Perjuangan Kolonel Sanders

Perjuangan Kolonel Sanders

Suatu hari tahun 1955 ada seeorang purnawirawan tentara yang hidup dengan uang pensiunnya. Orang itu bernama Kolonel Sanders. Kolonel Sanders menyadari bahwa uang pensiunannya tidak akan mencukupi kebutuhan hidup sehari- harinya.  

 

Kolonel Sanders mulai berfikir apakah ada sesuatu yang bisa ia jual tanpa mengeluarkan modal sedikit pun. Lalu setelah berbagi saran dengan temannya, Kolonel Sanders diberitau oleh temannya bahwa ia memilki resep ayam goreng yang begitu lezat. 

 

Setelah mengetahui hal tersebut. Kolonel Sanders memulai langkahnya dengan meninggalkan rumahnya dan memulai menawarkan resep ayamanya ke berbagai restoran. Tetapi perjuangan Kolonel Sanders tidak semudah itu. Resepnya ditolak oleh 1009 restoran. Selain ditolak, Kolonel Sanders juga mendapatkan kritikan pedas karena resepnya. Tetapi Kolonel Sanders tidak menyerah dan terus menawarkan resep ayamnya ke restoran lain.

 

Suatu hari ada satu restoran yang memberikan kesempatan Kolonel Sanders. Dan mulai saat itu ayam goreng mili Kolonel Sanders menjadi lebih terkenal hingga saat ini Kolonel Sanders memiliki Restoran bernama KFC

Menjadi Dokter Impianku

Menjadi Dokter Impianku

         

Menjadi Dokter Impianku

 

          Menjadi dokter adalah cita – citaku sejak kecil. Apa kalian tahu dokter itu merupakan pekerjaan yang mulia . Aku mau menjadi dokter karena dokter itu baik dan suka menolong orang yang sedang sakit. Aku ingin menjadi dokter yang baik dan suka menolong orang tanpa pamrih.

               Kalau nanti aku sudah menjadi dokter aku ingin sekali mempunyai Rumah Sehat. Selain menjadi pemiliknya aku juga ingin menjadi seorang dokter disana. Aku bercita- cita untuk menjadi dokter spesialis gigi. Di rumah sehatku nanti akan ada gedung khusus untuk dokter spesialis anak .

                Selain gedung untuk dokter spesialis anak juga ada gedung untuk spesialis dokter gigi. Setelah gigi mereka dicabut Ibu dan Pak dokter akan memberikan sebuah hadiah. Disana juga ada taman bunga , yang biasanya digunakan untuk menunggu orang yang sedang diperiksa oleh dokter.

 

 

 

Karir IU

Karir IU

CERITA INSPIRATIF

Lee Ji-eun (IU)

Lee Ji-eun atau yang memiliki nama panggung IU adalah seorang solois K-Pop yang terkenal. IU berumur 30 tahun dan ia sudah memulai karirnya sejak ia umur 14. Dahulu ia mengikuti kelas akting, lalu ternyata IU menemukan minatnya untuk menjadi penyanyi.

IU dilahirkan di keluarga yang kurang mampu, sehingga ia harus bekerja keras untuk mencapai dan meraih impiannya. IU mulai menyanyi secara amatir di usia yang dini. IU sudah mengikuti 20 audisi ia mengalami banyak penolakan bahkan ia sempat ditipu oleh agensi bohongan. Akhirnya IU bergabung dengan agensi Good Entertainment lalu menandatangani kontrak dengan Loen Entertainment. IU tampil perdana dalam Mnet Countdown di tanggal 18 September 2008 dengan “Lost Child” single utama dari debut Lost and Found yang dirilis pada 24 September 2008. Karena album itu IU dianugerahi “Rookie of the Month”. Namun, albumnya dikatakan gagal secara komersial.

Lalu IU mendapat ketena tanya karena lagu “Good Day” yang dirilis tahun 2010, dan lagu itu juga berhasil menduduki puncak pertama dalam lima minggu berturut-turut di tangga Gaon Korea Selatan. Di tahun 2019, lagu “Good Day” kembali memasuki peringkat nomor satu dalam daftar “100 Lagu K-Pop Terbaik dekade 2010an” oleh Billboard.

