” kata perempuan yang Faith tabrak dengan tidak sengaja tersebut.

“Oh, maafkan saya, Saya merupakan murid baru di sekolah ini. Jadi saya sedikit bingung dengan lingkungan sekolahan ini yang sangat luas.” jawab Faith yang tiba-tiba canggung. Perempuan sebelumnya pun menatapnya.

“Baiklah, akanku maafkan kali ini.” kata perempuan tersebut.

“Hey, jika saya boleh tanya, namamu siapa? Sepertinya saya belum pernah melihatmu di kota ini.” tanya perempuan tersebut.

“Nama saya Faith, dan saya cenderung jarang keluar rumah karena malas.” jawab Faith yang tertawa dengan gugup.

“Oh, Pantas saja saya belum pernah melihatmu di kota ini.” jawab perempuan tersebut.

“Haha, Iya.” Faith pun menatapnya sebentar dan akhirnya menanyakannya,

“Jadi, apakah saya boleh tahu namamu?”

“Tentu, tolong maafkan saya yang lupa memperkenalkan diri.” jawab perempuan tadi.

“Tidak masalah!” jawab Faith.

“Nama saya adalah Stella, saya berumur 15 tahun dan saya merupakan pengurus OSIS di sekolah ini.” jawab Stella.

“Oh, salam kenal, Kak Stella.” Jawab Faith dengan senyuman yang lembut.

“Salam kenal juga, Faith.” Stella pun tersenyum hangat kepada Faith.

Bel pun tiba-tiba berdering, pertanda kelas akan mulai. Faith pun melambaikan tangannya kepada Stella dan berlari mencari kelasnya. Stella pun menatapnya sebentar, melihatnya lari dengan kebingungan.

“Ada sesuatu yang aneh dengan anak itu.” kata Stella dengan sinisnya. Stella pun berhadapan belakang, dan mulai berjalan ke perpustakaan.

Sedangkan Faith, masih berlarian bagaikan anak yang hilang. Faith sedang berlarian menaiki dan menuruni tangga, akhirnya Ia menemukan kelasnya yang berada di lantai 2. Faith bergegas ke kelasnya, dan akhirnya berhenti di depan pintu kelas tersebut. Ia mencoba untuk mengatur nafasnya yang masih terengah-engah, setelah Ia dapat bernapas dengan normal kembali, Ia menjadi canggung dan mengetuk pintu tersebut. Faith sudah tahu bahwa gurunya sudah datang sebelum Ia menemukan kelasnya. Guru dari kelas tersebut yang bernama ‘Giana’

“Oh, halo nak. Apakah kamu murid baru nya?” tanya Ms. Giana

“Iya bu, Saya murid baru di sini.” jawab si Faith

“Baik, nak, silahkan masuk dan perkenalkan dirimu.” sambut Ms. Giana dengan sebuah senyuman hangat.

Faith menganggukkan kepalanya, dan Ia memasuki ruang kelas itu.

Saat Faith berdiri di depan kelas, terdapat tatapan yang berbeda-beda dari murid di kelas tersebut. Mereka semua mulai berbisik bisik,

“Mengapa rambutnya putih? Apakah Ia mengecat rambutnya? Dan mengapa Ia menggunakan topi aneh itu?” bisikan dari salah satu murid di kelas tersebut.

Faith menghela napas, “Halo teman-teman, saya Faith. Saya berumur 14 tahun dan memiliki hobi membaca buku, dan saya merupakan murid pindahan. Cukup sekian dari saya, Terima kasih.” Faith pun memberi mereka senyuman tertekan, Satu kelas pun terdiam dan lanjut menatapnya.

“Baik, silahkan duduk di sebelah ‘Quin’, Quin tolong angkat tangan.” ujar Ms. Giana.

Quin yang merasa senang akan mendapatkan teman sebangku pun mengangkat tangannya. “Tolong duduk disebalah Quin ya, nak.” kata Ms. Giana. Faith menatap Quin dari kejauhan, Faith pun menganggukkan kepalanya dan mulai berjalan ke arahnya. Setelah Ia sampai di mejanya, Ia mengambil kursi dan duduk di sebelah Quin, dan menyapa Quin dengan bahagia.

“Hey, Apakah kita boleh berteman?” tanya Faith.

“Boleh-boleh saja, sepertinya kita sudah saling kenal kan?” kata Quin.

“Oh iya, benar. Kita sudah saling kenal.” jawab Faith dengan girangnya, Faith mulai mengeluarkan buku mata pelajaran, buku catatan dan juga alat tulisnya. Faith pun merasa bosan saat mendengarkan gurunya, menurutnya sekolah tidak begitu penting baginya. Selama pelajaran, Faith tidak mencatat apa pun dan Ia hanya memainkan bolpoinnya sejak awal mulainya pelajaran tersebut.

Beberapa jam pelajaran telah berlalu, dan akhirnya bel istirahat pun berdering. Terlihat semua murid sedang berlarian keluar dari kelas mereka masing-masing. Faith pun berdiri dari kursinya, Ia menatap Quin yang tertidur sedari tadi. Faith pun membangunkannya dan mengajaknya keluar kelas untuk istirahat.

“Ayolah, bangun. Jangan ngebo aja kamu.” canda si Faith.

“Halah, mending diam aja sih kamu.” jawab si Quin yang sudah terbangun.

Faith pun lanjut untuk membujuk si Quin untuk keluar dari kelas dan beristirahat. Akhirnya, Quin menyerah dan keluar kelas bersama Faith.

“Akhirnya keluar juga.” kata Faith yang senang akan kemenangannya untuk membujuk Quin.

“Cih, gitu aja bangga.” jawab Quin yang sedang bercanda. “Ya iyalah, tidak mungkin kecewa kan ya.” jawab Faith kepada Quin, “Iya iya deh.” kata Quin yang menertawakan Faith sebagai candaan.

5 menit telah berlalu, Sedangkan Faith dan Quin masih berjalan menuju kantin melewati sebuah lorong yang begitu panjang dan luas, juga terdapat banyak loker yang berwarna merah di dalam lorong tersebut.

“Yahh, ini lorong panjang amat sih!” keluh Faith.

“Pastilah, ini sekolah kan luas banget.” kata Quin.

“Harus pakai banget gitu ya?” tanya Faith.

“Iya” kata Quin dengan singkat, jelas, padat.

Faith menghelakan napas perlahan lahan karena kelelahan. Faith pun menyandarkan punggungnya di salah satu loker tersebut untuk beristirahat.

“Hey, Kenapa kamu beristirahat di situ! Nanti kita dimarahi oleh pemilik lokernya!” tegur Quin kepada Faith.

“Ya, ga masalah kan. Saya sudah capek begini kamu suruh jalan lagi gitu ya?” kata Faith yang masih saja bersandaran di loker tersebut.

“Cih, ya sudah lah. Lagian kamu ngapain? Katanya mau ke kantin.” tanya Quin kepada Faith.

“Oh, itu benar juga! Baiklah, kita lanjut jalan saja ke sana.” jawab Faith.

Faith pun berdiri dengan tegak dan tidak lagi bersandaran pada loker tersebut. Seketika pintu loker yang dipakai Faith untuk bersandar pun terjatuh dan menghilang menjadi debu. Saat itu pun Faith dan Quin hanya melihat loker tersebut dengan ekspresi muka yang terkejut dan ketidak percayaan.

“Sejak kapan ada tangga di dalam loker ini?” tanya Faith dengan bingung.

“Saya pun tidak tahu, mungkin pemilik loker ini membuat ruangan ini hanya untuk dirinya?” jawab Quin dengan intonasi suara yang gugup.

Faith pun mulai mendekati loker tersebut, tetapi Quin mencegahnya. “Hey, Jangan didekati! Bisa saja ruangan itu berbahaya, dan kita dilarang masuk!” kata Quin.

“Cih, jangan paranoid lah Quin! Lagian, kamu juga penasaran kan tentang ruangannya!” jawab Faith yang tetap saja ingin memasuki loker tersebut.

Quin pun terdiam, Ia menghela napas dan menganggukkan kepalanya. “Baikah. Tetapi sampai nanti ada masalah, yang tanggung kamu ya!” kata Quin yang tidak ingin bertanggung jawab atas pilihan temannya.

“Iya iya deh, saya yang tanggung.” jawab Faith dengan santainya. Faith pun memasuki ruangan yang berada di dalam loker tersebut dan menaiki tangga yang berada di dalam loker. Ruangan tersebut berwarna hitam dan putih, dan hanya terdapat tangga tersebut dan simbol-simbol aneh yang diukir di dindingnya. “Tempat ini dingin sekali…!” keluh Quin.

“Shhh, Dari pada isinya mengeluh aja, sini bantu!” jawab Faith yang kesal terhadap Quin.

“Ih Iya deh.” jawab Quin.

Quin mendekati si Faith, tetapi beberapa saat kemudian Ia pun ikut bingung karena Ia tidak pernah melihat simbol-simbol tersebut.

“Simbol apaan itu? Perasaan gak pernah lihat deh.” jawab Quin dengan kebingungan.

“Yah, kukira kamu tahu makna dari simbol-simbol ini.” kata Faith yang sedikit kecewa.

Beberapa saat kemudian, Quin pun memulai pembicaraan.

“Mungkin di perpustakaan ada buku tentang simbol-simbol ini?” kata Quin yang mencoba untuk mencari ide.

“Oh ya, kau bener! Mungkin kita bisa ke perpustakaan sepulang sekolah.” jawab Faith.

“Tentang itu, saya gak akan bisa sih kalau pergi ke perpustakaan bersamamu sepulang sekolah..” kata Quin dengan canggung.

“Loh? Kenapa gak bisa?” tanya Faith kepada Quin.

“Saya ada acara keluarga sepulang sekolah, kamu tidak apa apa kan kalau ke perpustakaan sendirian?”

“Ya sudah deh, gak masalah.” jawab Faith.

Bel pun berdering, yang berarti istirahat telah selesai.

“Oh, belnya sudah berdering. Saya pergi ke kelas dulu ya!” kata Quin yang akan pergi ke kelasnya.

