Dunia Angka

Dunia Angka

     Ada salah satu siswi di SMP Harvard, ia bernama Aurora. Sekarang ia duduk di kelas 7H, kelas yang terkenal dengan anak anak nya yang nakal. Aurora biasa dipanggil Rara oleh teman-temannya. Aurora bisa dibilang cukup nakal dan malas dalam semua mata pelajaran yang ada di sekolah, terutama mata pelajaran matematika. Yaa.. siapa sih yang menyukai pelajaran matematika kecuali Jerome Poline, hahaha. Tetapi yang membuat heran meskipun Aurora adalah anak yang nakal dan malas ia mempunyai teman yang begitu banyak, entah cara apa yang digunakan Aurora untuk bisa berteman dengan murid-murid lain di SMP Harvard.

     Hari Selasa, 27 Oktober 2025 pun tiba. Ya hari ini adalah jadwal ulangan matematika bagi kelas 7H. Tentu saja hari ini adalah hari terburuk bagi Aurora dan juga teman-teman di kelasnya. Pasalnya hari ini jadwal ulangan matematika bab 2 dan materinya adalah aljabar, kalian tahu sendiri lah ya, aljabar adalah pelajaran yang terkenal rumit dan susah. Apalagi guru matematika kelas 7H ini sangatlah galak. Pagi hari sebelum masuk ke kelas, anak anak 7H bukannya belajar mereka malah saling meluapkan rasa kesal nya.

“Sial!! Hari ini ada ulangan matematika bab aljabar!’’

Kata salah seorang teman Aurora yang bernama Aiden.

Auropun menyaut,

“Benar, padahal kemarin malam aku hanya belajar sangat sedikit. Mataku sudah sangat lelah ketika melihat catatan dan latihan soal matematika,” umpat Aurora dengan kesal.

     Bel jam pelajaran ke-4 berbunyi, saat nya pelajaran matematika. Benar saja, guru matematika masuk ke kelas 7H sambil membawa kertas soal ulangan yang begitu tebal. Setelah soal ulangan dibagikan, guru matematika memberi pesan,

“Ayo kerjakan soal ulangan dengan jujur, kerjakan sebisa mungkin.”

Murid murid yang ada di kelas 7H menjawab dengan lantang dan kompak,

“Baik Bu.”

Ulangan dimulai, ada 25 soal yang harus dijawab di lembar tersebut. Baru saja soal nomer 1 Aurora sudah kesulitan untuk menjawab nya. 15 menit berlalu Aurora baru sampai nomer 2. Keadaan kelas sangat sepi, Aurora berbisik dalam hati,

“Sepi banget ruangan kelas ini, sepertinya jika aku tidur, aku bisa tidur dengan nyenyak.”

Dengan nekatnya Aurora memutuskan untuk tidur, ia tidur sangat nyenyak. 20 menit Aurora tidur, tidak ada satupun orang yang menyadari. Aurora terbangun dari tidurnya, tetapi bukan pemandangan kelas yang ia lihat. Ia melihat pemandangan yang sungguh asri, banyak pepohonan di sana. Juga banyak angka angka yang digantung di pohon. Aurora berkata,

Seperti pohon natal yang dihiasi tetapi di hias menggunakan angka.”

Ia rasa ia sedang berada di dunia lain, bukan di bumi. Aurora menjelajah daerah sekitar di dunia itu, tiba tiba saja ada sinar terang di depan Aurora. Aurora pikir itu jalan untuk kembali pulang ke bumi. Dugaan Aurora salah, setelah ia memasuki cahaya bersinar itu ia malah menemui sebuah tulisan.

Tulisan itu berisi, “Selamat datang di permainan ini, ada 10 soal yang harus anda kerjakan. Jika anda berhasil memecahkan 10 soal tersebut anda akan kembali ke Bumi, dan jika anda gagal dalam memecahkan 10 soal tersebut anda tidak akan pernah bisa kembali ke bumi. Sudah banyak korban yang mencoba untuk memecahkan 10 soal ini dengan cara apapun, dan tidak banyak yang selamat. Jadi selamat mengerjakan.” Aurora yang melihat dan membaca tulisan tersebut terkejut.

Selesai membaca, di depan Aurora langsung muncul soal pertama. 45 menit berlalu, dan Puji Tuhan Aurora sudah memecahkan 7 soal.

