Tanggal delapan sampai empat belas, siswa-siswi kelas sembilan mengikuti retret di Pangesti Wening, Ambarawa.

Apakah menyenangkan? Iya.

Sebuah kisah dari gelombang satu.

Aku masih ingat saat perjalanan ke tempat retret, bis kami dengan hebohnya meneriaki orang-orang random di jalanan sambil berteriak-teriak tidak jelas. Itu menyenangkan.

Sampai disana, aku kebingungan mencari jadwal. Ternyata jadwalnya tidak dibagikan, jadi kami benar-benar tidak tahu apa saja acara-acara yang akan dilaksanakan–karena kami gelombang pertama. Intinya, semua acara disana adalah kejutan bagi kami.

Udara disana saat siang tak jauh berbeda dengan Semarang. Lebih sejuk sedikit.

Waktu itu sore. Pertama kali kami bertemu dengan coach kami selama retret, mendengarkan beberapa sambutan, dan tidak disangka, saat itu juga, games pertama dimainkan.

Iya kan? Mengejutkan.

Dari games itu, diperoleh beberapa kelompok–yang intinya harus selalu makan bersama, diskusi bersama, dan bermain games bersama. Itu cukup menyenangkan, aku sama sekali tidak keberatan. Bisa dibilang, aku cocok dengan kelompok itu.

Hari kedua. Bangun pagi-pagi dan merem sepuluh menit lalu lanjut merem lagi dua puluh menit. Aku  tidak tahan waktu itu, kakiku kesemutan berkali-kali. Sepertinya waktu itu aku takut ketiduran. Iya kan! Bisa di’sayang’ aku (dilumuri bedak). Dibedaki adalah ancaman yang menakutkan selama retret.

Plus, emang kalau tak gerak, tak tidur, duduk pula, itu tidak nyaman bagiku. Entah. Aku cukup tak bisa diam.

Esok paginya kami pergi ke Gua Maria Kerep. Mendaki gunung dan melewati lembah. Bercanda. Aku berjalan dengan memakai sandal sehingga capeknya jadi dua kali lipat. Kerja bagus, aku.

Pagi itu sangat dingin.

Sudah pakai sandal, tidak bawa air, pula.

Barisnya telat juga.

Yang paling mengesankan selama retret menurutku adalah bagaimana kami semua jadi saling mengenal. Tidak semuanya, hanya beberapa. Tapi paling tidak jadi tahu satu sama lain, mengingat satu gelombang terdiri dari anak kelas A sampai kelas G.

Oh, dan suratnya.

Aku ingat mendapat beberapa surat yang membuatku senyam-senyum membacanya.

– Celine 9B/7