by Seno | Mar 24, 2023 | Hobi
Hobi ku yang Mulai Ditinggalkan 😔
Pada zaman sekarang sudah sedikit orang yang menulis baik buku nonfiksi yang menambah ilmu maupun cerita fiksi yang menghibur karena perkembangan zaman yang menggeser dan menggantikan budaya menulis. Saya sendiri akhir-akhir mulai jarang menulis karena jadwal yang padat. Namun seharusnya kegiatan menulis tetap dipertahankan salah satunya dengan cara literasi di sekolah.
Mengapa kegiatan menulis harus tetap dipertahankan? Karena kegiatan ini memiliki banyak manfaat. Berikut adalah contoh manfaatnya :
– Melatih otak, untuk menulis kita perlu menulis pesan yang ingin kita sampaikan. Namun kita juga harus memutar otak untuk menemukan kalimat yang mudah dipahami membaca
– Melatih indra, dengan menulis kita juga dapat melatih indra kita terutama jika yang kita tulis adalah teks deskripsi yang memerlukan indra agar seolah-olah mengalami yang ada dalam teks
– Mencerdaskan bangsa, manfaat yang paling mungkin berpengaruh adalah menulis dapat mencerdaskan bangsa seperti yang dijelaskan tadi manfaat menulis adalah melatih otak, tanpa penulis kecerdasan bangsa akan mengalami kemunduran.
Hal yang dapat kita tulis ketika kita baru memulai adalah berita, berita merupakan pesan yang ingin disampaikan dari penulis ke pembaca melalui pesan berupa artikel. Namun hal yang perlu dihindari ketika menulis berita adalah berita yang tidak nyata atau hoax.
Nyatanya menjadi penulis tidaklah mudah. Untuk meningkatkan kualitas dari karyanya seorang penulis disarankan untuk melakukan hal berikut ini :
– Banyak membaca, hal ini dapat memberi inspirasi dan ide pada sang penulis
– Tidak kenal putus asa, seringkali penulis merasa jenuh atau pun menghadapi masalah dalam menulis karyanya. Untuk menghadapi situasi itu penulis sebaiknya berhenti sejenak refreshing atau menyegarkan kembali pikiran karena memaksakan hal tersebut dapat menurunkan kualitas karya sang penulis.
– Fokus pada satu karya, seringkali penulis merasa jenuh atau bosan pada karya yang sedang dibuat dan beralih karya tengah jalan. Hal ini perlu dihindari karena tidak dapat menghasilkan hasil yang maksimal.
Demikian penjelasan dan cerita saya mengenai hobi menulis dan manfaatnya. Semoga bermanfaat.
by Seno | Jan 20, 2023 | Karya Kegiatan Literasi
Pantun :
Cahaya Lampu sudah redup
Karena pemadaman masal
Lestarikanlah makhluk hidup
Sebelum kalian menyesal
Bumi kita telah tua
Telah lapuk termakan usia
Jagalah alam kita bersama
Agar Makhluk lain tidak sengsara
by Seno | Jan 13, 2023 | Kegiatan Luar Sekolah
Laporan Kegiatan Fieldtrip
Tujuan dilakukannya fieldtrip atau kegiatan luar sekolah ini adalah untuk meningkatkan wawasan peserta didik tentang dunia usaha, serta menjadikan peserta didik lebih menghargai usaha yang dilakukan masyarakat.
Saya melakukan kegiatan tersebut pada tanggal 9 Januari 2023 – 11 Januari 2023.
Pada waktu tersebut, saya mengunjungi Bandeng Juwana/Dyriana Jl. Pamularsih Raya No. 70 pada 9 Januari 2023. SMK St. Fransiskus pada 10 Januari 2023. Dan PRPP (Maerokoco) Pada 11 Januari 2023.
Saya tidak pernah ke Bandeng Juwana/Dyriana dan SMK. St. Fransiskus. Namun saya pernah pergi ke Maerokoco pada kegiatan sekolah waktu saya berada di sekolah dasar.
Dalam kegiatan pertama di Bandeng Juwana, kami didampingi oleh guru-guru SMP Maria Mediatrix, dan beberapa karyawan dari tempat tersebut, dalam kegiatan ke-2 di SMK St. Fransiskus kami didampingi guru-guru dari SMK. St Fransiskus dan SMP Maria Mediatrix serta kakak kelas dari SMK St. Fransiskus. Dan kegiatan ke-3 di Maerokoco, kami masih didampingi oleh guru dan beberapa pendamping dari sana. Guru-guru yang menemani kita dari SMP Maria Mediatrix adalah Pak Damar, Bu Astuti, Pak Wawan, Pak Yus, Bu Yudith, Bu Dannis, Pak Frans, dan Pak Yul, serta Miss Niken.