“Baiklah, sampai jumpa.” jawab Faith yang hanya melihat Quin berjalan ke kelasnya, karena pada jam ke 2 mereka memiliki mata pelajaran yang berbeda. Faith berbalik badan dan mulai berjalan cepat ke kelasnya. Saat Ia masih berjalan, Ia melihat ada bayangan hitam yang melewatinya. Faith tidak menyadarinya, dan melanjutkan perjalanannya ke kelas.

Saat Ia tiba di kelas selanjutnya, yaitu mata pelajaran IPA. Ia mendudukkan dirinya di sebuah kursi kosong. Tidak lama pun pelajaran dimulai. Seperti biasa, Faith merasa bosan dan memilih untuk tidak mendengarkan penjelasan dari gurunya. Ia sedari tadi hanya mengalamu tentang kejadian tadi dan tidak sadar akan waktu yang berlalu. Ketika pelajaran selesai, Ia menunggu untuk semua murid keluar terlebih dahulu. Saat ruang kelas mulai sepi, Ia pun keluar dan bergegas ke perpustakaan.

Faith pun akhirnya sampai di perpustakaan setelah beberapa menit berlalu, di situ Ia bertatapan dengan Stella dan kawan-kawannya. Faith hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan berjalan seperti biasa agar tidak dianggap mencurigakan oleh Stella dan kawan-kawannya. Ia pun berpura-pura untuk membaca beberapa buku sembari menunggu mereka pergi dari perpustakaan. Faith pun mengeksplorasi ruang perpustakaan tersebut dan melihat bahwa perpustakaan ini jauh lebih besar dari perkiraannya. Perpustakaan tersebut memiliki beberapa meja dan kursi, perpustakaan tersebut juga memiliki banyak rak buku yang sangat tinggi, makalah itu disediakan tangga kaku agar murid-murid bisa mengambil buku-buku yang berada di atas rak buku tersebut, dan tersedia juga beberapa komputer untuk mengerjakan tugas-tugas sepulang sekolah.

Faith pun lanjut mencari buku tentang simbol-simbol tadi, Ia telah mengambil banyak buku dan membaca dan memperhatikan semua isi buku dengan baik. Stella sedari tadi hanya menatapnya secara diam-diam. “Anak itu ngapain sih? Dari tadi mengobrak-abrik buku aja!” ucap Stella dalam batinnya. Faith yang merasa ditatap sedari tadi pun menatap balik Stella. Stella pun cepat-cepat membuang muka dan lanjut mengerjakan tugasnya. Faith lanjut menatapnya sebentar, dan ikut membuang muka. Beberapa saat sudah lewat, dan Faith sudah mulai lelah. Ia hanya menghela napas dan duduk di kursi kosong yang sudah disediakan oleh perpustakaan. Saat Ia melihat jam, ternyata jarum jam sudah menunjukkan jam 4 sore. “Hah, Masa sudah jam 4? Perasaan baru beberapa menit di sini. Haduh, sebentar lagi perlu pulang.” Faith pun mengeluh kepada dirinya sendiri dengan intonasi suara yang rendah.

Faith mulai meringkas buku-buku yang Ia baca tadi, dan memilih untuk membawa pulang beberapa buku yang belum Ia baca. Setelah buku-bukunya di Scan oleh penjaga perpustakaan, Faith pun memasukkan semua buku tersebut ke dalam plastik hitam yang diberikan oleh penjaga perpustakaannya. Ia membawa plastik hitam tersebut dan keluar dari perpustakaan, di mana Ia di tahan oleh Stella,

“Heh, ngapain kamu pinjam buku sebanyak itu?” tanya Stella yang mencurigai Faith yang membawa buku banyak.

“Oh, ini?… Hanya untuk belajar saja kok, tidak perlu khawatir.” jawab Faith dengan gugup.

“Hm, baiklah.” kata Stella yang masih curiga terhadap Faith.

Faith pun menghela napas lega saat melihat Stella berjalan menjauh darinya. Faith mulai berjalan ke depan gerbang, dimana ibunya sudah menunggu sedari tadi.

“Ibu? Mengapa kamu disini?” kata Faith dengan bingung.

“Pihak sekolah memanggil ibu kesini. Kamu pulang saja dulu, nak. Nanti ibu pulang sedikit malam.” jawab Ibunya dengan senyuman hangat.

“Oh, okay.” jawab Faith dengan singkat.

Faith melanjutkan perjalanannya ke rumah. Saat Ia sampai di rumah, Ia membuka pintu rumahnya dan masuk. Saat Ia masuk, terlihat ada beberapa jajanan yang sudah dibeli oleh ibunya. Faith pun masuk ke kamarnya, Kamar tersebut berwarna putih dan hitam, terdapat satu kasur, sebuah meja belajar yang terdapat sebuah rak buku di sebelahnya dan sebuah lemari yang sangat besar, Ia pun meletakkan plastik hitam tersebut di dekat meja belajarnya. Ia mengganti pakaiannya terlebih dahulu, dan mengambil beberapa jajanan yang dibeli oleh ibunya saat Ia masih di sekolah. Ia membawa jajanan tersebut ke dalam kamarnya sembari Ia mengambil beberapa buku tersebut. Faith membaca buku-buku tersebut dengan perlahan dan teliti.

Beberapa waktu telah berlalu, dan Faith mulai merasa kelelahan.

Ia pun berkata, “Aku sudah baca lebih dari sepuluh buku, tetapi kenapa tidak ada apa pun tentang simbol-simbol tersebut!”

Faith lanjut membaca buku-buku tersebut, tetapi Ia mulai merasakan rasa pegal pada punggungnya

“Haduh, aku baru berumur 14 tahun, Mengapa sudah memiliki punggung bagaikan orang tua!” keluh Faith di dalam hatinya.

Maka Ia berdiri dari kursinya dan berjalan ke kasurnya. Ia pun menjatuhkan dirinya di atas kasurnya yang cukup besar tersebut, “Baiklah, mari kita lanjut membaca lagi.” kata Faith. Ia mulai membaca lagi, sampai Ia akhirnya tertidur sembari memegang buku yang dari tadi Ia baca.

Keesokan harinya, Faith pun terbangun. Ia mengusap matanya dan membuka tirai jendelanya. Ia melihat ke luar jendelanya, dan cahaya matahari pun masuk ke dalam kamarnya. Ia mengusap matanya sekali lagi karena silau yang disebabkan oleh cahaya mataharinya. Faith mulai berjalan ke kamar mandinya. Ia menutup pintu kamar mandi tersebut saat Ia telah memasuki kamar mandi tersebut. Kamar mandi tersebut berwarna putih, dan cukuplah besar. Terdapat dua wastafel dengan kaca dan sebuah bath tub dengan sebuah tirai menutupinya. Faith berjalan dan menghadap ke depan wastafel dan menatap refleksi dirinya yang memantul di kaca, Ia pun mencuci mukanya dan menggosok giginya. Setelah Ia selesai, Ia mengeringkan mukanya dengan handuk.

Saat Faith keluar dari kamar mandi, bel rumahnya pun berdering.

“Siapa yang datang jam segini?” tanya Faith di dalam hatinya. Faith keluar dari kamarnya dan menuruni tangganya. Bel pun lanjut berdering, “Kring kring kring!”

Faith pun membuka pintu rumahnya dan melihat ada sebuah buku yang terlihat kotor, lusuh dan tua. Faith mengambil bukunya, dan menutup pintu. Ia kembali menaiki tangga dan memasuki kamar tidurnya lagi. Ia meletakkan buku tersebut di atas meja belajarnya dan mencoba untuk mengusap sampul buku tersebut dengan tisu basah. Sekali lagi, Ia melihat simbol-simbol aneh tersebut berada di sampul bukunya.

“Apa-apaan ini? Mengapa buku ini tiba-tiba berada di depan pintu rumahku?” tanya Faith di dalam hatinya.

Faith pun membuka bukunya. Di dalam buku tersebut tidak ada satu kata pun, Faith pun menatap bukunya dengan bingung. Ia lanjut membalik-balik semua halaman buku tersebut. Sampai akhirnya, Ia menemukan sebuah lembar kertas yang berada di tengah buku. Lembaran kertas itu pun adalah sebuah gambaran jam pasir.

“Jam pasir? Apakah aku perlu mencari jam pasir yang memiliki pasir warna biru seperti digambar ini? Kalau tidak salah di taman sekolahan yang bagian belakang ada jam pasir… Tapi aku juga kurang tahu, soalnya aku tidak mendengarkan penjelasan Ms. Giana saat di kelas. Coba nanti malamku lihat.” kata Faith yang memegang lembaran kertas dengan gambaran jam pasir tersebut.

Faith menatap kepada jam dindingnya sekali lagi, jarum jam menunjukkan jam 4 pagi.

“Oh, pantas saja masih sunyi. Ibu belum bangun.” kata Faith yang menghadap ke meja belajarnya lagi. “Bukunya berantakan semua, aku lupa merapikannya kemarin karena sudah ketiduran.” kata Faith di dalam hatinya.

Faith pun merapikan bukunya dan memasukkan semua bukunya di dalam plastik hitam yang diberikan oleh penjaga perpustakaannya kemarin. Ia meletakkan plastik hitam yang terisi oleh buku tersebut di sebelah meja belajarnya dan lanjut tiduran di atas kasurnya sembari memainkan ponselnya.

2 jam telah berlalu, dan Ibunya Faith memanggilnya untuk sarapan pagi tepat pada jam 6. Faith pun keluar dari kamarnya dan menuruni tangga,

“Ibu sudah pulang? Kok Faith tidak dengar ibu membuka pintu?” tanya Faith dengan bingung.

“Oh, itu karena kamu sudah tertidur nak. Ibu pun pulang jam 12-an karena ada urusan lain.” jawab ibunya Faith.

“Oh, baiklah, Bu.” kata Faith yang dari tadi sudah duduk di kursi yang berada di ruang makan.

Ibunya Faith pun meletakkan beberapa piring di atas meja, dan di atas piring-piring tersebut disediakannya semua hidangan favorit Faith.

“Ibu kenapa membikin semua hidangan kesukaan Faith? Apakah ibu tidak lelah membuatnya?” tanya Faith yang menatap ibunya dengan terkejut.

“Tidak masalah nak, Ibu tahu kamu lelah karena tugas-tugas sekolahan yang banyak.” jawab ibu Faith kepadanya.

