Menghidupkan Semangat Cinta Lingkungan: Meneladani Santo Fransiskus Assisi dan Ibu Magdalena Daemen di Sekolah

Menghidupkan Semangat Cinta Lingkungan: Meneladani Santo Fransiskus Assisi dan Ibu Magdalena Daemen di Sekolah

Di tengah tantangan krisis ekologi global saat ini, sekolah memiliki peran penting bukan hanya sebagai tempat transfer ilmu, melainkan juga sebagai ruang pembentukan karakter dan spiritualitas. Bagi lembaga pendidikan berjiwa Fransiskan—seperti sekolah-sekolah di bawah naungan Yayasan Marsudirini atau Ordo Santo Fransiskus (OSF)—pendidikan lingkungan hidup tidak sekadar program pelestarian alam biasa. Gerakan ini adalah sebuah panggilan iman yang berakar kuat pada spiritualitas dua tokoh besar: Santo Fransiskus Assisi dan Ibu Magdalena Daemen. Bagaimana kita dapat membumikan spiritualitas kedua tokoh ini menjadi langkah-langkah nyata di sekolah?
Santo Fransiskus Assisi: Memandang Alam sebagai Saudara

Santo Fransiskus dari Assisi dinobatkan sebagai Santo Pelindung Ekologi oleh Paus Yohanes Paulus II, dan hal tersebut bukan tanpa alasan. Ia memiliki pandangan relasional yang sangat mendalam terhadap ciptaan Tuhan. Dalam Kidung Segala Ciptaan (Canticle of the Sun), ia tidak melihat alam sebagai objek yang bisa dieksploitasi, melainkan sebagai keluarga. Ia menyebut matahari sebagai “Saudara Matahari”, air sebagai “Saudari Air”, dan bumi sebagai “Saudari Bumi”.
Bagi Fransiskus, jika kita mampu “membaca” alam dengan benar dan peduli padanya, kita sedang dituntun menuju Sang Pencipta. Ia meyakini bahwa ciptaan adalah kitab pertama yang ditulis oleh Allah sendiri.

Ibu Magdalena Daemen: Kesederhanaan dan Penyelenggaraan IlahiIbu Magdalena Daemen adalah pendiri Kongregasi Suster-suster OSF yang menghidupi semangat Fransiskan dengan sangat nyata. Salah satu pilar utama spiritualitasnya adalah semboyan Deus Providebit yang berarti “Tuhan yang Menyelenggarakan”. Spiritualitas ini mengajarkan kebergantungan total pada kehendak Allah dan rasa syukur yang mendalam atas apa yang disediakan-Nya. Dalam konteks lingkungan, meneladani Ibu Magdalena Daemen berarti mempraktikkan gaya hidup yang sederhana dan tidak serakah. Jika kita percaya bahwa Tuhan menyelenggarakan hidup kita, kita tidak perlu mengeksploitasi alam secara berlebihan. Kita diundang untuk merawat “penyelenggaraan” tersebut (bumi dan isinya) agar dapat terus menunjang kehidupan sesama dan generasi mendatang.

Langkah Penerapan di Lingkungan Sekolah

Menggabungkan persaudaraan semesta ala Santo Fransiskus dan kesederhanaan ala Ibu Magdalena Daemen, berikut adalah pilar-pilar penerapan cinta lingkungan yang bisa dihidupkan di sekolah:

Meneladani kesederhanaan Ibu Magdalena Daemen, sekolah dapat menerapkan kebijakan yang menekan gaya hidup konsumtif.

  • Praktik: Mewajibkan siswa membawa botol minum (tumbler) dan kotak makan sendiri untuk menghilangkan sampah plastik sekali pakai di kantin.
  • Makna: Mengajarkan anak-anak untuk mengambil makanan secukupnya dan menghabiskannya sebagai bentuk rasa syukur atas penyelenggaraan Tuhan (Deus Providebit), sehingga tidak ada food waste (sampah makanan).

Menghidupi “Persaudaraan Semesta” di Lingkungan Hijau

Sekolah harus menjadi ekosistem di mana siswa mempraktikkan kasih tidak hanya kepada sesama manusia, tetapi juga pada ciptaan lain.