Ia merasa soal soal yang sudah ia kerjakan itu bisa dibilang mudah,

Ah.. mudah sekali soal soal itu, sudah 7 nomer aku pecahkan pasti aku bisa menjawab sisa soal nya dan aku akan kembali ke bumi.’’

Tinggal 3 soal lagi yang harus dikerjakan. Pada soal nomer 8 Aurora mulai kesulitan, ia membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memecahkan soal tersebut. Akhirnya soal nomer 8 sudah terjawab. Aurora berkata,

Aku harus bisa menyelesaikan 2 soal lagi, aku pasti bisa, aku harus kembali ke bumi. Aku masih ingin bertemu orang tua ku dan teman-teman ku,”

Ucap Aurora dengan sedikit menangis. Tidak mau menunggu lama, Aurora melanjutkan soal nomer 9. Ia membaca soal nomer 9 tersebut dengan perlahan sambil mencoba untuk memahami,

Tentukan bentuk KPK dari 12pq dan 8pq²!” begitulah isi soal nya.

Aurora mulai kebingungan,

“Perasaan aku ga pernah diajarin soal kayak gini deh di sekolah.”

yang ia bisa hanya FPB dan KPK angka biasa, bahkan sebelumnya Aurora tidak tahu kalo FPB dan KPK itu ada yang dalam bentuk aljabar. Aurora mulai berusaha untuk mengerjakan soal tersebut, segala cara sudah ia coba. 25 menit berlalu ia menemukan jawabannya.

“KPK nya adalah 24pq².”

cahaya itu bersinar dan munculah soal nomer 10.

Wah….. berarti jawaban ku yang tadi benar dong.”

Aurora pun melanjutkan ke nomer 10, soal tersebut adalah, Hitunglah nilai bentuk di bawah ini untuk X= -2 dan Y=4

[a] 3x – 4y

[b] x2 – y ‘’

“sepertinya aku sudah pernah mengerjakan soal seperti ini, tapi aku lupa cara mengerjakan nya.” Aurora berusaha untuk mengingat ingat kembali.

Di lain sisi Aurora merasa sangat lapar, karena saat istirahat pertama di sekolah tadi bekal nya jatuh dan tidak bisa di makan lagi, juga ditambah Aurora yang lupa membawa uang jajan. Tiba tiba ia melihat ada sebuah pohon mangga yang ada di pojok lahan yang sangat luar. Dari kejauhan ia melihat pohon tersebut memiliki banyak buah, tidak sedikit buah yang jatuh dari pohon itu.

Tanpa berpikir panjang Aurora langsung berjalan menghampiri pohon tersebut, 

“Wah buah mangga dari pohon ini warna nya sangat hijau dan keliatan nya sangat segar dan manis.”

Aurora mengambil satu buah mangga dari pohon itu, lalu ia pergi ke air terjun disekitar situ untuk mencuci buah mangga yang sudah ia dapatkan. Sesudah ia mencuci buah mangga ia langsung memakannya tanpa dikupas terlebih dahulu kulit manga nya, ia memakan mangga di tepi air terjun.

Ia memakan mangga sambil melihat indahnya pemandangan air terjun,

 “Indah sekali pemandangan di sini. Mangga yang ku makan juga enak, sangat manis sekali, aku sukaaa.’

Ia mengatakan hal tersebut seakan akan ia melupakan 10 soal yang harus ia pecahkan. Selesainya Aurora memakan mangga ia kembali teringat akan soal terakhir yang harus ia pecahkan. Aurora bergegas untuk kembali ke tempat dimana soal itu ada, untung saja soal tersebut masih bisa dilihat. Aurora mencoba untuk mengigat ingat cara mengerjakan soal subtitusi. 15 menit berlalu dan akhirnya Aurora ingat cara mengerjakan soal subtitusi, tanpa berlama lama ia langsung mencoba untuk mengerjakan. Dikarenakan tidak ada kertas untuk mencoret coret Aurora mencoret coret hanya di dalam pikiran nya, dan hebat nya ia bisa menemukan jawaban nya.

Jawaban [a] adalah -22 dan [b] adalah 0.”

cahaya terang muncul dengan tulisan,

“Selamat kamu telah berhasil memecahkan 10 soal dengan baik.”

Aurorapun terbangun dengan kondisi ia sudah berada di UKS sekolah, ia melihat ada guru BK yang menunggui nya di UKS. Aurora bertanya dengan kondisi nya yang masih setengah sadar,

“Bu, ini kenapa saya berada di UKS?”

