Terjadi bullying di lingkungan
- Jangan biarkan terjadi bullying lagi di sekolah maupun lingkungan sekitar rumah mu
- Jangan biarkan ada korban bullying lagi di lingkungan sekolah.
- Mari menjaga lingkungan kita supaya tidak terjadi bullying
Poster diatas memiliki tema “Masalah Lingkungan” yang sedang terjadi dan viral, Poster ini mengajarkan kita untuk selalu menjaga lingkungan dan membuang sampah pada tempatnya. Poster ini juga bertujuan untuk menciptakan karakter disiplin dan rapi.
APA ITU BULLYING
BULLYING ADALAH TINDAKAN MENYAKITI, MENGINTIMIDASI, ATAU MEMPERMALUKAN SESEORANG SECARA BERULANG. INI BISA BERUPA PERUNDUNGAN FISIK, VERBAL SOSIAL ATAU SIBER
LAYANAN BANTUAN BULLYING
✔LAYANAN KONSELING SEKOLAH
✔LAYANAN PSIKOLOGI TERDEKAT
✔HOTLINE ANTI-PERUNDUNGAN
MENGAPA KITA HARUS
PEDULI?
DAMPAK NEGATIF: PERUNDUNGAN ✔DAPAT MENYEBABKAN MASALAH PSIKOLOGIS SEPERTI DEPRESI DAN DAPAT MENYEBABKAN ORANG BUNUH DIRI
LINGKUNGAN YANG HARMONIS:
SEMUA ORANG BERHAK MERASA AMAN DAN DIHARGAI
PENGEMBANGAN DIRI: LINGKUNGAN YANG POSITIF MENDUKUNG PERKEMBANGAN
Poster ini menanggapi tentang kemajuan teknologi dan dampaknya agar gawai tidak disalahgunakan.Poster ini akan dipajang di papan Sekolah.Ada 6 cara untuk mengatasi disalahgunakannya gawai yaitu
1. Buat Aturan Penggunaan yang Jelas: Tentukan batasan waktu dan kondisi kapan gawai boleh digunakan. Misalnya, batasi penggunaan saat makan atau menjelang tidur.
2. Berikan Pemahaman tentang Bahaya Penyalahgunaan: Edukasi mengenai risiko kecanduan, penipuan online, cyberbullying, dan bahaya konten yang tidak pantas. Pastikan mereka memahami konsekuensi negatif dari penggunaan yang tidak tepat.
3. Gunakan Aplikasi Pengawasan: Pasang aplikasi yang dapat memantau dan mengontrol aktivitas online, sehingga penggunaan gawai bisa lebih aman dan terarah.
4. Ajak Diskusi Terbuka: Daripada hanya melarang, ajak anak berdiskusi mengenai kegunaan positif dan risiko dari gawai. Dengarkan alasan mereka dan sampaikan pandangan dengan cara yang mendidik.
5. Alihkan ke Aktivitas Lain: Dorong mereka untuk melakukan kegiatan lain seperti olahraga, seni, atau membaca buku agar ketergantungan pada gawai berkurang.
6. Berikan Teladan yang Baik: Orang tua atau pengasuh harus menunjukkan penggunaan gawai yang sehat. Anak-anak cenderung meniru perilaku orang dewasa, jadi penting untuk memperlihatkan pola penggunaan yang positif.
Berbekal dedikasi dan niat tulus, Agnes mendirikan Yayasan Hati Nurani dengan harapan mampu memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anak di kampung halamannya.
Yayasan Hati Nurani menampung anak yatim piatu dalam wadah panti asuhan dan mendidik anak-anak usia dini dalam wadah PAUD, Taman Kanak-kanak (TK) tanpa pilih kasih, semua anak dengan berbagai kondisi fisik, mental, dan berbagai latar belakang diterima dan dididik dengan baik, berusaha agar anak-anak panti tetap bisa makan cukup tiap hari dan anak-anak bisa belajar dengan nyaman. Mulai dari berkebun, berternak, hingga membuat kerajinan tangan, tak ada yang tak dilakoni.
Pada tahun 2019 Asuransi Astra menangkap kisah perjuangan Agnes bersama Yayasan Hati Nurani, melalui kampanye sosial #Pijarllmu. Asuransi Astra membangun kembali PAUD Hati Nurani menjadi tempat menimba ilmu yang lebih layak bagi anak- anak Desa Watukawula. Dua ruang sekolah disiapkan lengkap dengan toilet baru yang seluruhnya disesuaikan agar dapat diakses anak berkebutuhan khusus dengan nyaman. Hingga kini bangunan itu masih berdiri kokoh, bahkan Agnes bersiap untuk membuka cabang baru demi pendidikan anak-anak desa lainnya.