“Tugas? Tugas apa? Kok ibu bisa tahu ya?” tanya Faith di dalam hatinya.

“Baiklah, terima kasih banyak, ibu.” jawab Faith.

Faith pun memakan semua hidangan tersebut dengan lahap, Ia tidak ingin meninggalkan se remah pun dari hidangan tersebut, karena Ia tahu betapa susahnya untuk ibunya membuat semua hidangan favoritnya.

Setelah Faith selesai memakan semua hidangan tersebut, Ia berterima kasih sekali lagi kepada ibunya dan kembali ke kamar tidurnya.

“Haduh, sepertinya aku makannya terlalu banyak deh sampai kekenyangan…” kata Faith di dalam hatinya. Ia pun memasuki kamar tidurnya dan duduk di kursi belajarnya. Ia kembali membuka buku tadi, dan melihat ada sebuah lubang yang menyerupai bentuk jam pasir.

“Apa-apaan ini? Tadi ga ada lho, kok tiba-tiba ada?” kata Faith dengan raut muka yang bingung.

Ia pun melihat jam dindingnya lagi, “Baru jam 7 pagi, kalau masuk ke sekolah jam segini sih sudah pasti ketahuan sama penjaganya, apalagi ini kan hari Sabtu dan sekolahan sepi.” kata Faith dalam hatinya.

Faith melihat ke luar jendela, banyak transportasi yang melewati jalan tersebut. “Enaknya ngapain ya? Baru jam 7 pagi.” kata Faith di dalam hatinya sekali lagi. Faith pun menghela napas, dan membuka laptopnya.

“Mungkin ada beberapa informasi lainnya tentang simbol-simbol aneh tersebut?” kata Faith dengan nada berbisik. Ia pun membuka laptopnya dan mencari informasi baru tentang simbol-simbol aneh tersebut.

5 jam telah berlalu, dan sekarang jarum jam telah menunjukkan jam 12 siang.

“Haduh, punggungku… Apakah aku sudah menjadi lansia? Aku belum mau meninggal karena usia lho!” kata Faith dengan dramatis, Ia terlalu “over reacting” hanya karena Ia merasa kaku pada bagian punggungnya.

Faith melihat pada jam dindingnya, “Oh, sudah jam 12 siang? Ga begitu kerasa ya. Yang kerasa hanya mata dan punggungku.” kata Faith yang kelelahan.

“Hm… Sepertinya sudah tidak ada pekerjaan kan? Yasudah, mending tidur lagi.” Faith berdiri dan berlari ke kasurnya. Ia pun menjatuhkan dirinya di atas kasurnya dan memeluk gulingnya,

“Selamat tidur Dunia!” kata Faith yang memejamkan matanya dan tertidur lelap.

Setelah 4 jam-an Ia tertidur. Saat jarum jam menunjukkan jam 4 sore, Ia akhirnya terbangun.

“Hoamm, sudah jam berapa ini?” kata Faith di dalam hatinya. Saat Ia melihat dinding jam, ternyata jam sudah menunjukkan jam 4 sore.

“Aku sudah tertidur selama 4 jam, seharusnya sebentar lagi makan malam. Tapi, aku masih kenyang. Mungkin makan malamku lompati saja?” kata Faith di dalam hatinya. Faith berdiri dari kasurnya dan masuk lagi ke kamar mandi. Ia mencuci mukanya lagi, tetapi sekilas Ia melihat sebuah bayangan hitam melewati cerminnya dengan begitu cepat.

“Bayangan itu lagi!” kata Faith dengan terkejut. Ia pun menghindari wastafelnya, dan lari keluar kamar mandi.

“Mengapa bayangan itu muncul lagi, apakah bayangan itu ada hubungannya dengan simbol-simbol aneh yang berada si sekolahan?” tanya Faith dalam hatinya.

“Sudahlah, lupakan saja,” Faith pun menutup pintu kamar mandinya dan mengganti pakaiannya, Ia menggunakan sebuah kemeja putih dengan rok panjang berwarna hitam yang panjangnya mencapai lututnya, dilengkapi dengan jaket hitam dan tas hitam yang dalamnya dengan buku misterius tadi. Ia berjalan keluar kamar tidurnya dan menuruni tangganya.

“Ibu, aku pergi ke rumah teman dulu ya!” teriak Faith agar ibunya dapat mendengarnya sembari Ia memasang kaos kaki dan sepatu hitamnya yang biasa Ia gunakan untuk pergi ke sekolah.

“Baik nak, jangan pulang larut malam ya.” kata ibunya

“Baik, bu.” Jawab Faith.

Faith pun keluar dari rumahnya dan berjalan kaki ke sekolahan.

Dalam perjalanannya, Ia melihat bahwa jalanan masih ramai dengan berbagai macam transportasi. Faith juga melihat ada sebuah kupu-kupu berwarna biru yang melewatinya dalam perjalanannya.

Saat Faith sampai di sekolahannya, Ia mencoba untuk memanjat gerbangnya dan akhirnya pun berhasil. Saat Faith akhirnya masuk, Ia pun senang. Tetapi Ia tidak tahu caranya untuk turun dari gerbang tersebut. Maka Ia hanya menjatuhkan dirinya,

“BRUK!”

“Haduhh, walau ada cara lain untuk turun dari gerbang tersebut, tapi menjatuhkan diri adalah cara tercepat.” kata Faith yang merasakan kesakitan pada lututnya. Ia pun berdiri dan berjalan mengelilingi sekolahannya dan akhirnya mencapai taman belakang,

“Itu, jam pasirnya!” kata Faith dengan senang. Ia pun mengangkat kaca yang menjaga jam pasir tersebut. Saat Faith memegang jam pasirnya, Ia merasakan hal nyeri di tangannya. Maka Ia tidak sengaja pun melempar jam pasir tersebut.

“Eh, sakit sakit!” Faith pun menghindari jam pasir tersebut, dan melihat bahwa jam pasir tersebut mengeluarkan cahaya biru.

Beberapa saat kemudian, Ia menurunkan tasnya dan mengobrak-abrik tasnya,

“Dimana buku tadi!” tanya Faith di dalam hatinya.

“Cih, apakah ini buku yang kau cari?”

“Apa?” kata Faith dengan terkejut. Faith pun melihat ke belakang, hanya untuk melihat Stella yang memegang bukunya.

“Ternyata benar, kamu di sekolah ini hanya untuk membuat masalah!” kata Stella dengan percaya diri dan marah.

Faith pun berlari ke Stella, “Kembalikan bukuku!” kata Faith yang mencoba untuk menarik bukunya dari pegangan Stella.

“Tidak akan, Kamu hanya akan membuat masalah lagi!” kata Stella yang mendorong Faith.

Faith pun terjatuh di tanah dan melihat cahaya biru itu memasuki buku tersebut.

“Apa yang baru saja terjadi?” tanya Faith dengan bingung

Seketika ada sebuah cahaya putih yang menyinari matanya.

“Tunggu apa yang terjadi, kak Stella!” teriak Faith.

Saat Faith sadar, Ia terbangun di atas kasurnya. Ternyata selama ini Ia hanya bermimpi.

“Apa? Jadi selama ini aku hanya bermimpi?” kata Faith dengan bingung.

Saat Ia menatap jam dinding, ternyata jarum jam baru menunjukkan jam 6 pagi.

“Faith, ayo bangun! Nanti kamu terlambat untuk hari pertama sekolahmu!” kata Ibu Faith.

“Aku bingung sekali.. Bukannya ini sudah hari Sabtu? Kenapa masih hari pertama?” kata Faith di dalam hatinya.

“Baik, bu! Aku segera turun.” balas Faith kepada ibunya.

“Huh, mimpi yang aneh.” kata Faith di dalam hatinya.

Ia pun bersiap-siap mengenakan seragam dan mengambil tasnya dan keluar dari kamar tidurnya, dan menuruni tangganya.

“Mungkin aku hanya bermimpi selama ini, mungkin buku misterius itu tidak nyata.” kata Faith dengan lega.

Saat Ia menuruni tangga, tasnya pun terjatuh dan terbuka. Terlihatlah sebuah buku yang terjatuh keluar dan terbuka. Menunjukkan sebuah jam pasir berwarna biru yang sudah ada di dalam bukunya.

“Tidak mungkin kan ini?” tanya Faith dengan ketakutan di dalam hatinya.

Ia pun membawa buku tersebut dan berjalan ke halaman belakang.

“Hilanglah saja dan jangan menggangguku lagi!” kata Faith dengan kesal sembari Ia melihat buku tersebut terbakar.

Faith pun merasa lega bahwa hidupnya sudah kembali seperti semula, dan Ia kembali memasuki rumahnya. Terlihat cahaya biru yang keluar dari bukunya yang Ia bakar tadi, dan cahaya biru tersebut kembali ke taman sekolahan.

The End

Petualangan di Kota Sihir

Petualangan di Kota Sihir

Di pagi hari yang cerah, aku terbangun dari tidurku karena mendengar ayam peliharaanku berkokok. Aku pun segera bangun dan beranjak dari tempat tidurku untuk mengambil segelas air minum di dapur. Saat aku ingin menuju ke dapur, aku melihat dan mendengar anjing peliharaanku menggonggong ke arah kamar belajarku yang pintunya sudah terbuka. Anjing ku menggonggong ke arah meja belajarku. Aku pun melihat ke arah meja belajarku dan alangkah terkejutnya aku melihat buku-bukuku yang kemarin malam sudah aku rapihkan sekarang sudah jatuh berserakan di lantai. Saat aku ingin merapikan buku-buku ku, aku melihat ada salah satu buku yang terdapat tulisan di halaman paling belakang. Tulisan tersebut tertulis dengan tinta berwarna merah.

Aku hanya melihat sekejap mata karena tiba-tiba mamah memanggilku, “Alicia, kenapa kok kamu disini pagi-pagi, ada tugas yang belum kamu kerjain ya?’’

Aku pun menjawab, “Engga mah, semua tugas udah Alicia kerjain. Alicia tadi kesini gara-gara tadi Molly berisik banget gonggongin kamar belajarku, Alicia kan kaget terus bingung kok bisa ya pintu kamar belajar Alicia bisa kebuka padahal kemarin malem udah Alicia tutup rapat.’’