IU semakin tenar akan semua lagu-lagu yang ia rilis. Karirnya juga menyebar sampai ke akting. Ia sudah mengikuti beberapa K-Drama yang terkenal dan ia juga menjadi tokoh utama di beberapa drama. Ia memainkan drama “Hotel del Luna”, “Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo”, “My Mister”, “Dream”, dll.

Perjuangan Ani untuk Menentang Sistem Patriarki di Desanya

Perjuangan Ani untuk Menentang Sistem Patriarki di Desanya

Perjuangan Ani untuk Menentang Sistem Patriarki di Desanya

      Di sebuah desa, hiduplah seorang anak perempuan yang bernama Ani. Ia tumbuh di lingkungan yang menanamkan norma-norma patriarki dan stereotip kepada wanita. Pria di desanya sering merendahkan wanita dan menganggap bahwa wanita pasti tak dapat melakukan hal apa yang pria bisa lakukan. Ani selalu membenci dan ingin mengubah pandangan itu.

      Suatu saat di umurnya yang sudah beranjak dewasa, Ani ingin sekali mengenyam pendidikan lebih tinggi lagi dengan kuliah. Orang tua Ani yang mendengar hal itu sangat menolaknya. Orang tua Ani menganggap bahwa wanita tak perlu untuk mengenyam pendidikan yang terlalu tinggi karena akan berujung menjadi ibu rumah tangga. Konflik yang cukup hebat sempat terjadi antara Ani dengan orang tuanya. Anipun dipingit selama berbulan-bulan, namun karena kegigihannya menjelaskan keinginan kuliah pada orang tuanya, Anipun akhirnya diberi izin untuk kuliah.

      Waktu terus berjalan hingga akhirnya Ani dapat menyelesaikan kuliahnya. Ia mendapatkan banyak sekali ilmu dan ia sadar bahwa ilmu itu tidak akan berguna jika ia tidak gunakan untuk mencapai impian yang dipendamnya selama ini. Ani akhirnya berani mewujudkan impiannya untuk menaikkan derajat wanita. Ani memberikan kontribusi positif pada masyarakat terutama pada kaum wanita dan juga memutuskan untuk mengambil peran aktif dalam membangun kesetaraan gender di desanya. Ani juga mengajarkan atau menekankan pentingnya pendidikan dan pelatihan keterampilan untuk para wanita. Ia mendirikan program pelatihan untuk memberdayakan mereka dalam bidang-bidang seperti teknologi, bisnis, dan seni. Dengan cara ini, Ani berusaha memberikan kesempatan yang sama bagi wanita untuk berkembang dan mengejar impian mereka.

      Perjalanan Ani bukanlah tanpa hambatan. Ia juga menghadapi kritik-kritik dari mereka yang masih terpaku pada tradisi patriarki. Namun, semangatnya tidak pernah luntur. Setiap rintangan dianggap sebagai tantangan untuk membuktikan bahwa wanita mampu mencapai segala hal yang mereka impikan.

      Melalui ketekunan dan komitmennya, Ani menjadi inspirasi bagi banyak wanita di sekitarnya. Ia membuktikan bahwa emansipasi wanita bukan hanya tentang memperjuangkan hak-hak, tetapi juga tentang menciptakan lingkungan di mana setiap wanita bisa dihargai, diberdayakan, dan bebas untuk mengejar impiannya.

      Kisah Ani mengajarkan kita bahwa perubahan dimulai dari individu yang berani beraksi. Dengan semangat emansipasi, wanita dapat bersatu, mengatasi hambatan, dan bersama-sama membentuk masa depan yang lebih baik lagi.

Kegagalan Bukanlah Segalanya.

Kegagalan Bukanlah Segalanya.

Lany adalah seorang anak dari keluarga yang sederhana, rumah yang sederhana, dan kehidupan yang sederhana. Tetapi tidak dengan cita-citanya, ia berimpian untuk menjadi seorang Dokter yang lebih spesifiknya lagi adalah Dokter Forensik. Lany bukanlah anak yang sangatlah pintar dan selalu ranking 1, namun Lany adalah anak yang baik, ia suka belajar hal-hal baru. Lany mengikuti banyak kegiatan organisasi disekolahnya yang pasti termasuk dalam kategori anak yang aktif dan yang pasti ia mempunyai banyak sekali teman.