Tak berhenti disitu, satu unit kendaraan operasional baru pun diberikan untuk Yayasan Hati Nurani, agar mimpi-mimpi untuk memberikan pelayanan yang lebih luas dapat diwujudkan. Agnes berharap niat mulianya bisa menular dan lebih banyak lagi orang yang peduli.
Hussam Al-Attar adalah seorang remaja yang baru-baru ini dijuluki sebagai ‘Newton dari Gaza’. Julukannya diambil dari nama seorang ilmuwan terkemuka dunia, karena remaja ini berhasil menciptakan listrik dari angin.
Al-Attar adalah seorang remaja yang dulunya merupakan siswa sekolah Jabel Mukaber di Gaza. Sekarang Ia adalah salah satu pengungsi di Rafah, batas selatan Palestina dengan Mesir. Ia beserta keluarganya mengungsi, karena kampung halamannya, Gaza, diserang brutal oleh Israel sejak Oktober 2023. Sehingga, Rafah menjadi tempat pengungsian untuk sekitar 2,3 juta warga Palestina termasuk dirinya.
Sejak perang melanda Gaza pada 7 Oktober 2023, Israel telah memutuskan aliran air, listrik dan bahan bakar bagi 2,3 juta warga Palestina yang menderita dalam situasi mengerikan akibat 17 tahun blokade. Al-Attar bersama para pengungsi lainnya harus mendirikan tenda untuk berteduh dan menjalani aktivitas dengan gelap-gelapan saat malam hari.
Namun dengan kondisi tersebut, Al-Attar tidak tinggal diam. Ia mulai mencari barang-barang bekas, yang bisa dipakai untuk menghasilkan listrik. Karena kegigihan dan kecerdasannya, Al-Attar berhasil menemukan beberapa kipas bekas di pasar.
Dua buah kipas bekas tersebut Ia hubungkan dengan kabel-kabel listrik yang ada. Dengan mengumpulkan bagian-bagian dari barang elektronik yang dibuang atau rusak, ia kemudian merakit generator listrik inovasinya.
Dua kipas angin dipasang di salah satu tiang besi tempat pengungsian, lalu keduanya disusun, agar bisa berfungsi sebagai turbin angin kecil yang mampu mengisi baterai. Bilah turbin yang dipakai terbuat dari bahan yang ringan namun tahan lama. Turbin tersebut dipasang di tempat strategis, agar bisa menjangkau kekuatan angin. Ketika angin berinteraksi dengan bilah-bilah turbin, hal itu menyebabkan turbin bergerak. Kemudian, Al-Attar menyambungkan kipas angin ke kabel listrik yang tersebar di seluruh rumah dan kemudian menggunakan saklar, bola lampu, dan sepotong kayu lapis tipis untuk direntangkan di tenda. Dua upaya pertamanya gagal dan butuh beberapa waktu untuk mengembangkan sistem hingga dia berhasil pada percobaan ketiga.
“Saya mulai mengembangkannya lebih lanjut, sedikit demi sedikit, hingga saya bisa menyambungkan kabel-kabel itu melalui ruangan hingga ke tenda yang kami tempati, sehingga tenda tersebut memiliki penerangan,” ucap Al-Attar.
Al-Attar mengakui inovasinya terbatas, karena dibutuhkan angin yang kencang untuk menerangi tempat tersebut. Ia berharap agar bisa mendapat pasokan barang-barang yang berguna untuk proyek tersebut.
“Saya senang melakukan ini, karena saya meringankan penderitaan keluarga saya, ibu saya, ayah saya yang sakit, anak-anak adik laki-laki saya dan semua orang yang menderita di sini karena kondisi yang kita jalani di masa perang ini,” tambahnya.
“Saya senang orang-orang di kamp ini memanggil saya Gaza Newton, karena saya berharap dapat mewujudkan impian saya menjadi ilmuwan seperti Newton dan membuat penemuan yang tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat Jalur Gaza tetapi juga dunia.” , jelasnya di TechTimes.
Meski perang menghancurkan rumahnya, namun semangat perjuangannya membuahkan hasil yang bermanfaat.