“Eh, kamu sudah bangun. Ini tadi guru matematika kamu bilang kalau saat ulangan matematika kamu tertidur di meja, sudah berusaha dibangunkan juga tidak bangun bangun, jadi guru matematika kamu mengira kamu pingsan.”

“Oh, begitu ya bu, yasudah ini saya sudah cukup membaik saya izin untuk kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran.”

“Baiklah, hati hati ya.”

Aurorapun berjalan untuk kembali ke kelas dengan berbisik dalam hati,

Apakah aku meninggalkan dunia ini selama itu?”

Ia sudah sampai di depan pintu kelas nya.

“Ah, sudahlah mungkin itu hanya halusinasi ku.”

TAMAT

HUTAN KERAJAAN

HUTAN KERAJAAN

HUTAN KERAJAAN
Di pagi hari yang sangat cerah terlihat seorang wanita yang berdiri di balkon kamarnya. Tak lama ia masuk kekamarnya untuk memainkan handphone nya. Ia melihat jam ternyata sudah jam 10.00. Tiba-tiba, ‘’Aduh lapar sekali perutku.’’ kata wanita itu.
Ia keluar kamar dan turun tangga menuju lantai 4. Di lantai 4 ada ruang makan. Ternyata pengawal-pengawal nya sudah menyiapkan makanannya. Ditengah-tengah ia sedang asik makan, munculah ide yang sangat random.
‘’Aku ingin pergi kepasar, aku ingin jalan-jalan disana,apakah kau siap menemani aku nanti ke pasar?’’ kata wanita itu sambil makan kebetulan stok kebutuhan nya sudah hampir habis. Pengawal membalasnya.
‘’Saya selalu siap nyonya,tapi apakah benar nyonya ingin ke pasar?’’ dengan ragu.
’’Iya benar,tidak tahu kenapa saya ingin sekali ke pasar.” kata wanita itu.
‘’Baiklah nyonya,mau jam berapa nyonya kepasar?” kata pengawal. ‘’Sehabis saya makan saja.’’ kata wanita itu.
Sehabis wanita sudah selesai makan dan sudah siap pergi kepasar.
‘’Pengawal ayo kita berangkat saya sudah siap.’’ kata wanita itu.
‘’Baik,ayo nyonya.’’ kata sang pengawal.
Setelah sampai di pasar wanita sungguh senang karena seumur hidupnya ia tidak pernah ke pasar, karena sejak kecil ia sudah terbiasa hidup mewah. Selama ini pengawalnya yang selalu kepasar untuk membeli kebutuhan wanita itu. Wanita itu disana ingin membeli sayuran dan ikan. Di saat ingin menuju ke tempat yang berjualan sayuran tiba tiba ada yang tidak sengaja menabrak wanita ‘’Bruk…. aduh.’’ kata wanita yang sedang tergeletar di lantai. Ternyata yang menabrak wanita adalah seorang lelaki yang sangat tampan.
‘’Ah maaf,saya tidak sengaja saya harus buru-buru maaf sekali ya.’’ kata lelaki itu. Sang pengawal yang melihat nyonya tergeletar di lantai langsung membantu berdiri ‘’Nyonya apakah kau baik baik saja?’’ kata sang pengawal bertanya. ‘’Ah tidak apa apa ayo kita langsung ke tempat nya saja.’’ jawab wanita itu. Tak lama mereka sudah sampai ke tempat yang mereka sampai.
“Ibu sayur ini berapa ya?” tanya wanita.
‘’1 kg 30rb nak,kau ingin membeli berapa kg?” jawab ibu itu.
” Saya ingin membeli 2 kg bisa?’’ jawab wanita itu.
‘’ Bisa nak,sebentar ya saya bungkuskan dahulu.’’
Setelah ibu itu sudah selesai membungkus sayuran itu wanita langsung memberi uang nya. ‘’ Ini ya bu uang nya. Semangat terus ya bu jualan nya.’’ kata wanita.
‘’Terimakasih nak,hati hati dijalan ya.” jawab ibu yang berjualan sayur. ‘’Mari bu,“ jawab nya dengan sopan. Sekarang wanita dan pengawalnya menuju ke tempat yang berjualan ikan. Akhirnya sudah sampai.
‘’Permisi pak,harga ikan gurami ini berapa ya?” tanya wanita. ‘’25 rb non.” jawab bapak itu.‘’Baiklah pak saya ingin membeli nya ya.” Wanita itu sambil menyodorkan uang nya.nya. “Baiklah non,ini ya terimakasih.” jawab bapak itu.
‘’Sudah kita beli semua,mari kita pulang.’’ kata wanita. ‘’Baiklah nyonya,ayo kita pulang.” jawab sang pengawal. Akhirnya sudah sampai di kerajaan, wanita cepat cepat ke lantai 5 menuju ke kamar mandinya untuk membersihkan badannya. Jarum jam menunjukan jam 15.00. Wanita sedang dikamar merenung di balkon nya.
‘’Tadi yang menabrak ku siapa ya,wajahnya sungguh tidak asing seperti aku pernah bertemu dengan nya tapi dimana ya?” Tanya wanita itu. ‘’Ah sudahlah,biarkan saja mungkin dia hanya mirip dengan orang yang pernah kutemui.” jawab wanita. Ia lanjut memainkan handphone nya.
Waktu sudah menunjukan jam 8 malam. Wanita itu ternyata ketiduran. Tiba – tiba ada yang menggetuk pintunya.
“Tok….. tok….. tok…. non ayo makan malam in sudah jam 8 non…. “ kata bibi nya. Tetapi tidak ada respon karena wanita itu masih tetidur nyenyak. Bibi menuju tangga dan ia turun ke ruang makan untuk menutup makanan nya. Karena wanita itu masih tetidur. Akhirnya wanita itu bangun. Waktu menunjukan jam 9. Ia segera turun karena ia sungguh lapar.
Setelah selesai makan ia menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badanya.
Keesok paginya ia ingin berjalan jalan di pasar lagi. Ia meminta pengawal nya untuk mengantarnya ke pasar itu. “Pak,tolong antarkan saya ke pasar itu lagi,saya sungguh bosan di istana ini.” kata wanita itu.