Mamahku pun menjawab dengan heran, ‘‘Mungkin aja itu gara-gara ada angin yang kencang, udahlah ayo bantu mamah bikin makanan untuk sarapan.’’

Aku pun hanya diam terheran-heran, karena mana mungkin ada angin yang dapat membuka pintu kamar belajar ku yang tertutup dengan rapat dan menjatuhkan buku ku, karena buku ku sangat berat dan sudah ku taruh dengan rapih diatas meja belajarku. Sekitar pukul satu siang aku terbangun dari tidur siang ku, karena aku mulai penasaran kembali dengan buku ku yang terdapat tulisan dengan tinta merah tersebut. Aku berjalan menuju ke kamar belajar ku dan membuka halaman belakang buku ku. Tulisan tersebut ternyata berisi bahasa asing yang tidak ku kenali. Karena aku penasaran dengan arti kata tersebut, aku membawa buku ku dan menanyakan kepada orang tua ku mengenai arti dari tulisan dengan bahasa asing tersebut.

Alangkah terkejutnya, orang tua ku berkata kepada ku, ‘‘Tulisan? Kamu lagi ngigau ya? Gak ada satu pun tulisan disitu Alicia.’’

Aku menjawab dengan terheran-heran, ‘‘Itu tulisan pake bahasa asing di halaman belakang buku ku.’’

Orang tua ku menjawab dengan sedikit tertawa, ‘‘Udahlah Alicia, gak ada satu pun tulisan di situ, mending kamu balik tidur siang aja sana.’’

Aku sedikit kesal karena orang tua ku tidak mau melihat lebih teliti lagi, padahal aku sangat yakin disitu pasti terdapat tulisan dengan bahasa asing itu. Aku kembali pergi ke kamar tidur ku untuk tidur siang dengan perasaan khawatir bercampur dengan penasaran saat mengingat tentang tulisan tersebut. Tiba-tiba aku terbangun karena mendengar suara yang sangat keras. Suara itu seperti mengarahkanku untuk pergi ke arah buku ku, saat aku membuka halaman belakang buku ku ternyata sudah terdapat tulisan baru lagi dengan bahasa yang dapat ku kenali sekarang.

Tulisan itu masih menggunakan tinta berwarna merah, isi tulisan itu menyuruh ku untuk pergi ke sebuah rumah tua yang berada cukup jauh dari rumah ku. Karena aku penasaran, aku ingin pergi ke rumah tua itu untuk mencari tau tentang maksud tulisan yang ada di buku ku. Aku menyiapkan segala keperluan ku seperti makanan, minuman, senter, dan buku ku yang terdapat tulisan di halaman belakangnya karena aku tau pasti aku akan melewati perjalanan yang sangat panjang.

Di keesokan hari nya pukul delapan pagi, aku sudah bertekad untuk pergi ke rumah tua itu, aku meminta ijin dari orang tua ku dengan alasan ingin kerja kelompok di rumah teman ku yang bernama Feli karena dari rumah nya hanya sekitar seratus meter untuk jalan kaki ke rumah tua itu.

‘‘Mah, Pah, Alicia ijin pergi ke kerumah Feli buat kerja kelompok ya!’’ Ucapku sambil berteriak di depan pagar rumah.

‘‘Iya Alicia, jangan pulang kesorean ya!’’ Jawab orang tua ku sambil berteriak dari dalam rumah.

Aku pergi menggunakan ojek online. Sesampainya di rumah Feli, aku melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ke rumah tua itu. Setelah melewati perjalanan yang panjang, aku akhirnya sampai di rumah tua itu. Dinding rumah itu terbuat dari kayu seperti model rumah adat joglo.

Saat aku mulai masuk ke rumah tua itu, aku merasakan hawa-hawa menyeramkan yang membuat bulu kudukku berdiri. Rumah itu sangat gelap dan dingin, aku seperti merasakan ada orang yang meniup dan berbisik pelan di telingaku. Tiba-tiba pandanganku kabur dan perlahan menjadi gelap. Aku terbangun di sebuah goa yang sangat gelap, lembab dan dingin. Aku bangun dan berjalan untuk melihat sekitar dengan membawa senter, aku melihat sebuah cahaya yang sangat terang. Aku berjalan menuju ke arah cahaya itu, ternyata itu adalah jalan keluar dari goa tersebut. Aku berjalan keluar dengan sedikit takut, karena aku tidak tahu sekarang aku sedang berada dimana.

Aku berjalan sekitar 15 menit dan aku mulai kelelahan, aku memutuskan untuk memakan bekal yang sudah ku siapkan. Seusai aku mengisi energi ku, aku melanjutkan perjalananku. Setelah berjalan 10 menit, aku sampai di sebuah kota yang sangat asing bagi ku. Dibandingkan dengan kehidupan di kota ku yang sekarang, kota tersebut jauh lebih canggih dan modern. Kendaraan-kendaraan yang ada di kota itu sangat menakjubkan, kendaraan-kendaraan tersebut seperti gelembung yang dapat berjalan. Dan aku melihat di kota tersebut terdapat kendaraan motor yang seperti di gantikan dengan sapu lidi yang dapat terbang dan melaju dengan kencang. Aku berjalan menuju ke arah salah satu restoran yang ada di situ, setelah itu aku memesan teh.

‘‘Emm… Kak, saya boleh liat daftar menu nya? Saya mau pesan minuman.” Tanyaku kepada pelayan yang ada di kasir.

‘‘Ya. ” Jawab pelayan tersebut kepadaku dengan cuek.

Tetapi aneh nya tidak ada orang lain yang ada di restoran itu. Aku menunggu sekitar 5 menit, kemudian pesananku datang dan aku mencoba teh itu. Sebenarnya tidak ada yang aneh dari rasa teh tersebut, namun yang membuatku heran adalah nama teh tersebut yang ada di daftar menu. Nama teh tersebut adalah ‘‘Teh Mizo’’ menurut sepengetahuan ku, itu adalah nama teh yang terdapat suatu sihir disuatu cerita yang ada buku yang pernah ku baca. Setelah aku selesai menghabiskan teh ku, aku membayar dan melanjutkan mencari ada apa saja di kota ini. Tiba tiba aku mendengar suara yang sangat keras seperti kemarin siang, suara itu seperti berasal dari buku ku yang menandakan akan ada tulisan baru yang ada di halaman paling belakang.

Setelah aku membuka dan melihat di halaman paling belakang buku ku, ternyata benar sudah terdapat tulisan baru lagi, namun kali ini terdapat sebuah peta kecil. Tulisan tersebut menyuruhku untuk pergi ke sebuah pabrik tua. Aku pun segera berjalan ke arah pabrik tua itu sesuai dengan arahan peta kecil yang ada di buku ku. Aku ingin pergi ke arah pabrik tua itu menggunakan sebuah bis, namun aku tidak tau dimana telak halte terdekat yang ada di kota misterius ini. Tiba-tiba ada sebuah suara yang sangat kencang kembali. Aku segera membuka tas ku dan mengambil buku ku. Ternyata sudah ada sebuah petunjuk tentang letak-letak halte yang ada di kota misterius ini. Aku segera menuju ke halte yang terdekat dari posisi ku.

Sesampainya di halte tersebut, aku segera masuk ke bis yang sudah menunggu para penumpang. Di pertengahan jalan, aku tersadar bahwa aku tidak ada cukup uang lagi untuk membayar supir bis. Maka dengan berat hati, aku meminta supir bis tersebut berhenti dan menurunkan ku di pinggir jalan, karena sudah sekitar 5 menit lagi aku sudah akan sampai di pabrik tua itu.

Aku pun berkata kepada supir bis tersebut, ‘‘Pak, saya minta tolong turunkan saya disini saja ya pak.’’

Aku berjalan kaki menuju ke pabrik tua tersebut sambil membaca peta di buku ku. Sesampainya di pabrik tua itu, aku melihat seorang laki-laki yang memakai jubah hitam dan sepertinya dia seumuran denganku. Aku pun segera masuk ke dalam dan mengajak berkenalan dengan laki-laki itu.

‘‘Eeee… Hai, nama kamu siapa? Kenalin nama aku Alicia,” tanyaku kepada laki-laki yang ada di pabrik itu.

‘‘Hm? Oh… Hai, kenalin namaku Steven, kamu kenapa kok ada disini?’’ Jawab laki-laki tersebut sambil membalikkan badannya.

Aku pun menceritakan mengapa aku berada disini kepada Steven. Tak ku sangka, ternyata dia adalah laki-laki yang sangat baik hati dan ramah. Namanya Steven, dia berumur 16 tahun… Ohh ternyata dia satu tahun lebih tua di bandingkan denganku. Setelah berkenalan, aku pun bertanya tentang asal diri nya dan mengapa dia ada di pabrik tua ini, sebaliknya Steven juga menanyakan balik tentang hal tersebut.

Ternyata Steven adalah warga dari kota misterius ini, Ia berada disini karena ingin menyelidiki mengapa pabrik ini di tinggalkan dan menjadi pabrik tua terbengkalai seperti ini. Aku pun bertanya tentang kota misterius ini, ternyata nama dari kota misterius ini adalah ‘‘Kota Ottery.’’ Steven menjelaskan bahwa kota ini adalah kota sihir yang dahulunya adalah desa yang sangat tentram dan rukun, namun ada salah satu nenek moyangnya yang bernama Belle Potter datang dan mengubah total kehidupan di desa yang sekarang menjadi kota sihir yang sangat menakjubkan dan canggih. Steven bertanya kepadaku tentang asal ku dan mengapa aku berada di pabrik tua ini, aku pun menjelaskan apa yang aku alami selama ini. Steven pun hanya terdiam dan memberitahu hal yang sebenarnya, Ia berkata bahwa sebenarnya ada salah satu misteri di kota sihir ini. Misteri tersebut adalah tentang empat batu sihir yang tersembunyi di kota sihir ini, batu sihir itu dapat berguna untuk membuka portal untuk menuju ke dunia tempat tinggalku yang sebenarnya.

Aku hanya terdiam dan berkata dalam hati, ‘‘Kok Steven bisa tau dunia tempat tinggal asliku ya…?’’