Pada hari pertama di Bandeng Juwana/Dyriana, kami memulai kegiatan dengan doa pagi, senam , dan dilanjutkan dengan penjelasan cara membuat klepon. Setelah itu siswa diminta membuat setiap anak minimal 4 klepon, lalu dimasak dan dicicipi rasanya. Setelah istirahat, kami melanjutkan dengan cara pembuatan bandeng duri lunak dan mencicipinya, setelah foto-foto, kami mencicil laporan ini dan mengakhiri dengan doa pulang.
Pada hari ke-2 di SMK St. Fransiskus kami disambut dengan tarian dari kakak kelas dan memulai kegiatan dengan doa lalu kami diantar oleh kakak pendamping ke tempat penyablonan dan diajari cara menyablon. Setelah baju kami disablon, kita diberi waktu istirahat yang cukup lama dan dibagikan konsumsi, setelah istirahat tersebut kami melanjutkan kegiatan dengan menghapus lapisan tissue pada gantungan kunci yang diberikan kepada kami lalu menutup kegiatan hari itu dengan doa.
Kegiatan hari ke-3 dimulai dengan kami berangkat ke sekolah dan melanjutkan perjalanan dari sana dengan menggunakan bis yang difasilitasi oleh sekolah, namun sebelum naik ke bis, kami berdoa bersama di sekolah dengan doa mohon keselamatan. Setelah sampai ke sana kami disambut oleh kakak-kakak pendamping dan memulai kegiatan dengan doa memulai kegiatan. Setelah itu mereka mendemonstrasikan magnet dalam air, balon bereaksi terhadap cuka dalam botol, dan reaksi coca cola terhadap permen mentos. Lalu kita diajak keliling Maerokoco, melihat benda benda disana dan naik kapal dan bis. Setelah itu kami membuat roket air dilanjutkan dengan istirahat. Setelah istirahat selesai kami diajak untuk menanam mangrove, dan dilanjutkan dengan istirahat lagi. Setelah itu kami diberi jam kosong dan menyelesaikan dengan doa pulang.
Hal yang menarik bagiku adalah bagian peralatan listrik di Maerokoco.
Saya mendapat pembelajaran tentang proses pembuatan klepon, proses pembuatan bandeng, bahan bahan klepon, bahan bandeng duri lunak, proses penyablonan, dan cara membuat roket air.
Saran saya dalam kegiatan luar sekolah adalah untuk murid lebih aktif melakukan kegiatan daripada mendengarkan teori.
Sekian laporan dari saya. Terima kasih.
Sean Nino Susanto
7D/24
by Seno | Oct 18, 2022 | Cerita Fantasi
Pada suatu malam, anak bernama Koromi terbangun dari tidurnya dan menangis sambil berkata “Ini semua salahku,” hampir setiap malam ia terbangun dari tidurnya dan menangis. Dia tinggal di desa yang bernama Mort.
Ada alasan kenapa ia menangis setiap malam. Ia merasa bersalah karena kejadian 8 tahun Lalu, tepat saat hari ulang tahunnya yang ke empat, ayahnya ingin mengambil batu permata, yang kabarnya memiliki kekuatan gaib. Batu tersebut berada di hutan sebelah desa yang selalu berkabut. Sejak saat itu ayahnya tidak pernah terlihat lagi.
Paginya setelah sarapan, Koromi latihan memanah di halaman belakangnya. Koromi memang memiliki bakat memanah menurun dari ayahnya. Pada saat itu ibunya memanggil “ makanan sudah siap!” Koromi lalu cepat-cepat masuk ke rumah dan makan makanan yang sudah disiapkan ibunya. Setelah makan Koromi akhirnya mengatakan pada ibunya keinginan yang sangat ia inginkan sejak lama “ Bu… Aku ingin pergi ke hutan…” Yang dijawab dengan bentakan dari ibunya “ Koromi !! Kamu ingat apa yang terjadi 8 tahun lalu pada ayahmu ?! Kau dilarang keluar kamar sebelum kau memikirkan hal itu dengan baik !!”
Koromi masuk kamar dengan dua perasaan yang bercampur ‘benci’ dan ‘sedih’. Pada tengah malam Koromi merasakan sesuatu yang aneh, hutan yang terdapat di sebelah desa. Banyak kabut berkeluaran dari hutan dan menuju desa. Pada pagi harinya Hal yang aneh berlanjut, para penjaga desa yang pergi untuk menginvestigasi hutan tidak kunjung kembali.
