by Gitta | Feb 16, 2024 | Cerita Inspiratif
Yuka merupakan siswi kelas IX di sekolah SMP Harapan 1. Yuka merupakan anak yang tidak mudah bergaul dan jarang sekali berkumpul dengan teman temannya serta memiliki nilai jelek.
Suatu hari Yuka akan menghadapi ujian sekolah yang sangat Yuka takut kan, terutama pada mata pelajaran IPS yang sering kali membuat kepalanya pusing. di kelas Yuka ada anak yang bernama Nala yang sangat pandai dalam pelajaran IPS, bahkan Nala sering kali mewakili sekolah untuk mengikuti kompetisi dalam pelajaran IPS. Yuka yang sadar bahwa ia tidak pandai dalam pelajaran IPS pun ingin meminta tolong pada Nala untuk belajar bersama, tetapi Yuka tidak berani berbicara pada Nala.
Nala merupakan anak yang sangat pandai dikelas Yuka, banyak sekali teman-temannya yang meminta untuk diajari olehnya pada saat jam istirahat. Yuka sangat iri pada teman-temannya yang diajari oleh Nala, tetapi Yuka tidak berani menyapanya terlebih dahulu.
Saat jam istirahat kedua Nala yang sangat ingin berbincang dengan Yuka pun menghampirinya. Saat tengah berbincang Yuka pun mengungkapkan keinginannya yang ingin belajar bersama Nala. Nala senang akan hal itu dan pada hari-hari berikutnya Nala mengajak Yuka untuk bergabung belajar dengan teman-teman yang lain di perpustakaan.
Keesokan harinya saat ujian telah terlaksanakan Yuka merasa sangat senang karena ia merasa bisa mengerjakan soal-soal dengan lancar. Yuka sangat berharap ia mendapat nilai yang bagus, hingga suatu hari telah dibagikan hasil ujiannya dan Yuka berhasil mendapat nilai yang benar-benar bagus dan Yuka bangga sekali pada dirinya sendiri. Setelah kejadian itu, Yuka sudah merasa dirinya lebih baik yang dapat mempunyai banyak teman. Yuka pun sadar bahwa semua masalah akan terselesaikan dengan baik apabila kita ingin mencoba hal-hal baru dan selalu tekun dalam mengerjakan sesuatu hal, seperti Yuka yang ingin belajar bersama dengan Nala dan teman-temannya karena Yuka merasa tidak bisa dalam suatu pelajaran.
by Yuri S. | Feb 16, 2024 | Cerita Inspiratif

Laut di Kala Senja
Kala. Adalah salah seorang lulusan muda yang masih belum memiliki pekerjaan. Ini sudah memasuki bulan ketiganya setelah lulus.
Kala adalah lulusan bisnis manajemen dari salah satu kampus ternama, yang kampusnya dikenal sebagai kampus penghasil orang-orang hebat. Sayangnya, Kala sudah menemui buntu bahkan di awal tahun ia lulus.
Orang tua Kala sudah sejak lama mencerca Kala untuk segera mencari pekerjaan.
“Pa, ma, Kala juga mau segera memiliki pekerjaan. Tapi sudah banyak lamaran pekerjaan yang Kala kirim, tidak ada satupun panggilan yang Kala terima,” ucap Kala pada orangtuanya.
“Kamu ikut workshop saja sana, teman mama baru saja mengirimkan undangannya. Siapa tau kamu mendapat ilmu baru di sana,” ucap mama Kala menyemangati.
“Boleh ma? Di mana tempatnya? Besok Kala berangkat deh,” jawab Kala.
Keesokan harinya, Kala sudah bersiap untuk pergi ke tempat workshop itu dilaksanakan.
Workshop yang ditawarkan mamanya ternyata adalah workshop pelatihan pengolahan biji kopi. Kala yang mengetahui hal itu tepat di depan ruangan workshop tersebut akan dilaksanakan hanya bisa tersenyum pasrah dan lanjut masuk ke dalam ruangan.
Ia sudah sampai di tempatnya, mana mungkin ia mundur begitu saja.
Ketika masuk, Ia disuguhi berbagai macam jenis kopi, jenis penggiling kopi, juga berbagai macam jenis olahan kopi.
Sekali lagi, ia sudah ingin mundur kembali usai mengetahui banyak orang disekitarnya yang sudah masuk di tahap expert. Ia yang masih pemula hanya bisa berdiam diri di pojokan sambil melihat kesana-kemari tak tau apapun.