Steven pun lanjut bercerita perihal portal tersebut, ternyata portal tersebut berada tepat di bawah pabrik tua ini. Setelah aku mendengarkan cerita tentang portal tersebut, aku pun meminta bantuan Steven agar dapat membantuku kembali ke dunia asli ku dengan cara mencari empat batu sihir tersebut.

‘‘Emm… Steven, aku boleh minta tolong sama kamu ga buat bantuin aku nyari 4 batu sihir itu? Aku pingin balik ke dunia asliku, aku takut papah dan mamah aku nyariin aku karena ga pulang-pulang.” Tanya ku dengan sedikit ragu-ragu kepada Steven.

Steven pun menjawab dengan santai, ‘‘Boleh dong, sebenernya aku memang punya keinginan buat bantu orang untuk mencari empat batu sihir tersebut. Karena aku tahu perjalanan untuk mencari batu sihir tersebut sangat panjang namun seru.’’

‘‘Terimakasih ya… Kamu orang yang sangat baik, aku akan membalas kebaikanmu di suatu hari nanti.’’ Jawabku.

Tiba-tiba buku ku kembali berbunyi dengan sangat keras. Saat aku membuka buku ku, aku mendapati bahwa buku ku sudah terdapat tulisan baru lagi. Tulisan tersebut adalah mengenai empat batu sihir yang diceritakan oleh Steven. Tiba-tiba muncul kembali sebuah gambar yang menunjukkan dimana letak-letak keempat batu sihir tersebut. Karena aku tidak paham mengenai letak-letak tempat di kota ini, aku memberikan buku ku kepada Steven. Steven pun memahami letak keempat batu sihir tersebut.

Setelah Steven memahami letak dari keempat batu sihir tersebut, Steven pun mengajak ku untuk pergi ke rumah neneknya terlebih dahulu. Aku pun bertanya kepada Steven mengapa kita harus pergi ke rumah neneknya terlebih dahulu sebelum pergi untuk mencari keempat batu sihir tersebut.

‘‘Steven, kok kita harus ke rumah nenek kamu dulu?’’ Tanya ku kepada Steven.

Steven pun menjawab pertanyaan ku, ‘‘Nenek ku tau lebih dalam mengenai batu sihir itu. Aku ingin menanyakan tentang keempat batu sihir itu, kemudian aku meminta izin untuk mencari batu sihir itu dan membuka portal menuju dunia aslimu.’’

Kemudian aku dan Steven menuju ke rumah nenek Steven dengan menggunakan sapu lidi yang dapat terbang dan melaju dengan kencang. Selama perjalanan aku hanya diam sambil terpesona melihat indahnya kota sihir ini. Aku pun mulai mengajak Steven berbicara karena sudah mulai bosan.

‘‘Steven, kalo misalnya aku gabisa pulang dari sini gimana ya? Apa aku bakal terjebak disini selamanya? Tanya ku kepada Steven.

Steven pun menjawab pertanyaanku, ‘‘Jangan pikirkan hal yang tidak-tidak Alicia, aku yakin kamu akan kembali ke dunia asli mu dengan selamat.’’

Sesampainya di rumah nenek Steven, aku dan Steven segera masuk dan bertemu dengan nenek Steven. Kemudian Steven memperkenalkan ku kepada nenek nya.

‘‘Nek, kenalin ini Alicia. Dia teman baru ku.’’ Kata Steven kepada neneknya.

Nenek Steven pun menjawab perkataan Steven, ‘‘Halo Alicia, perkenalkan nama saya Anna. Kamu bisa panggil saya Nenek Anna.’’

‘‘Iya Nek.’’ Jawabku kepada nenek Anna.

Kemudian Steven bercerita kepada nenek Anna tentang alasan dia mengajak aku pergi ke rumah nenek Anna. Setelah menceritakan tentang asal tempat tinggalku dan alasan mengapa aku berada disini, nenek Anna mengajak Steven untuk pergi ke kamar nenek Anna terlebih dahulu. Setelah selesai dari kamar nenek Anna, lalu Steven pamit dan meminta izin untuk membantu ku pergi mencari keempat batu sihir tersebut.

‘‘Nek, Steven sama Alicia izin pergi nyari batu sihir nya ya. Do’ain Steven bisa bantuin Alicia balik ke dunia aslinya.’’ Kata Steven kepada Nenek Anna.

‘‘Iya Steven, bantuin Alicia kembali ke dunia aslinya ya. Semangat !!!’’ Jawab nenek Anna.

Aku dan Steven pun segera bergegas untuk mencari keempat batu sihir tersebut. Saat perjalanan aku mengajak berbicara kepada Steven.

‘‘Sekali lagi terimakasih ya Steven, kamu sudah mau bantuin aku kembali ke dunia asliku dengan membantu mencari keempat batu sihir itu. Walaupun sebenarnya kita belum pernah bertemu sebelumnya, namun kamu tetap mau membantuku. Maaf karena aku telah merepotkan mu…’’ Aku pun mengatakan hal tersebut kepada Steven dengan sedikit terharu.

‘‘Hei… Untuk apa kamu berterimakasih? Aku yang seharusnya berterimakasih kepadamu, karena dengan aku membantu mu mencari keempat batu sihir itu. Aku akan memiliki pengalaman yang sangat menyenangkan dan menakjubkan. Tentang perihal mengapa aku ingin sekali membantu mu padahal sebelumnya kita belum pernah bertemu, itu karena kamu adalah satu-satunya orang yang mau mengajak ku berkenalan pertama kali nya seumur hidupku. Aku dari kecil tidak mempunyai teman atau mungkin apabila aku mempunyai teman pun hanya sedikit dan biasanya pertemanan ku tidak bertahan lama. Itulah mengapa aku juga sangat berterimakasih kepadamu Alicia, aku sangat bersyukur karena dapat berkenalan denganmu.’’ Jawab Steven.

Tanpa tersadar, saat aku sedang mendengar jawaban dari Steven. Aku meneteskan air mataku. Tiba-tiba saat aku ingin mengelap mataku, aku seperti mendengar suara seseorang yang tidak asing bagiku dari kejauhan. Saat aku ingin membuka mataku, ternyata semua kejadian yang selama ini aku alami itu adalah mimpi. Aku terbangun dari tidurku dengan keadaan menangis. Dan suara orang aku dengar dari mimpi ku itu adalah mamahku yang membangunkan ku dari tidur ku semalam.

-Tamat-

Garis Luka

Garis Luka

Pada hari sabtu pagi, anggota inti Diamond Gang sedang berkumpul di markas biasa. Kebetulan hari ini Canva mendapatkan shift kerja malam.

“Guys…” panggil Canva pada teman-temannya.

“Hm?” sahut Farzan.

“Gue pulang dulu ya,” pamit Canva.

“Mau kemana lo bro? Tumben balik cepet?” tanya Areksa dengan keheranan.

“Mau ke makam. Udah ya gue balik dulu, dadah.” ujar Canva setelah memakai jaketnya.

“Woke, ati-ati Va!” seru Marvin.

***

Setelah sampai di pemakaman, Canva bergegas turun dari motornya.

“Pah, mah, nek, Anva dateng lagi.” lirih Canva kemudian berjalan masuk ke dalam melewati pusara pusara, hingga akhirnya ia sampai di depan makan kedua orang tua nya dan neneknya.

“Hai, Anva dateng lagi.” ujar Canva dengan lirih sambil berjongkok di depan makam keluarga nya.

“Seperti biasa, Anva bawain mawar merah kesukaan kalian. Pasti kalian seneng kan?” tanya Canva.

Semakin ia berbicara, semakin sakit pula hatinya. Rasanya sesak kala mengingat bahwa mereka telah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Mata cowok itu berair ketika meletakkan setangkai bunga mawar merah tepat di bawah batu nisan keluarganya.

“Keadaanya masih sama. Aku belum bisa menyusun hati yang hancur ini atas kepergian kalian.”

“Aku belum bisa relain kepergian kalian. Ini seperti mimpi. Kalian pernah janji kalau kita akan terus bersama-sama, kalian mau liat Anva sukses. Tapi, kenapa kalian malah pergi duluan? Kalian ninggalin Anva disini sendirian.” kepala Canva jatuh tepat di atas lengannya yang mengusap batu nisan ibunya.

Sakit, sangat sakit.

Air mata Canva luruh jatuh ke tanah. Tubuhnya terasa lemas. Hari-hari yang dilalui Canva terlalu suram dan sepi meski ia berada di keramaian.

“Mah, aku capek, aku capek harus berdiri sendirian di tengah kerasnya dunia ini. Aku setiap hari berada di keramaian, tapi kenapa aku selalu merasa kesepian?”

“Aku sekarang penyakitan mah. Aku udah jadi orang gila yang setiap bulan harus dateng ke psikiater. Besok, jadwal aku kontrol ke psikiater. Kalian doain sama jagain Anva dari atas sana ya? Nanti kalau udah waktunya Anva di jemput, Anva bakal nyusul kalian. Nanti kita kumpul lagi di dunia yang lebih indah.” Canva terus bermonolog sambil menangis di depan makam ibunya.

“Terimakasih untuk kebahagiannya selama ini. Kalian emang nggak ada di deket aku, tapi aku selalu bayangin kalau kalian ada di deket aku.”

“Aku pulang dulu ya, aku mau kerja. Nanti kapan kapan kalau ada waktu aku bakal kesini lagi. Aku sayang banget sama kalian.” ujar Canva sambil tersenyum pedih sekaligus pamit. Setelah pulang dari makam, Canva akan langsung pergi ke cafe untuk bekerja.

***

Tiba-tiba ditengah perjalanan, Canva merasakan sakit bukan main di dadanya. Dia meremas dadanya sekuat mungkin dengan nafas yang kian terasa sesak. Bahkan kini, pandangan matanya mengabur sehingga ia kesulitan untuk berkendara.

“Mama, sakit.” lirih Canva disertai dengan ringisan penuh sakitnya.

Telinga laki-laki itu berdengung kencang hingga membuatnya kesulitan untuk mendengar. Tanpa sadar, Canva melepaskan stang motornya dan beralih memegang kepalanya yang terasa seperti dihantam beton 20 kilo.

Seiring dengan itu, kecepatan motornya yang tinggi dan tidak terkendali, motornya menjadi oleng dan menabrak pembatas jalan dengan sangat kencang.

