by admin | Aug 21, 2026 | Pilihan
Di tengah tantangan krisis ekologi global saat ini, sekolah memiliki peran penting bukan hanya sebagai tempat transfer ilmu, melainkan juga sebagai ruang pembentukan karakter dan spiritualitas. Bagi lembaga pendidikan berjiwa Fransiskan—seperti sekolah-sekolah di bawah naungan Yayasan Marsudirini atau Ordo Santo Fransiskus (OSF)—pendidikan lingkungan hidup tidak sekadar program pelestarian alam biasa. Gerakan ini adalah sebuah panggilan iman yang berakar kuat pada spiritualitas dua tokoh besar: Santo Fransiskus Assisi dan Ibu Magdalena Daemen. Bagaimana kita dapat membumikan spiritualitas kedua tokoh ini menjadi langkah-langkah nyata di sekolah?
Santo Fransiskus Assisi: Memandang Alam sebagai Saudara
Santo Fransiskus dari Assisi dinobatkan sebagai Santo Pelindung Ekologi oleh Paus Yohanes Paulus II, dan hal tersebut bukan tanpa alasan. Ia memiliki pandangan relasional yang sangat mendalam terhadap ciptaan Tuhan. Dalam Kidung Segala Ciptaan (Canticle of the Sun), ia tidak melihat alam sebagai objek yang bisa dieksploitasi, melainkan sebagai keluarga. Ia menyebut matahari sebagai “Saudara Matahari”, air sebagai “Saudari Air”, dan bumi sebagai “Saudari Bumi”.
Bagi Fransiskus, jika kita mampu “membaca” alam dengan benar dan peduli padanya, kita sedang dituntun menuju Sang Pencipta. Ia meyakini bahwa ciptaan adalah kitab pertama yang ditulis oleh Allah sendiri.
Ibu Magdalena Daemen: Kesederhanaan dan Penyelenggaraan IlahiIbu Magdalena Daemen adalah pendiri Kongregasi Suster-suster OSF yang menghidupi semangat Fransiskan dengan sangat nyata. Salah satu pilar utama spiritualitasnya adalah semboyan Deus Providebit yang berarti “Tuhan yang Menyelenggarakan”. Spiritualitas ini mengajarkan kebergantungan total pada kehendak Allah dan rasa syukur yang mendalam atas apa yang disediakan-Nya. Dalam konteks lingkungan, meneladani Ibu Magdalena Daemen berarti mempraktikkan gaya hidup yang sederhana dan tidak serakah. Jika kita percaya bahwa Tuhan menyelenggarakan hidup kita, kita tidak perlu mengeksploitasi alam secara berlebihan. Kita diundang untuk merawat “penyelenggaraan” tersebut (bumi dan isinya) agar dapat terus menunjang kehidupan sesama dan generasi mendatang.
Langkah Penerapan di Lingkungan Sekolah
Menggabungkan persaudaraan semesta ala Santo Fransiskus dan kesederhanaan ala Ibu Magdalena Daemen, berikut adalah pilar-pilar penerapan cinta lingkungan yang bisa dihidupkan di sekolah:
Meneladani kesederhanaan Ibu Magdalena Daemen, sekolah dapat menerapkan kebijakan yang menekan gaya hidup konsumtif.
- Praktik: Mewajibkan siswa membawa botol minum (tumbler) dan kotak makan sendiri untuk menghilangkan sampah plastik sekali pakai di kantin.
- Makna: Mengajarkan anak-anak untuk mengambil makanan secukupnya dan menghabiskannya sebagai bentuk rasa syukur atas penyelenggaraan Tuhan (Deus Providebit), sehingga tidak ada food waste (sampah makanan).
Menghidupi “Persaudaraan Semesta” di Lingkungan Hijau
Sekolah harus menjadi ekosistem di mana siswa mempraktikkan kasih tidak hanya kepada sesama manusia, tetapi juga pada ciptaan lain.
- Praktik: Membuat program “Adopsi Tanaman” di mana setiap siswa atau kelas bertanggung jawab merawat satu area taman sekolah atau tanaman tertentu dari bibit hingga tumbuh besar.
- Makna: Seperti Santo Fransiskus yang menyapa tumbuhan dan hewan sebagai saudara, siswa diajak memiliki keterikatan emosional dengan makhluk hidup lain, menumbuhkan empati bahwa tanaman yang layu juga butuh pertolongan.
