by Kevinz | Feb 15, 2024 | Cerita Inspiratif
FIGHT YOUR STRUGGLE
lawan pergumulanmu
Jadi pada suatu hari hidup seorang anak bungsu, anak ketiga dari tiga saudaranya. Ia adalah seorang anak yang hidup berkecukupan dan segala yang ia butuhkan terpenuhi, ia hidup hanya berdua dengan ibunya. Ayah dan kedua kakaknya sudah bekerja, jadi ia sering sendiri, ibunya juga sibuk akan kerjaan rumah tangga yang tidak kunjung selesai-selesai, biasanya si bungsu jika ada waktu luang membantu ibunya, tapi ia sudah cukup padat waktunya akan kegiatan sekolah. Si bungsu sering kali merasa kesepian,stress dan bosan akan rutinitasnya, biasanya ia bergaul dengan teman sekolahnya dan ia merasa senang, tapi saat dirumah ia merasa kesepian dan akhirnya ia melampiaskan semua rasa penatnya kepada tontonan yang tidak senonoh dan karena teman-temannya di sekolah juga rusak atau memberikan dampak yang buruk, misalnya bermalas-malasan, berbicara dengan kata-kata yang kasar dan kotor, dan menonton sesuatu yang tidak senonoh dll . Maka dari hal itu si bungsu terikat dengan hal-hal negatif itu, tahun demi tahun ia jalani dan rasanya si bungsu itu makin tidak tahan dengan pergumulannya itu dan ingin lepas dengan bebas, singkat cerita ia meninggalkan secara perlahan, pergaulan teman-temannya yang rusak itu. Dan si bungsu pun bingung, arah hidupnya mau diarahkan ke mana, karena sudah begitu rusak terdampak akibat pergaulannya yang rusak disekolahnya. Lalu satu saat kakaknya mengajak si bungsu untuk pergi ke Gereja ibadah pemuda, dan si bungsu awalnya menolak tapi karena aura positif yang diberikan kakaknya kepada si bungsu, akhirnya ia tergerak untuk ikut ibadah pemuda( youth ). Disana si bungsu merasakan hal yang berbeda dari teman-teman gereja dengan teman-temannya disekolah, dari cara bergaulnya, cara berbicaranya, humornya, aura teman-temannya yang positif dll sangatlah berbeda, tapi hal-hal tersebut membuat si bungsu nyaman. Di dalam komunitas gereja itu si bungsu berkembang lebih baik dan auranya menjadi postif yang ceria dan ramah ( friendly). Singkat cerita si bungsu menjadi anggota tetap komunitas Pemuda ( youth ) tersebut, ia sekarang menjadi pribadi yang berbeda, sudah jarang bebicara yang kotor dan kasar, jarang menonton hal-hal yang tidak senonoh, memiliki pendirian diri, memiliki iman, memiliki skill bermain alat musik bass dan piano, bisa multimedia di gereja sebagai pelayanannya, dan di dalam komunitas ini ia belajar bagaimana caranya hidup dengan pimpinan Tuhan dengan saat teduh dan meluangkan waktu untuk Tuhan, dan masih banyak lagi. Si bungsu pun merasakan perubahan yang ada didalam dirinya, dan prosesnya pun juga tidak mudah, ia harus melawan egonya, harus tau kesalahannya dan belajar dari kesalahannya, dan yang pasti ia menemukan tempatnya untuk menuangkan rasa kesal, penat, atau pergumulannya yaitu komunitas pergaulan yang tepat. Komunitas adalah sarana dimana kita dapat bergaul dan membangun diri kita menjadi lebih baik dan menjadi yang terbaik, jika kita salah tempat/komunitas maka sebaliknya kita bukannya berkembang malah semakin terpuruk dan tidak berkembang. Akhirnya si bungsu jarang yang namanya merasakan yang namanya stress, penat, dan semacamnya, namanya pergumulan pasti ada tapi ia tahu untuk melawan pergumulan ada Tuhan dan komunitasnya yang selalu ada dan mendukungnya, jadi ia kalau merasa penat ia cerita kepada Tuhan dengan berdoa dan si bungsu juga sekarang makin terbuka dan suka bercerita kepada keluarganya dan teman-temannya, keluarganya merasa bangga khususnya Ibu dan kakaknya dengan keputusan yang ia ambil untuk ikut dalam komunitas gereja yang membangun dan mengubah diri si bungsu yang sekarang jauh lebih bertalenta dan auranya positif. Dengan talenta/skill yang ia miliki dari komunitasnya, hal-hal itu berguna bagi kehidupan si bungsu di masa depan karirnya, ia berhasil mewujudkan mimpinya sebagai Pengacara dan pengusaha,Akhir cerita Si bungsu menemukan wanita yang ia sukai dan mereka menjalin hubungan bersama sebagai Pacar, dan akhirnya ia menikah dengan bahagia.