  • Praktik: Membuat program “Adopsi Tanaman” di mana setiap siswa atau kelas bertanggung jawab merawat satu area taman sekolah atau tanaman tertentu dari bibit hingga tumbuh besar.
  • Makna: Seperti Santo Fransiskus yang menyapa tumbuhan dan hewan sebagai saudara, siswa diajak memiliki keterikatan emosional dengan makhluk hidup lain, menumbuhkan empati bahwa tanaman yang layu juga butuh pertolongan.

Bagi komunitas pendidikan Fransiskan, sekolah adalah “taman” tempat persemaian karakter. Dengan meneladani cinta Santo Fransiskus Assisi yang inklusif terhadap seluruh ciptaan, serta kesederhanaan dan iman Ibu Magdalena Daemen yang percaya pada Penyelenggaraan Ilahi, sekolah tidak hanya sedang mencetak siswa yang cerdas, tetapi juga Pahlawan Ekologi. Merawat lingkungan di sekolah adalah wujud nyata dari merawat iman itu sendiri.

Disconect to Reconect

Disconect to Reconect

SMP Maria Mediatrix Ajak Orang Tua Batasi Layar Gawai untuk Melejitkan Potensi Anak
Menghadapi tantangan era digital di mana anak-anak semakin lekat dengan gawainya, SMP Maria Mediatrix sukses menyelenggarakan seminar parenting bertajuk “Disconnect to Reconnect: Membatasi Layar, Melejitkan Potensi Belajar”. Acara yang digelar pada Sabtu, 13 Juni 2026 ini bertempat di Aula Kompleks Bangkong dan dihadiri oleh para orang tua murid yang antusias mencari solusi atas fenomena kecanduan gawai pada remaja.

Acara yang dipandu oleh M.Th. Rosari Niken P., S.S. ini diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ibu Astuti dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Keprihatinan Sekolah Pasca-Pandemi

Kepala Sekolah Maria Mediatrix, Bapak Kris, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kepercayaan orang tua kepada sekolah. Ia juga menyoroti hasil evaluasi pembelajaran selama satu tahun terakhir.

“Sebelum pandemi, penggunaan handphone (HP) oleh siswa sangat terbatas. Namun, pasca-pandemi, anak-anak menjadi terlalu fokus pada HP mereka, bukan sekadar untuk belajar, melainkan hiburan. Ini menjadi keprihatinan kita bersama,” ujar Pak Kris. Ia mengamati bahwa sepulang sekolah, anak-anak kini lebih sering menunduk bermain game alih-alih mengobrol dengan teman sebayanya.

Bahaya Layar Instan dan Bajakan Dopamin

Hadir sebagai narasumber utama, Dr. Elizabeth Wahyu Margareth Indira, S. Psi., M.Pd., Psikolog, memaparkan fakta-fakta mengejutkan terkait kebiasaan anak masa kini. Rata-rata anak menghabiskan 7 hingga 9 jam waktu luangnya untuk bermain gawai. Lebih dari itu, 78% anak saat ini lebih memilih menonton video pendek yang menstimulasi algoritma otak secara instan.

“Stimulasi instan dari algoritma layar ini membajak sistem dopamin anak. Anak usia SMP belum memiliki kemampuan penuh untuk membatasi diri,” jelas Dr. Elizabeth.

Tingginya screen time (waktu layar) terbukti menurunkan fokus dan performa belajar anak. Jika dibiarkan lebih dari 6 jam sehari, dampaknya bisa merambat ke masalah emosional, seperti risiko kecemasan, depresi, kesulitan bersosialisasi, hingga penurunan empati—termasuk maraknya tren menjadikan kelompok rentan sebagai bahan candaan di media sosial.

Langkah Bijak Orang Tua: Membangun Neuroplastisitas

Kabar baiknya, otak anak memiliki neuroplastisitas atau kemampuan untuk beradaptasi dan pulih. Untuk itu, Dr. Elizabeth membagikan beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan orang tua di rumah:

  • Buat Kesepakatan, Bukan Sekadar Aturan: Buat aturan penggunaan gawai yang jelas melalui diskusi bersama anak, dan pastikan orang tua juga konsisten menjadi teladan yang baik.
  • Detoks Layar Sebelum Tidur: Biasakan mematikan HP 30 menit sebelum tidur. Ganti aktivitas ini dengan membaca buku untuk menumbuhkan kembali minat literasi anak.
  • Ubah Area Pengisian Daya: Pindahkan area charging HP ke luar kamar tidur agar anak tidak terdistraksi saat jam istirahat.
  • Siapkan Rutinitas Pengganti: Ketika waktu bermain HP dibatasi, orang tua wajib hadir memberikan alternatif kegiatan, seperti mengobrol atau bermain bersama untuk memperkuat bonding.
  • Cek Berkala: Lakukan pengecekan gawai anak setiap minggu dan dampingi mereka memilah konten yang baik.

