Misteri Rumah Belakang

Misteri Rumah Belakang

Di sebuah kota ada seseorang anak, Ia bernama Gladwin. Rumahnya terletak sangat jauh dari sekolahnya, karena hal itu Gladwin harus berangkat sekolah pagi-pagi agar tidak terlambat. Ia pun kembali kerumahnya dari sekolah di saat hari sudah malam. Namun pada suatu hari ia nekat untuk mencari jalan pintas. Saat melewati jalan pintas ini, ia berjalan melalui sebuah rumah angker. Rumah itu sangat besar dan berada di pojok belakang ruangan tersebut. Ia pun penasaran, tapi karena hari sudah malam ia memutuskan untuk tidak mengunjunginya. Keesokan harinya pun tiba, karena itu hari libur, ia pun berangkat pagi-pagi agar bisa lebih lama di rumah tersebut.

Saat ayahnya melihat Gladwin ingin pergi ayahnya pun bertanya pada Gladwin.“Mau kemana nak hari ini? Bukannya ini hari libur bisa kamu gunakan untuk beristirahat?” tanya ayah Gladwin. “Iya ya, hari ini libur, tapi Gladwin ingin bertemu teman Gladwin karena ada tugas yang harus Gladwin kerjakan” jawab Gladwin dengan berbohong. Akhirnya ayah Gladwin memberikan izin kepada Gladwin untuk Gladwin pergi.

Setelah berpamitan dengan ayahnya Gladwin cepat-cepat pergi melewati jalan pintas yang ia temukan. Gladwin berjalan dengan sangat cepat karena penasaran sekali dengan rumah tersebut. Ketika mau dekat tempat tersebut Gladwin sangat gugup melihat tempat tersebut. Ini karena Gladwin hanya seorang diri dan tidak tahu apa isi rumah tersebut. Gladwin yang masih tetap penasaran dengan rumah itu terus memberanikan diri untuk mendekati rumah itu. Sebenarnya Gladwin juga merasa cemas apakah perlu memasuki rumah tersebut atau tidak, tapi karena rasa penasarannya tetap lebih besar maka Gladwin tetap memutuskan untuk masuk ke rumah tersebut.

Setelah memasuki rumah tersebut, Gladwin membuka pagar rumah tersebut dengan sangat hati-hati. Terdengar bunyi “krek” menandakan bahwa pagar rumah tersebut tidak terawat. Gladwin juga terkejut melihat rumah itu karena halaman rumah tersebut sangat luas dan memiliki banyak bunga yang ada. Tiba-tiba Gladwin mendengar suara teriakan keras dari dalam rumah tersebut. Gladwin sangat ketakutan, dan bersembunyi di dalam dedauan yang tumbuh. Disaat bersembunyi Gladwin juga berusaha tenang dan diam supaya bisa mendengar suara apa di dalamnya.

Ketika sudah lebih tenang Gladwin mulai memberanikan diri untuk keluar dari tempat sembunyi itu. Gladwin kemudian berjalan mendekati pintu rumah tersebut. Gladwin sangat terkejut bahwa pintu rumah tersebut sangatlah besar dan tinggi bahkan terlihat berlapis emas. Ketika Gladwin mau membuka Kembali terdengar suara seseorang berteriak minta tolong untuk dibukan pintu tersebut. Gladwin kembali ketakutan, namun karena tidak ada tempat untuk bersembunyi maka Gladwin berusaha untuk tidak mendengarkan suara tersebut.

Dengan keberaniannya Gladwin membuka pintu tersebut dan sangat terkejut bahwa didalam rumah tersebut ada sebuah keluarga yang terkunci didalamnya. Pintu rumah keluarga tersebut sangatlah aneh ketika lupa membawa kunci itu masuk maka mereka akan terjebak di


dalam rumah tersebut. Maka dari itu Gladwin yang tidak membawa kunci itu ikut terjebak bersama keluarga tersebut. Keluarga tersebut menyambut Gladwin dengan hangat, bahkan memberikan kamar tamu untuk Gladwin. Gladwin diajak berkeliling di dalam rumah tersebut. Meski dari luar rumah tersebut sangat seram namun ketika memasuki rumah tersebut dia terkejut, karena rumah itu sangat bagus sekali, bahkan di rumah itu semua bahan makanan yang habis di ambil akan muncul lagi sehingga Gladwin bisa makan sepuasnya.