by Aurel Evita | Feb 15, 2024 | Cerita Inspiratif
Sebuah keluarga yang terpaksa untuk pergi ke sebuah kota, mencari informasi tentang sebuah perumahan yang dapat menjadi tempat tinggal yang nyaman, dan didapatkanlah informasi tentang sebuah perumahan yang berada di pinggiran kota bahwa disana merupakan tempat yang tenang di mana aroma rumput segar masih melekat di udara, dan tawa anak-anak bergema di jalanan. Keluarga Jefferson, sebuah keluarga Afrika memutuskan untuk pindah. Tanpa menyadari bahwa kehidupan mereka di sana akan berubah 180 derajat sebab mereka akan menjadi satu-satunya keluarga kulit hitam di lingkungan tersebut. Ya, disana mereka melihat banyaknya orang berkulit putih dengan tatapan semacam jijik dengan kehadiran mereka. Sembari menunggu barang barang mereka yang diangkut oleh truk, mereka dapat melihat tatapan dan mendengarkan bisikan yang tidak mengenakan dari tetangga tetangga mereka.
Pada akhirnya mereka pun mengundang para tetangga untuk barbekyu bersama di rumah mereka. Di pertemuan pertama mereka saat sedang berbaur, seorang tetangga mendekat sambil tersenyum paksa, berkata,
“Kalian adalah keluarga pertama dari jenismu di sini. Sungguh menyegarkan melihat keberagaman.”
Komentar itu menggantung di udara, dengan implikasi yang tidak nyaman. Walau begitu pasangan orang tua tersebut tidak menghiraukannya dan mengatakan bahwa mereka bangga menjadi yang pertama dari sekian orang yang ada.Tetapi perasaan yang menjanggal, terisolasi, terkucilkan akan selalu ada.
Beberapa hari berlalu, dengan penuh frustasi keluarga ‘unik’ tersebut terpikirkan untuk kembali ke lingkungan asal mereka, tetapi mereka ingat kembali bahwa sekarang mereka telah mempunyai anak, akhirnya mereka tetap teguh. Tetapi mengubah pandangan orang akan sulit bukan?
Tempat sang anak bersekolah tidak jauh berbeda, Ibu anak ini akan selalu mengingat bagaimana ekspresi wajah anaknya berubah, dari saat ia berangkat sekolah, senyum yang lebar tertempel di mukanya dengan lebar sekejap saat ia datang untuk menjemputnya, yang dapat dilihat hanyalah wajah anaknya yang menjadi murung, hingga suatu saat ketika sang anak hendak pergi ke sekolah, sang anak berkata,
“Aku ga mau ke sekolah..”
“Kenapa?” Sang Ibu bertanya
Sang anak tidak menjawab, melainkan hanya menundukkan kepalanya menghadap lantai. Khawatir, sang Ibu pun mengelus rambut sang anak, tanpa berkata apapun.
