Cinta alam
Lovely 7A/12
Lovely 7A/12
Saat malam hari, Sena terbangun dari mimpi buruknya. Saat itu mata Sena langsung tertuju pada sebuah jam dinding yang berada dikamar hotelnya. Jam tersebut menunjukkan bahwa hari itu masih pukul 3 dini hari. Sena pun merasa cemas, lalu ia melihat temannya yang lain yang masih tidur terlelap.
Entah kenapa, Sena merasakan bahwa hawa kamarnya tiba-tiba berubah, yang awalnya biasa-biasa saja seketika berubah menjadi sangat panas, padahal suhu pada AC dikamar itu sudah menunjukkan 18°. Kamar itupun tiba tiba terasa sunyi seperti tidak ada kehidupan, hanya terdengar suara burung hantu, tokek dan suara jam dinding yang berjalan.
Mendadak bulu kuduk Sena pun berdiri ketika ia mendengar suara lemari pakaian yang sepertinya dibuka. Sena sangat amat gelisah, ia kemudian membangunkan teman-temannya untuk menemani nya memeriksa suara apa itu, namun teman teman Sena tidak ada yang terbangun. Setelah frustasi karena usahanya gagal dalam membangunkan teman-temannya akhirnya Sena memberanikan diri untuk mengecek nya sendiri.
Posisi lemari pakaian di hotel itu berhadapan langsung dengan kamar mandi. Lampu yang menyala dikamar mandi pun tiba-tiba mati-nyala. Sena rasanya ingin menangis saat itu juga, namun rasa penasarannya lebih besar dibanding dengan rasa takutnya. Akhirnya Sena tetap memberanikan dirinya untuk melihat apa yang terjadi di sana.
Namun berkebalikan dengan apa yang dipikirkan Sena, justru di ruangan itu sepi, tidak ada 1 orangpun di ruangan itu. Akhirnya Sena pun kembali ke kasurnya dan mengabaikan pikiran-pikiran negatifnya soal suara tadi.
Keesokan harinya Sena dibangunkan oleh temannya, Rened. Ia mengajaknya untuk mandi dan melanjutkan studytour nya di pulau Bali itu. Pada saat itu tujuan tempat wisata mereka berada di Museum Bali. Entah hawa darimana, tapi Sena merasakan hawa panas yang tidak bisa dirasakan oleh teman-temannya. Tetapi Sena tetap memberanikan diri untuk masuk ke dalam museum itu.
Semua ruangan sudah dilewati oleh Sena, dan untungnya tidak terjadi apa-apa, semua berjalan normal. Pikir Sena waktu itu. Namun perkiraan nya salah, ia merasakan cemas seketika ketika melihat patung-patung di ruangan museum terakhir. Namun Sena memilih untuk mengabaikan nya saja dan tetap lanjut untuk mengikuti studytour ini. Setelah 4 hari di Bali, sekolah Sena pun akan pulang ke Jawa Tengah pada hari ke 4 nya.
Sesampainya di bus saat akan pulang Sena bercerita tentang kejadian horror yang ia alami saat di hotel dan di museum bali itu pada teman dekatnya, yaitu Rened. Setelah mendengar hal itu Rened rupanya tidak terkejut dengan pernyataan Sena, Rened pun juga bercerita pada Sena bahwa ia pun juga diganggu saat di hotel itu. Karena rasa penasaran mereka yang begitu tinggi, mereka pun akhirnya mengecek tentang asal usul hotel tersebut. Ternyata hotel itu dulunya adalah sebuah rumah sakit yang beroperasi saat masa penjajahan Belanda terhadap Indonesia.
Karena sudah puas dengan kabar yang sebenarnya tentang hotel itu, akhirnya Sena begitu juga Rened memilih untuk menjadikan pengalaman tersebut sebagai pengalaman untuk kedepannya, dan untuk koleksi cerita horror mereka.
Selesai.
~ Intan/8B/01
Brigida Grazia Indahsari
7A/07
PUISI
TEMA: CINTA ALAM
Link Canva : https://www.canva.com/design/DAFYLlur__Q/tzjcFdqEDGvgb0qsXhfmjg/edit?utm_content=DAFYLlur__Q&utm_campaign=designshare&utm_medium=link2&utm_source=sharebutton
Bhagawan Kasyapa memiliki dua istri yaitu Winata dan Kadru. Kadru selalu menyimpan rasa iri dengki kepada Winata. Suatu ketika, istri Bhagawan Kasyapa diberi telur, Kadru mendapat para Naga dan Winata mendapat seekor Garuda.
Kadru yang dengki dengan Winata pun memiliki rencana jahat, ia menantang Winata untuk menebak warna kuda terbang Ucaihswara, yang kalah harus mematuhi perintah yang menang. Kadru menebak kuda tersebut berwarna hitam dan Winata menebak berwarana putih. Kadru dinformasikan oleh anaknya bahwa kuda Ucaihswara berwarna putih. Menyadari Kadru kalah, ia menyuruh anak-anaknya untuk mencegat dan menyembur kuda Ucaihswara alhasil kuda tersebut menjadi warna hitam. Sesuai perjanjian, Winata harus mematuhi keinginan Kadru yaitu merawat para Naga selama bertahun-tahun.
Garuda yang sudah dewasa pun bertanya untuk apa merawat para Naga padahal bukan anak kandungnya. Setelah Garuda mendengar penjelasan Winata, Garuda sangat marah dan bertarung dengan para Naga dan kalahlah para Naga tersebut. Kadru memberikan persyaratan, jika Winata ingin dibebaskan maka Garuda harus membawakan Tirtha Amertha untuk para Naga. Meskipun hanya setetes, Tirtha Amertha mampu membuat makhluk yang meminumnya hidup abadi. Garuda sudah berjelajah untuk mencarinya, hingga pada akhirnya bertemu dengan Dewa Wisnu yang ternyata memiliki Tirtha Amertha. Dewa Wisnu akan memberikan secangkir air tersebut apabila Garuda ingin menjadi tunggangan Dewa Wisnu.
Kadru membebaskan Winata dan memberikan Tirtha Amertha kepada para Naga. Ketika Kadru ingin memberikannya, tiba-tiba datanglah Dewa Indra yang merebut cangkir. Sebagian Tirtha Amertha jatuh ke ilalang, dengan sigap para Naga berebut menjilati ilalang tetapi sayangnya, rumput ilalang yang berdaun tajam membuat lidahnya terbelah dua.
Garuda memenuhi janjinya untuk menghantarkan Dewa Wisnu keseluruh penjuru bumi dan langit, dan Garuda dijulukilah dengan Garuda Wisnu Kencana. Kegigihannya untuk membebaskan ibunya dari pebudakan membangunkan para pendiri bangsa dan menggunakan burung Garuda sebagai simbol Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ay-Ay/8C-01
Tema; Kemerdekaan: Para pahlawan telah berjuang keras untuk mencapai kemenangan, mereka rela mati berkorban demi kepentingan negara. Mari kita mengenang jasa-jasa mereka.
Setelah bertahun-tahun lamanya kini kita dapat menikmati udara kebebasan, karena perjuangan para pahlawan Indonesia bisa merdeka.
Tema; Tokoh Idola: R.A Kartini telah berjuang demi hak setiap wanita, supaya mereka bisa bersekolah dan mendapatkan pendidikan yang baik seperti para laki-laki yang masih bersekolah.
R.A Kartini membantu kaum wanita dengan cara Ia belajar beberapa ilmu dan membagikan ilmu itu kepada seluruh kaum wanita dan membangun sebuah sekolah dimana laki-laki dan perempuan dapat bersekolah sebaik dan sepantasnya.