”Baik nona.” jawab pengawal nya. Akhirnya, sudah sampai di pasar nya. Saat wanita itu sedang asik berjalan jalan.
Tiba – tiba wanita itu melihat lelaki yang sungguh mirip dengan lelaki yang kemarin menabraknya. Dia berbincang di dalam hatinya. “Apakah dia benar yang menabrakku kemarin ya ??orang ini sungguh tidak asing bagiku,apa aku tanyakan saja ya?tetapi jika dia bukan yang kemarin bagaimana? Ah sudahlah tidak apa ajak kenalan saja.” wanita itu segera menghampiri lelaki itu.
“Halo permisi apakah kau yang kemarin menabrakku?” tanya wanita itu.
“ Iya maaf ya saya kemarin sungguh terburu-buru.” jawab lelaki itu. “Ah baiklah tidak apa apa,apakah kita boleh kenalan?” jawab wanita itu.

“Tentu saja boleh, perkenalkan nama saya Reja.”

“Perkenalkan nama ku Xavier,nama mu menggingatkanku dengan sahabat kecilku hehe.” jawab wanita itu.

Ternyata nama wanita itu Xavier.
“Nama yang indah sekali,ah apakah kau mempunyai sahabat kecil yang bernama Reja?aku juga mempunyai sahabat kecil yang nama nya persis sepertimu. Ia saat kecil pindah ke jakarta karena ayahnya ingin bekerja disana.” jawab Reja.
“HAH,APAKAH KAU SAHABAT KECILKU DULU? YANG SERING AKU PANGGIL JAJA???” jawab Xavier dengan wajah nya yang shock. Jaja itu nama panggilan Xavier kepada Reja saat dulu.
“Iyaaaa… aku sungguh senang bertemu dengan mu lagi,sekarang kau tinggal dimana?apa kabar kamu? kita sudah sungguh lama tidak bertemu,bagaimana kabar mama dan papamu?” jawab Reja sambil memeluk Xavier.

“ Aku juga sungguh senang bertemu dengan mu Jaja. Aku sungguh baik Ja, bagaimana dengan mu?papa dan mama ku sudah meninggal sejak aku kuliah,sekarang aku tinggal di istana itu,” sambil menunjuk tempat istana yang ia tinggali.

“ Ah ternyata engkau yang memakai istana itu. Aku sungguh baik baik juga,turut berduka cita ya Xav.”