Sekitar 10 menit Ia berdiri, seseorang menepuk bahunya dan mengajaknya untuk berkeliling dan mencoba berbagai macam penggiling kopi yang ukurannya sangat bervariasi.
Karena seseorang yang menepuknya tadi, ia menjadi cukup enjoy dalam mengikuti seluruh rangkaian workshop yang ia ikuti.
“Kenapa ikut workshop? Memang hobi, atau Cuma coba-coba?” Tanya orang itu.
“Cuma disuruh ikut aja sih, mungkin nanti bakal buka usaha. Kayaknya, menarik sih buka coffee shop,” jawab Kala.
“O iya, kita belum kenalan, ya. Saya Senja, sudah 4 tahun saya terjun di dunia perkopian ini. Kamu mau buat usaha kan ya? Gimana kalau kita buka usaha bareng?” Tawar Senja.
“Mungkin nanti ya, saya juga belum yakin soal rencana saya. Lagipula ini juga bisa jadi cuma angan-angan sementara,” jawab Kala sambil tersenyum.
Kala melanjutkan langkahnya untuk keluar dari gedung setelah acara yang ia ikuti selesai. Ia berencana untuk mencari lamaran pekerjaan di sebuah cafe untuk mencari pengalaman.
Bohong. Sebenarnya, impian Kala untuk membangun sebuah kafe sudah ada sejak lama. Teman-temannya yang hobi nongkrong di kafe membuatnya berkeinginan untuk mendirikan sebuah tempat yang dapat menjadi salah satu tempat berkumpul anak muda untuk mengerjakan tugas, atau hanya sekedar berbincang dengan kawannya.
Maka dari itu, Kala sudah membuat niat untuk membuat impiannya terwujud.
Ia kembali ke rumah dan langsung kembali membuat lamaran pekerjaan baru yang cocok dengan impiannya. Ia juga mencari beberapa kafe yang membuka lowongan pekerjaan.
Sebenarnya, cukup sulit untuk mencari hal itu. Karena bekerja di kafe memanglah menjadi incaran pekerjaan bagi beberapa orang yang baru saja hendak mencari pekerjaan.
Membutuhkan waktu yang lama untuk bisa mendapatkan kafe yang membuka lowongan pekerjaan.
Namun akhirnya, Ia bisa mendapatkannya. Maka dari itu, Kala segera pergi keluar lagi untuk menyerahkan surat lamarannya secara langsung.
Namun siapa sangka, tanpa ia menyerahkan surat lamarannya, pemiliki kafe langsung menerimanya dan memintanya datang besok pada pukul 09.00 pagi.
Maka dengan langkah gembira, Kala kembali keesokan harinya. Ia langsung mendapatkan seseorang yang akan menjadi mentornya selama seminggu.
Seminggu ia berlatih, kemampuannya berkembang dengan cepat. Kala yang awalnya sulit untuk menyeduh kopi, sekarang telah bisa untuk membuat kopi dengan benar.
Kala juga sudah mampu untuk mengingat beberapa menu yang memiliki resep yang ribet.
Sekitar 3 tahun Kala bekerja, kemampuan Kala telah berkembang pesat. Ia sering diam-diam membuat beberapa menu yang baru dan memang menu itu diakui enak oleh beberapa rekan kerjanya. Maka dari itu, Kala berani mengajukan resign pada tahun ketiganya bekerja.
Saat itu, Kala sudah memiliki tabungan untuk membangun sebuah kafe. Namun bagaimana pun, biaya yang dibutuhkan jelas sangatlah besar.
Lalu ia kembali mengikuti beberapa workshop untuk mencari beberapa orang yang sekiranya bisa untuk membantunya dalam pembiayaan, atau apapun itu.
Hal yang sama terjadi pada Kala di akhir workshop yang ia ikuti. Bedanya, kali ini ada dua orang yang menghampirinya dan bertanya alasan mengapa ia mengikuti workshop.
Ketika kala menjawab alasannya mengikuti workshop, dua orang yang bertanya pada Kala mulai tertarik untuk membantu dan bekerja sama dengan Kala.
Dua orang tersebut bernama Senja dan Laut. Iya, Senja, yang 3 tahun lalu membantu Kala di ruang Workshop dan menawarkan kerjasama.
Mereka mulai berkomunikasi lebih sering dari 3 tahun lalu, dan mulai lebih sering berkumpul untuk merencanakan lokasi, menu, dan lain sebagainya. Mereka sepakat untuk membuat kafe yang kecil saja agar mudah untuk mengelolanya. Lagi pula, mereka bisa mengembangkan kafenya setelah beberapa tahun nanti.
Sekali lagi, Kafe yang mereka garap sudah hampir selesai. Mereka sepakat untuk menamai kafe mereka dengan nama “Laut di Kala Senja”. Nama itu memiliki ketiga nama dari orang yang membangunnya, tanpa pembeli menyadari bahwa nama kafe itu adalah nama pemiliknya.
Tidak ada sebuah usaha yang berjalan lancar tanpa hambatan. Mereka bertiga kerap kali menemui hambatan seperti susahnya me-restock barang, beberapa pelanggan yang rese, dan lain sebagainya.
Namun yang pasti, seluruh usaha yang telah mereka kerahkan berbuah dengan hasil yang memuaskan. Sekarang, mereka telah membuka cabang ketiga kafe mereka, juga mereka telah merenovasi kafe pertama mereka dengan sebagaimana baiknya.
by Aurel Evita | Feb 15, 2024 | Cerita Inspiratif
Sebuah keluarga yang terpaksa untuk pergi ke sebuah kota, mencari informasi tentang sebuah perumahan yang dapat menjadi tempat tinggal yang nyaman, dan didapatkanlah informasi tentang sebuah perumahan yang berada di pinggiran kota bahwa disana merupakan tempat yang tenang di mana aroma rumput segar masih melekat di udara, dan tawa anak-anak bergema di jalanan. Keluarga Jefferson, sebuah keluarga Afrika memutuskan untuk pindah. Tanpa menyadari bahwa kehidupan mereka di sana akan berubah 180 derajat sebab mereka akan menjadi satu-satunya keluarga kulit hitam di lingkungan tersebut. Ya, disana mereka melihat banyaknya orang berkulit putih dengan tatapan semacam jijik dengan kehadiran mereka. Sembari menunggu barang barang mereka yang diangkut oleh truk, mereka dapat melihat tatapan dan mendengarkan bisikan yang tidak mengenakan dari tetangga tetangga mereka.
Pada akhirnya mereka pun mengundang para tetangga untuk barbekyu bersama di rumah mereka. Di pertemuan pertama mereka saat sedang berbaur, seorang tetangga mendekat sambil tersenyum paksa, berkata,
“Kalian adalah keluarga pertama dari jenismu di sini. Sungguh menyegarkan melihat keberagaman.”
Komentar itu menggantung di udara, dengan implikasi yang tidak nyaman. Walau begitu pasangan orang tua tersebut tidak menghiraukannya dan mengatakan bahwa mereka bangga menjadi yang pertama dari sekian orang yang ada.Tetapi perasaan yang menjanggal, terisolasi, terkucilkan akan selalu ada.
Beberapa hari berlalu, dengan penuh frustasi keluarga ‘unik’ tersebut terpikirkan untuk kembali ke lingkungan asal mereka, tetapi mereka ingat kembali bahwa sekarang mereka telah mempunyai anak, akhirnya mereka tetap teguh. Tetapi mengubah pandangan orang akan sulit bukan?
Tempat sang anak bersekolah tidak jauh berbeda, Ibu anak ini akan selalu mengingat bagaimana ekspresi wajah anaknya berubah, dari saat ia berangkat sekolah, senyum yang lebar tertempel di mukanya dengan lebar sekejap saat ia datang untuk menjemputnya, yang dapat dilihat hanyalah wajah anaknya yang menjadi murung, hingga suatu saat ketika sang anak hendak pergi ke sekolah, sang anak berkata,
“Aku ga mau ke sekolah..”
“Kenapa?” Sang Ibu bertanya
Sang anak tidak menjawab, melainkan hanya menundukkan kepalanya menghadap lantai. Khawatir, sang Ibu pun mengelus rambut sang anak, tanpa berkata apapun.