Sebetulnya sedikit susah untuknya meraih cita-citanya yang begitu tinggi dengan perekonomian keluarganya yang sederhana. Ia tidak bisa bersantai-santai begitu saja, maka dari itu Lany konsisten untuk belajar dan mengikuti penjelasan materi dari gurunya disekolah.

Disaat itu juga keluarganya terlilit hutang yang cukup besar, hutang itu muncul dikarenakan biaya yang dikeluarkan juga cukup banyak seperti biaya sekolah, les, dan lain-lain. Keluarganya juga bukan keluarga yang harmonis, setiap hari pasti ada hal yang diributkan sampai-sampai Lany lelah mendengarkannya. Ketika kedua orang tuanya sedang beradu mulut, Lany biasa lebih memilih untuk menyendiri di kamar dan melakukan hal yang ia ingin lakukan sendiri. Sampai pada akhirnya keluarganya tidak bisa bertahan dan kedua orang tua Lany bercerai disaat ia duduk dibangku SMP. Kalau boleh jujue saja, hal itu membuat Lany sangat terpukul, ia iri dengan teman-temannya yang bisa memiliki keluarga harmonis. “Apa susahnya si punya keluarga lengkap dan harmonis” adalah kata-kata yang selalu Lany ingat-ingat. Lany sangat sedih dan rasanya ingin menyerah saja dengan impiannya yang terlalu tinggi itu.

Suatu hari, Lany mengikuti sebuah acara disekolahnya yang membahas tentang impian di masa depan. Lany awalnya tidak tertarik untuk mendengarkannya tetapi lama kelamaan kata-kata yang dikeluarkan oleh sang pembicara membuatnya tersadar dan membuatnya kembali teringat dengan cita-citanya dahulu. Lany mulai giat untuk belajar lagi supaya bisa mendapatkan beasiswa dan bersekolah lebih tinggi lagi di jurusan kedokteran dan tidak hanya berhenti disitu saja. Lany melanjutkan kuliahnya sampai ke jenjang paling tinggi yaitu S3.

Masalah memang selalu akan datang dan menghantui kita semua, namun jika kita tidak bisa melawan masalah itu, kita pasti akan kalah dan menyerah. Maka dari itu selalu konsisten dan giat dalam menggapai cita-cita. Kegagalan bukanlah segalanya, sekali gagal bukan berarti masa depan kita akan hancur.

Botol Harapan

Sebuah keluarga yang terpaksa untuk pergi ke sebuah kota, mencari informasi tentang sebuah perumahan yang dapat menjadi tempat tinggal yang nyaman, dan didapatkanlah informasi tentang sebuah perumahan yang berada di pinggiran kota bahwa disana merupakan tempat yang tenang di mana aroma rumput segar masih melekat di udara, dan tawa anak-anak bergema di jalanan. Keluarga Jefferson, sebuah keluarga Afrika memutuskan untuk pindah. Tanpa menyadari bahwa kehidupan mereka di sana akan berubah 180 derajat sebab mereka akan menjadi satu-satunya keluarga kulit hitam di lingkungan tersebut. Ya, disana mereka melihat banyaknya orang berkulit putih dengan tatapan semacam jijik dengan kehadiran mereka. Sembari menunggu barang barang mereka yang diangkut oleh truk, mereka dapat melihat tatapan dan mendengarkan bisikan yang tidak mengenakan dari tetangga tetangga mereka.

Pada akhirnya mereka pun mengundang para tetangga untuk barbekyu bersama di rumah mereka. Di pertemuan pertama mereka saat sedang berbaur, seorang tetangga mendekat sambil tersenyum paksa, berkata,

“Kalian adalah keluarga pertama dari jenismu di sini. Sungguh menyegarkan melihat keberagaman.”

Komentar itu menggantung di udara, dengan implikasi yang tidak nyaman. Walau begitu pasangan orang tua tersebut tidak menghiraukannya dan mengatakan bahwa mereka bangga menjadi yang pertama dari sekian orang yang ada.Tetapi perasaan yang menjanggal, terisolasi, terkucilkan akan selalu ada.

Beberapa hari berlalu, dengan penuh frustasi keluarga ‘unik’ tersebut terpikirkan untuk kembali ke lingkungan asal mereka, tetapi mereka ingat kembali bahwa sekarang mereka telah mempunyai anak, akhirnya mereka tetap teguh. Tetapi mengubah pandangan orang akan sulit bukan?