Bagi komunitas pendidikan Fransiskan, sekolah adalah “taman” tempat persemaian karakter. Dengan meneladani cinta Santo Fransiskus Assisi yang inklusif terhadap seluruh ciptaan, serta kesederhanaan dan iman Ibu Magdalena Daemen yang percaya pada Penyelenggaraan Ilahi, sekolah tidak hanya sedang mencetak siswa yang cerdas, tetapi juga Pahlawan Ekologi. Merawat lingkungan di sekolah adalah wujud nyata dari merawat iman itu sendiri.
by admin | Jun 22, 2026 | Pilihan
SMP Maria Mediatrix Ajak Orang Tua Batasi Layar Gawai untuk Melejitkan Potensi Anak
Menghadapi tantangan era digital di mana anak-anak semakin lekat dengan gawainya, SMP Maria Mediatrix sukses menyelenggarakan seminar parenting bertajuk “Disconnect to Reconnect: Membatasi Layar, Melejitkan Potensi Belajar”. Acara yang digelar pada Sabtu, 13 Juni 2026 ini bertempat di Aula Kompleks Bangkong dan dihadiri oleh para orang tua murid yang antusias mencari solusi atas fenomena kecanduan gawai pada remaja.
Acara yang dipandu oleh M.Th. Rosari Niken P., S.S. ini diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ibu Astuti dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Keprihatinan Sekolah Pasca-Pandemi
Kepala Sekolah Maria Mediatrix, Bapak Kris, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kepercayaan orang tua kepada sekolah. Ia juga menyoroti hasil evaluasi pembelajaran selama satu tahun terakhir.
“Sebelum pandemi, penggunaan handphone (HP) oleh siswa sangat terbatas. Namun, pasca-pandemi, anak-anak menjadi terlalu fokus pada HP mereka, bukan sekadar untuk belajar, melainkan hiburan. Ini menjadi keprihatinan kita bersama,” ujar Pak Kris. Ia mengamati bahwa sepulang sekolah, anak-anak kini lebih sering menunduk bermain game alih-alih mengobrol dengan teman sebayanya.
Bahaya Layar Instan dan Bajakan Dopamin
Hadir sebagai narasumber utama, Dr. Elizabeth Wahyu Margareth Indira, S. Psi., M.Pd., Psikolog, memaparkan fakta-fakta mengejutkan terkait kebiasaan anak masa kini. Rata-rata anak menghabiskan 7 hingga 9 jam waktu luangnya untuk bermain gawai. Lebih dari itu, 78% anak saat ini lebih memilih menonton video pendek yang menstimulasi algoritma otak secara instan.
“Stimulasi instan dari algoritma layar ini membajak sistem dopamin anak. Anak usia SMP belum memiliki kemampuan penuh untuk membatasi diri,” jelas Dr. Elizabeth.
Tingginya screen time (waktu layar) terbukti menurunkan fokus dan performa belajar anak. Jika dibiarkan lebih dari 6 jam sehari, dampaknya bisa merambat ke masalah emosional, seperti risiko kecemasan, depresi, kesulitan bersosialisasi, hingga penurunan empati—termasuk maraknya tren menjadikan kelompok rentan sebagai bahan candaan di media sosial.
Langkah Bijak Orang Tua: Membangun Neuroplastisitas
Kabar baiknya, otak anak memiliki neuroplastisitas atau kemampuan untuk beradaptasi dan pulih. Untuk itu, Dr. Elizabeth membagikan beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan orang tua di rumah:
- Buat Kesepakatan, Bukan Sekadar Aturan: Buat aturan penggunaan gawai yang jelas melalui diskusi bersama anak, dan pastikan orang tua juga konsisten menjadi teladan yang baik.
- Detoks Layar Sebelum Tidur: Biasakan mematikan HP 30 menit sebelum tidur. Ganti aktivitas ini dengan membaca buku untuk menumbuhkan kembali minat literasi anak.
- Ubah Area Pengisian Daya: Pindahkan area charging HP ke luar kamar tidur agar anak tidak terdistraksi saat jam istirahat.
- Siapkan Rutinitas Pengganti: Ketika waktu bermain HP dibatasi, orang tua wajib hadir memberikan alternatif kegiatan, seperti mengobrol atau bermain bersama untuk memperkuat bonding.
- Cek Berkala: Lakukan pengecekan gawai anak setiap minggu dan dampingi mereka memilah konten yang baik.
Antusiasme Sesi Tanya Jawab
Sesi diskusi berlangsung interaktif. Banyak orang tua yang menyampaikan keresahannya. Menjawab pertanyaan Pak Heru tentang keseimbangan memberi kebebasan dan pantauan, Dr. Elizabeth menekankan pentingnya memberikan konsekuensi logis jika anak melanggar kesepakatan waktu bermain gawai.
Dalam isu yang lebih sensitif seperti paparan konten pornografi yang ditanyakan oleh Ibu Mela, Dr. Elizabeth menyarankan pendekatan yang tenang. “Berikan sex education sesuai porsinya. Jika anak ketahuan melihat konten negatif, kelola emosi kita. Jangan langsung marah. Biarkan ayah berbicara dengan anak laki-laki, dan ibu dengan anak perempuan, lalu tanyakan pelan-pelan apa pikiran dan perasaan mereka tentang hal itu.”
Seminar juga membahas dinamika pertemanan remaja yang seringkali berpusat pada game online (mabar). Narasumber mengingatkan bahwa anak perlu diajarkan untuk bergaul dengan siapa saja, namun tetap cerdas memilih circle (lingkungan pergaulan) yang mendukung mereka untuk bertumbuh positif.
Kesimpulan: Koneksi Hati Lebih Penting
Menutup sesi pemaparannya, Dr. Elizabeth memberikan pesan emosional yang menjadi inti dari tema Disconnect to Reconnect:
“Mulai malam ini, cabut kabelnya dan singkirkan HP dari meja makan. Tatap mata anak Anda dan mulailah mengobrol. Anak tidak butuh koneksi internet yang kuat, tapi mereka butuh koneksi hati yang hangat.”
by matrix01 | Oct 29, 2025 | Pilihan, Uncategorized
Ajang kompetisi bergengsi, MM CUP 2025, telah resmi ditutup. Acara yang berlangsung sengit dan penuh antusiasme ini telah berhasil menobatkan para talenta terbaik sebagai juara di kategori Putra dan Putri. Setelah melalui serangkaian pertandingan yang ketat, berikut adalah daftar tim yang berhasil meraih podium di MM CUP 2025.
🏆 Selamat Kepada Para Juara MM CUP 2025 🏆
JUARA 1 PUTRA: SDK Sang Timur
- Filigon Miguel Oetomo (MVP)
- Christopher Juan Pransisnanto
- Maximillian Deven Ardianto
- Fransiskus Juro Nathaniel Salmin
- Christian Dareen Indianto
- Samuel Edgard Damai Widyasworo Tumip
- Vincentius Azel Wibowo
- Matthew Jose Wijoyo
- Gervasius Christopher Traherfa
- Aurellio Jordan Mahija
- Ignatius Kian Dei Holman
- Benedictus Arjendra Haryo Dewanta
🥈 JUARA 2 PUTRA: SD Marsudirini Santo Antonius 02
- EMMANUEL AMORY ARDICANDRA
- YOHANES MICHAEL CIPTA WIJAYA
- JOSHUA CONRAD ELFRIAWAN
- VINCENSIUS SAVERIO REVANDRA
- MIKHAEL JERICHO WIJAYA
- GEORGIUS SERGIO AMARAL
- SEBASTIAN DWI ATMODJO WATTIHELUW
- STEVEN GERRARD SAPUTRA
- TURIBIUS ALFRED ENTRITOBY
- RAFAEL RAJENDRA JEVANANTO
- MIKHAEL BAGAS ADI KURNIAWAN
- IGNATIUS BRANDON MARAMDO SINAGA
🥉 JUARA 3 PUTRA: SD Marsudirini Cor Jesu
- Dave Edward Setiawan
- Orland Ferison Harsoyo
- Marchellino Louren Wijaya
- Guardian Heaven Adiprana
- Raynard Hadinatha P
- Christopher Renand L
- Alexander William I
- Ferguson Lionel Anugrah M
- Vionard Mackinley S
- Evander Kristian Adjie
- Geovard Mackenneth S
- James Sebastian S
Kategori Putri
🥇 JUARA 1 PUTRI: SD Marsudirini Cor Jesu
- Thalita Putri Aryani
- Ileana Eva Kristanto
- Flavia Leonora Atmaja
- Naomi Quinn Kurniawan
- Freya Odelia Santoso
- Nathalie Sharron Wibowo
- Fayrena Jochebed Nugraha
- Danica Gwen Santoso
- Roro Deandra Axelia A R
- Angela Nataly Sudarsono
- Louise Kimberly Womsiwor
- Mercia Mikelle B
🥈 JUARA 2 PUTRI: SD Mondial
- Belleverin Lovelya Haryanto (Pencetak Skor Terbanyak)
- Que Sera Manggala
- Kayleen Garnette
- Katherina Badranaya Hary Wijaya
- Earlene Yusticia Suhardi
- Almira Raisani Hakim
- Alisha Shafira Artantyo
- Binar Athaya Maheswari
- Alya Zahirah Putri
- Victoria Joyshine Centauri
- Mikhayla Rasheeda
🥉 JUARA 3 PUTRI: SD Don Bosko
- GERDTUDIS KINANTHI WIDY NUGROHO
- NI KADEK SHANESSA EL FASHER NARESWARI
- CORNELIA CHRISTABLE NADIA
- CLARA MEMORYCKA NOTONUGROHO
- MIKHAYLA FEANDRA ASILLA PUTRI
- ELISABETH BASANTA PRAMESWARI ASMONAGORO
- DEBORA NATANIA AUDREY DARSONO
- SAMANTHA ADELLE PATRICIA
- EUGENIA GAVRILLA ARKADEWI
by Bimaaa 7G | Feb 13, 2025 | Berita, Pilihan
Matrix To Kalipucung
Live In adalah kegiatan belajar di luar sekolah yang diadakan oleh SMP Marsudirini Maria Mediatrix. Live In bertujuan untuk meningkatkan kesadaran sosial, kemandirian, dan sosialisasi para murid kelas 7. Kegiatan Live In ini pertama diadakan pada 22 Januari 2023, murid-murid tidak sabar untuk mengikuti kegiatan ini. Pada kegiatan ini, siswa-siswi akan tinggal di rumah penduduk. Satu rumah warga masing-masing akan menampung 4-6 orang murid. Pada kegiatan ini juga akan mengikuti kegiatan orang tua asuh atau kegiatan dari panitia Live In.
Menurut Daffin, suasana lingkungan saat Live In adalah “Sangat asri dan sejuk.” Nama orang tua asuh Daffin saat Live In adalah Bapak Sukiman. Perasaan Daffin saat Live In adalah, “Perasaanku sangat senang karena baru pertama kali merasakan Live In.” Teman sekamar yang bersama Daffin adalah “Cio, Gege, dan Javier.” Daffin mengikuti kegiatan Live In di Desa Kalipucung, Kecamatan Semarang. “Aku mulai kegiatan Live In tersebut pada hari Rabu, 12 Januari 2025.” Ucap Daffin
Desa Kalipucung adalah destinasi wisata yang memberikan suasana yang asri dan sejuk. Kebudayaan di sana masih terjaga dengan baik. Desa Kalipucung dipilih untuk tempat Live In siswa-siswi kelas tujuh SMP Marsudirini Maria Mediatrix dengan nyaman dan aman.
by Ruby | Nov 26, 2024 | Artikel Ilmiah Populer, Pilihan
AI (Artificial Itellegence) atau kecerdasan buatan adalah bidang ilmu komputer yang fokus pada pengembangan teknologi dan algoritma yang dapat membuat sistem komputer. AI kini digunakan dalam berbagai bidang, mulai dari belajar, aplikasi sehari-hari hingga inovasi di sektor medis, dan keuangan. AI menawarkan potensi besar untuk meningkatkan produktivitas, namun juga menimbulkan tantangan terkait etika, privasi, dan pengaruhnya terhadap pekerjaan manusia. Dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi bagaimana AI memengaruhi kehidupan sehari-hari, serta tantangan dan peluang yang dihadapinya.
Dalam kehidupan sehari-hari, contoh penggunaan AI antara lain adalah asisten pribadi digital, kendaraan otonom, rekomendasi produk, chatbot, dan diagnosis kesehatan.
Contoh paling umum dari penggunaan kecerdasan buatan dalam kehidupan sehari-hari adalah asisten pribadi digital seperti Siri, Google Assistant, dan Alexa. Mereka menggunakan teknologi pemrosesan bahasa alami (natural Language Processing) untuk menjawab pertanyaan pengguna dan mengeksekusi perintah. (Informatika Teknokrat, 2024).
