SMP Maria Mediatrix Ajak Orang Tua Batasi Layar Gawai untuk Melejitkan Potensi Anak
Menghadapi tantangan era digital di mana anak-anak semakin lekat dengan gawainya, SMP Maria Mediatrix sukses menyelenggarakan seminar parenting bertajuk “Disconnect to Reconnect: Membatasi Layar, Melejitkan Potensi Belajar”. Acara yang digelar pada Sabtu, 13 Juni 2026 ini bertempat di Aula Kompleks Bangkong dan dihadiri oleh para orang tua murid yang antusias mencari solusi atas fenomena kecanduan gawai pada remaja.

Acara yang dipandu oleh M.Th. Rosari Niken P., S.S. ini diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ibu Astuti dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Keprihatinan Sekolah Pasca-Pandemi

Kepala Sekolah Maria Mediatrix, Bapak Kris, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kepercayaan orang tua kepada sekolah. Ia juga menyoroti hasil evaluasi pembelajaran selama satu tahun terakhir.

“Sebelum pandemi, penggunaan handphone (HP) oleh siswa sangat terbatas. Namun, pasca-pandemi, anak-anak menjadi terlalu fokus pada HP mereka, bukan sekadar untuk belajar, melainkan hiburan. Ini menjadi keprihatinan kita bersama,” ujar Pak Kris. Ia mengamati bahwa sepulang sekolah, anak-anak kini lebih sering menunduk bermain game alih-alih mengobrol dengan teman sebayanya.

Bahaya Layar Instan dan Bajakan Dopamin

Hadir sebagai narasumber utama, Dr. Elizabeth Wahyu Margareth Indira, S. Psi., M.Pd., Psikolog, memaparkan fakta-fakta mengejutkan terkait kebiasaan anak masa kini. Rata-rata anak menghabiskan 7 hingga 9 jam waktu luangnya untuk bermain gawai. Lebih dari itu, 78% anak saat ini lebih memilih menonton video pendek yang menstimulasi algoritma otak secara instan.

“Stimulasi instan dari algoritma layar ini membajak sistem dopamin anak. Anak usia SMP belum memiliki kemampuan penuh untuk membatasi diri,” jelas Dr. Elizabeth.

Tingginya screen time (waktu layar) terbukti menurunkan fokus dan performa belajar anak. Jika dibiarkan lebih dari 6 jam sehari, dampaknya bisa merambat ke masalah emosional, seperti risiko kecemasan, depresi, kesulitan bersosialisasi, hingga penurunan empati—termasuk maraknya tren menjadikan kelompok rentan sebagai bahan candaan di media sosial.

Langkah Bijak Orang Tua: Membangun Neuroplastisitas

Kabar baiknya, otak anak memiliki neuroplastisitas atau kemampuan untuk beradaptasi dan pulih. Untuk itu, Dr. Elizabeth membagikan beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan orang tua di rumah:

  • Buat Kesepakatan, Bukan Sekadar Aturan: Buat aturan penggunaan gawai yang jelas melalui diskusi bersama anak, dan pastikan orang tua juga konsisten menjadi teladan yang baik.
  • Detoks Layar Sebelum Tidur: Biasakan mematikan HP 30 menit sebelum tidur. Ganti aktivitas ini dengan membaca buku untuk menumbuhkan kembali minat literasi anak.
  • Ubah Area Pengisian Daya: Pindahkan area charging HP ke luar kamar tidur agar anak tidak terdistraksi saat jam istirahat.
  • Siapkan Rutinitas Pengganti: Ketika waktu bermain HP dibatasi, orang tua wajib hadir memberikan alternatif kegiatan, seperti mengobrol atau bermain bersama untuk memperkuat bonding.
  • Cek Berkala: Lakukan pengecekan gawai anak setiap minggu dan dampingi mereka memilah konten yang baik.

Antusiasme Sesi Tanya Jawab

Sesi diskusi berlangsung interaktif. Banyak orang tua yang menyampaikan keresahannya. Menjawab pertanyaan Pak Heru tentang keseimbangan memberi kebebasan dan pantauan, Dr. Elizabeth menekankan pentingnya memberikan konsekuensi logis jika anak melanggar kesepakatan waktu bermain gawai.

Dalam isu yang lebih sensitif seperti paparan konten pornografi yang ditanyakan oleh Ibu Mela, Dr. Elizabeth menyarankan pendekatan yang tenang. “Berikan sex education sesuai porsinya. Jika anak ketahuan melihat konten negatif, kelola emosi kita. Jangan langsung marah. Biarkan ayah berbicara dengan anak laki-laki, dan ibu dengan anak perempuan, lalu tanyakan pelan-pelan apa pikiran dan perasaan mereka tentang hal itu.”

Seminar juga membahas dinamika pertemanan remaja yang seringkali berpusat pada game online (mabar). Narasumber mengingatkan bahwa anak perlu diajarkan untuk bergaul dengan siapa saja, namun tetap cerdas memilih circle (lingkungan pergaulan) yang mendukung mereka untuk bertumbuh positif.

Kesimpulan: Koneksi Hati Lebih Penting

Menutup sesi pemaparannya, Dr. Elizabeth memberikan pesan emosional yang menjadi inti dari tema Disconnect to Reconnect:

“Mulai malam ini, cabut kabelnya dan singkirkan HP dari meja makan. Tatap mata anak Anda dan mulailah mengobrol. Anak tidak butuh koneksi internet yang kuat, tapi mereka butuh koneksi hati yang hangat.”