Tempat sang anak bersekolah tidak jauh berbeda, Ibu anak ini akan selalu mengingat bagaimana ekspresi wajah anaknya berubah, dari saat ia berangkat sekolah, senyum yang lebar tertempel di mukanya dengan lebar sekejap saat ia datang untuk menjemputnya, yang dapat dilihat hanyalah wajah anaknya yang menjadi murung, hingga suatu saat ketika sang anak hendak pergi ke sekolah, sang anak berkata,

“Aku ga mau ke sekolah..”
“Kenapa?” Sang Ibu bertanya

Sang anak tidak menjawab, melainkan hanya menundukkan kepalanya menghadap lantai. Khawatir, sang Ibu pun mengelus rambut sang anak, tanpa berkata apapun.

“Setiap kali aku kesana, anak-anak lain hanya melihatku dengan tatapan yang tajam. Aku takut”

Takut. Hal yang seharusnya tidak perlu dirasakan oleh sang anak ketika pergi ke sekolah, sang Ibu benar benar putus asa melihat tatapan mata anak yang sedih itu, Ia merasa gagal, “Mengapa dari awal aku tetap ngeyel untuk tetap tinggal disini? Mengapa tidak Ia pikirkan kondisi jika mereka yang ‘unik’ datang kemari? Mengapa..” Ia akhirnya berhenti melamun ketika sang anak menggoyangkan badannya,

“Ibu, aku pergi dulu, aku pamit.”
“Ah.. ya, kalau begitu, tunggu Ibu nanti ya untuk menjemputmu.” Kata sang Ibu tersenyum sambil melambaikan tangan

Sang anak hanya mengangguk, membuka pintu, dan datanglah cahaya matahari yang hangat dan terang menyinari muka sang anak yang menoleh kepadanya dan akhirnya, kegelapan datang dari pintu yang ditutup.

“Pergi ke sekolah benar benar tidak menyenangkan, pelajarannya enak, kalau guru-guru dan anak-anak disana–“

Ia berhenti berjalan dan mengangkat kepalanya untuk melihat lokernya penuh dengan berbagai macam tulisan yang penuh dengan kata kata yang tidak enak untuk dibaca beserta tatapan sinis yang dapat ia rasa tertuju kepadanya,

“–Nggak enak aku benci mereka.”

Di tengah istirahat Ia pergi ke toilet, melewati sebuah ruangan berisi seorang guru, orangtua dan murid. Tanpa sengaja ia mendengarkan percakapan mereka,

Apa maksudmu, kau tidak senang dengan bersekolah, nak? Bukankah sekolah tempat yang nyaman? Anggap saja sekolah sebagai rumah keduamu! Kamu dapat belajar banyak hal juga bertemu dengan teman–”

Tetapi aku ga suka bersekolah! Sekolah itu membosankan!”  Bantah anak itu

Maka, ia berpikir, “Apakah memang benar sekolah adalah tempat untuk berbahagia? Sebuah rumah, rumah kedua hanya dengan orang yang berbeda? Bagi anak yang ‘normal’ saja sekolah dianggap membosankan, bukankah sama dengan yang kualami sekarang? Aku hanya ingin berbahagia. Benar benar muak.”

Semua yang di dalam benaknya tidak dapat ia keluarkan, karena ia tahu yang mengalami nasib, dari ujung matanya dapat ia melihat anak lain sepertinya yang mengalami hal yang sama seperti dirinya seperti ini bukan hanya dia sendiri. Ia tidak dapat mengadu nasib hanya karena ini. Ia harus memikirkan orang lain juga, karena? Ia tidak boleh egois. Anak yang sepertinya, berkulit hitam juga bukan hanya dia. Ia harus ingat itu. Maka dari itu Ia berharap ketidakadilan ini dapat diatasi. Tetapi itu semua hanya harapan bukan?

Ketika sang Ayah sudah tidak kuat dengan lingkungannya, Ia pergi untuk menegakkan ketidakadilan ini, tetapi ia hanya kembali dengan tangan yang tidak ada isinya, tidak ada hasil.