Di bidang pendidikan, AI menghadirkan berbagai inovasi yang membantu meningkatkan proses belajar mengajar. Platform pembelajaran berbasis AI dapat menyesuaikan materi ajar sesuai dengan kemampuan dan kecepatan belajar masing-masing siswa. Dengan menggunakan data analitik, AI dapat memberikan umpan balik yang lebih tepat dan membantu guru dalam merancang strategi pengajaran yang lebih efektif. AI juga memungkinkan penggunaan tutor virtual dan aplikasi belajar bahasa yang mendukung siswa dengan berbagai keterampilan dan kebutuhan. Teknologi ini tidak hanya membuat pendidikan lebih inklusif tetapi juga lebih efisien dan terjangkau. (Achyar, 2024).
Pada dasarnya, Chatbot merupakan contoh teknologi Al yang cerdas dalam meningkatkan hubungan perusahaan dengan pelanggan. Selain mampu memberikan solusi kepada pengguna lebih cepat selama 24 jam, fitur tersebut juga memungkinkan bisnis untuk membagikan katalog atau pesan blast yang berisikan promosi produk. (Primakara, 2024).
Menurut H. A. Simon (1987), “Kecerdasan buatan (artificial intelligence) merupakan kawasan penelitian, aplikasi dan instruksi yang terkait dengan pemrograman komputer untuk melakukan sesuatu hal yang -dalam pandangan manusia adalah- cerdas.”
Menurut Rich and Knight (1991), “Kecerdasan Buatan (AI) merupakan sebuah studi tentang bagaimana membuat komputer melakukan hal-hal yang pada saat ini dapat dilakukan lebih baik oleh manusia. Dapat kita simpulkan bahwa kecerdasan buatan menyangkut studi proses berpikir manusia dan berhubungan dengan merepresentasikan proses berpikir tersebut melalui mesin.”
AI dapat membantu banyak sekali kehidupan manusia seperti membantu belajar, asisten digital, di bidang medis, ChatBot dan masih banyak lainnya.
Daftar pustaka:
Teknokrat, Informatika. 2024. Penggunaan Teknologi Artificial Intellegence dalam Kehidupan Sehari-hari. Diakses melalui: https://informatika.teknokrat.ac.id/penggunaan-teknologi-artificial-intelligence-di-kehidupan-sehari-hari/ pada 26 November, 2024.
Primakara university. 2024. 12 Contoh Teknologi AI Yang Umum Digunakan Sehari-hari. Diakses melalui: https://primakara.ac.id/blog/info-teknologi/contoh-teknologi-AI pada https://primakara.ac.id/blog/info-teknologi/contoh-teknologi-AI pada 26 November 2024.
Achyar, T Iqval. 2024. Dampak AI dalam Kehidupan Sehari-hari. Diakses melalui: https://www.rri.co.id/lain-lain/980408/dampak-teknologi-ai-dalam-kehidupan-sehari-hari pada 26 November 2024.
Bapenda Jabar. 2016. Kecerdasan Buatan dan Efektivitas Kerja. Diakses melalui: https://bapenda.jabarprov.go.id/2016/04/21/kecerdasan-buatan-dan-efektifitas-kerja/#:~:text=Menurut%20H.%20A.,dalam%20pandangan%20manusia%20adalah%2D%20cerdas pada 26 November 2024.
by irenn | Nov 26, 2024 | Artikel Ilmiah Populer, Pilihan
Perilaku FOMO ataupun JOMO pasti sering sekali kita jumpai. FOMO yang merupakan singkatan Fear of Missing Out mengacu pada suatu kondisi mental di mana seseorang terlalu terobsesi pada objek yang sedang berada di puncak trend. Sedangkan, JOMO yang adalah singkatan dari Joy of Missing Out adalah suatu kondisi mental di mana seseorang malah merasa senang dan damai ketika ia tidak memedulikan trend yang sedang ramai di khalayak umum. Kedua perilaku ini diyakini sebagai dua kondisi mental yang sangat berbeda, bahkan saling berlawanan. Perilaku FOMO dianggap sebagai perilaku yang merugikan, baik bagi dirinya sendiri maupun orang-orang di sekitarnya. Namun, keduanya pasti tetap memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing dan perlu berdampingan dengan seimbang.