Antusiasme Sesi Tanya Jawab

Sesi diskusi berlangsung interaktif. Banyak orang tua yang menyampaikan keresahannya. Menjawab pertanyaan Pak Heru tentang keseimbangan memberi kebebasan dan pantauan, Dr. Elizabeth menekankan pentingnya memberikan konsekuensi logis jika anak melanggar kesepakatan waktu bermain gawai.

Dalam isu yang lebih sensitif seperti paparan konten pornografi yang ditanyakan oleh Ibu Mela, Dr. Elizabeth menyarankan pendekatan yang tenang. “Berikan sex education sesuai porsinya. Jika anak ketahuan melihat konten negatif, kelola emosi kita. Jangan langsung marah. Biarkan ayah berbicara dengan anak laki-laki, dan ibu dengan anak perempuan, lalu tanyakan pelan-pelan apa pikiran dan perasaan mereka tentang hal itu.”

Seminar juga membahas dinamika pertemanan remaja yang seringkali berpusat pada game online (mabar). Narasumber mengingatkan bahwa anak perlu diajarkan untuk bergaul dengan siapa saja, namun tetap cerdas memilih circle (lingkungan pergaulan) yang mendukung mereka untuk bertumbuh positif.

Kesimpulan: Koneksi Hati Lebih Penting

Menutup sesi pemaparannya, Dr. Elizabeth memberikan pesan emosional yang menjadi inti dari tema Disconnect to Reconnect:

“Mulai malam ini, cabut kabelnya dan singkirkan HP dari meja makan. Tatap mata anak Anda dan mulailah mengobrol. Anak tidak butuh koneksi internet yang kuat, tapi mereka butuh koneksi hati yang hangat.”

Workshop Pembelajaran Menyenangkan

Workshop Pembelajaran Menyenangkan

Komunitas Belajar Marsudirini di Kompleks Bangkong mengadakan workshop pembelajaran menyenangkan hari ini, dihadiri oleh guru-guru SMP Maria Mediatrix. Narasumber utama, Bapak Slamet Hari Pambudi, seorang Guru Inovatif tingkat Nasional 2023, mengajukan pertanyaan reflektif kepada para guru untuk mengeksplorasi perasaan mereka. Workshop menekankan konsep “Student Wellbeing,” dengan menggarisbawahi pentingnya kebahagiaan guru sebagai fondasi utama dalam pembelajaran. Peserta diajak untuk menciptakan lingkungan belajar yang memotivasi, mendidik, dan menghibur siswa.

Strategi untuk meningkatkan “Student Wellbeing” dibahas, termasuk eksplorasi kegiatan di luar kelas dan integrasi permainan dalam pembelajaran. Bapak Slamet menekankan perlunya menciptakan lingkungan kelas yang menarik melalui desain ruang belajar, penggunaan teknologi, dan atmosfer positif. Workshop mencakup strategi pembelajaran menyenangkan, mendorong pemilihan materi menarik, partisipasi aktif siswa, dan variasi metode pembelajaran.

Studi kasus tentang inisiatif pembelajaran sukses dan proyek kolaboratif di luar ruangan memberikan inspirasi bagi peserta. Tantangan dalam menerapkan pembelajaran menyenangkan diatasi dengan persiapan kurikulum, retensi informasi, dan penyesuaian materi. Evaluasi dilakukan melalui refleksi dan umpan balik, sementara puncak acara melibatkan peserta dalam praktik membuat “Lesson Plan” melalui metode gallery walk. Keseluruhannya, workshop ini memberikan wawasan mendalam bagi para guru dalam menerapkan pembelajaran menyenangkan di konteks pendidikan modern.