“Setiap kali aku kesana, anak-anak lain hanya melihatku dengan tatapan yang tajam. Aku takut”
Takut. Hal yang seharusnya tidak perlu dirasakan oleh sang anak ketika pergi ke sekolah, sang Ibu benar benar putus asa melihat tatapan mata anak yang sedih itu, Ia merasa gagal, “Mengapa dari awal aku tetap ngeyel untuk tetap tinggal disini? Mengapa tidak Ia pikirkan kondisi jika mereka yang ‘unik’ datang kemari? Mengapa..” Ia akhirnya berhenti melamun ketika sang anak menggoyangkan badannya,
“Ibu, aku pergi dulu, aku pamit.”
“Ah.. ya, kalau begitu, tunggu Ibu nanti ya untuk menjemputmu.” Kata sang Ibu tersenyum sambil melambaikan tangan
Sang anak hanya mengangguk, membuka pintu, dan datanglah cahaya matahari yang hangat dan terang menyinari muka sang anak yang menoleh kepadanya dan akhirnya, kegelapan datang dari pintu yang ditutup.
“Pergi ke sekolah benar benar tidak menyenangkan, pelajarannya enak, kalau guru-guru dan anak-anak disana–“
Ia berhenti berjalan dan mengangkat kepalanya untuk melihat lokernya penuh dengan berbagai macam tulisan yang penuh dengan kata kata yang tidak enak untuk dibaca beserta tatapan sinis yang dapat ia rasa tertuju kepadanya,
“–Nggak enak aku benci mereka.”
Di tengah istirahat Ia pergi ke toilet, melewati sebuah ruangan berisi seorang guru, orangtua dan murid. Tanpa sengaja ia mendengarkan percakapan mereka,
“Apa maksudmu, kau tidak senang dengan bersekolah, nak? Bukankah sekolah tempat yang nyaman? Anggap saja sekolah sebagai rumah keduamu! Kamu dapat belajar banyak hal juga bertemu dengan teman–”
“Tetapi aku ga suka bersekolah! Sekolah itu membosankan!” Bantah anak itu
Maka, ia berpikir, “Apakah memang benar sekolah adalah tempat untuk berbahagia? Sebuah rumah, rumah kedua hanya dengan orang yang berbeda? Bagi anak yang ‘normal’ saja sekolah dianggap membosankan, bukankah sama dengan yang kualami sekarang? Aku hanya ingin berbahagia. Benar benar muak.”
Semua yang di dalam benaknya tidak dapat ia keluarkan, karena ia tahu yang mengalami nasib, dari ujung matanya dapat ia melihat anak lain sepertinya yang mengalami hal yang sama seperti dirinya seperti ini bukan hanya dia sendiri. Ia tidak dapat mengadu nasib hanya karena ini. Ia harus memikirkan orang lain juga, karena? Ia tidak boleh egois. Anak yang sepertinya, berkulit hitam juga bukan hanya dia. Ia harus ingat itu. Maka dari itu Ia berharap ketidakadilan ini dapat diatasi. Tetapi itu semua hanya harapan bukan?
Ketika sang Ayah sudah tidak kuat dengan lingkungannya, Ia pergi untuk menegakkan ketidakadilan ini, tetapi ia hanya kembali dengan tangan yang tidak ada isinya, tidak ada hasil.
Maka, muncullah impian, menginginkan kehidupan yang damai tanpa perlu memikirkan tersebut saat ia menginjak usia dewasa, ia berhasil menjadi seorang lawyer dari pekerjaan itulah ia berhasil. Secara perlahan tetapi dengan pasti, penuh keyakinan dan tekad, sekarang diskriminasi antara kulit sudah tidak terlihat lagi walaupun memang terlihat tetapi terdapat beberapa orang yang sudah dapat menanggapi orang berkulit hitam dengan baik. “Aku berhasil”, ia berpikir, setelah semua luka yang dia rasakan, ia tidak akan mengembalikan orang lain dengan luka tersebut, tetapi akan memulihkannya dengan menciptakan sebuah kedamaian bagi generasi selanjutnya agar mereka tidak merasakan apa yang orang orang yang di masa lalu rasakan. Anak atau tepatnya orang tersebut adalah Barack Obama, seorang lawyer yang telah berhasil menjadi presiden ke 44, serta presiden pertama yang berkulit hitam.
Ia percaya, hanya karena warna kulit kita yang berbeda, kekayaan bahkan jenjang pendidikan yang ditempuh itu berbeda, hal tersebut tidak seharusnya dipermasalahkan apalagi hingga munculnya sebuah demo hanya untuk mencapai kedamaian tersebut.
by Peter | Feb 15, 2024 | Cerita Inspiratif
kisah Jackie Chan (Mental Orang Cina)
Siapa yang tidak kenal dengan aktor legendaris asal Hongkong yang di sebut Jackie Chan. Pemain film yang Fu kenal dengan atraksi bela diri yang tidak menggunakan stunt man. Nama ini pasti tidak asing lagi bagi banyak orang Chan Kong sang atau yang akrab disapa Jackie Chan lahir di Hong Kong, 7 April 1954, dari pasangan Charles Chan dan Lee-Lee Chan, yang sama-sama bekerja di Konsulat Perancis di Hongkong. Semasa kecil, Jackie mendapat julukan Paopao yang artinya peluru meriam. Julukan itu didapat karena saat masih bayi, Jackie memiliki berat sekitar 5,4 kg.
Saat Jackie masih kecil, ia dikirim ke sekolah opera Peking. China Drama Academy. Oleh Master Yu Jim-Yuen, Jackie mendapat pelatihan bela diri dan akrobat. Rupanya Jackie menunjukkan kalau dirinya adalah murid yang berbakat. Tak lama kemudian Jackie bergabung dalam kelompok akrobat dan bela diri terkenal, Seven Little Fortunes.
Sayangnya, karir Jackie sebagai aktor muda kurang begitu bagus. Hal ini membuatnya terpaksa bersedia tampil telanjang di film komedi yang menampilkan adegan seks, “All in the Family” (1975). Film tersebut merupakan film pertama sekaligus film terakhirnya sebagai aktor yang bersedia beradegan intim. Bahkan dalam film “All in the Family, Jackie sama sekali tak menunjukkan kebolehannya dalam hal bela diri.
Merasa perjalanan karirnya tersendat-sendat, Jackie memutuskan untuk menyusul keluarganya di Canberra. Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Dickson College dan bekerja sebagai pegawai konstruksi. Pengalamannya sebagai pekerja bangunan akhirnya justru membawa Jackie mendapatkan nama panggungnya. Penemuan itu bermula saat dia bersahabat dengan sesama tukang bangunan bernama Jack. Persahabatan itu membuatnya mendapat julukan Little Jack alias Jackie. Nama itulah yang akhirnya dipakai Jackie sebagai nama panggung dan mengantarkannya menjadi aktor yang sukses.
Karena sikap pantang menyerahnya, masa masa keemasan sebagai aktor pun dialami Jackie. Setelah sukses sebagai aktor film Hong Kong, Jackie mulai merambah dunia film Hollywood. Di awal perjuangannya untuk menjadi aktor Hollywood, Jackie sempat mengalami kegagalan dan hanya mendapat peran-peran kecil. Dia pun memutuskan untuk fokus sebagai aktor film Hong Kong. Keputusan tersebut diambil karena Jackie merasa dirinya lebih dikenal di negaranya sendiri dibandingkan Amerika Serikat. Di era akhir 90an, Jackie kembali optimis untuk mengembangkan kemampuannya di Hollywood.
Peter/9G/20
by rthsgnt | Feb 15, 2024 | Cerita Inspiratif
Pada suatu hari terdapat seorang anak yang sudah memasuki Sekolah Menengah Atas. Sebut saja dia Sean, anak berumur 15 tahun yang baru saja lulus SMP. Saat itu ia belum memiliki teman sama sekali, walaupun memang ada teman yang berasal dari SMP yang sama. Sean dulu adalah anak yang aktif saat SMP. Ia mempunyai banyak bakat seperti pandai berdebat, bisa dance, memiliki public speaking yang bagus, dan bisa menjadi pemimpin yang baik. Tapi bakatnya tidak terlihat saat SMA atau menghilang begitu saja.