“Setiap kali aku kesana, anak-anak lain hanya melihatku dengan tatapan yang tajam. Aku takut”
Takut. Hal yang seharusnya tidak perlu dirasakan oleh sang anak ketika pergi ke sekolah, sang Ibu benar benar putus asa melihat tatapan mata anak yang sedih itu, Ia merasa gagal, “Mengapa dari awal aku tetap ngeyel untuk tetap tinggal disini? Mengapa tidak Ia pikirkan kondisi jika mereka yang ‘unik’ datang kemari? Mengapa..” Ia akhirnya berhenti melamun ketika sang anak menggoyangkan badannya,
“Ibu, aku pergi dulu, aku pamit.”
“Ah.. ya, kalau begitu, tunggu Ibu nanti ya untuk menjemputmu.” Kata sang Ibu tersenyum sambil melambaikan tangan
Sang anak hanya mengangguk, membuka pintu, dan datanglah cahaya matahari yang hangat dan terang menyinari muka sang anak yang menoleh kepadanya dan akhirnya, kegelapan datang dari pintu yang ditutup.
“Pergi ke sekolah benar benar tidak menyenangkan, pelajarannya enak, kalau guru-guru dan anak-anak disana–“
Ia berhenti berjalan dan mengangkat kepalanya untuk melihat lokernya penuh dengan berbagai macam tulisan yang penuh dengan kata kata yang tidak enak untuk dibaca beserta tatapan sinis yang dapat ia rasa tertuju kepadanya,
“–Nggak enak aku benci mereka.”
Di tengah istirahat Ia pergi ke toilet, melewati sebuah ruangan berisi seorang guru, orangtua dan murid. Tanpa sengaja ia mendengarkan percakapan mereka,
“Apa maksudmu, kau tidak senang dengan bersekolah, nak? Bukankah sekolah tempat yang nyaman? Anggap saja sekolah sebagai rumah keduamu! Kamu dapat belajar banyak hal juga bertemu dengan teman–”
“Tetapi aku ga suka bersekolah! Sekolah itu membosankan!” Bantah anak itu
Maka, ia berpikir, “Apakah memang benar sekolah adalah tempat untuk berbahagia? Sebuah rumah, rumah kedua hanya dengan orang yang berbeda? Bagi anak yang ‘normal’ saja sekolah dianggap membosankan, bukankah sama dengan yang kualami sekarang? Aku hanya ingin berbahagia. Benar benar muak.”
Semua yang di dalam benaknya tidak dapat ia keluarkan, karena ia tahu yang mengalami nasib, dari ujung matanya dapat ia melihat anak lain sepertinya yang mengalami hal yang sama seperti dirinya seperti ini bukan hanya dia sendiri. Ia tidak dapat mengadu nasib hanya karena ini. Ia harus memikirkan orang lain juga, karena? Ia tidak boleh egois. Anak yang sepertinya, berkulit hitam juga bukan hanya dia. Ia harus ingat itu. Maka dari itu Ia berharap ketidakadilan ini dapat diatasi. Tetapi itu semua hanya harapan bukan?
Ketika sang Ayah sudah tidak kuat dengan lingkungannya, Ia pergi untuk menegakkan ketidakadilan ini, tetapi ia hanya kembali dengan tangan yang tidak ada isinya, tidak ada hasil.
Maka, muncullah impian, menginginkan kehidupan yang damai tanpa perlu memikirkan tersebut saat ia menginjak usia dewasa, ia berhasil menjadi seorang lawyer dari pekerjaan itulah ia berhasil. Secara perlahan tetapi dengan pasti, penuh keyakinan dan tekad, sekarang diskriminasi antara kulit sudah tidak terlihat lagi walaupun memang terlihat tetapi terdapat beberapa orang yang sudah dapat menanggapi orang berkulit hitam dengan baik. “Aku berhasil”, ia berpikir, setelah semua luka yang dia rasakan, ia tidak akan mengembalikan orang lain dengan luka tersebut, tetapi akan memulihkannya dengan menciptakan sebuah kedamaian bagi generasi selanjutnya agar mereka tidak merasakan apa yang orang orang yang di masa lalu rasakan. Anak atau tepatnya orang tersebut adalah Barack Obama, seorang lawyer yang telah berhasil menjadi presiden ke 44, serta presiden pertama yang berkulit hitam.
Ia percaya, hanya karena warna kulit kita yang berbeda, kekayaan bahkan jenjang pendidikan yang ditempuh itu berbeda, hal tersebut tidak seharusnya dipermasalahkan apalagi hingga munculnya sebuah demo hanya untuk mencapai kedamaian tersebut.