Tim Esport SMP MM Terus Berprestasi Juara Pertama Esport Griya Karang Turi, Juara Ketiga Masehi MLBB Turnamen

Tim Esport SMP MM Terus Berprestasi Juara Pertama Esport Griya Karang Turi, Juara Ketiga Masehi MLBB Turnamen

07 September 2023 – Tim Esport SMP Maria Mediatrix, dengan nama Tim ASTR, terus menorehkan prestasi gemilang dalam kejuaran E-sport tingkat SMP. Mereka baru-baru ini berhasil peringkat 3 dalam turnamen Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) di SMA Masehi 2. 

Juara 3 Masehi MLBB Turnamen TIngkat SMP Semarang

Selain itu, dalam kompetisi yang berlangsung sangat sengit, Tim ASTR dari SMP Maria Mediatrix berhasil menunjukkan kepiawaian dan koordinasi yang luar biasa. Mereka berhasil meraih peringkat 3 dengan penampilan yang mengesankan.

Tidak hanya sampai di situ, Tim ASTR terus mengejar keunggulan. Dalam turnamen E-Sport Griya Karangturi 2023 yang berlangsung pada tanggal 08-09 September 2023, mereka berhasil meraih peringkat pertama dengan gemilang.

Tim ASTR SMP Maria Mediatrix terdiri dari lima anggota yang berbakat, yaitu: Arrow (Ketua Tim), Ralp, Marvel, Nara, Marcel.

Ketua Tim, Arrow, menyatakan, “Kami sangat bersyukur atas dukungan yang luar biasa dari sekolah, guru-guru, dan orang tua kami. Kemenangan ini adalah hasil dari kerja keras kami dan komitmen untuk terus meningkatkan kemampuan kami dalam dunia e-sport.”

Sekolah SMP Maria Mediatrix juga turut bangga atas prestasi luar biasa yang diraih oleh Tim ASTR. Mereka telah menunjukkan bahwa usia bukanlah batasan untuk meraih kejayaan dalam E-Sport.

Selamat kepada Tim ASTR SMP Maria Mediatrix atas prestasi gemilang mereka dalam turnamen MLBB tingkat SMP di SMA Masehi dan E-Sport Griya Karangturi 2023. Semoga keberhasilan ini akan terus menginspirasi dan memotivasi teman-teman untuk mengejar cita-cita mereka dalam dunia e-sport.

Sabun dan Lilin dari Minyak Jelantah

Sabun dan Lilin dari Minyak Jelantah

Penggunaan minyak goreng berulang kali atau tanpa pemrosesan yang tepat dapat menyebabkan dampak negatif yang signifikan. Salah satu masalah utama adalah pembentukan senyawa berbahaya seperti akrolein, aldehida, dan senyawa heterosiklik aromatik polisiklik (PAHs) ketika minyak dipanaskan berulang kali dalam proses penggorengan. Senyawa-senyawa ini dianggap karsinogenik dan dapat menyebabkan kerusakan sel serta memicu peradangan pada tubuh manusia, yang berpotensi menyebabkan berbagai penyakit serius termasuk kanker.

Dilain pihak ketika kita sering mengganti minyak juga akan menyebabkan banyak limbah minyak. Dampak dari pembuangan minyak jelantah secara sembarangan sangat merugikan bagi lingkungan dan masyarakat. Minyak jelantah yang dibuang ke saluran pembuangan atau tempat pembuangan sampah dapat mencemari air tanah dan perairan, mengakibatkan penurunan kualitas air dan merusak ekosistem perairan. Selain itu, minyak jelantah yang mengendap di saluran pembuangan bisa menyebabkan penyumbatan dan banjir. Selama dekomposisi, minyak jelantah akan menghasilkan gas metana, yang menyumbang pada pemanasan global. Dalam masyarakat, pembuangan sembarangan minyak jelantah dapat membahayakan kesehatan karena bakteri berbahaya dapat berkembang biak dalam minyak yang digunakan berulang kali. Untuk mengatasi dampak negatif ini, penting untuk mendaur ulang minyak jelantah atau membuangnya dengan benar melalui fasilitas pengolahan limbah yang tepat.

Pengolahan limbah minyak jelantah merupakan salah satu solusi penanganan limbah minyak jelantah. Berikut adalah cara kami mengolah minyak jelantah menjadi lilin cantik yang bisa digunakan kembali.

Selain mengubah minyak jelantah menjadi lilin. Kami juga belajar mengubah minya jelantah menjadi sabun. Sabun tersebut dapat digunakan untuk berbagai keperlua. Beginilah kami mengolahnya: