Retret Hari Kedua

Retret Hari Kedua

Leon 9e 22 |pengalaman retret 

Di hari kedua saya bersama teman teman sedang membuat sebuah games. ya itu tebak kata,estafet tali rafia,menyusun kartu menjadi sebuah istana. Selanjut nya kita bermain menjaga lilin dari lemparan air. Setelah saya bermain games di hari ke dua itu saya merasa bahwa bermain memanglah mudah tetapi menyusun strategi tidak mudah maka dari itu saya belajar bahwa tidak ada manusia yang bisa mengerjakan pekerjaan nya sendiri.

Kegiatan Ret- Ret di Pangestu Wening

Hari Pertama (Day- 1)

Hari pertama saat kami sampai di tujuan, kami langsung menuju ke kamar. Lalu kami diberikan waktu untuk beristirahat di kamar. Di kamar kami sempat memegang gadjet sebentar lalu kami jalan keliling sekitar melihat pandangan yang begitu indah. Lalu kami mempersiapkan diri sebelum kumpul di aula. Lalu setelah mempersiapkan diri kami menuju ke ruang makan untuk menyantap snack. Setelah menyantap snack yang lezat kami jalan menuju aula dan memulai acara kita. Kami bermain game dengan Coach Nanda. Game ini bertujuan untuk bersosialisasi dengan teman yang berbeda kelas. Setelah bermain kami memulai materi kami dengan Coach Agung atau Dokter Agung lebih tepatnya. Setelah materi selesai kami menuju kamar dan beristirahat. Keesokan paginya kami bangun jam 5 pagi dan kami langsung kumpul di aula. Di aula kami belajar untuk membuat game sendiri dan mengenal sesama lebih lagi. Di sore hari kami semua disuru mengisi air di dalam plastik sebanyak- banyak nya. Dan tidak disangka plastik- plastik yang kita kumpulkan itu digunakan untuk game yang sangat menyenangkan. Game itu bertujuan untuk melindungi lilin dari lemparan plastik sampai garis finish.

   Saat game berlangsung, kami merasa kebingungan karena  setiap kali kita mencoba kita selalu gagal, kita juga kehabisan ide, tetapi coach agung berkata kita harus tetap maju, tidak boleh putus asa. Lalu yang tak kami sangka amunisi penembak sudah habis lalu kita langsung berjalan menuju finish line. Lalu kita merayakannya dengan foto bareng. Yang kami bisa pelajari adalah “pasti kami semua memiliki masalah saat mengejar impian kami, tapi kita tidak boleh gampang putus asa, karena pasti Tuhan akan membukakan jalan pada waktu yang tepat.”

-By Joshua-

Cinta Alam

Cinta Alam

 

Suatu hari, di suatu sekolah akan segera mengadakan penghijauan, menanam pohon di sekitar halaman sekolah yang diselenggarakan oleh pihak sekolah. Cindy, selaku ketua kelas yang mengetahui hal tersebut terlebih dahulu, bergegas pergi ke kelasnya untuk memberitahu teman-teman sekelasnya. Cindy masuk ke ruangan kelas. “Hai, teman-teman semua! Mohon perhatiannya sebentar!” Cindy melambaikan tangan dengan intonasi suara yang lantang, lantas membuat suasana senyap seketika dan teman-teman lainnya pun menoleh ke arahnya. “Kita mendapatkan instruksi dari pihak sekolah, bahwa kita akan segera mengadakan penghijauan, menanam pohon di halaman sekolah. Besok. Jadi, diharapkan kalian semua membawa tanah ya! Per orang, bawa satu karung”. “Yah… Bawa tanah terus nih…” jawab Dika yang langsung memasang muka malas. “Hmmm… Iya, eh? Tapi asyik jadi gak belajar deh besok!” ucap Dev senang, Nathan yang mendengar ucapan Dev, wajahnya pun berubah menjadi senang. Lantas, membuat seisi kelas heboh. Kesenangan.

“Sudah… Sudah! Lanjutkan belajar lagi!” ucap Cindy menenangkan, dan langsung duduk ke tempat duduknya. Sasa, yang sejak tadi saat mendengar penjelasan dari Cindy langsung memasang muka tidak senang. Menggerutu. “Ih… Ngapain juga sih harus menanam pohon segala, malah pegang tanah lagi. Kotor!” ucapnya dalam hati. Esoknya, saat akan dimulai penghijauan tersebut, ramai-ramai siswa dan siswi saling bekerja sama, membantu, ada yang mencangkul, memindahkan tanah, menggali tanah, dan lain-lain. Sementara itu, di pojokan ujung kelas sana, terlihat Sasa yang hanya duduk-duduk saja melihat, tanpa membantu, dan Rafa teman sekelas Sasa yang melihatnya pun langsung menghampiri. “Hey, Sa.. Kok kamu duduk-duduk saja? Tidak membantu?” tanya Rafa penasaran. “Tidak ah… Aku tidak mau pegang tanah, kotor” jawab Sasa dengan santai. “Kamu tidak boleh begitu, teman-teman lain sibuk bekerja seharusnya kamu ikut membantu!” ucap Rafa sambil menunjuk teman-teman yang sedang bekerja. “Biarkan saja…” sambil memasang muka malas, jawab Sasa. Cindy yang kebetulan lewat melihat Rafa dan Sasa sedang berbicara, tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka dan langsung menghampiri. “Sasa, seharusnya kamu tidak boleh begitu!” ucap Cindy sambil berjalan mendekat. “Kita sebagai manusia yang tinggal di bumi ini sudah seharusnya menjaga lingkungan sekitar agar tidak rusak, seperti menanam pohon misalnya. Walaupun kita cuma melakukan di lingkungan sekolah saja, setidaknya kita sudah melakukan tindakan yang bermanfaat yang hasilnya bisa kita rasakan untuk di masa yang akan datang. Sekolah kita pun nantinya akan dipenuhi pohon-pohon yang hijau sehingga kita bisa menghirup udara yang segar” Cindy menjelaskan. “Ehm… Iya, Cin” jawab Sasa pelan, dia merasa bahwa apa yang diucapkan Cindy benar.

“Ayo, kita bekerja bersama-sama! Yuk, Sa, Raf!” sambil tersenyum, Cindy mengajak Sasa dan Rafa untuk menanam pohon. Dan,Sasa pun mengangguk, tersenyum. Setelah mendengar ucapan Cindy, Sasa pun sadar bahwa menjaga lingkungan alam itu sangatlah penting.