BRAKKK

Seiring dengan bunyi gesekan motor dengan aspal, tubuh laki-laki itu terpental beberapa meter kemudian menghantam aspal dengan kerasnya.

Rasa sakit dan perih bercampur menjadi satu.

Canva terbaring tak berdaya di atas aspal dengan darah yang bercucuran dimana mana. Canva merasakan sakit luar biasa yang tidak pernah dia alami sebelumnya.

Laki-laki itu merintih. Saking kesakitan nya, kedua ujung mata laki-laki itu meneteskan air mata. “Mama, papa, sakit.” setelah mengatakan kalimat tersebut, Canva langsung tak sadarkan diri.

***

Para anggota inti Diamod dan Azura berlarian di lorong rumah sakit setelah di telfon oleh pihak rumah sakit bahwa sahabatnya telah mengalami kecelakaan. Sesampainya di ruang UGD, dokter yang memeriksa kondisi Canva keluar dari UGD.

“Dok, bagaimana kondisi Canva?” tanya Samuel mewakili sahabat-sahabatnya.

“Keluarga pasien Canva Narendra? Saya ingin berbicara.” ujar Dokter yang memeriksa kondisi Canva.

“Saya sahabat nya.” jawab Areksa.

“Oh baiklah, anda bisa ikut keruangan saya” ajak dokter pada Areksa.

“Kalian disini aja, biar gue sama Areksa yang keruangan dokternya” ucap Samuel pada sahabat nya.

***

“Sebenarnya luka kecelakaan Canva tidak terlalu parah. Hanya saja, ia terus mengalami penurunan kesadaran akibat penyakit gagal ginjal kronis yang ia derita.” perkataan dokter itu memenuhi isi kepala para anggota inti Diamond Gang.

Kini Samuel berdiri mematung di sebelah brankar UGD RS BAGASKARA , menatap tubuh Canva yang terbaring tak berdaya di atas brankar.

“Kenapa lo bohongin kita semua Va?” ucap Samuel sambil menatap lurus ke depan dengan pandangan yang sulit di artikan.

“Kenapa lo nggak pernah bilang sama kita kalau lo punya penyakit?” monolog Samuel sambil menatap kosong Canva yang masih menutup erat matanya.

“Va, asal lo tau, gue merasa jadi sahabat yang nggak guna. Kenapa lo nyimpen semua sendirian? Kenapa lo nggak pernah cerita sama gue?” tanya Marvel yang sudah mengetahui semua dan merasa sedikit kecewa dengan Canva.

Merasa ada yang berbicara dengan nya, Canva perlahan membuka matanya. “Avel…. sakit, sakit banget rasanya.” lirih Canva sambil memegangi kepalanya.

“Va, kenapa lo nggak pernah cerita sama kita kalau lo punya penyakit?” tanya Marvin sambil menatap tubuh Canva yang di hiasi dengan luka.

“Gue cuma nggak mau ngerepotin kalian, gue nggak mau bikin kalian kepikiran.” Ucap Canva sambil menahan rasa sakitnya.

“Jujur, gue agak kecewa sama lo Va, lo udah nggak nganggep gue sebagai sahabat lo?” tanya Marvel dengan suara yang bergetar menahan tangis agar tidak pecah.

“Maaf…” hanya itu yang bisa Canva ucapkan.

“Bertahan ya Va, demi kita, demi masa depan lo juga. Lo katanya mau jadi orang sukses yang bisa ngebiayain kehidupan anak anak jalan, jadi bertahan Va, gue mohon” kini giliran Ilona yang angkat bicara sambil mengusap rambut Canva dengan lembut.

“Ini terlalu sakit Na, gue juga udah capek hidup kayak gini, gue nggak punya siapa siapa lagi di dunia ini setelah keluarga gue meninggal. Gue capek setiap satu minggu harus nahan sakit waktu cuci darah, gue capek setiap bulan harus bolak balik ke psikiater, gue capek harus nahan sakit lagi,” Canva menjeda ucapannya untuk mengambil nafas.

“Gue nggak sanggup. Untuk kali ini, gue beneran udah capek, gue mau nyerah aja rasanya.” ucap Canva dengan nafas yang mulai tersenggal-senggal.

“Semuanya udah selesai. Kalian semua harus bahagia, ya?” Canva mengedarkan pandangannya untuk menatap para sahabatnya.

“Lo nyuruh kita buat bahagia kan? Kalau lo sendiri gimana? Apa selama ini lo udah bahagia?” tanya Areksa. Canva menatap langit-langit rumah sakit dengan pandangan yang nanar.

“Gue nggak perlu itu, Sa. Tugas gue di dunia ini emang mau ngebahagian orang-orang.”

Lelaki itu lantas menatap Samuel dan Areksa yang berdiri sebelahan.

“Jagain dua adek gue ya? Mereka kadang suka bandel, jadi harus ekstra sabar,” ia terkekeh ringan dengan kedua sudut mata yang sudah mengeluarkan cairan bening.

“Apan… Apan nggak boleh pergi” ucap Azura sambil menangis.

“Sini,” panggil Canva dengan lembut pada Azura, ia pun lantas mendekat.

Tangan Canva yang lemah itu terangkat untuk mengusap air mata yang keluar dari kedua sudut mata Azura.

“Nggak boleh nangis, katanya anak pinter?” ucap Canva yang berusaha menghibur Azura.

“Lo itu penipu, munafik, dan lo juga egois. Lo terlalu mikirin kondisi orang lain padahal lo lagi nggak baik baik aja.” sahut Marvel yang berdiri agak jauh dari brankar Canva yang membuat Canva terkekeh ringan dan memilih tidak menanggapi ucapan Marvel.

“Buat Farzan,” Canva menatap Farzan yang berdiri di depan brankar yang ia tempati.

“Semangat ngajak balikan si Meyra.” ucap Canva pada Farzan, teman adu mulut nya.

“Buat lo, Marvin, si buaya kelas kadal, jangan suka mainin perasaan cewek lagi. Udah ada Bella kan? Perasaannya dijaga, jangan sampe lo kecewain Bella,” ucap Canva pada Marvin.

“Dan buat dua adek kesayangan gue, kalau kalian sedih, minta Marvin atau Farzan buat ngehibur kalian ya. Soalnya, gue udah nggak bisa.”

“Va, udah Va udah stop!” ucap Ilona yang sudah tidak kuat menahan sesak di dada nya.

Ilona semakin terisak saat Azura memeluknya.

Rasa sayang mereka berdua pada Canva sangat besar, melebihi luasnya samudra. Lelaki itu selalu berusaha untuk menjadi kakak yang baik bagi kedua adik adiknya, yang selalu berusaha membuat kedua adiknya bahagia.

“Dan untuk Samuel sama Areksa, pemimpin Diamond, tetep jadi orang hebat yang selama ini gue kenal ya? Kalian leader paling hebat yang pernah gue temuin,” Canva membiarkan air matanya jatuh karena ia sudah tak sanggup lagi untuk mengusapnya.

“Dan yang paling penting, jadiin adek adek gue, ratu di hati kalian ya. Jangan sakitin hati mereka, jangan sampai mereka nangis gara-gara ulah kalian berdua.”

Lelaki itu menghirup nafas dalam dalam kemudian menghembuskan nya secara perlahan.

“Dan yang terakhir, buat si batu, temen ngebadut gue.” Canva tertawa kecil menatap Marvel yang sedari tadi berdiam diri.

“Makasih, makasih udah jadi sahabat paling baik yang pernah gue kenal, makasih udah mau gue susahin.” ucap Canva pada Marvel.

“Thank you for everything, guys. Kalian sahabat terbaik gue.”

“Makasih udah mau gue jadiin tempat pulang saat gue lagi bener bener capek sama keadaan. Makasih udah mau nerima gue yang penyakitan ini. Makasih udah mau jadi rumah kedua gue setelah rumah pertama gue hancur. Kalau nanti gue udah nggak ada, jangan lupain gue, ya?” ujar Canva pada sahabat sahabat nya.

“Lo ngomong apaan sih? Lo harus sembuh. Gue rela ngurus lo 24 jam. Gue bakal ngasih semua hidup gue buat lo. TAPI LO HARUS SEMBUH, LO NGGAK BOLEH PERGI NINGGALIN GUE!” sahut Marvel.

“Lo yang ngajarin gue buat bersyukur, buat bisa ngehargain perempuan, lo yang selalu berusaha untuk bikin orang orang bahagia padahal lo sendiri lagi butuh kebahagiaan.” Marvel menangis meluapkan rasa sakit di hatinya.

“Maaf nggak bisa lama lama. Tolong ikhlasin gue buat melepas penat yang selama ini menjerat gue. Udah cukup sampai disini aja. Gue juga manusia biasa. Gue butuh istirahat.” ujar Canva sambil menahan sesak di dadanya.

Keadaan di ruang itu menjadi hening setelah Canva mengucapkan kalimat menyakitkan tersebut.

“Va, kalau emang lo beneran udah nggak sanggup, gue relain lo pergi, ada masanya juga lo bakal capek sama keadaan.” ucap Samuel dengan berat hati dan membuat yang lain ikut kompak menganggukkan kepalanya, kecuali Marvel.

Hal itu membuat Canva tersenyum tipis.

“Tinggal lo Vel, relain gue ya?” nada bicara Canva kian melemah.

Rasa sesak kian menyeruak di dada Marvel.

“Gue mungkin terlalu egois buat minta lo supaya nggak pergi. Rasanya nggak adil kalau orang sebaik lo harus pergi secepat ini. Tapi, gue juga nggak bisa biarin lo ngerasain sakit terus-terusan. Dan detik ini juga, gue ikhlasin kalau emang lo mau pergi dari dunia ini.” ujar Marvel dengan perasaan yang sangat amat tidak rela.

Mendengar itu, Canva tersenyum lebar. Sebentar lagi ia akan terbebas dari rasa sakit yang sudah lama ia rasakan.

“Gue duluan, ya? Nanti kalau masuk surga, gue… laporan lewat mimpi kalian.” setelah mengucapkan itu, kesadaran Canva langsung menurun drastis. Ia juga sempat dipindahkan ke ICU.

Tapi takdir berkata lain. Seorang Canva Narendra telah meninggal dunia pada 31 Agustus 2021.