Ketika malam tiba Gladwin mulai khawatir karena tidak bisa pulang, ia memikirkan ayahnya. Gladwinpun mulai merasa bosan karena biasanya Gladwin sangat sibuk. Ketika Gladwin mulai merasa bosan keluarga tersebut mengajak Gladwin bermain, ada banyak permainan yang di sediakan bahkan Gladwin diajak bercerita tentang dunia luar yang selama ini tidak diketahui keluarga tersebut. Meskipun Gladwin senang berada dalam rumah tersebut namun Gladwin selalu memikirkan ayahnya.

Ayah Gladwin mulai merasa khawatir karena Gladwin hingga dini hari belum pulang. Ayah Gladwin memutuskan untuk menghubungi teman Gladwin dan Ayahnya menyadari bahwa Gladwin berbohong kepadanya. Karena ayahnya juga melewati jalan pintas, maka Ayah Gladwin terkejut melihat rumah tersebut. Gladwin yang sedang melihat ke arah jendela keluar berteriak-teriak minta tolong kepada ayahnya. Ayahnya mulanya takut namun karena merasa pasti itu anaknya maka Gladwin berkata kepada ayahnya untuk membawa kunci tersebut masuk. Dengan penuh keberanian Ayah Gladwin membuka pintu tersebut dan membawa kunci tersebut. Dengan begitu keluarga tersebut bisa menikmati dunia luar dan Gladwin beserta ayahnya bisa tinggal di sana.

Farhan Si Tukang Kayu

Farhan Si Tukang Kayu

Farhan mengusap keningnya, melihat karyanya yang sebentar lagi selesai. Karya yang entah sudah keberapa dia ciptakan. Sebuah kipas sederhana yang terbuat dari kayu cendawan asli yang didapatnya ketika berkeliling hutan seminggu yang lalu. Lalu ia melirik ke kanan. Melihat tumpukan karyanya di samping meja kerjanya. Sebuah gala panjang dengan pengait pada ujungnya yang diselesaikannya 3 hari yang lalu. Lalu karya yang lainnya, seperti, sebuah tongkat berbentuk huruf Y pada ujungnya, sebuah kayu lurus dengan banyak gerigi besi pada ujung bawahnya, sebuah papan persegi panjang dengan datar bawahnya yang agak landai. Sederhana? Memang sangat sederhana, namun farhan membuatnya dengan sepenuh hati, penuh dengan ketelitian.

Farhan tinggal di Desa Wood, sebuah desa di negeri fantasi yang jauh di sana. Desa Wood terkenal karena melimpahnya kekayaan alam kayunya. Farhan adalah satu dari sekian banyak pengrajin kayu yang tinggal di Desa Wood. Di desa itu hampir seluruh penduduknya bermata pencaharian sebagai pengrajin kayu. Dari desa bagian barat, terdapat pengrajin kayu terkenal bernama Dare. Dare tak hanya pintar dalam memahat dan mengukir kayu. Dare juga pintar dalam menceritakan filosofi hasil pahatan dan ukiran yang dibuatnya. Setiap hasil pahatan memiliki kisahnya sendiri, begitu katanya. Dare juga selalu diundang untuk berpidato mengenai perkembangan hasil kayu di Desa Wood di alun-alun kota.

Dari desa bagian timur, terkenal seorang pengajin kayu bernama Moris. Moris adalah seorang pengrajin kayu yang memberi pahatan kayu sambil mendengarkan dendangan lagu. Setiap lagu dapat memberikan inspirasi dan menghasilkan hasil pahatan kayu dengan keunikan tersendiri. Farhan tak perlu berfilosofi, apalagi bersenandung. Hanya perlu jari-jari halus dan cermat untuk membuat bentuk dan ukiran kayu sempurna. Sederhana memang, sebab farhan tak ingin karyanya justru menyusahkan dan membingungkan orang lain.

Entah sudah berapa kali matahari dan bulan berputar silih berganti melaksanakan tugasnya masing-masing. Selama itu pula farhan belum bisa membuat nama dan potretnya diukirkan di “Papan Pengumuman Desa” yang terbuat dari kayu cendawan berkualitas terbaik. Karyanya tak pernah dilirik dan farhan tak pernah berani mengungkapkannya walau sering berakhir di tempat sampah. Hingga suatu hari farhan memberanikan diri datang ke rumah Tetua Desa. Farhan tak lupa membawa karya, sebuah buku catatan kecil, dan sebuah pulpen.

farhan mengetuk pintu.