Dilansir dari halodoc.com, perilaku FOMO “Terjadi ketika seseorang merasa cemas atau khawatir melewatkan pengalaman, acara, atau aktivitas yang sedang terjadi di sekitarnya.” “FOMO tidak hanya terbatas pada kehidupan sosial secara langsung, tetapi juga dapat terjadi dalam berbagai konteks, termasuk pekerjaan, pendidikan, dan hobi. Orang yang FOMO akan terus-menerus merasa perlu terlibat dalam segala hal agar tidak kehilangan momen atau peluang penting,” tambah artikel tersebut. Sedangkan, Puji (2024) mengatakan bahwa Joy of Missing Out (JOMO) “Didefinisikan sebagai perasaan puas pada diri sendiri dan hal-hal yang disukai sehingga Anda tidak merasa butuh mengetahui atau mengikuti hal-hal yang sedang ramai dibicarakan.” JOMO memang bisa memberikan dampak baik bagi kesehatan mental seseorang, tidak seperti FOMO yang dapat memberikan efek negatif. Kebiasaan ini tentunya menjadi solusi dari masalah FOMO yang kerap dirasakan masyarakat saat ini (Jamil, 2023).
Menurut halodoc.com, penyebab dari fenomena perilaku FOMO ini adalah menggunakan media sosial secara berlebihan, takut ditolak dan dikucilkan, terlalu berkomitmen, serta merasa tidak puas. Sedangkan, dampak dari fenomena ini antara lain stres dan kecemasan, tidak fokus dan produktif, tidak memiliki hubungan sosial yang dalam, serta gangguan tidur. Salim (2024) dalam artikelnya juga mengatakan “FOMO dapat mendorong perilaku konsumtif, membuat orang menghabiskan uang untuk hal-hal yang sebenarnya tidak mereka butuhkan atau mampu.” Sebenarnya, FOMO juga memiliki beberapa dampak positif, seperti dapat menjadi dorongan positif untuk mencoba hal-hal baru dan keluar dari zona nyaman dan cenderung berkepribadian ekstrover, yang menyukai kegiatan sosial dan bersosialisasi (Gabriela, 2024). Namun, terlalu sering mengalami FOMO juga tidak baik bagi kesehatan mental, sehingga kita perlu untuk memperbanyak perilaku JOMO. Gabriela (2024) juga menyebutkan cara-cara untuk mengubah perilaku FOMO menjadi JOMO, antara lain dengan mengurangi waktu di media sosial, menetapkan batasan, dan belajar mengatakan tidak.
Lantas, dari kedua fenomena ini, manakah yang lebih baik atau positif? Kedua perilaku yang telah dibahas di atas ternyata memiliki poin plus dan minus masing-masing. Jadi, kita perlu untuk menyeimbangkan antara perilaku FOMO dan JOMO dalam hidup kita. Perilaku mana yang harus kita terapkan sangat bergantung pada situasi dan kondisi saat itu, maka kita harus bijak dalam membaca situasi dan kondisi agar tahu perilaku mana yang lebih baik kita terapkan.
Daftar Pustaka:
Gabriela, Michelle. 2024. Apa Itu JOMO, Fenomena Penanding FOMO. Diakses melalui https://www.tempo.co/gaya-hidup/apa-itu-jomo-fenomena-penanding-fomo-1164784 pada 21 November 2024.
Halodoc. 2024. Apa Itu Fomo? Ini Pengertian, Gejala, dan Dampaknya. Diakses melalui https://www.halodoc.com/artikel/apa-itu-fomo-ini-pengertian-gejala-dan-dampaknya?srsltid=AfmBOoo5Alu2WX15TurqiKxR79FNjquHtKEhCLbj2H3xzcHLU3o4-xZi pada 21 November 2024.
Jamil, Hanan. 2024. Ini Manfaat JOMO atau Joy of Missing Out, Solusi bagi yang Mudah FOMO. Diakses melalui https://www.detik.com/jogja/berita/d-7503059/ini-manfaat-jomo-atau-joy-of-missing-out-solusi-bagi-yang-mudah-fomo pada 21 November 2024
Puji, Aprinda. 2024. Apa itu JoMO atau Joy of Missing Out? Diakses melalui https://hellosehat.com/mental/apa-itu-jomo/ pada 21 November 2024.
Salim, Mabruri Pudyas. 2024. FOMO Adalah Fear of Missing Out, Ketahui Dampak Buruk dan Cara Mengatasinya. Diakses melalui https://www.liputan6.com/hot/read/5725035/fomo-adalah-fear-of-missing-out-ketahui-dampak-buruk-dan-cara-mengatasinya?page=4 pada 21 November 2024.