“KITA BODOH! KITA DITIPU SAMA DIA” teriak Marvel yang menggema memenuhi lorong rumah sakit.

“Kita ditipu sama senyum palsu dia! Kita ditipu sama kata kata dia yang selalu bilang kalau dia baik-baik aja. Canva pembohong dan dengan bodohnya kita percaya kalau dia beneran baik-baik aja.” ucap Marvel yang terlihat frustasi.

Pintu ICU terbuka, kali ini muncul dua perawat yang mendorong brankar dan diikuti satu dokter.

Marvel yang paham jika mereka akan membawa jenazah Canva ke kamar jenazah pun mencegahnya.

“TUNGGU!” teriak Marvel.

Marvel berjalan ke arah sosok yang tubuhnya terbujur kaku di atas brankar. Tangan Marvel yang bergetar berusaha menyingkap kain putih yang menutupi tubuh Canva.

Marvel meletakkan kepalanya di sisi brankar setelah melihat wajah Canva yang pucat.

Disini yang paling terluka adalah Marvel. Cowok itu benar-benar merasa kehilangan yang begitu dalam dan menyakitkan.

“Va….” panggil Marvel.

“Bangun, Diamond butuh lo…” Marvel terus bermonolog sambil menatap jenazah Canva.

“Gue hancur, Va… gue hancur. Gue nggak mau kehilangan sahabat sebaik lo.” ujar Marvel yang menatap penuh luka ke arah jenazah Canva.

“Maafin kita yang nggak pernah tau kondisi lo Va.” ucap Samuel mewakili sahabat-sahabat nya.

“Canva itu definisi lelaki yang sempurna. Seumur hidupnya, dia nggak pernah yang namanya nyakitin hati perempuan. Dia bahkan nggak pernah mau pacaran. Katanya, pacaran itu haram. Lo bener bener bikin gue salut, Va. Hebat! Lo satu-satunya anggota Diamond paling hebat dan nggak pernah ada duanya.” ucap Marvin kemudian menangis sekencang-kencang nya di bahu Farzan.

“Gue…ikhlas, Va. “ ujar Marvel akhirnya.

“Kapan-kapan kita cerita lagi.”

Canva adalah penipu yang baik dan munafik.

Kawan, sekarang lepas penatmu. Kebahagiaan yang abadi telah siap menjemput mu.

Kami disini akan selalu mengingat pesan mu.

Selamat tinggal, malaikat kami.

***

“L-lo beneran Masnaka?” tanya Canva dengan perasaan yang sangat terkejut.

Bagaimana tidak? Seingat dia, dia telah meninggal karena kecelakaan dan penyakit yang di deritanya.

“Iya.” jawab Naka.

Jadi yang di depan Canva beneran Masnaka? Masnaka Restu Putra? Tokoh fiksi yang ada di dalam cerita fiksi 00.00 itu? Apa jangan-jangan dia mati terus bereikarnasi ke dalam dunia novel? Kalau iya, fiks Canva keren banget.

“Lo Canva kan? Canva Narendra?” tanya Naka.

“Iyaa, kok lo tau nama gue sih?” heran Canva.

“Nama lo terkenal banget disini,” jawab Naka.

“Ini sebenernya gue dimana sih?” tanya Canva keheranan.

“Dirumah gue.” jawab Naka dengan enteng.

“HAH?! SERIUS? DEMI APA?” pekik Canva.

“Hm,” jawab Naka.

“Bentar bentar, ini gue reinkarnasi gitu ceritanya?” tanya Canva pada Naka.

“Iya mungkin.” jawab Naka seadanya.

“Lah? Tadi emang lo nemuin gue dimana?” tanya Canva.

“Di teras kontrakan gue, lo kayak lagi pingsan makannya gue bawa lo masuk. Dan lo sebenernya lagi ngapain di dunia lo sampe nyasar ke dunia gue?” kini giliran Naka yang bertanya pada Canva.

“Sebenernya, di dunia gue, gue udah meninggal karena kecelakaan dan sakit yang gue derita.” jelas Canva sejujur-jujurnya.

“Lo sakit? Sakit apa lo?” tanya Masnaka sambil menatap Canva.

“Emmmm…..gue nggak usah bilang deh, lo udah sibuk sama Lengkara dan diri lo sendiri, nanti kalau gue cerita gue malah nambah beban lo. Lagian kan katanya gue terkenal di dunia Lo, masa Lo nggak tau penyakit gue?” ucap Canva yang merasa tidak enak.

“Engga, cerita aja kenapa sih?” Naka memaksa Canva untuk bercerita padanya.

“Ya udah gue cerita sama lo.” Canva pun mulai menceritakan kehidupan nya pada Naka tanpa ada yang ditutupi.

“Nah kan gue udah cerita, sekarang giliran lo yang cerita sama gue.” ucap Canva diakhiri dengan kekehan kecil.

Naka mulai menarik nafas membuat Canva kembali mengingat potongan-potongan cerita 00.00. Ia tahu, tahu jika Naka juga menderita, tahu jika Naka mempunyai penyakit kanker jantung, tahu jika Naka menyimpan banyak luka, tahu tentang semua yang laki-laki itu sembunyikanSama persis seperti dirinya. Dan ia juga tahu tentang  bagaimana laki-laki itu rela berkorban demi gadis-nya.

“Gue yakin lo udah tau semuanya, Va. Gue tokoh fiksi di dunia lo kan? pasti lo udah tau tentang gue.” bukannya cerita, Naka malah mengatakan hal lain.

Canva yang mendengar Naka berbicara seperti itu pun hanya diam mematung.

“Kita itu sama Va, sama-sama diciptakan hanya untuk merasakan sakit.” ucap Masnaka.

***

Setelah enam bulan Canva berada di dunia 00.00. Selama itu juga Canva tinggal bersama Masnaka di kontrakan Naka. Pagi itu, Canva sedang fokus memasak untuk sarapan dan bekal untuk Masnaka karena Masnaka tidak diizinkan untuk makan sembarangan oleh dokter.

”Ka, udah belum mandinya? Cepetan!! Keburu masakannya dingin. Lagian lo udah kayak anak cewek tau nggak? Mandi nya lama banget, gue juga mau mandi!” oceh Canva sambil menunggu Naka keluar dari kamar mandi.

“Sabar Va, ngomel mulu dri kemaren, lagi PMS ya?” tanya Naka yang membuat Canva emosi.

“Lo amnesia atau gimana, Ka? JELAS JELAS GUE COWOK, MASA BISA PMS?” jawab Canva dengan sedikit ngegas.

“Ya santai dong, ngegas mulu,” ucap Naka.

“Bodoamat.” sahut Canva ketus.

“Udah sana lo sarapan, gue mau mandi. Minggir lo!” ucap Canva diakhiri dengan nada bicara yang ketus.

“Marah-marah mulu neng, cepet tua loh ntar.” goda Naka yang diacuhkan oleh Canva.

Lalu Naka berjalan menuju arah meja makan. Saat ia sedang makan dengan damai, Canva tiba-tiba datang dari arah belakang sambil bernyanyi dengan nada yang cukup keras, dan itu berhasil membuat nya kaget.

“Astaga ngagetin aja lo, Va.” ujar Naka sambil mengelus dadanya.

“Hehe, sorry,” jawab Canva sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal.

“Lo nggak makan?” tanya Naka sambil melanjutkan acara sarapannya yang sempat terganggu tadi.

“Ngga, ntar aja, mau nyiapin bekal buat lo dulu.” ujar Canva lalu berlalu dari meja makan menuju dapur.

“Hati-hati ya cantik, awas kepleset lagi kayak kemarin.” goda Naka yang dibalas pelototan tajam oleh Canva.

“Gue cowok ya, Ka. Gue tuh ganteng bukan cantik. Lagian lo kenapa sih? Suka banget ngegoda orang akhir-akhir ini?” ucap Canva yang tidak terima dikatain cantik.

“Engga tuh, gue ngga godain siapa-siapa. Gue cuma godain lo doang.” ucap Naka dengan santai.

“Apasih ga jelas lo, tau ah, pagi-pagi mood gue rusak gara-gara lo ya,” sinis Canva pada Naka.

“Hehehe, ya udah deh, maaf yaa..” ucap Naka meminta maaf karena ia takut jika Canva sedang mode galak.

“Hm.” Hanya itu yang Canva ucapkan sebelum pergi ke dapur untuk menyiapkan bekal.

Setelah Naka selesai sarapan, bertepatan dengan Canva berjalan keluar dari dapur.

“Nih bekalnya, dihabisin loh ya! Awas kalau nggak dihabisin,” ujar Canva sambil menyodorkan kotak bekal yang sudah ia siapkan tadi.

“Siap, makasih Va.” ucap Naka sambil menerima bekal dari Canva.

“Iya, masama. Ati-ati ya, nggak usah ngebut bawa motornya. Obat lo udah dibawa kan?” ucap Canva yang memberi wejangan sekaligus pertanyaan untuk Naka.

“Udah, Va. Cerewet banget sih.” ucap Naka yang gemas dengan tingkah Canva sambil mengacak-acak rambut Canva.

“Gue cerewet gini juga demi kesehatan lo, Ka.” sahut Canva dengan ketus.

“Hahaha iya-iyaa, ya udah gue berangkat dulu ya, dadah” pamit Naka lalu menuju ke pintu.

“Oke, hati-hati, Ka.” jawab Canva sambil mengikuti Naka menuju ke arah pintu.

“Heem.”

Setelah sudah siap dengan motornya, Masnaka melambaikan tangan nya ke arah Canva yang berdiri di depan pintu sambil tersenyum manis.

Canva yang melihat itu pun ikut melambaikan tangan nya ke arah Naka sambil tersenyum.

Sesudah Masnaka berangkat, kini giliran Canva yang akan memakan sarapan nya.

Setelah selesai sarapan, Canva mulai membersihkan kontrakan Naka, seperti menyapu, mengepel, dan lain sebagainya. Karena yang bekerja hanya Naka, jadi ia memilih membantu Naka dengan cara membersihkan kontrakannya.

***

Saat sedang asik menyapu tiba-tiba pintu rumah nya diketuk dengan kencang.

Tok…tok…tok

Pintu diketuk semakin kencang membuat Canva berjalan tergesa ke arah pintu.

“Sabar napa elah,” ucap Canva setalah membuka pintu.

“Naka, Va,” ucap Sekala begitu Canva membuka pintu.

“Hah? Naka kenapa?” tanya Canva khawatir tapi tidak mendapat jawaban dari Sekala.

“Jawab elah, Naka kenapa? Penyakitnya kambuh lagi?” desak Canva pada Sekala.

“Naka… udah nggak ada Va,” jawab Sekala lirih.

“Hah? Nggak ada gimana? Dia lagi kerja, Kal. Nggak usah aneh-aneh.” sahut Canva dengan suara yang bergetar menahan tangis.

“Gue nggak aneh-aneh, Naka emang udah nggak ada. Tadi pagi waktu dia mau berangkat kerja, dia kecelakaan.” jelas Sekala.

“NGGAK! NAKA NGGAK MUNGKIN MENINGGAL, TADI PAGI DIA MASIH BAIK-BAIK AJA, KAL. BERCANDA LO NGGAK LUCU!” pekik Canva yang belum bisa menerima kenyataan bahwa Masnaka sudah meninggal dunia.

“Lo harus bisa nerima kenyataan nya, Va. Sekarang kita masuk dulu ya.” ucap Sekala lalu menuntun tubuh lemas Canva untuk masuk ke kontrakan Masnaka.

“Kalau lo mau nangis, nangis aja gapapa. Nangis yang kenceng, luapin semua nya.” ucap Sekala yang sama terlukanya dengan Canva tapi berusaha terlihat kuat di depan Canva karena ia tak mau melihat Canva tambah bersedih jika melihat ia menangis.

Canva yang mendengar itu lalu menjatuhkan kepalanya di bahu Sekala lalu ia menangis sekencang mungkin di sana.

Setelah cukup lama menangis, Sekala yang merasa Canva sudah tidak menangis sekencang tadi, perlahan mengangkat kepala Canva lalu mengusap pipi Canva yang sudah dibanjiri air mata.

“Udah nangisnya? Sekarang lo nggak boleh nangis lagi. Air matanya sisain buat besok. Nggak boleh dihabisin sekarang.” ucap Sekala yang berusaha untuk menghibur Canva.

“Kenapa harus sekarang, Kal? Ini terlalu tiba-tiba buat gue. Rasanya kita barusan kenal, tapi kenapa dia malah pergi secepat itu?” tanya Canva sambil terisak di bahu Sekala.

“Ini takdir, Va.” ujar Sekala.

Setelah cukup lama menenangkan Canva, Sekala pamit karena ia harus mengurus jenazah Masnaka sesegera mungkin.

“Gue pulang ya, lo jangan nagis terus, kasian mata lo.” pamit Sekala.

“Iya, hati-hati ya, Kal. Makasih udah mau nemenin gue.” balas Canva yang hanya dibalas acungan jempol oleh Sekala.

Setelah Sekala pulang, Canva hanya mampu berdiam diri di kamar sambil menangis.

Biarlah jenazah Masnaka menjadi urusan Sekala, karena ia tak sanggup jika harus melihat jenazah Masnaka.

“Lo bener, Ka. Kita hanyalah sepasang luka yang berakhir duka.” Canva terus bermonolog sambil menangis di dalam kamar Masnaka.

“Selamat tidur walau tak bangun lagi, Masnaka Restu Putra, seorang lelaki hebat yang tak ada duanya.” ucap Canva sebelum memejamkan matanya erat.

***

Pagi ini Canva sudah rapi dengan baju dan celana hitam yang melekat pada tubuhnya. Hari ini ia akan ke makam Masnaka.

Masnaka sudah dimakamkan kemarin sore, Canva sengaja tidak ikut dalam acara pemakaman Masnaka karna ia yakin ia tidak akan sanggup melihat wajah Masnaka untuk yang terakhir kalinya.

Untuk pergi ke makam Naka, ia akan di antar oleh Sekala.

“Gue dateng, Ka.” lirih Canva sambil menatap pantulan diri nya di cermin.

Saat mengunci pintu kontrakan, Sekala datang dengan mobil nya.

“Udah siap?” tanya Sekala.

“Udah.” jawab Canva dengan ragu.

“Oke, yok kita berangkat sekarang.” ajak Sekala yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Canva.

“Lo ngapain bawa boneka?” tanya Sekala yang keheranan.

“Ini boneka pemberian Naka. Gue mau naruh ini di makam Naka.” jawab Canva yang hanya dibalas senyum hangat milik Sekala.

Mobil Sekala mulai meninggalkan pekarangan kontrakan Naka. Jam di pergelangan tangan Canva menunjukkan pukul 9 pagi.

Dua orang itu sedang duduk di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang. Tak ada yang membuka suara selama perjalanan, dua orang itu sibuk pada pikirannya masing-masing.

Perjalanan ke makam kurang lebih 20 menit.

Sekala memarkirkan mobil nya di depan gapura yang bertuliskan “Tempat Pemakaman Umum”.

“Udah sampe, Va.” ujar Sekala yang dibalas deheman oleh Canva.

“Makasih Kal, udah mau nganterin gue. Lo bisa pulang duluan, nanti gue pulang sendiri.” ucap Canva pada Sekala.

“Nggak! Gue bakal tungguin lo sampe selesai.” ucap Sekala dengan tegas.

“Hm, iya deh terserah lo aja.” jawab Canva dengan pasrah.

“Tapi lo tunggu di sini aja ya?” sambung Canva.

“Iya, kalau ada apa-apa telfon gue ya.” jawab Sekala yang dibalas anggukan kepala oleh Canva.

Canva berjalan sendiri melewati pusara-pusara dengan tatapan kosong. Suara gemuruh guntur tertangkap di pendengaran Canva.

Lelaki itu berhenti tepat di depan makam dengan batu nisan yang bertuliskan nama sahabatnya.

Masnaka Restu Putra.

Tak dapat disangkal bahwa rasanya sangat sakit.

Ia duduk di sebelah makam laki-laki itu, dan menaruh boneka boba pemberian Masnaka yang diberi nama Babo.

“Hai, Ka….” sapa lelaki itu dengan suara yang bergetar.

“Ini gue, Anva. Gue dateng, Ka.” lirih lelaki itu.

Tangannya perlahan naik untuk mengusap batu nisan di depannya. Mata lelaki perlahan memburam karena tertutup air mata.

Kelopak matanya perlahan tertutup bersamaan dengan kedua tangannya menengadah. Ia berdoa sambil menangis di sebelah makam Naka, sesekali isakan yang berusaha ia tahan terlepas keluar dari bibirnya.

Setelah selesai berdoa, ia perlahan membuka matanya yang udah memerah.

“Maafin gue ya, Ka. Gue nggak ada di saat proses pemakaman lo,” lirih lelaki itu.

Tak ada jawaban. Hanya ada suara angin yang berhembus dengan kencang.

“Gue nggak kuat kalau harus liat jasad lo untuk yang terakhir kalinya.” bahu Canva bergetar karena menahan tangis.

Semua terasa sangat menyakitkan. Rasanya begitu sesak berbicara kepada angin yang sampai kapan pun tak akan bisa menjawab.

“Maaf ya, Ka. Maaf belum bisa ikhlasin lo pergi.” bisiknya yang terdengar menyakitkan.

Canva kembali merutuki dirinya yang tak sanggup melihat wajah Masnaka untuk terakhir kalinya sehingga tidak bisa mengikuti proses pemakaman Naka.

Ia kembali duduk dengan tegap. Dengan tangan yang bergetar, ia mengambil beberapa notes warna warni berbentuk persegi di dalam saku celana nya.

Untuk kesekian kalinya, masih dengan air matanya yang senantiasa mengalir dari kedua sudut mata.

Canva kembali membaca tulisan tulisan tangan Masnaka di notes itu.

“Kita punya keinginan, semesta punya kenyataan dan Tuhan punya keputusan.”

Kita nggak pernah dikasih kekuatan untuk melawan. Kita terlalu kecil untuk semesta yang besar ini. Kita terlalu lemah untuk semesta yang jahat ini.”

“Jangan pernah capek jadi orang baik.”

“Senyumnya jangan sampai hilang, ya?”

Canva tersenyum diantara linangan air matanya. Satu per satu tetesan air jatuh dari langit disertai guntur yang terdengar semakin jelas.

Gue tau Lo nggak sekuat itu.”

“Terlihat manis, kan? tapi jangan terlena sama yang manis. Kadang, manis itu menyakitkan.”

“Tidak perlu khawatir perihal masa depan. Karena semuanya sudah tersusun rapi dan sudah pasti diatur oleh Tuhan.”

“Tuhan, aku percaya, setelah kesedihan, kebahagiaan itu pasti nyata adanya.”

“Luka itu pasti ada dan Tuhan nggak akan pernah lupa buat ngasih obatnya.”

Tangis Canva kembali pecah.

Canva berdiri dari duduknya.

Kepalanya menengadah ke atas menikmati setiap tetesan air hujan yang mengenai tubuhnya. Ia membiarkan air matanya jatuh bersamaan air hujan yang jatuh.

“MAKASIH DAN MAAF UNTUK SEMUANYA, NAKAAA!” teriak lelaki itu tiba-tiba.

“MAKASIH UDAH MAU NERIMA GUE SEBAGAI SAHABAT LO. DAN MAAF KALAU GUE SELAMA INI SELALU NYUSAHIN LO,” teriaknya tenggelam di antara derasnya hujan yang menguyur tubuhnya.

Ia melepaskan seluruh rasa sakit dan sesak yang tak tertahan.

“Seribu yang datang, nggak akan bisa menggantikan satu yang pergi, Ka. Lo sahabat terbaik bagi gue setelah Marvel.” tubuh Canva terjatuh lemas ke tanah.

Hari itu, hujan kembali turun dengan deras. Seolah-olah tak membiarkan Canva menangis sendirian di makam Masnaka.

Hujan juga mengerti kenapa harus turun.

Masnaka telah pergi, meninggalkan luka yang abadi.

Masnaka telah tiada, meninggalkan berjuta kenangan yang ada.

“Selamat jalan kawan. Ragamu memang pergi, tapi jiwamu tetap abadi di dalam benak kami.”  -Canva Narendra & Sekala Samudra.

                                            END