Tetua Desa keluar dari rumahnya, sambil berkacak pinggang. Tak mengerti, farhan menganggap pose Tetua Desa sangat keren.

“Oh Farhan. Kupikir kau sudah mati dimakan harimau, singa, atau kelaparan di tengah hutan. Lama kau tak kelihatan. Apa yang kau inginkan?”, kata Tetua Desa sambil tersenyum sinis.

Farhan tak memikirkan kata-kata menyakitkan Tetua Desa, namun yang dilihatnya, Tetua Desa itu tersenyum walau hanya bibir kanannya saja yang terangkat. Ahh, ramah betul Tetua Desa ini, pikir farhan dalam hatinya.

Farhan mengambil bukunya dan mulai menulis.

Aku membawa karyaku. Maukah kau melihatnya dan mencobanya untukku?

Tetua Desa mengambil kertas itu dan mengangguk pelan. Kali ini tanpa senyuman. Farhan memberikan karya pertamanya. Sebuah kayu panjang meliuk-liuk berbentuk huruf Y dengan ukuran batik di seluruh tubuh kayu itu dan tulisan “Desa Wood” pada bagian ujung bawahnya.

“Kau membawakanku sampah?”, tanya Tetua Desa

Farhan berpikir, mungkin Tetua Desa berkata, “Apakah kau ingin aku mengukir namamu di Papan Pengumuman?”

Tetua Desa melambaikan tangannya di depan wajah Farhan untuk menyadarkan Farhan dari lamunannya. Farhan mengangguk.

Braaaaakkkk… Pintu dibanting kuat di depan wajahnya, farhan terkejut. Mungkin Tetua Desa sedang tidak enak badan. Akhirnya dia pulang dengan wajah berseri-seri membayangkan potretnya di Papan Pengumuman besok.

Ternyata, tak hanya Farhan dan Tetua Desa yang ada disitu. Mata Dare dari tadi mengintip di kejauhan sambil bersembunyi di belakang pohon oak yang rindang.

“Cihhh, cari muka betul anak itu. Pakai acara mengunjungi Tetua Desa segala. Dasar orang aneh. Ngomong saja tidak nyambung. Mau menandingi aku segala. Lihat saja. Selama Dare masih ada disini, takkan ada yang bisa menjadi pengrajin kayu terbaik di desa ini.”, kata Dare berapi-api.

Dare segera berlari menuruni bukit, menyeberangi sungai, hamparan sawah, hutan kayu yang begitu luas, untuk mencapai desa bagian timur, menemui Moris. Sesampainya disana, Moris sedang mengetam dan mengamplas kayunya dengan kertas pasir.

Dare segera menceritakan semuanya, sebentar Moris tersenyum, lalu kemudian mengangguk pelan. Cukup lama mereka berdiskusi, hingga matahari pulang ke tempat peraduannya…

Keesokan hari datang begitu sempurna dan indah. Matahari dan kicauan burung membingkai menyambut datangnya hari yang baru dengan segala sesuatu yang baru yang tak ada yang tahu apa yang akan terjadi.

Farhan menyambut datangnya pagi dengan ceria dan seribu semangat yang baru. Dia segera mandi, sarapan dengan roti dan selai madu, lalu berpakaian dan memakai kacamata keberuntungannya. Ia siap melihat namanya di Papan Pengumuman.

Mungkin aku akan diukir dengan memakai dasi kupu-kupu yang kemarin kupakai, pikirnya. Lalu dia pergi, tak lupa membawa catatan dan pulpennya.

Ketika farhan datang, semua orang memandangnya dengan tatapan kecewa, saling bisik satu sama lain. “Tega sekali dia melakukannya.”, bisik salah satu warga

“Aku tak menyangka Farhan sejahat itu.”, bisik warga yang lain.

Apa yang terjadi? Mereka menyambutku terlalu semangat. Apakah wajahku dipotret dengan sangat lucu? Ayolah. Aku yakin tidak begitu aneh, pikir Farhan.

Tetua Desa berjalan ke arahnya dengan wajah amat marah.

Akademi Sihir

Disebuah kota,terdapat seorang anak laki-laki dari orangtua yang bekerja sebagai karyawan perusahaan. Anak laki-laki itu bernama Frederick,Frederick adalah anak adopsi namun kasih sayang orang tua nya sangat besar kepadanya. Orang tua nya sudah menganggap Frederick seperti anak kandung sendiri.

Berhari-hari kemudian setelah adanya Frederick dikeluarga itu ada sebuah hari yang biasa-biasa saja Frederick pergi kesekolah yang bernama SMP Citra, Frederick dikelas dikenal sebagai anak yang biasa-biasa saja, namun suatu saat ia merasa ada yang mengganjal,malam-malam ia terbangun karena suara yang sangat kencang. Suara itu memanggil Frederick berkali-kali “Frederick….. Bangun Frederick… Kami menunggumu..” Ia pun mengecek berbagai ruangan,sampai satu ruangan dirumahnya yang terdapat suatu surat. Saat ia membuka surat itu terdapat kertas dan suatu dasi berwana putih polos,saat ia memegang dasi itu dasi itu berubah warna menjadi abu-abu “loh? Kok bisa? Dasi apaan ni?” Batin Frederick. Ia pun melihat lagi surat dikertas itu,tetiba kertas tersebut terlihat peta dan terlihat ada surat khusus untuknya “Selamat,

Esok setiap harinya ia ada trip dari sekolahnya untuk pergi kemuseum sejarah, sebelum berangkat ia membawa surat dan dasi itu kedalam tasnya. Ia pun pergi kesekolah melalui bus,tanpa sepengetahuannya ia salah masuk bus. Bus yang dinaikki Frederick adalah bus untuk pergi ke perbatasan alam sihir dengan alam manusia. Karena Frederick ketiduran dibis,ia bangun bangun sudah ada diperbatasannya. Saat ia turun ia membayar dengan uang biasa dan uang itu tidak diterima,dalam hati Frederick “kok gaditerima sih?”ia pun panik. Tiba tiba orang yang dibelakangnya membayarkan nya untuk nya dengan semacam mantra yang diucapkan orang itu, orang itu berpakaian aneh yaitu berpakaian serba hitam “Bayar buat 1 orang didepan saya juga mas yang didepan saya,2 orang” orang itu pun membayarkannya dengan mantra “permisi , kenapa dibayarin ya? Juga kenapanya aneh?” kata Frederick,orang itu tidak membalas Frederick tetap bertanya,tetapi ia hanya berkata “ikuti aku.” Frederick pun mengiyakan lalu mengikutinya, begitu syoknya Frederick melihat naga. “Sekarang naik ke naga itu.” Kata orang aneh itu, Frederick pun bertanya sambil syok “ini naga beneran? Kok bisa? Saya pulang saja, ini mimpikan?”. “Diam saja dan naik.” Kata orang itu,ia pun tetap keras kepala dan bertanya berulang kali “CEPAT SEKARANG NAIK!” Orang itu pun meneriaki Frederick dengan membawa tongkat seperti ingin menyihirnya. Frederick pun ketakutan dan menaiki naga itu, “sesuai peta.” Kata orang aneh itu,orang aneh itu pun mengenalkan diri “Saya dari akademi Sihir ingin mengundang anda masuk ke akademi Sihir, Frederick pun khawatir dengan sekolahnya dan orangtuanya,tetapi karena takut dengan orang yang menurutinya dan memakainya,tiba dasi itu pun berubah menjadi warna ungu, “Apakah kamu benar-benar memakainya dengan baik?” Kata orang kaget “i -iya,memangnya kenapa?..” ternyata dialam sihir memiliki tingkat tingkatannya sendiri dan ternyata Frederick di tingkat A sedangkan biasanya hanya ada ditingkatan A seorang bangsawan atau keluarga bangsawan yang masih remaja. “Mungkin memang kau memiliki potensi yang besar.” Kata orang itu. Frederick pun khawatir dengan sekolahnya dan orangtuanya,tetapi karena takut dengan orang yang menurutinya dan memakainya,tiba dasi itu pun berubah menjadi warna ungu, “Apakah kamu benar-benar memakainya dengan baik?” Kata orang kaget “i -iya,memangnya kenapa?..” ternyata dialam sihir memiliki tingkat tingkatannya sendiri dan ternyata Frederick di tingkat A sedangkan biasanya hanya ada ditingkatan A seorang bangsawan atau keluarga bangsawan yang masih remaja. “Mungkin memang kau memiliki potensi yang besar.” Kata orang itu. Kata orang kaget “i -iya,memangnya kenapa?..” ternyata dialam sihir memiliki tingkat tingkatannya sendiri dan ternyata Frederick di tingkat A sedangkan biasanya hanya ada ditingkatan A seorang bangsawan atau keluarga bangsawan yang masih remaja. “Mungkin memang kau memiliki potensi yang besar.” Kata orang itu. Kata orang kaget “i -iya,memangnya kenapa?..” ternyata dialam sihir memiliki tingkat tingkatannya sendiri dan ternyata Frederick di tingkat A sedangkan biasanya hanya ada ditingkatan A seorang bangsawan atau keluarga bangsawan yang masih remaja. “Mungkin memang kau memiliki potensi yang besar.” Kata orang itu.

Disisi yang berbeda orang tua Frederick kebakaran rumah nya, dan mengenaskannya orang tua Frederick sudah meninggal,berita itu pun masih belum diketahui oleh Frederick.

Di sisi Frederick, Frederick pun sudah sampai di Akademi Sihir itu,sekolah itu sangat besar. Saat sudah turun Frederick pun disambut kakak kakak kelasnya. Orang itu pun mengajak nya kedalam “Nama ku Gwen,panggil aku Bu Gwen” Frederick pun menjawab “O-oke Bu Gwen” saat ia masuk kedalam ia diarahkan ke kamarnya sendiri dan diberitahu Bu Gwen bahwa kelas Frederick berada di kelas A.7 yang kelasnya isinya para bangsawan dan keluarga kerajaan,Bu Gwen mengingatkan untuk berhati hati berbicara dikelas itu supaya tidak terlibat masalah. Lalu Bu Gwen pun meninggalkan Frederick dengan Seragam sekolah Akademi Sihir itu dan sebuah tongkat berwarna biru tua.

Keesokan harinya berita bahwa orangtua Frederick meninggal pun diketahui Frederick karena diberi tahu oleh Bu Gwen,dan Bu Gwen sendiri pun mengijinkan bahwa Frederick boleh tinggal di sekolah itu. Frederick seharian sangat sedih dan ia pun dengan rasa sedih pun menerima

Besoknya,ia pun akhirnya akan mulai belajar tentang sihir. Frederick masih sedih atas berita tentang orang tua nya,tetapi ia tetap semangat untuk belajar dikelas barunya. Dikelas, ia diperkenalkan oleh Bu Gwen ke murid muridnya,terlihat sekali bahwa murid murid di akademi itu sangat terlihat sombong. “Halo,nama ku Frederick” katanya, sayangnya ia tak disambut baik oleh murid murid dikelas itu. Namun ada sebuah murid yang mau berteman dengan nya ia bernama Amber,Amber berkata kepadanya “Hai nama gue Amber,jangan peduliin kata mereka”. Frederick pun menjawab “Oh,salam kenal. Semoga bisa temenan ya”, pelajaran pun dimulai. Pelajaran pertama mereka adalah tentang sihir merubah benda, mereka disuruh membuat batu menjadi kaca. Saat Frederick mencoba “Abadakadabra!” Batu itu pun bisa menjadi kaca,ia pun mendapat nilai yang baik daripada murid murid yang lain. Bu Gwen pun bangga melihat nya,ia yakin bahwa Frederick bisa mengikuti lomba sihir tingkat sedang tetapi Bu Gwen masih ingin menguji nya. “Frederick,pulang sekolah tolong temui saya” kata Bu Gwen.

“Panik ga panik ga? Dipanggil tuh” kata Amber membuat takut Frederick “ga si,gatakut” kata Frederick ke Amber. “So berani cuy” kata Amber membalas ke Frederick, Frederick pun menjawab “terserah lu” Amber pun berkata “Nyinyinyi”.

Setelah pelajaran berakhir, Frederick pun menemui Bu Gwen. “Ada apa Bu?” kata Frederick, “Kamu mau tidak ikut lomba sihir tingkat tengah,tetapi kamu harus berlatih yang keras. Lomba itu dilaksanakan tanggal 10 Oktober apa kamu bisa?” Frederick pun menjawab “Ya Bu, saya akan berusaha semaksimal mungkin”.

Setelah itu, Frederick pun berlatih setiap hari dan ia pun lama kelamaan terbiasa dengan kehidupan nya yang baru. Namun tanpa ia tahu dasi nya berubah menjadi warna kuning. Biasanya warna dasi kuning menunjukan bahwa tingkatan itu untuk orang dewasa bangsawan atau keluarga kerajaan. Ia pun menemui Bu Gwen untuk memberitahunya bahwa dasinya berubah warna. “Bu dasi saya kenapa berubah warna?” Kata Frederick menanyakan kepada Bu Gwen, Bu Gwen sangat syok karena melihat itu,ia pun bangga sekali “kamu sudah mencapai tingkatan S,saya sangat bangga padamu. Saya yakin kamu bisa memenangkan lomba itu” kata Bu Gwen itu. Frederick pun semangat sekali untuk mengikuti lomba itu.

Beberapa hari kemudian Frederick pun mengikuti lomba sihir itu,dan bahagia nya Frederick berhasil memenangkannya. Ia pun sangat bahagia, Frederick mendapat piala juara 1 lomba sihir itu. Kemenangan itu pun diberi selamat oleh Bu Gwen “selamat ya kamu menang,saya yakin kamu akan bisa memenangkan lomba selanjutnya dengan baik. Saya sangat bangga padamu” kata Bu Gwen. “Terimakasih Bu,saya akan mengikuti lomba lomba selanjutnya dengan baik” kata Frederick.

Akhirnya,pada hari hari selanjutnya ia selalu memenangkan lomba lomba sihir dan ia pun mendapatkan gelar “Remaja dengan Prestasi Tinggi”. Sekarang ia sudah menjadi siswa yang berprestasi dan anak yang sangat pintar,ia pun mendapatkan banyak teman karena itu tetapi ia tidak lupa Amber yang sudah menemani nya sejak awal dan mereka pun menjadi sahabat.

  1. Dengan demikian cerita ini berakhir, thanks!
Moses 8c/21

Moses 8c/21

Ayo buang sampah pada tempat nya , karna sekarang banyak orang yang membuang sampah pada sungai dan bukan pada tempat sampah , mulai sekarang kita harus membiasakan membuang sampah pada tempatnya 

Save The Earth

Save The Earth

Poster tersebut menjelaskan bahwa menjaga kebersihan lingkungan sangat penting. Jika kita tidak dapat menjaga lingkungan sekitar, akan menimbulkan masalah yang cukup besar. Pertama manusia tidak akan nyaman dengan suasana lingkungan yang tidak terawat, tidak hanya manusia tetapi hewan pun akan terganggu. Lingkungan yang tercemar juga dapat mempengaruhi ketidak seimbangan lingkungan. Hal itu merusak berbagai ekosistem di air, tanah dan udara. Pencemaran udara menyebabkan penipisan lubang ozon. Pencemaran tanah terjadi karena adanya bahan kimia yang berada di dalam tanah dan menjadi racun. Pencemaran air disebabkan karena pabrik-pabrik membuang limbah ke dalam sungai, danau yang dapat mencemari air bersih.

Cegah Pencemaran Lingkungan

Cegah Pencemaran Lingkungan

Adanya poster ini bertujuan menghimbau para masyarakat, khususnya siswa-siswi SMP Maria Mediatrix untuk menjaga lingkungan yang ada disekitarnya. Ada slogan yang berisikan “Jadilah biru, jadilah murni”. Slogan tersebut memiliki makna yang cukup mendalam; jika kita melihat perairan yang dalam, akan terlihat biru bersih warnanya (saking bersihnya, bisa terlihat juga dasar perairannya. Contoh; Danau Labuan Cermin, Danau Weekuri, Danau Matano, dsb). Tetapi jikalau kita membuang sampah masih semaunya, maka air yang tadinya terlihat biru bersih itu menjadi keruh. Artinya air tersebut tidak lagi air yang murni, karena sudah terkontaminasi dengan sampah rumah tangga maupun limbah pabrik. Biasanya air yang sudah terkontaminasi itu memiliki banyak kuman dan terkadang bisa membahayakan kesehatan kita sendiri. Masih ada banyak sekali dampak dari aksi pembuangan sampah tidak pada tempatnya itu. Kalau situasinya sedang tidak ada tempat sampah, bisa disimpan di kantung pakaian terlebih dahulu. Nanti kalau sudah ketemu tempat sampahnya, bisa dibuang. Sampahnya terlalu besar untuk dimasukan ke kantung pakaian? Bisa disimpan ditas atau digenggam untuk sementara waktu.

Pada dasarnya, untuk apa memiliki kota yang bangunannya terbilang modern tetapi masih banyak sampah berserakan? Tak elok jika dipandang bukan? 
(Poster ini menggunakan latar biru dan element bumi kotor&bersih agar para penonton merasakan “Jadilah biru, jadilah murni” {8C-01})