Sean menjadi anak yang pendiam, tidak percaya diri, dan pemalu. Ia tidak berani mengungkapkan bakatnya yang ada saat dulu SMP. Karena hal itu ia menjadi merasa kesepian, ia tidak tahu harus bermain dengan siapa, bertanya dengan siapa, dan ia malu untuk bertanya pelajaran dengan guru. Ia selalu berpikir bahwa ia adalah siswa terbodoh dikelas itu, karena teman-temannya yang pintar. Ia makin tertekan atas keadaannya. Mulai dari tidak ada teman, kurangnya rasa percaya diri, dan hilangnya keberanian Sean. Padahal saat SMP ia adalah siswa yang aktif dan bisa menjadi siswa terbaik.
Waktu terus berjalan, akhirnya Sean mulai berpikir kalau ia harus lebih memberanikan dirinya dan kembali menjadi dirinya yang dulu. “Jika aku hanya berdiam diri seperti ini, bagaimana aku nanti di masa depan?” kata Sean yang sedang merenung. Sean melanjutkan kata katanya, “Aku gaboleh nyerah, harus terus berjuang sampe aku berhasil, ini juga demi masa depanku.” Akhirnya setelah merenung sekian lama, Sean sadar bahwa ia harus tetap berjuang dan berusahan untuk mendapatkan apa yang ia mau.
Sean mulai bergaul dengan temannya di SMA, mulai berkumpul jika ada teman-teman yang sedang berbicara, membantu temannya, dan bahkan ia akan bertanya kepada teman jika dia tidak tahu. Rasanya sangat susah bagi Sean untuk dirinya bersosialisasi lagi. Walau begitu ia tetap berusaha yang terbaik demi dirinya dan juga demi masa depannya. Saat ada kegiatan presentasi, ia bisa melakukannya dengan baik hingga dipuji. Lalu saat ada materi seperti debat antara pro dan kontra, ia bisa menguasainya dengan kepercayaan dirinya. Sean juga masuk ke dalam ekstra dance dan ia dijadikan pemimpin dance, karena dance dia yang bagus dan bisa memimpin anggota lainnya. Selama di kelas, Sean bisa mengatur teman-temannya yang berisik, hingga ia dibanggakan guru karena kepemimpinannya yang bagus. Saat naik kelas 11, ia menjadi ketua kelas karena teman-temannya percaya kepada Sean.
Akhirnya waktu telah berlalu sangat cepat. Sean berhasil beradaptasi. Ia mempunya banyak teman, pelajarannya juga tidak terganggu, dan ia juga sekarang menjadi siswa unggul di kelasnya. Sekarang Sean merasa tenang dan berkata “Memang, percaya dirilah yang paling utama untuk melakukan semuanya. Jika berani kita pasti bisa melakukannya, tapi kalau takut pasti kita tidak berani untuk mencoba hal baru dan malah jadi gak bisa. “Terus aku tidak boleh berhenti di tengah jalan, harus berjuang terus,” Sean mengatakan itu dengan senang, karena akhirnya hidupnya bisa sempurna, “Pokoknya terimakasih buat diri aku sendiri.” Kadang kita perlu untuk memulai sesuatu dari diri kita sendiri dengan penuh keberanian. Karena jika kita tidak berani, kita tidak akan mau mencoba hal baru.
by Sachio | Feb 15, 2024 | Cerita Inspiratif
SOEKARNO
Di sebuah desa kecil di pedalaman, hiduplah seorang anak muda yang bernama Amir. Amir tumbuh dalam keluarga sederhana yang hidup dari bertani. Meskipun hidup dalam keterbatasan, Amir memiliki semangat dan impian besar untuk membantu keluarganya dan memperbaiki kondisi desanya.
Setiap pagi, sebelum matahari terbit, Amir sudah berada di ladang untuk membantu orang tuanya. Namun, di balik kerja kerasnya di ladang, Amir selalu menyempatkan waktu untuk belajar. Meskipun akses pendidikan terbatas di desanya, Amir tidak pernah menyerah. Dia belajar dari buku-buku yang bisa dia pinjam dari tetangga dan guru-guru sukarelawan yang datang ke desa sesekali.