Koromi mulai penasaran dengan hal yang terjadi, tentu ia tidak dapat keluar dari kamar dan kabur lewat pintu depan karena ia akan ketahuan oleh ibunya. Melainkan ia kabur lewat jendela kamar dan pergi ke arah hutan, tepat sebelum ibunya masuk dan terkejut “Aku akan menghukum Koromi dengan berat saat dia pulang lihat saja nanti” dalam hati ibunya.
Saat Koromi masuk ke dalam hutan, ia mendengar suara aneh “suara apa itu?” pikir Koromi. Suara yang Koromi dengar seperti suara dentuman batu dicampur dengan suara jeritan manusia. Hawa dalam hutan sangat dingin mendadak, lalu semakin ia masuk ke dalam hutan, semakin keras suara yang dia dengar, sampai ia mendengar suatu jeritan “TOLONG AKU”. Suara itu bergema di telinganya dan terus ada di dalam kepalanya sampai ia melihat sesuatu… Bayangan besar pada area pohon-pohon.
Batu raksasa berbentuk manusia kurang lebih 5 Jmeter terbungkus di api berwarna hitam. Sangat panas, namun tidak membakar pohon-pohon di sekitarnya. Namun hal yang lebih aneh lagi, muka pada patung batu tersebut adalah muka ayahnya…
Hal yang ia ingat setelah itu adalah ia berada di pondok kecil. Dengan seorang kakek berdiri di pinggir jendela “Jadi… Apa hal yang membawa kau kesini anak muda?” Dengan suara yang halus. “dengan suara yang bergetar, Koromi menjawab “a..aku ingin mencari ayahku” “Hmm…” gumam kakek itu. Lalu kakek itu bercerita kepada Koromi “Pada zaman dulu hutan ini adalah hutan yang damai, para binatang tinggal disini dan manusia juga mendapat bahan makanan dari sini. Namun pada suatu malam bulan di atas berwarna merah darah, pancaran sinar merah dari bulan tersebut membuat hewan di dalam hutan tersebut berperilaku aneh dan meraung-raung seperti kesakitan.”
Kakek itu melanjutkan “pada pagi harinya saya melihat hewan-hewan yang tinggal disini sudah tinggal tulang… Dan tulang itu pun meleleh menjadi cairan merah darah yang akhirnya membanjiri hutan ini selama 8 hari 7 malam. Dalam proses ada batu permata yang terletak di tengah hutan terbanjiri cairan tersebut dan memengaruhinya… Batu permata ini harusnya memberi efek perlindungan bagi pemilik nya. Namun cairan tersebut mengubah permata itu untuk mengutuk orang yang menyentuhnya batu itu… Adalah batu yang ayahmu cari”.
Tersadarkan oleh kenyataan bahwa batu yang ia lihat adalah roh ayahnya yang masih bergentayangan di hutan. Setelah itu Koromi bertanya “siapa kakek?” kakek itu Cuma tersenyum lalu menghilang seperti kakek itu tidak pernah ada.
Namun kakek itu meninggalkan sesuatu, sebuah panah dan anak panah berkilaukan cahaya emas. Koromi tahu inilah saatnya untuk membebaskan roh ayahnya, Koromi menunggu di pondok itu sampai pada malam dimana bulan berwarna merah darah. Lalu melihat makhluk ‘itu’ terus mendobrak pintu pondok dengan badan kerasnya.
Koromi pergi lewat pintu belakang lalu langsung memanah batu permata di punggungnya, hal itu melemahkan dan melambatkan pergerakan monster itu, ada tiga permata di badan makhluk ini, satu sudah Koromi panah, satu lagi ada di belakang kepalanya.
Koromi memanjat tubuh monster itu, lompat, lalu memanahnya tepat di belakang kepala. Batu yang terakhir adalah yang paling susah dipanah, bukan karena tidak bisa Koromi tidak mau karena batu tersebut berada di wajah ayahnya yang kaku menjadi batu, Koromi meneteskan air mata terakhir, dan dengan berat hati melepaskan anak panah tersebut.
Badan makhluk itu hancur lebur, kabut di hutan itu menghilang, matahari terbit bersamaan dengan teriakan tangis Koromi. Setelah itu Koromi pulang ke desa dan menjadi kepala penjaga di desa itu. Dan saat Koromi meninggal, dia menjadi legenda dan dikuburkan di hutan berkabut.
Tamat…
Cerita ini dibuat oleh
Sean Nino Susanto
SMP Maria Mediatrix
7D/24