Maka, muncullah impian, menginginkan kehidupan yang damai tanpa perlu memikirkan tersebut saat ia menginjak usia dewasa, ia berhasil menjadi seorang lawyer dari pekerjaan itulah ia berhasil. Secara perlahan tetapi dengan pasti, penuh keyakinan dan tekad, sekarang diskriminasi antara kulit sudah tidak terlihat lagi walaupun memang terlihat tetapi terdapat beberapa orang yang sudah dapat menanggapi orang berkulit hitam dengan baik.

“Aku berhasil”, ia berpikir, setelah semua luka yang dia rasakan, ia tidak akan mengembalikan orang lain dengan luka tersebut, tetapi akan memulihkannya dengan menciptakan sebuah kedamaian bagi generasi selanjutnya agar mereka tidak merasakan apa yang orang orang yang di masa lalu rasakan. Anak atau tepatnya orang tersebut  adalah Barack Obama, seorang lawyer yang telah berhasil menjadi presiden ke 44, serta presiden pertama yang berkulit hitam.

Ia percaya, hanya karena warna kulit kita yang berbeda, kekayaan bahkan jenjang pendidikan yang ditempuh itu berbeda, hal tersebut tidak seharusnya dipermasalahkan apalagi hingga munculnya sebuah demo hanya untuk  mencapai kedamaian tersebut.

Kota A di datangkan oleh sebuah keluarga dari beda negara yang hendak meneap disana selamanya. Menetap di sebuah perumahan, mereka hendak melakukan sebuah selamatan atas tempat tinggal mereka yang baru yang akan mereka tetapi untuk selamanya. Akan tetapi acara selamatan tersebut tidak berjalan dengan lancar seperti yang mereka telah lakukan di negara asal mereka sebelumnya, disana mereka hanya mendapati banyak olok olokan, mengapa? Semua hanya karena mereka berbeda. Berbeda kulit dan ras. Maka, pada akhirnya keluarga tersebut dikucilkan oleh para warga disana. Rasa dikucilkan tersebut tidak hanya ada di sekitar lingkungan tempat tinggal tetapi juga berlangsung selama mereka bekerja dan bersekolah. Di tempat kerja sang ayah, sang ayah beserta beberapa orang disana hanya dapat mematuhi apa yang telah diperintahkan kepadanya, kepada mereka para orang berkulit hitam. Banyak sekali perbedaan tingkatan seperti, sang ayah yang melakukan pekerjaan kotor tetapi mereka, para manusia yang berkulit putih diagungkan. Tempat sang anak bersekolah tidak jauh berbeda, semua yang dapat setiap kali pergi ke sekolah hanyalah pemandangan yang membuat perasaan untuk kembali bermunculan. Ingin kembali ke rumah, ingin kembali ke tempat asal, ingin kembali ke tangan Tuhan. Ia berpikir, “Apakah memang benar sekolah adalah tempat untuk berbahagia? Sebuah rumah, rumah kedua hanya dengan orang yang berbeda? Semua ini berbeda dari yang dikatakan. Benar benar muak.” Semua yang didalam benaknya tidak dapat ia keluarkan, karena ia tahu yang mengalami nasib seperti ini bukan hanya dia sendiri, tetapi terdapat orang yang juga merasakannya. Ia tidak dapat mengadu nasib hanya karena ini. Ia harus memikirkan orang lain juga, karena? Ia tidak boleh egois. Anak yang sepertinya, berkulit hitam juga bukan hanya dia. Ia harus ingat itu. Maka dari itu Ia ingin menegakan keadilan yang tidak tersebar rata. Maka, munculah impian tersebut saat ia menginjak usia dewasa, ia berhasil menjadi seorang lawyer dari pekerjaan itulah ia berhasil. Secara perlahan tetapi dengan pasti, penuh keyakinan dan tekad, sekarang diskriminasi antara kulit sudah tidak terlihat lagi walaupun memang terlihat tetapi terdapat beberapa orang yang sudah dapat menanggapi orang berkulit hitam dengan baik. “Aku berhasil, ia berpikir, setelah semua luka yang dia rasakan, ia tidak akan mengembalikan orang lain dengan luka tersebut, tetapi akan memulihkannya dengan membuat generasi penerusnya tidak merasakan apa yang ia dan orang lain pada saat itu rasakan. Anak tersebut adalah Barack Obama, seorang lawyer yang telah berhasil menjadi presiden ke 44 serta presiden pertama yang berkulit hitam. (more…)