Suatu hari, ada seorang guru dari kota yang berkunjung ke desa mereka. Guru itu terkesan dengan semangat dan ketekunan Amir dalam belajar. Melihat potensi besar dalam diri Amir, guru itu menawarkan bantuan untuk membawa Amir ke kota agar bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik.
Amir dengan penuh semangat menerima tawaran itu, meskipun harus meninggalkan keluarganya dan desa tempat dia besar. Di kota, Amir menghadapi banyak tantangan baru. Namun, dia tidak pernah menyerah. Dia belajar dengan giat, menjalani kehidupan yang keras, dan selalu mengingat janjinya untuk membawa perubahan baik bagi keluarga dan desanya.
Berkat kerja kerasnya dan dukungan dari orang-orang di sekitarnya, Amir berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi dan mendapatkan gelar sarjana. Setelah lulus, dia kembali ke desanya dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. Amir memulai berbagai proyek untuk mengembangkan pertanian lokal, memberdayakan masyarakat, dan meningkatkan akses pendidikan di desanya.
Amir menjadi contoh bagi banyak orang tentang betapa pentingnya ketekunan, semangat, dan pendidikan dalam mencapai impian. Dia membuktikan bahwa meskipun berasal dari latar belakang yang sederhana, dengan tekad yang kuat dan kerja keras, seseorang bisa mencapai apa pun yang diinginkannya dan membuat perbedaan dalam kehidupan orang lain.
by itsmevnl | Feb 15, 2024 | Cerita Inspiratif
Thomas, seorang anak tunggal dalam keluarga yang kaya raya, sekaligus siswa teladan di SMP ternama di Surabaya. Bertahun-tahun lamanya orang tua Thomas menata masa depan Thomas untuk menjadi dokter, melanjutkan karya ayah ibunya di dalam IDI (Ikatan Dokter Indonesia). Namun Thomas tidak pernah mengharapkan semua ini, ia bahkan tidak pernah mau menjadi dokter. Cita-cita Thomas adalah membangun perusahaan teknologi. Ia ingin mengembangkan industri teknologi di Indonesia.
Hari demi hari berlalu dengan beban di pundak Thomas sebagai harapan keluarga satu-satunya. Sampai suatu ketika di masa kuliahnya, Thomas memberanikan diri berbicara dengan orang tuanya, “Ayah, Ibu, apa kalian masih mengharapkanku menjadi dokter?” tanpa ada keraguan, mereka menjawab, “Tentu masih, kau satu-satunya harapan keluarga kita sayang, bukan begitu?” Jawab Thomas kepada mereka, “Jika aku boleh jujur, sebenarnya aku tidak pernah mengharapkan semua ini, aku tidak ingin menjadi dokter. Aku memendam ini bertahun-tahun, namun aku takut ayah dan ibu akan kecewa padaku.” Selama beberapa detik keheningan menyerebak di antara mereka. Raut muka yang aneh dan tidak dapat dijelaskan nampak di wajah orangtua Thomas. Namun, tak lama mereka menjawab, “Yah sejujurnya, itu memang mengecewakan kami. Kami kira kamu akan bersyukur atas masa depan yang sudah jelas terbentang di depan masa. Semua sudah disiapkan untukmu, namun ini akhir yang terjadi. Tapi bagaimanapun masa depan yang sudah ayah dan ibu tata untukmu, adalah yang terbaik untukmu sayang. Jangan kecewakan kami.”
Tak terasa, mata yang sedaritadi menunjukkan keberanian, berubah menjadi mata yang tergenang air mata kesedihan. Impian Thomas dihancurkan berkeping-keping. Thomas hanya menjawab dengan satu kalimat singkat, “Baik, jika itu mau ayah dan ibu,” lalu Thomas beranjak dari ruang keluarga dan memasuki kamarnya.