“Iya Jaja thanks ya…”

Akhirnya sahabat kecil yang dulu sudah terpisah lama,tanpa kabar kabaran bisa bertemu kembali. Saat mereka sedang asik berbincang – bincang,tiba tiba ….‎ Bersambung….

Misteri Rumah Belakang

Misteri Rumah Belakang

Di sebuah kota ada seseorang anak, Ia bernama Gladwin. Rumahnya terletak sangat jauh dari sekolahnya, karena hal itu Gladwin harus berangkat sekolah pagi-pagi agar tidak terlambat. Ia pun kembali kerumahnya dari sekolah di saat hari sudah malam. Namun pada suatu hari ia nekat untuk mencari jalan pintas. Saat melewati jalan pintas ini, ia berjalan melalui sebuah rumah angker. Rumah itu sangat besar dan berada di pojok belakang ruangan tersebut. Ia pun penasaran, tapi karena hari sudah malam ia memutuskan untuk tidak mengunjunginya. Keesokan harinya pun tiba, karena itu hari libur, ia pun berangkat pagi-pagi agar bisa lebih lama di rumah tersebut.

Saat ayahnya melihat Gladwin ingin pergi ayahnya pun bertanya pada Gladwin.“Mau kemana nak hari ini? Bukannya ini hari libur bisa kamu gunakan untuk beristirahat?” tanya ayah Gladwin. “Iya ya, hari ini libur, tapi Gladwin ingin bertemu teman Gladwin karena ada tugas yang harus Gladwin kerjakan” jawab Gladwin dengan berbohong. Akhirnya ayah Gladwin memberikan izin kepada Gladwin untuk Gladwin pergi.

Setelah berpamitan dengan ayahnya Gladwin cepat-cepat pergi melewati jalan pintas yang ia temukan. Gladwin berjalan dengan sangat cepat karena penasaran sekali dengan rumah tersebut. Ketika mau dekat tempat tersebut Gladwin sangat gugup melihat tempat tersebut. Ini karena Gladwin hanya seorang diri dan tidak tahu apa isi rumah tersebut. Gladwin yang masih tetap penasaran dengan rumah itu terus memberanikan diri untuk mendekati rumah itu. Sebenarnya Gladwin juga merasa cemas apakah perlu memasuki rumah tersebut atau tidak, tapi karena rasa penasarannya tetap lebih besar maka Gladwin tetap memutuskan untuk masuk ke rumah tersebut.

Setelah memasuki rumah tersebut, Gladwin membuka pagar rumah tersebut dengan sangat hati-hati. Terdengar bunyi “krek” menandakan bahwa pagar rumah tersebut tidak terawat. Gladwin juga terkejut melihat rumah itu karena halaman rumah tersebut sangat luas dan memiliki banyak bunga yang ada. Tiba-tiba Gladwin mendengar suara teriakan keras dari dalam rumah tersebut. Gladwin sangat ketakutan, dan bersembunyi di dalam dedauan yang tumbuh. Disaat bersembunyi Gladwin juga berusaha tenang dan diam supaya bisa mendengar suara apa di dalamnya.

Ketika sudah lebih tenang Gladwin mulai memberanikan diri untuk keluar dari tempat sembunyi itu. Gladwin kemudian berjalan mendekati pintu rumah tersebut. Gladwin sangat terkejut bahwa pintu rumah tersebut sangatlah besar dan tinggi bahkan terlihat berlapis emas. Ketika Gladwin mau membuka Kembali terdengar suara seseorang berteriak minta tolong untuk dibukan pintu tersebut. Gladwin kembali ketakutan, namun karena tidak ada tempat untuk bersembunyi maka Gladwin berusaha untuk tidak mendengarkan suara tersebut.

Dengan keberaniannya Gladwin membuka pintu tersebut dan sangat terkejut bahwa didalam rumah tersebut ada sebuah keluarga yang terkunci didalamnya. Pintu rumah keluarga tersebut sangatlah aneh ketika lupa membawa kunci itu masuk maka mereka akan terjebak di


dalam rumah tersebut. Maka dari itu Gladwin yang tidak membawa kunci itu ikut terjebak bersama keluarga tersebut. Keluarga tersebut menyambut Gladwin dengan hangat, bahkan memberikan kamar tamu untuk Gladwin. Gladwin diajak berkeliling di dalam rumah tersebut. Meski dari luar rumah tersebut sangat seram namun ketika memasuki rumah tersebut dia terkejut, karena rumah itu sangat bagus sekali, bahkan di rumah itu semua bahan makanan yang habis di ambil akan muncul lagi sehingga Gladwin bisa makan sepuasnya.