Bulan demi bulan berlalu, Thomas memendam kesedihannya menjalani hidup yang tidak ia dambakan. Namun akhirnya suatu ide tercetus dalam pikirannya. Thomas mulai membuka laptopnya, lalu ia mulai mencari tahu semua tentang dunia teknologi, terutama pemrograman dan cara kerja kecerdasan buatan. Thomas akhirnya menemukan satu celah dalam dunia teknologi yang mungkin bisa menjadi referensi baginya untuk mengembangkan penemuan baru. Hal itu adalah pengembangan kecerdasan buatan dalam mekanisme keuangan. Thomas sadar bahwa di dunia keuangan, masih banyak celah keamanaan yang disebabkan karena kelalaian manusia. Namun dengan kecerdasan buatan, keamanan dapat lebih terintegrasi dan terawasi selama 24 jam penuh.
Thomas lalu menghubungi teman-temannya yang berkuliah di fakultas ekonomi, dan fakultas teknik informatika. Ia mengajak mereka untuk bergabung dalam penelitian dan pengembangan riset ini. Dengan bantuan teman-temannya, Thomas menjadi tahu tentang instrumen-instrumen dalam keuangan sekaligus mengetahui dasar-dasar dalam informatika dan bahasa pemrograman.
Riset ini berlanjut selama bertahun-tahun lamanya, namun Thomas enggan menyerah. Hal in juga didukung oleh para temannya. Tahun demi tahun setelah kelulusannya. Orang tua Thomas mulai khawatir dengan karir anak mereka. Berkali-kali Thomas dihujani pertanyaan tentang kapan dirinya akan melanjutkan studi kedokterannya. Namun, Thomas tidak pernah memiliki niatan untuk melanjutkan studinya.
Tepat 4 tahun setelah kelulusannya. Thomas dan teman-temannya berhasil menemukan kunci pemrograman yang tepat agar sistem dapat mengelola keamanan dalam kegiatan ekonomi. Dalam waktu singkat, Thomas dan teman-temannya berhasil meyakinkan para perusahaan perbankan dan bahkan lembaga keuangan untuk menggunakan produk mereka. Perusahaan mereka mengalami kemajuan yang drastis. Ratusan bahkan ribuan orang bahkan dipekerjakan di perusahaan mereka. Sungguh kesuksesan yang luar biasa.
Perasaan tak terbayang atas kesuksesan ini sungguh memenuhi pikiran Thomas sampai tiba-tiba ia teringat dengan orang tuanya. Thomas memberanikan diri untuk menemui orang tuanya lagi dan memperjelas tujuan hidupnya untuk tidak terjun dalam dunia kedokteran. Ia bahkan sudah siap untuk dicaci maki atas perbuatannya. Ia berjalan memasukki ruang keluarga, tempat orang tuanya biasa bersantai. Tanpa ragu Thomas berkata, “Ibu, ayah. Selama bertahun-tahun aku mencoba untuk menuruti semua permintaan ayah dan ibu, aku takut mengecewakan kalian,” dengan suara bergetar dan berlinang air mata, Thomas melanjutkan, “Namun, aku sudah tidak kuat. Ini bukan jalan hidupku. Jika aku teruskan, bisa-bisa bahkan aku akan lebih mengecewakan kalian lagi. Maka ini adalah jalan hidup yang kupilih, menjalankan perusahaanku sendiri. Maaf karena telah mengecewakan kalian,” air mata kian menetes dan Thomas berlutut dihadapan orang tuanya sebagai bentuk permohonan maaf. Namun, setelah semua itu, jawaban yang tidak disangka-sangka keluar dari mulu orang tuanya, “Kami bangga padamu, nak. Kami yang harusnya memohon maaf atas tekanan yang kami berikan kepadamu. Perusahaan yang kamu bangun jauh lebih baik dari yang kami harapkan. Kami sayang padamu, nak.” Mereka berpelukan dengan rasa hangat dan saling menenangkan. Akhirnya seluruh beban Thomas telah terangkat.
Waktu terus berjalan, dan perusahaan Thomas kian berjaya dan terkenal hingga ke luar negeri. Hasil kegigihan Thomas selama bertahun-tahun akhirnya terbayar dengan kesuksesan.