Ketika malam tiba Gladwin mulai khawatir karena tidak bisa pulang, ia memikirkan ayahnya. Gladwinpun mulai merasa bosan karena biasanya Gladwin sangat sibuk. Ketika Gladwin mulai merasa bosan keluarga tersebut mengajak Gladwin bermain, ada banyak permainan yang di sediakan bahkan Gladwin diajak bercerita tentang dunia luar yang selama ini tidak diketahui keluarga tersebut. Meskipun Gladwin senang berada dalam rumah tersebut namun Gladwin selalu memikirkan ayahnya.

Ayah Gladwin mulai merasa khawatir karena Gladwin hingga dini hari belum pulang. Ayah Gladwin memutuskan untuk menghubungi teman Gladwin dan Ayahnya menyadari bahwa Gladwin berbohong kepadanya. Karena ayahnya juga melewati jalan pintas, maka Ayah Gladwin terkejut melihat rumah tersebut. Gladwin yang sedang melihat ke arah jendela keluar berteriak-teriak minta tolong kepada ayahnya. Ayahnya mulanya takut namun karena merasa pasti itu anaknya maka Gladwin berkata kepada ayahnya untuk membawa kunci tersebut masuk. Dengan penuh keberanian Ayah Gladwin membuka pintu tersebut dan membawa kunci tersebut. Dengan begitu keluarga tersebut bisa menikmati dunia luar dan Gladwin beserta ayahnya bisa tinggal di sana.

Farhan Si Tukang Kayu

Farhan Si Tukang Kayu

Farhan mengusap keningnya, melihat karyanya yang sebentar lagi selesai. Karya yang entah sudah keberapa dia ciptakan. Sebuah kipas sederhana yang terbuat dari kayu cendawan asli yang didapatnya ketika berkeliling hutan seminggu yang lalu. Lalu ia melirik ke kanan. Melihat tumpukan karyanya di samping meja kerjanya. Sebuah gala panjang dengan pengait pada ujungnya yang diselesaikannya 3 hari yang lalu. Lalu karya yang lainnya, seperti, sebuah tongkat berbentuk huruf Y pada ujungnya, sebuah kayu lurus dengan banyak gerigi besi pada ujung bawahnya, sebuah papan persegi panjang dengan datar bawahnya yang agak landai. Sederhana? Memang sangat sederhana, namun farhan membuatnya dengan sepenuh hati, penuh dengan ketelitian.

Farhan tinggal di Desa Wood, sebuah desa di negeri fantasi yang jauh di sana. Desa Wood terkenal karena melimpahnya kekayaan alam kayunya. Farhan adalah satu dari sekian banyak pengrajin kayu yang tinggal di Desa Wood. Di desa itu hampir seluruh penduduknya bermata pencaharian sebagai pengrajin kayu. Dari desa bagian barat, terdapat pengrajin kayu terkenal bernama Dare. Dare tak hanya pintar dalam memahat dan mengukir kayu. Dare juga pintar dalam menceritakan filosofi hasil pahatan dan ukiran yang dibuatnya. Setiap hasil pahatan memiliki kisahnya sendiri, begitu katanya. Dare juga selalu diundang untuk berpidato mengenai perkembangan hasil kayu di Desa Wood di alun-alun kota.

Dari desa bagian timur, terkenal seorang pengajin kayu bernama Moris. Moris adalah seorang pengrajin kayu yang memberi pahatan kayu sambil mendengarkan dendangan lagu. Setiap lagu dapat memberikan inspirasi dan menghasilkan hasil pahatan kayu dengan keunikan tersendiri. Farhan tak perlu berfilosofi, apalagi bersenandung. Hanya perlu jari-jari halus dan cermat untuk membuat bentuk dan ukiran kayu sempurna. Sederhana memang, sebab farhan tak ingin karyanya justru menyusahkan dan membingungkan orang lain.

Entah sudah berapa kali matahari dan bulan berputar silih berganti melaksanakan tugasnya masing-masing. Selama itu pula farhan belum bisa membuat nama dan potretnya diukirkan di “Papan Pengumuman Desa” yang terbuat dari kayu cendawan berkualitas terbaik. Karyanya tak pernah dilirik dan farhan tak pernah berani mengungkapkannya walau sering berakhir di tempat sampah. Hingga suatu hari farhan memberanikan diri datang ke rumah Tetua Desa. Farhan tak lupa membawa karya, sebuah buku catatan kecil, dan sebuah pulpen.

farhan mengetuk pintu.

Tetua Desa keluar dari rumahnya, sambil berkacak pinggang. Tak mengerti, farhan menganggap pose Tetua Desa sangat keren.

“Oh Farhan. Kupikir kau sudah mati dimakan harimau, singa, atau kelaparan di tengah hutan. Lama kau tak kelihatan. Apa yang kau inginkan?”, kata Tetua Desa sambil tersenyum sinis.

Farhan tak memikirkan kata-kata menyakitkan Tetua Desa, namun yang dilihatnya, Tetua Desa itu tersenyum walau hanya bibir kanannya saja yang terangkat. Ahh, ramah betul Tetua Desa ini, pikir farhan dalam hatinya.

Farhan mengambil bukunya dan mulai menulis.

Aku membawa karyaku. Maukah kau melihatnya dan mencobanya untukku?

Tetua Desa mengambil kertas itu dan mengangguk pelan. Kali ini tanpa senyuman. Farhan memberikan karya pertamanya. Sebuah kayu panjang meliuk-liuk berbentuk huruf Y dengan ukuran batik di seluruh tubuh kayu itu dan tulisan “Desa Wood” pada bagian ujung bawahnya.

“Kau membawakanku sampah?”, tanya Tetua Desa

Farhan berpikir, mungkin Tetua Desa berkata, “Apakah kau ingin aku mengukir namamu di Papan Pengumuman?”

Tetua Desa melambaikan tangannya di depan wajah Farhan untuk menyadarkan Farhan dari lamunannya. Farhan mengangguk.

Braaaaakkkk… Pintu dibanting kuat di depan wajahnya, farhan terkejut. Mungkin Tetua Desa sedang tidak enak badan. Akhirnya dia pulang dengan wajah berseri-seri membayangkan potretnya di Papan Pengumuman besok.

Ternyata, tak hanya Farhan dan Tetua Desa yang ada disitu. Mata Dare dari tadi mengintip di kejauhan sambil bersembunyi di belakang pohon oak yang rindang.

“Cihhh, cari muka betul anak itu. Pakai acara mengunjungi Tetua Desa segala. Dasar orang aneh. Ngomong saja tidak nyambung. Mau menandingi aku segala. Lihat saja. Selama Dare masih ada disini, takkan ada yang bisa menjadi pengrajin kayu terbaik di desa ini.”, kata Dare berapi-api.

Dare segera berlari menuruni bukit, menyeberangi sungai, hamparan sawah, hutan kayu yang begitu luas, untuk mencapai desa bagian timur, menemui Moris. Sesampainya disana, Moris sedang mengetam dan mengamplas kayunya dengan kertas pasir.

Dare segera menceritakan semuanya, sebentar Moris tersenyum, lalu kemudian mengangguk pelan. Cukup lama mereka berdiskusi, hingga matahari pulang ke tempat peraduannya…

Keesokan hari datang begitu sempurna dan indah. Matahari dan kicauan burung membingkai menyambut datangnya hari yang baru dengan segala sesuatu yang baru yang tak ada yang tahu apa yang akan terjadi.

Farhan menyambut datangnya pagi dengan ceria dan seribu semangat yang baru. Dia segera mandi, sarapan dengan roti dan selai madu, lalu berpakaian dan memakai kacamata keberuntungannya. Ia siap melihat namanya di Papan Pengumuman.

Mungkin aku akan diukir dengan memakai dasi kupu-kupu yang kemarin kupakai, pikirnya. Lalu dia pergi, tak lupa membawa catatan dan pulpennya.

Ketika farhan datang, semua orang memandangnya dengan tatapan kecewa, saling bisik satu sama lain. “Tega sekali dia melakukannya.”, bisik salah satu warga

“Aku tak menyangka Farhan sejahat itu.”, bisik warga yang lain.

Apa yang terjadi? Mereka menyambutku terlalu semangat. Apakah wajahku dipotret dengan sangat lucu? Ayolah. Aku yakin tidak begitu aneh, pikir Farhan.

Tetua Desa berjalan ke arahnya dengan wajah amat marah.